Samurai Oni

Samurai Oni
PERTEMPURAN TAMA



Kota Tama.


“ARGHHH!!!”


Dipenuhi bau dan genangan darah, jeritan kesakitan, lalu keputusasaan. Ini semua terjadi ketika Migi-Hidari mengibaskan seluruh tubuhnya dan melemparkan semua tombak yang sebelum ini tertancap di tubuhnya kini berbalik menyerang para samurai.


Uchigoro berusaha menangkis sambil melindungi mereka. Terkadang pula ia harus menghindar, dan begitu serangan balasan berhenti, Uchigoro sekali lagi berhadapan dengannya.


“Yokai tidak tahu aturan. Seharusnya kau diam saja di sarang sana!!”


Menarik pedang tuk membalas serangan, Migi-Hidari yang seharusnya tak punya apa-apa pun telah berubah. Sesuatu yang membuat sekitarnya gelap, hingga Uchigoro dan lainnya terdorong mundur sejauh beberapa meter.


Hanya dalam waktu singkat itu, langit kembali terang dan menunjukkan ribuan para yokai terkutuk dengan wujud kecil berkaki empat. Perawakan mereka yang seperti manusia kecil, namun gaya jalan mereka nampak seperti seekor hewan.


“Serang!!!”


Tidak ada waktu untuk merancang sebuah rencana. Penyerangan selalu dilakukan secara serentak dan maju ke depan. Uchigoro yang hendak menuju ke Migi-Hidari, sempat dikerubungi oleh yokai-yokai kecil tersebut.


“Tuan! Jalan kemari!”


Akan tetapi salah satu dari mereka yang kemudian bekerja sama dengan lainnya tengah membukakan jalan. Uchigoro yang langsung memahaminya pun lekas berlari cepat menuju Migi-Hidari.


Sorakan dari para samurai. Merebut kemenangan tanpa korban memanglah mustahil, namun tidak ada waktu untuk menyesali ataupun bersedih sebab bencana sudah berada tepat di depan mata.


Uchigoro yang hendak sampai menuju Migi-Hidari. Terjadi sesuatu lagi pada Migi-Hidari. Bentuk mereka yang menyerupai tangan-tangan manusia, telah berubah drastis menjadi wujud manusia lelaki kembar.


“Hanya penampilan, kau pikir aku akan ragu menyerang?!” pekik Uchigoro.


Mempertaruhkan segalanya, Uchigoro melayangkan serangan dengan satu pedang kebanggaannya. Satu-satunya pedang yang berharga itu beradu cepat antara menyerang sekaligus bertahan dengan cakar di setiap jari-jemari Migi-Hidari.


Karena wujud mereka ada dua, Uchigoro kesulitan mengimbanginya. Ia harus berwaspada pada belakang punggungnya, namun juga kesulitan tuk menyerang salah satu dari mereka yang berada di depannya saat ini.


“Melawan kami sendirian adalah satu kesalahan fatal, manusia!”


Menyerang langsung dari depan, terserang dari belakang. Uchigoro yang tahu itu akan terjadi pun takkan sempat mengelak bahkan sedikit jarak saja sudah sangat kerepotan. Migi-Hidari, kedua yokai yang sudah berbentuk wujud layaknya seorang manusia sungguhan, lantas menyerang Uchigoro yang tertunduk habis-habisan.


“Manusia! Kau tidak bisa mengalahkan kami!”


“Itu benar!”


Ketika semua cakar tajam itu menyerang Uchigoro yang hanya bisa bertahan. Sesuatu kembali muncul, namun kini bukan dari Migi-Hidari melainkan dari seseorang lainnya.


Sebuah senjata berupa pisau kecil menghentikan serangan salah satu dari Migi-Hidari, yang selalu memakai tangan kanan—Migi. Hanya untuk sesaat saja serangan mereka berhenti, dan Uchigoro memanfaatkan waktu singkat tersebut tuk kembali menyerang mereka.


Ia memutar tubuhnya 360° dengan bilah pedang yang mengikutinya berputar. Akhirnya Uchigoro dapat menyerang kedua dari jenis yokai tersebut. Lantas segera mengincar kepala salah satu dari mereka yang paling terdekat.


“Celahmu sangat besar!” Namun, Hidari—yokai tak jauh darinya juga memanfaatkan celah Uchigoro. Punggung yang terbuka lebar sungguh samsak yang paling nyaman diserang.


“Gawat!!”


Lagi-lagi Uchigoro lengah.


TAP!


Nyawanya berhasil terselamatkan, berkat seseorang yang tiba-tiba muncul serta menangkap tangan Hidari. Sementara Migi melompat mundur dan bersiap mengambil ancang-ancang.


“Tidak perlu. Aku datang untuk menghabisi yokai. Hanya itu saja.”


Tak lain adalah Kizu, seekor rubah yang berwujud seorang pria. Ia menyamar sebagai samurai dengan pedang di tangannya, namun pada kenyataannya ia menyerang menggunakan cakar yang lebih panjang dari Migi-Hidari.


“Baiklah, terserah.”


Uchigoro mampu fokus pada salah satu jenis yokai yang sama. Sementara Kizu menyerang salah satunya yang lain yakni Hidari. Dengan memisahkan Migi-Hidari, kedua dari mereka pun mampu melakukan pertarungan secara terpisah.


Uchigoro pun takkan menyuruh para anak buahnya tuk menumpahkan darah mereka lagi hanya untuk hal ini saja. Terlebih menyerang yokai yang hanya bisa menggunakan tangan kanan seperti namanya, Migi. Tidaklah sulit bagi Uchigoro.


SLASHH!


Hanya butuh satu tebasan, terpenggallah kepala Migi, dan melayanglah menuju ke langit. Lalu terjatuh meninggalkan bekas abu berserakan.


“Aku sungguh bersyukur. Ternyata kelemahan Migi-Hidari hanyalah cukup dengan dipisahkan. Dengan begitu kekuatan mereka takkan seimbang.”


Migi berhasil dibinasakan, separuh dari yokai kecil yang berada di bawahnya pun secara otomatis lenyap.


“Tuan! Yang tersisa hanyalah Hidari!”


“Ya, aku sangat mengerti. Tapi tidak apa-apa. Migi dikalahkan maka sama saja kekalahan Hidari.”


Migi-Hidari. Salah satu dari Prajurit Neraka yang disebut sebagai bencana. Dalam wujud jari-jari manusia sebelumnya saja sudah menghabisi banyak samurai. Kurang lebih 200 dari pihak Uchigoro Tamura yang berada di kota Tama. Korban sebanyak itu hanya karena mengibaskan tombak baik dari tubuh mereka maupun sekitarnya, jujur saja itu sangat merugikan.


Lalu, begitu mereka mengubah wujud mereka dalam wujud manusia. Secara tak langsung mereka memiliki indera sebanyak yang dimiliki manusia. Tanpa kekuatan murni dari seorang yokai sejati, mereka hanya sekadar keroco di balik nama palsu saja.


Namun, Uchigoro menemukan satu keanehan begitu Migi-Hidari mulai menyerangnya sebelum ini dengan wujud manusia.


“Aku penasaran, kenapa mereka melakukan itu? Hanya dengan cakar, mereka pikir bisa? Tapi aku akui mereka memiliki kecepatan dan kekuatan di luar nalar. Namun, tetap saja aneh.” Uchigoro memandangi telapak tangannya yang gemetar.


“Maaf, apa yang aneh Tuan?”


“Tolong sampaikan pada kota sebelah, situasi yang kita alami. Cukup kau seorang saja.”


“Baik!”


Setelah memberi perintah pada salah satu anak buahnya. Uchigoro memperhatikan para samurai lainnya yang tengah membantai para yokai kecil. Tak melihat bahwa mereka kesusahan, Uchigoro lantas mengarah pada Kizu.


Hidari sudah melemah semenjak dikalahkannya Migi. Itu yang dipikirkan oleh Uchigoro.


“Manusia itu mahluk bodoh ya?”


Tapi semua kenyataannya itu luntur dalam sekejap, Uchigoro menengok ke belakang dan melihat Migi bangkit kembali dari abunya itu.


“Jangan-jangan mereka tak bisa dikalahkan secara terpisah?” pikirnya.


Menyadari Migi-Hidari layaknya kembar identik. Kemudian Uchigoro berteriak pada Kizu, menyatakan; “Serang kepalanya secara bersamaan!!”


Kizu berbalik ke belakang, dan mulai memahami situasi dalam waktu singkat.


“Baiklah!” Kizu menjawab.


Dan dalam bersamaan, Uchigoro dan Kizu melayangkan serangan. Berpusat ke arah kepala yang menjadi sasaran.