Samurai Oni

Samurai Oni
PERTEMUAN MIZUNASHI DENGAN HONJOU



Setelah mengetahui bahwa Akio sudah menghilang. Ketiga-tiganya pun segera kembali ke wilayah Kuran. Dengan berharap bahwa Akio berada di sana, namun ternyata tidak.


“Jika Tuan Akio tidak berada di Kuran, maupun Ibu kota atau tempat lain, maka dia benar-benar menghilang!” teriak Kizu.


“Benar. Tuan Akio tidak ada di mana-mana. Jadi, sebenarnya dia ada di mana?” tanya Nekomata pada si kakek yang tengah sibuk menyantap makanannya sendiri.


“Tuan Akio sudah mati? Itu tidak mungkin! Itu tidak mungkin!” Akashi terkapar tak berdaya, begitu memikirkan kemungkinan terburuknya.


Baik Akashi, Kizu maupun Nekomata. Mereka takut bilamana yokai wanita itulah yang membuat Akio menghilang. Dan seperti yang dipikirkan Akashi tentang kemungkinan terburuknya ialah,


“Mati?”


“BENAR!! TOLONG KAMI, KAKEK!” seru mereka bertiga secara bersamaan.


Ketakutan yang tak biasanya muncul karena memikirkan keselamatan orang lain. Memang sangat jarang dilakukan oleh mereka, namun kakek merasa bahwa mereka terlalu berlebihan dalam mengekspresikannya, meski itu adalah wajah panik mereka yang sesungguhnya.


“Yasha! Yasha ada di mana?!”


“Di sini,” jawab Yasha yang muncul di belakang mereka. Ia membawa sekantung buah dalam sehelai kain miliknya.


“Makanan ...,” Melihatnya saja membuat Akashi mengeluarkan liurnya. Memang sudah lama Akashi tak memakan buah-buahan. “Ah, bukan!” Tapi sedetik kemudian ia memalingkan wajah serta mengalihkan pikirannya.


Ia mencoba untuk fokus selagi mengungkapkan, “Yasha! Tuan Akio menghilang!!”


“Menghilang? Apa maksudmu?” tanya Yasha tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya Akashi bicarakan.


“Benar! Tuan Akio menghilang! Semoga saja dia masih hidup!” Kizu berteriak semakin histeris.


“Bukankah biasanya seperti itu?” Justru Yasha menganggapnya biasa saja.


Sontak saja semuanya terdiam. Hening seketika. Dalam beberapa menit ke depan, tak ada satupun yang berbicara. Lalu setelahnya, mereka menangis.


“Tidak.”


Kizu, Nekomata dan Akashi mengalirkan air mata untuk Akio yang sampai saat ini keberadaannya menghilang.


“Aku akan jelaskan. Beberapa hari ini, aku mendengar rumor di ibu kota tentang adanya wanita dengan pakaian serba putih.”


“Hm, lalu?”


“Aku memperingatkan hal ini pada Tuan Akio, karena takut itu akan menjadi berbahaya.”


“Tunggu sebentar,” sela Nekomata. “Wanita pakaian serba putih, apa dia memakai baju pengantin atau semacamnya?” tanya Nekomata memastikan.


“Ya. Seperti itulah.”


“Wajahnya?”


“Tidak terlihat.”


“Begitu. Kalau begitu, wanita itu pernah aku temui satu kali. Dia yokai, lalu entah kenapa dia berkata bahwa dirinya akan membantu Tuan Akio,” ungkap Nekomata dengan menundukkan pandangan.


“Membantu? Bukan untuk membunuhnya?”


“Benar. Kalau tak salah dia mengatakannya begitu.”


Nekomata menceritakan semua yang ia tahu, baik dari ciri khas yokai asing itu. Kekuatan yang pasti melebihinya maupun Kizu. Tujuannya memang tidak terbaca dengan jelas, akan tetapi apa yang dikatakannya sungguh mengejutkan.


“Membantu Tuan Akio untuk membasmi Oni?”


“Aku saat itu melihatnya langsung, Yasha.” Takao kembali muncul, kali ini ia keluar dari tubuh Yasha.


“Eh, sejak kapan kau di situ?”


“Yang lebih penting lagi Yasha, Tuan Samurai itu tampaknya benar-benar dibantu oleh yokai. Tapi, ada dua,” ungkap Takao.


“DUA?! BUKANKAH HANYA ADA SATU?!” pekik Akashi terkejut akan pernyataan Takao.


“Ada dua. Satunya adalah wanita, tapi satunya lagi aku tidak tahu. Dan karena aku takut, aku memutuskan untuk pergi.”


Sementara kakek, ia hanya berkata dengan santai, “Aduh, kalian ini berisik sekali. Biarpun dia menghilang pasti dia akan kembali lagi.” Dengan raut wajah yang begitu santai, ia acuh.


***


Di satu sisi lain, Mizunashi datang mengunjungi Benteng Tenggara Honjou. Penghalang di bagian sana sudah kembali seperti semula, sisanya hanya perlu membangun kembali benteng bagian dalam yang rusak parah.


“Honjou Eno ada di sini?”


“Ya, Tuan! Silahkan masuk!”


Mizunashi Kage telah berhadapan dengan pria sombong itu. Situasi di antara mereka tidak cukup bagus meski jamuannya sudah berada di depan mata.


Mereka saling bertatapan cukup serius, sehingga orang-orang akan berpikir bahwa mereka akan berkelahi.


“Katakan apa maksud kedatanganmu kemari?” Akhirnya Honjou Eno yang memulai percakapan.


“Sesuatu terjadi di kastil, dan kau tidak datang?”


“Maaf, aku tidak bisa. Seharusnya kau dengan mudah menebak alasannya karena apa bukan?” sahut Honjou.


“Ya, baiklah. Kalau begitu, bagaimana dengan yokai? Aku merasa aneh dengan hari ini, ada sesuatu yang telah aku lupakan dan entah apa itu.”


“Pak tua sepertimu sudah wajar menjadi pikun,” sindirnya.


“Ulangi perkataanmu, dan kau akan kena akibatnya, bocah.”


“Baiklah, aku sudah muak dengan candaan ini. Mizunashi-san, aku memang tidak tahu apa yang terjadi, jadi katakan sesuatu apa yang bisa aku lakukan untukmu.”


“Baiklah, Honjou. Aku ingin kau mencari keberadaan Samurai Oni.”


“Yokai-nya?”


“Tidak ada Yokai. Aku mengatakan itu karena apa yang aku ingat hanyalah itu saja.”


“Oh.”


Maksud kedatangan Mizunashi, ialah memastikan sampai mana ingatannya terhenti dan apa yang aneh. Meski dirinya tidak bisa mengingat apa pun lagi, namun ia tetap merasakan adanya kejanggalan. Lalu, walau dirinya kehilangan ingatan yang itu, namun ia tidaklah melupakan tujuannya.


Yakni; Samurai Oni alias Akio.


“Bantu aku menemukan dia.” Sejenak ia menghela napas, dan kembali ia bicara, “Tak hanya dirimu, aku juga meminta tolong pada yang lainnya.”


“Segitu pentingkah dia?”


“Tidak hanya penting. Aku berharap bertemu dengannya dan mau menjelaskan kejadian dalam kastil di hari itu.”


“Terserah.”


Honjou menenggak minumannya dalam sekali tenggak, lantas meletakkan cangkir itu kembali ke hadapannya. Lantas berkata, “Aku akan membantu sebisa mungkin.”


Honjou menepati janjinya pada para pengikut Akio, bahwa ia takkan membocorkan adanya keberadaan Akio saat malam itu. Tetapi, mulai sekarang, ia harus menerima permintaan Mizunashi, jika bertemu sekali lagi pada Samurai Oni maka saat itulah Honjou harus melaporkannya.


“Tapi, apa yang mau kau lakukan dengannya?”


“Sudah aku katakan bukan. Aku ingin mengetahui kejelasan yang hanya dia seorang yang mengetahuinya. Mengenai kastil itu, lalu kematian Shogun.”


Honjou Eno tercekat diam ketika mendapatkan tatapan sinis darinya. Mizunashi saat itu sangat serius mengatakannya, bahwa ia tidak lagi apa mencurigai Akio sebagai pembunuh Shogun, dan beralih bahwa ada sesosok lainnya lah yang telah membunuh Shogun serta menjebak Akio pada saat bersamaan.


“Kenapa? Aku tidak bisa percaya jika ada kemungkinan seperti itu!”


“Lalu, maksudku Mikio mudah dikalahkan oleh Akio?” sahut Mizunashi. Dengan maksud mempertegas bahwasanya Mikio yang asli takkan semudah itu dikalahkan.


**


Kedua pemimim klan berdiskusi, para pengikut Akio yang adalah yokai, dan dalam waktu yang sama pula telah terjadi sesuatu pada suatu wilayah, adanya badai salju tak wajar.