Samurai Oni

Samurai Oni
KITSUNE (RUBAH) BAG I



Akashi yang datang langsung menyebutkan bahwa wanita yang sedang berada di dalam sungai itu bukanlah wanita maupun pria. Entah dari mana ia bisa berpikir seperti itu.


“Tuan Akio, mungkin dia kakek atau nenek? Baunya samar-samar ...atau mungkin dia hantu?”


Ditambah lagi pikiran Akashi semakin melantur yang tahu seburuk apa situasi ini justru mendekati wanita itu sembari menyodorkan tangannya.


Akashi berkata, “Coba sini kupegang dadamu sebentar.” Kalimat konyol lagi yang keluar dari mulutnya itu.


“Hah!! Kalian berdua sama-sama tak beradab ya! Yang satu hanya sekadar pergi tanpa bilang maaf dan satunya lagi berkata tidak sopan!” Amukan wanita itu kian mengganas.


“Justru kau yang tidak sopan. Hei, dia itu tuan-ku. Apa pun yang dilakukannya adalah tindakan yang selalu benar. Jadi kau tidak boleh protes,” ucap Akashi membela Akio.


“Apa-apaan kau! Harusnya kau berkaca dulu sebelum bicara, dasar kau mahluk tak beradab!” pekiknya seraya menampar wajah Akashi.


Tamparan itu mendarat begitu mulus namun kencang, seolah terkena tinju seorang pria, Akashi yang menerima dampaknya pun lantas membalas.


“Hei, dilarang menggunakan kekerasan secara sepihak!” sahut Akashi, enggan mengalah, ia hendak melayangkan pukulan pada wajah wanita tersebut.


“Harusnya aku yang bilang begitu!”


Sebelum semuanya jadi kacau balau tak karuan, akhirnya Akio turun tangan. Ia menarik pakaian Akashi lalu menyingkirkannya dari hadapan wanita tersebut.


Sembari menuliskan kata "Maaf" di tanah, Akio menundukkan kepala pada wanita itu.


“Ngomong dong! Memangnya kau bisu?!”


“Hei, berani-beraninya kau mengolok tuan-ku! Tidak peduli kau kakek ataupun nenek-nenek, aku akan tetap menghajarmu sebagai pedang Tuan Akio!”


Benar-benar tak mau kalah, nampak emosi bertarung kian menggelora di antara mereka berdua. Akan tetapi, Akio yang tidak mau membuat masalah karena sayang tangan juga nyawa, segera ia menarik Akashi kembali dan berdiri di hadapannya sebagai perisai.


Dan seperti memberi perintah, "Jangan menyerang."


“Tuan Akio! Aku tidak rela kalau penyelamat ku dihina. Lagi pula kenapa mengintip seseorang yang tidak jelas asal-usulnya harus dipermasalahkan hingga seperti ini?” ujar Akashi bertanya.


“Hei, tangan merah! Kau tadi ngoceh apa hah? Aku sedang mandi dan kau mengintip, memangnya salah aku marah!”


“Hah, berhenti berteriak seperti orang bodoh, kakek tua!”


“Kau yang bodoh di sini!” teriaknya, ia lantas mengangkat sebelah kaki tuk berpijak pada bebatuan di sana.


“Oh, kau mau bertarung? Baiklah, aku akan meladenimu. Lihat saja!”


Wanita itu sudah tidak memakai sehelai benang pun namun masih berani menunjukkan seluruh tubuhnya itu dari dalam sungai, sungguh menakjubkan.


Bahkan berniat bertarung dalam kondisi seperti itu, Akio merasa ia harus memujinya.


Tetapi, meski kelihatannya wanita itu akan menyerang Akashi, namun tidak setelah melihat arah bola matanya.


'Kh, ada orang yang sudah berani melihatku. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membunuhnya sebelum kawanannya datang,' batin wanita itu.


Ia pun melesat dengan menggunakan pijakan bebatuan guna mempercepat gerakannya. Ibarat menggunakan pelontar, gerakan lompatan yang cukup cepat dan lincah itu digunakan tuk mengincar punggung Akio yang lebar.


“Manusia, kau benar-benar tidak beruntung karena telah bertemu denganku,” tuturnya.


“Takkan kubiarkan!”


Seperti yang diharapkan, Akashi berdiri melindungi punggung Akio dan menahan kedua tangan wanita itu hanya dengan satu tangan merahnya.


“Ugh! Ternyata kau yokai-oni rupanya!”


“Tuan Akio berkata aku manusia. Kenapa tidak panggil namaku Akashi!”


“Heh, omong kosong!”


Tampak perubahan wujudnya sedikit berubah. Tubuh yang langsing menjadi kekar, bagian yang terbentuk menyembul kini sepenuhnya rata.


“Dia bukan wanita tapi pria!” lanjutnya.


Membuat Akio penasaran, sama seperti Akashi, ia pun sangat terkejut akan perubahan tersebut. Namun, tidak hanya itu saja.


“Kalian berdua telah melihatku, jadi aku takkan menahan diri lagi untuk membunuh kalian!”


Senyumannya semakin lebar dan taring tajam mencuat di gigi gerahamannya. Sosok wanita yang telah berubah menjadi pria kini beralih ke wujud aslinya. Wujud yang sebenarnya.


“Akan kuhabisi dalam sekejap!”


Sosok rubah bertubuh sedikit besar, bulu lebat berwarna putih dan mekar di bagian lehernya, kedua telinga yang berbentuk runcing lalu sebuah ekor.


“Ru-ru-rubah?” Saking syok, Akashi jadi kehilangan kendali atas gerakan tubuhnya sendiri. Ia takut sekaligus bingung, apa yang harus ia lakukan karena ini pertama kalinya berhadapan dengan seekor rubah.


Perlahan Akio menyentuh pundak Akashi, lalu menunjuk ke belakang sebagai isyarat untuk Akashi segera pergi.


“Kau menyuruhku pergi begitu saja? Aku tidak mau! Aku tidak mau semakin berhutang budi padamu, Tuan Akio!”


Menahan rasa takut dan mengubahnya menjadi tekad, terpancar sorot mata keberanian yang telah bersiap menyerang.


Lain halnya dengan rubah putih itu, hanya ada rasa kebencian itulah mengapa Akashi sedikit terpengaruh karena indera yang dimilikinya terlalu meluas dari diri sendiri.


Rubah menggeram keras sesaat sebelum dirinya melancarkan serangan, ia nampak gelisah akan sesuatu. Ekor matanya bergerak ke arah kiri dan kanan secara bergantian.


“Hm, perasaanku jadi aneh.”


Tetapi, ia memilih untuk melupakannya saja sebab musuh ada di depan. Lekas ia melompat dengan kaki empatnya, menyerang dengan cakar yang ia miliki.


Akio langsung menggeser posisi Akashi, sehingga bekas dari serangan bercakar itu hanya sampai ke tanah saja. Tanah pun seolah terkoyak hanya karena serangan biasa dari rubah.


“Tuan Akio!!”


Berdiri melindungi Akashi serta bertahan dalam serangan rubah, tanpa menggunakan pedang kayu, Akio meremas tulang lengan si rubah putih hingga patah.


“ARGHH!!”


Tanpa ampun, Akio lantas melemparnya hingga kembali ke perairan sungai.


“Tuan Akio, dia itu rubah yang bisa bicara?” tanya Akashi.


Akio menjawab dengan menganggukkan kepala, sebagai tanda "ya", namun dirinya masih meragukan akan hal itu.


Karena sekarang rubah itu kembali berdiri dengan kaki depan yang tidak bisa digunakan. Ia berdiri dengan emosi kebencian yang amat mendalam.


“Siapa dia sebenarnya? Aku baru pertama kali melihat ada penduduk yang bisa bertarung.”


Rubah kembali berlari dengan sekuat tenaga yang bisa dikeluarkan. Pancaran mata yang tak pernah mati, menatap tajam pada Akio seorang. Niat membunuh telah tertancap pada lubuk hatinya.


“Manusia! Aku benci!! Matilah!”


Rubah menggunakan taring tuk menggigit lengan Akio. Akashi spontan meraih wajah rubah menggunakan tangan merahnya.


“Tuan Akio, mundurlah!”


Akashi mencium bau bahaya, untuk itulah ia melindungi Akio karena takut terjadi sesuatu yang buruk. Namun, Akio justru menggenggam kedua wajah yokai tersebut lantas membantingnya ke tanah.


BRUAKK!


Baik Akashi maupun rubah, kedua yokai pun tumbang.


“Kenapa ...Tuan Akio?” Lirih-lirih Akashi mencoba berbicara yang pada akhirnya ia tak sadarkan diri di tempat.


Begitu juga dengan rubah, terlihat ia masih memiliki tenaga tersisa dengan setengah kesadarannya.