
Kakek datang untuk menghentikan pertarungan di antara mereka. Di samping itu, nampaknya ia membawa sesuatu di genggaman tangan kanannya hari ini.
“Sebelumnya Oni, lalu sekarang Tengu?” sindir Kaeda.
“Bicara apa kau ini.”
“Kakek ini menganggu saja.”
Baik Ayah maupun anak pun sama saja, mereka enggan menyarungkan kembali pedang mereka, lantas keduanya kembali saling menyerang di saat kakek itu masih berada di tengah-tengah mereka.
“Hei! Aku bilang sudah cukup!!” Kakek berteriak lebih keras, lantas menghentikan kedua pedang yang terjulur ke arahnya dengan mudah. Tanpa kekuatan suci ataupun spiritual dan sejenisnya.
“Pertarungan kalian tak ada gunanya jika dilanjutkan sekarang. Dan Kaeda, apa kau sebegitu bencinya pada Akio, putramu sendiri?”
“Benar. Aku sangat membencinya.”
“Heh, benar-benar tidak bisa diajak bicara sedikit saja. Padahal aku ke sini untuk membicarakan soal Ikiryo.”
“Ikiryo? Bukankah mahluk itu sudah tidak ada?”
“Mahluk itu sudah tidak ada karena aku yang membunuhnya. Ada masalah?”
Untuk beberapa saat situasi menghening. Kaeda dan Akio saling bertukar tatap dengan tajam, tentunya bukan dengan perasaan senang melainkan kebencian satu sama lain.
“Ya, ya. Itu aku sudah tahu. Tapi yang aku bicarakan adalah, yokai yang lainnya.”
“Tunggu sebentar, apa yokai kembali muncul?”
“Tidak.”
“Tidak?”
“Ya, tidak. Tidak sama sekali. Untuk hari ini, aku sedang berkeliling ke setiap wilayah dan belum menemukan yokai satu pun. Jadi aku berpikir mungkin ini ada hubungannya dengan Ikiryo.”
“Jadi kau datang, apakah aku benar-benar melenyapkan Ikiryo? Lagipula bukankah itu menjadi kabar baik kalau yokai tidak muncul,” ujar Akio.
“Justru karena itu. Ikiryo seringkali ditemukan pada setiap yokai yang kau binasakan, itulah yang salah satu pengikutmu katakan.”
“Oh, itu ...,”
“Dia benar-benar pembawa bencana. Termasuk semua yokai di sana.”
Kaeda acuh, ia lantas pergi. Namun si kakek menahan langkahnya sebab ada hal yang ingin dibicarakan juga padanya.
“Tunggu Kaeda. Ada hal yang ingin aku bicarakan.”
“Aku tidak punya waktu untuk beromong kosong pada kalian.”
“Ceritakan apa yang menjadi penyebab yokai muncul.”
Kaeda mengerutkan keningnya begitu si kakek satu ini meminta agar menceritakan sesuatu, yang menjadi penyebab yokai muncul. Itu hal yang rumit untuk diceritakan, dan juga entah apa alasan kakek sebenarnya yang meminta khususnya di saat seperti ini.
“Kalau begitu usir yokai itu lebih dulu! Aku tidak mau melihatnya, dan jika aku melihatnya bahkan setelah menuruni bukit maka aku akan benar-benar membunuhnya.”
Ternyata Kaeda secara tak langsung mempersyaratkan sesuatu sebelum menceritakan hal tersebut.
Mendengar itu, Akashi, Kizu dan lainnya pun langsung mengerti. Mereka segera menuruni anak tangga kuil dan bergegas menjauhi area wilayah Yamamoto.
Sementara Akio bersama dengan Kaeda dan kakek Naruhaya, akan membicarakan sesuatu hal yang penting.
“Apa aku harus benar-benar cerita pada anak tak berguna ini?”
“Hei, jangan bilang kata-kata pembawa malapetaka begitu pada anakmu sendiri. Itu tidak baik. Dan apa kau melupakannya bahwa Akio tidak membunuh Shogun?”
“Apa?! Jadi dia sudah tahu kalau aku bukan pembunuhnya! Lalu kenapa dia malah seenaknya bilang akan membunuhku penuh dendam begitu?!” pekik Akio.
“Tenanglah Akio. Ayahmu ini memang sulit ditebak. Ah ...kalian berdua ini sebenarnya tidak ada bedanya sih. Cuman yah, beda prinsip.”
“Berhenti! Cukup sudah! Ceritakan yang aku minta saja!” teriak kakek.
“Baguslah, ini tidak akan membuang-buang waktu lagi.”
“Kau yang mengulur-ngulur waktunya!” sahut Akio.
Tak terlihat raut wajah bahagia sedikitpun dari wajah pria itu. Sang Ayah Akio, yakni Kaeda adalah pria keras kepala dan selalu memegang teguh prinsipnya untuk tidak berhubungan dengan yokai. Lalu membuang seseorang yang sudah tidak berguna, meski kesannya terlalu dingin.
“Dengarkan! Shinpi-tekina ada selama puluhan tahun dan yokai sudah ada saat itu juga. Mereka dikatakan keluar dari awan ataupun lubang hitam di atas awan. Ada yang menyebutnya "Jatuh dari surga", dan ada yang menyebutnya sebagai "Bangkit dari neraka", kurang lebih begitu.”
“Kuramg lebih begitu? Kaeda, tak seperti biasanya kau mengatakan kalimat itu. Apa terjadi sesuatu?” tanya kakek.
“Tidak. Sejujurnya tidak ada, aku hanya terusik dengan Ikiryo yang kau bicarakan sebelumnya.”
Kaeda mengambil duduk selagi ia berbicara, “Dan walau banyak leluhur berkata bahwa yokai datang dari langit. Tapi aku pikir tidak juga.”
“Ya, kau benar.
“Yokai lahir dari emosi manusia. Mereka adalah mahluk yang sebenarnya tidak ada menjadi ada karena banyak hal,” ujar Akio.
“Oh, ternyata kau tahu juga.”
“Tentu saja. Sebagai orang yang merasakan kehadiran mereka jauh lebih kuat,” gumamnya seraya menatap telapak tangan kanan.
“Seperti yang dikatakan oleh Ayahmu, Akio. Semenjak Shinpi-tekina ada, yokai pun sudah terlahir saat itu. Mungkin saja para leluhur pertama kali melihatnya berombongan di balik awan. Tapi ternyata ada di mana-mana bukan?”
Kenyataan yang konyol sekarang ialah kehadiran mahluk setengah manusia. Lalu wujud yang sangat jauh berbeda dibanding yokai terkutuk yang biasa berwarna hitam dalam arti keburukan.
“Mahluk yang sempat tersegel sebentar karena pendeta. Siapa dia sebenarnya Akio? Apa dia yang membunuh Shogun?” tanya Kaeda yang terkesan menuduh.
“Bukan. Akashi itu manusia. Yang membunuhnya adalah jasad Mikio.”
“Kau pikir aku percaya?”
“Lalu apa arti Ikiryo di matamu? Dialah yang mengendalikan banyak orang lalu jasad Mikio pun dicurinya.”
Kakek jadi mengerti alasan Akio yang pada saat itu terluka parah sehabis bertemu dengan Mikio beberapa minggu lalu.
'Jadi dia tidak sempat menyadari bahwa Mikio benar-benar mati ya. Pantas saja dia kalah telak,' batin si kakek.
“Aku tidak peduli soal cerita masa lalu. Pokoknya aku akan membinasakan semua yokai begitu aku melihatnya berbahaya.”
Sehabis berbicara panjang lebar, Akio menunjuk pedang yang digenggam oleh kakek.
“Kek, itu apa?”
“Maksudmu ini?”
Si kakek mengeluarkan bilah pedang dari sarung polosnya. Menunjukkan bilah pedang yang sudah berkarat namun masih mengeras seolah kumpulan besi memadat di sana.
“Ini pedangmu yang aku biarkan berkarat.” Kakek mengatakannya dengan ekspresi serius.
Bagaimana tidak? Selain berkarat, ada hal yang menganggu mereka begitu pedangnya dikeluarkan. Tak lain adalah aura jahat terpancar di sana.
“Minta pendeta saja untuk menyucikannya. Lalu berikan pedang itu kembali pada Akio,” tutur Kaeda.
“Kau yakin?”
“Heh, tentu saja dia akan berkata begitu karena pedang yang aku minta akan selamanya ditahan olehnya!” sahut Akio yang masih tak terima.
“Pedang yang kalian bicarakan pasti Retsuji. Tapi aku rasa tidak masalah jika membiarkan Akio menggenggamnya.”
“Pada anak yang tahunya hanya membunuh yokai saja? Itu sama sama saja membiarkan pedang itu mati,” tegas Kaeda dengan mata melotot tajam pada mereka berdua.
Sontak keduanya terdiam.