Samurai Oni

Samurai Oni
PENDETA SUCI



Datang seorang pendeta membawa senjata khasnya; kertas mantra dan tongkat suci dalam genggamannya. Dengan tekad yang terpancar dalam sinar kedua matanya, ia melemparkan beberapa kertas pada para yokai.


Dalam sekejap semua kertas itu menempel pada tubuh mereka tak terkecuali dengan Akio.


“Dari surga, lenyaplah!” Mengucapkan mantra dan mengubah bentuk jari-jemarinya ke depan dada, pendeta membuat kertas mantra itu terbakar oleh api biru lalu membakar tubuh mereka.


“ARGHH!! APA INI??? PANAS!!!”


Semuanya merintih kesakitan, tapi lain cerita jika Akio. Secara ia adalah manusia, mantra yang dirapalkan adalah untuk melenyapkan yokai saja.


Namun nampaknya Yasha tak terpengaruh oleh api biru tersebut. Ia masih berwajah tenang dan terus tersenyum sebagaimana itu adalah ekspresi Yasha sehari-hari.


“Tolong serahkan urusan ini pada saya.” Yasha berucap lantas mengayunkan tangannya ke samping.


Api biru lenyap dan kertas mantra pun telah hilang tak bersisa. Pendeta itu pun terkejut. Ia spontan melangkah mundur untuk menjaga jarak.


“Yokai macam apa dia? Kenapa dia bisa bertahan?” Pendeta menggerutu, tak percaya karena ini adalah kali pertamanya terjadi.


“Pendeta, kami tidak bermaksud untuk melukai. Melainkan kami semua hanya ingin melindungi tuan kami.”


“Tuan? Apa orang yang berada di tengah kalian itu?”


“Ya. Itu benar.”


“Jangan banyak berbicara dengan pendeta itu. Tidak ada gunanya karena dia akan menggunakan sesuatu!”


Seperti ucapan Kizu, nampaknya pendeta enggan mengalah. Terlebih ada yokai di depan mata, mana mungkin dirinya melarikan diri sebelum melakukan sesuatu.


Ia mengeluarkan kertas yang lain, bentuknya sedikit berbeda dan begitu dikeluarkan, kertas tersebut mengubah wujudnya menjadi rupa manusia.


“Shikigami?”


“Kalian berdua tahanlah mereka sebentar. Aku akan membuat mantra penyegelan saat ini,” ucap si pendeta pada shikigami miliknya.


“Hm, menggunakan boneka kertas untuk bertahan. Dia akan melakukan sesuatu pada kita, apa yang harus saya lakukan Tuan?” tanya Yasha pada Akio.


“Bunuh!” seru Kizu.


“Hentikan! Jangan memulai pertarungan.”


“Tapi dia yang mulai! Berani sekali dia menginjak harga diri tuan?!”


“Itu benar! Ini tidak bisa dibicarakan baik-baik,” sahut Akashi jengkel. Ia lantas menyerang shikigami tersebut secara beringas. Menggunakan cakar pada tangan merah dan setidaknya berhasil menggores penghalang serta merobek mereka berdua.


“Akashi! Jangan bertindak ceroboh! Pendeta itu akan melakukan sesuatu!” peringat Nekomata.


“Apa?” Akashi berhenti mendadak. Dan begitu ia menoleh, secercah cahaya menyerupai tombak menembus dadanya.


“Akashi!”


“Yasha,” panggil Akio dengan suara amat lirih.


“Ya?”


Sepertinya Akio memberikan Yasha perintah sesuatu, dan entah apa yang dikatakannya di saat kebisingan mengitari mereka. Pendeta melakukan gerakan yang mencurigakan kini telah ditargetkan oleh Yasha.


Yasha melesat, dirinya menembus dinding penghalang yang seharusnya sulit ditembus, pendeta membelalakkan mata tak percaya, ia lantas segera pergi ke anak tangga yang lebih tinggi.


Aliran listrik yang sama menyambar jari jemari Yasha yang hendak mencengkram lehernya saat itu.


“Wah, Tuan Pendeta kurang ramah ternyata.”


“Yokai macam apa kau?! Perlihatkan wujud aslimu!” teriak sang pendeta seraya melemparkan satu kertas mantra padanya. Api berwarna jingga menyambar keluar dan mulai mengitari tubuh Yasha.


Di samping aliran listrik yang datang dari penghalang berlapis di setiap anak tangga serta api yang membara, Yasha pun harus berupaya mengendalikan perubahannya saat ini juga.


“Akashi mati?”


Ujung pada pedang kayu menusuk bagian luka Akashi, dan perlahan lukanya menutup, pedang kayu Akio pun terjatuh.


Situasi jadi lebih rumit karena kedatangan pendeta. Awalnya Akio tak ingin melibatkan pendeta, dan berharap sampai ke kuil tanpa hambatan. Tapi siapa sangka karena membawa yokai maka malapetaka seperti ini akan datang.


Mantra yang digunakan oleh pendeta pada tubuh Akashi ialah mantra penyegelan. Bisa dikatakan mati atau tidak mati. Tubuhnya tidak terluka namun jiwanya dibawa keluar dan berkelana. Ternyata inilah yang hendak dilakukan pendeta begitu mengetahui bahwa mereka bukanlah yokai yang mudah dikalahkan.


Namun Akio setidaknya berhasil menghapus mantra dengan kekuatannya sendiri. Lekas ia berjalan menaiki anak tangga, selangkah lebih ke atas dari Yasha.


“Oni! Kau bahkan bisa menerobos penghalang ini?! Sekuat apa kau sebenarnya!?”


“Tuan ...”


“Apa hanya itu saja kemampuanmu, Yasha?” ujar Akio yang seolah merendahkan.


Yasha yang selalu tenang pun dibuat terkejut olehnya hari ini. Ia sedikit menertawakan diri sendiri, agaknya ia merasa payah setelah lama duduk diam sebagai penjaga makam selama berpuluh-puluh tahun.


“Saya tidak bermaksud untuk melukainya. Tolong camkan itu, Tuan,” ujar Yasha lantas mengayunkan cakar pada lengan kanannya.


Cakar itu mampu merobek penghalang hingga lenyap lantas mengubah bentuk menjadi cakar yang memiliki bisa racun, memanjang hingga akhirnya menyentuh sedikit dari bagian pakaian sang pendeta.


Srak!


“Ah? Ini ...,”


Pendeta itu terdiam sejenak lantas menatap yokai yang memiliki rupa manusia. Yasha membuat si pendeta itu bergidik. Ia tak bisa melakukan sesuatu bahkan menyegelnya saja takkan cukup.


“Siapa kalian sebenarnya?!”


Pendeta itu kemudian mengambil langkah menuju ke anak tangga yang lebih tinggi. Pada saat itu penghalang berlapis kembali didirikan di setiap anak tangga kuil.


“Itu tidak bisa dikatakan, Tuan Pendeta.”


“Kalian para yokai sebenarnya apa tujuan kalian datang kemari? Katakan!”


“Tuan?” Yasha melirik ke arah Akio.


Akio menggelengkan kepala, lantas Yasha nekat menaiki anak tangga sekali lagi, meski hanya berakhir menyentuh sedikit dari bagian anak tangga di depannya itu.


“Yokai seperti kalian tidak mungkin mencari hal yang seharusnya tidak bisa kalian capai di tempat ini! Pergilah!”


Pendeta melintangkan lengan kirinya, mengusir mereka semua untuk pergi.


Melihat mereka hanya diam di sana, pendeta sekali lagi berkata, “Pergilah!”


“Tuan Pendeta tidak berbuat melenyapkan kami?”


“Aku tahu ada manusia di antara kalian. Siapa pun tuan kalian, aku mohon padamu untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.”


“Itu tidak bisa. Tuan kami ingin melakukan sesuatu di tempat sana. Bisakah membiarkan kami lewat? Kami takkan menganggu.”


“Aku tidak merasa bahwa kalian akan membunuhku. Karena itulah aku berbelas kasih dengan membiarkan kalian semua pergi. Tapi ternyata kalian memang berniat cari mati?”


“Heh, orang itu tidak tahu malu. Padahal dia sudah kalah jumlah dan juga kekuatan. Masih saja berlagak sombong,” tutur Kizu.


“Tuan kami tidak menginginkan adanya pertumpahan darah.”


“Kalau begitu cukup tuan-mu itu saja!”


“Pergilah,” ucap Akio pada Yasha.


“Tidak bisa. Saya merasa akan berbahaya jika membiarkanmu sendirian.”


Ucapan Yasha sama sekali tak didengar olehnya, Akio justru menaiki anak tangganya begitu saja.


“Tunggu, apa kau adalah tuan dari mereka?” Pendeta itu mengacungkan tongkat pada Akio.


Seorang pria datang dari atas, ia menepuk pundak sang pendeta lantas berkata, “Hentikan ini, Pendeta. Sudah cukup.”