
Samurai Pedang Hitam, itulah sebutannya. Pria itu datang karena ingin bertemu Samurai Oni yang bernama Akio. Entah dengan tujuan apa sebenarnya, namun maksud baik tak pernah tersampaikan pada Akio.
Ia hampir menarik pedang yang tersembunyi di balik pakaiannya, hanya karena keberadaan pria ini. Sama seperti sebutan dan keseluruhan dari perlengkapannya, terdapat aura hitam di balik punggung pria itu.
“Tenanglah, Samurai Oni. Pria ini bukanlah musuh.” Begitulah kata Mizunashi.
Meski tak ingin mempercayai namun Akio memilih untuk diam agar tak menambah beban hukumannya sendiri. Terlebih ada kepala klan dari salah satu pendiri negeri Shinpi-tekina, salah-salah kepala Akio akan terpenggal di sini.
Menuruti perkataan Mizunashi, ia pun kembali duduk.
“Silahkan duduk, Tuan Mikio.” Mizunashi pun mempersilahkan pria itu agar segera duduk di tempat yang sudah disediakan.
“Tuan Akio!!” Namun, nampaknya pertemuan ini akan terganggu sesaat lagi.
Akashi yang mengandalkan indera penciumannya telah berhasil menangkap jejak dari bau Akio. Sebagai seorang samurai dan tentunya sebagai tamu di kediaman Mizunashi, tentu Akio takkan langsung pergi begitu saja.
“Tuan Akio!!”
“Eh, ada yang memanggil?”
Suaranya semakin mendekat. Lekas Akio mengetuk pelan lantai tatami di dekatnya, berusaha untuk mengajak berkomunikasi dengan Mizunashi guna mengatakan sesuatu hal yang penting.
“Kau butuh sesuatu?”
Akio menggelengkan kepala, lalu ia menulis satu kalimat bayangan dengan jari telunjuk. Terbaca hanya dengan gerakan jarinya yang mengungkapkan, "Aku akan pergi mengusir orang gila itu."
“Eh?” Mizunashi tidak tahu bagaimana maksudnya, namun Akio pergi setelah menganggukkan kepala lagi.
“Sepertinya Samurai Oni terganggu dengan keberadaan saya?” pikirnya seraya berdeham. Mikio sedikit tersenyum.
“Ah, bukan. Bukan seperti itu. Terkadang Samurai Oni bersikap tidak sopan. Ah, mungkin sering?” Mizunashi jadi bingung, ini akan jadi bagaimana.
Sebab tamu berkunjung hanya untuk menemui Akio yang sulit dicari. Namun setelah dipertemukan, Akio justru melarikan diri dengan alasan yang sulit dijelaskan.
“Benarkah begitu? Lantas siapakah seseorang yang memanggil nama asli dari Samurai Oni? Aku amat penasaran,” tanya Mikio.
“Sejujurnya saya sendiri tidak begitu mengetahuinya. Malah, baru saja tahu kalau dia memiliki pengikut sekarang.”
Mizunashi beranjak dari tempat duduknya, berpamitan sebentar untuk menemui Akio kembali. Mikio mengerti dan akan duduk menunggu di ruangan ini.
“Pelayan saya, Tadashi akan kemari sebentar lagi. Jika butuh sesuatu, maka tanyakanlah padanya,” ucap Mizunashi.
“Ya. Aku mengerti. Terima kasih, Mizunashi Kage.”
Namun, belum sampai Mizunashi keluar dari ruangan, Mikio kembali memanggilnya.
“Tunggu sebentar, Mizunashi. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Dan aku rasa Samurai Oni sudah mengurus hal yang baru saja kau ingin urus itu,” celetuk Mikio.
Mikio berniat menahan langkah Mizunashi dengan tujuan dan maksud tertentu.
“Ya, boleh saja. Jika Tuan Mikio tidak keberatan.”
“Jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Cukup Mikio saja, itu akan membuat kita jauh lebih akrab bukan?”
Mikio ikut beranjak dari tempat duduk, lantas menghampiri Mizunashi yang telah berada di ambang pintu.
“Hal yang ingin aku tanyakan, mengenai Samurai Oni, Akio. Pria itu sudah berapa lama dia hidup di negeri ini?” Mikio mengajukan pertanyaan.
“Sekitar 20 tahun,” jawabnya dengan ekspresi terkejut sendiri karena Mikio menanyakan hal tersebut.
“Ternyata dia sudah sebesar itu rupanya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa dia adalah Akio itu sendiri. Sudah lama tak berjumpa, aku sangat rindu.”
“Tidak apa-apa. Ini bukan masalahmu. Karena aku yakin kami akan bertemu kembali entah itu di mana.”
Mikio terlihat lesu dibandingkan dengan Mikio yang pernah Mizunashi lihat beberapa tahun silam. Mizunashi akui bahwa Mikio yang sekarang nampak berbeda.
Sebelum ini, keberadaan Mikio sempat dinyatakan hilang dan diduga karena arus deras dan laut yang mengamuk lebih ganas dari biasanya. Tetapi, sekitar sebulan lalu Mikio telah menampakkan diri.
Semua klan pun terkaget-kaget karena Mikio telah kembali. Siang ini, sebelum bertemu Mizunashi pun, dirinya bertemu dengan Uchigoro Tamura. Salah satu kenalan dekatnya.
Mikio, dikenal sebagai Samurai Pedang Hitam. Bukan dari salah satu pendiri klan sebab pria ini adalah orang yang bebas. Meski tidak dikatakan bahwa dirinya adalah ronin, namun sekarang bisa disebut sebagai pengembara tanpa memegang nama keluarga.
Hanya, Mikio. Itulah asal-usul yang banyak diketahui oleh para penduduk negeri.
Hubungannya dengan Akio, sampai saat ini masih samar-samar.
“Ya, saya akan menjadikan itu nyata. Lalu, apakah hanya itu saja?”
“Aku ingin mendengar apa yang terjadi padanya sampai dia harus menggunakan topeng oni seram itu? Dan aku tidak melihat satu pedang pun di pinggangnya.”
“Dia dihukum. Untuk saat ini saya tidak bisa menjelaskan alasannya,” jawab Mizunashi.
“Aku turut prihatin.”
“Dan meskipun kamu berkata bahwa Akio mengurus masalah itu, sepertinya itu sulit dipercaya. Kamu sendiri tahu seperti apa itu Akio,” lanjut Mizunashi. Lantas ia pergi.
Tadashi, pengikut sekaligus pelayan di kediaman Mizunashi datang ke ruangan. Menemui Mikio dan menjamunya di sana.
“Siang, Tuan Mikio. Saya Tadashi, pelayan di kediaman ini.”
Mikio tersenyum lantas menjawab, “Ya, siang, Tadashi.”
Di luar terlihat menyenangkan, namun raut wajah apa yang disembunyikan itu masih misteri. Saat ini Tadashi sedikit mencurigai Mikio.
“Silahkan dinikmati. Kami mempunyai teh herbal yang sesuai selera Tuan, dan camilan kue beras. Ini semua adalah kesukaan Tuan Mikio, benar?”
Mikio menatap camilan kue berat itu lamat-lamat, terlihat ia meragukannya namun setelah itu ia menjawab, “Ya, kau benar.” Lalu camilan itu tidak dimakan justru hanya diletakkan kembali ke tempat.
Jawaban itu pun terdengar ragu di telinga Tadashi yang sampai saat ini ia harus memasang senyum di wajahnya setiap detik.
“Sudah lama kita tidak bersua. Bagaimana kabar Anda selama ini? Semoga saja baik selalu.”
“Iya, saat itu kau masih anak-anak. Tubuhmu yang mungil sempat kukira adalah perempuan. Tapi siapa sangka sekarang kau sudah besar, gagah layaknya pria sejati,” ucapnya memuji.
“Terima kasih atas pujianmu, Tuan Mikio. Saya senang apabila obrolan kita nyambung sejak tadi.”
“Harusnya aku yang berterima kasih padamu, Tadashi. Sementara kepala keluarga di sini tampak kikuk menghadapi seseorang. Yah, aku memaklumi.”
Rambut yang panjang namun tebal dibiarkan tergerai begitu saja. Setiap helai rambut yang jatuh ke depan tak sedikitpun menghambatnya. Padahal rambut itu sudah hampir sepanjang belakang lutut.
“Selama ini Tuan Mikio pergi ke mana saja? Semua orang berpikir bahwa Anda sudah lama mati. Tiba-tiba muncul seperti ini, rasanya aneh.”
Mikio menepuk pelan ujung rambut Tadashi sambil berkata, “Aku tahu itu. Aku bahkan harus mengendap-endap untuk sampai kemari.”
Tadashi menatap nanar, merasa aneh pada pria yang ada di hadapannya sekarang.
Samurai Pedang Hitam itu pula mengutarakan sesuatu yang membuat Tadashi terkejut.
“Jika aku harus menjawabmu, akankah kau percaya bahwa aku berasal dari seberang lautan?”