Samurai Oni

Samurai Oni
YUKI ONNA II



Sesuatu yang tak terduga membuat para pengikutnya kehilangan ia. Akashi yang datang ke Bama dibuat terkejut karena cuaca ekstrim datang. Ia mencoba untuk menerobos badai salju yang sangat kuat namun berujung kegagalan dan kemudian diselamatkan oleh seorang wanita.


Malangnya, Akashi dijebak. Ia dijatuhkan oleh wanita itu dari tebing. Tak terlihat dasarnya akibat badai salju serta kabut putih, Akashi pun hanya bisa pasrah karena terlambat bereaksi sebelum ini.


Lalu, mengira ini adalah akhir hidupnya. Ia lagi-lagi kembali terselamatkan sebuah ranting kayu namun tentunya itu tak bertahan cukup lama hanya karena tertancap di dinding tebing bagian dalam.


“Di bawah itu ...makam atau apa?”


Saat itulah ia melihat sesuatu yang menjijikan berupa tengkorak-tengkorak baik itu manusia maupun hewan serta ada pula beberapa mayat yang masih utuh dengan pakaian mereka.


“Sepertinya ini berbeda dengan yang namanya makam?”


Krek!


Sedikit demi sedikit ketahanan ranting melemah, setelah beberapa waktu ia pun terjatuh dari sana.


“Tu-tunggu!!”


Sulit bertahan di atas badai salju serta terjatuh dari tebing tanpa adanya pegangan sama sekali, ini sama saja membuat Akashi harus merelakan hidupnya.


“Tidak! Tidak! Aku tidak mau mati sebelum bertemu Tuan Akio! Tuan Akio!! Tuan Akio!!!”


Akashi terus-menerus berteriak memanggil nama Akio, tak hanya itu dirinya juga berusaha untuk menggapai bagian dari tebing.


“Bertahanlah tubuhku!” seru Akashi seraya meraih bagian dalam tebing dengan kedua tangannya. Hingga kulit pada seluruh jari-jemarinya robek dan mengalirkan darah, ia takkan melepaskannya sebelum benar-benar berhenti di tempat.


Tak!!


Setelah berjuang keras demi tujuan awalnya, akhirnya Akashi berhenti bergerak setelah bersusah payah berpengangan pada dinding tebing. Namun ternyata kedua kakinya sudah menapaki bagian dasar.


“Tidak mungkin. Aku tidak bisa memanjat lagi? Tidak. Kalau begini tidak ada yang berubah. Betapa bodohnya aku yang percaya pada seorang wanita. Dia licik seperti si rubah itu,” gerutu Akashi.


Semua luka yang ia miliki seharusnya sudah pulih namun karena pengaruh cuaca aneh ini membuat pemulihannya terhambat. Tidak hanya itu saja, sejak tadi Akashi selalu mencium bau yang hangat seperti api, akan tetapi ia sama sekali tak menemukannya.


Kini, ia harus mencari jalan keluar agar secepatnya sampai ke mana Akio berada.


“Kalau wanita itu yokai, mungkinkah dia tahu Tuan Akio ada di mana?” pikirnya.


Menyerah bukanlah pilihan awal dan akhir bagi Akashi. Selama tujuan masih ada dan tekad lalu tubuhnya utuh, Akashi akan selalu berjuang.


Demi mencapai tempat itu, Akashi terpaksa memanjat tebing dengan kegigihannya. Sampailah ia di puncak tebing usai memanjat selama satu jam penuh dengan kegigihan yang besar.


“Sampai, sampai!!” seru Akashi seraya mengangkat tangannya ke atas.


Ia hampir melupakan badai salju masih menerpa dirinya. Sehingga rasa dinginnya pun kembali menerjang tubuh yang rentan itu.


“Manusia memang lemah terhadap cuaca yang terlalu berbahaya ini. Tapi, aku bisa bertahan karena kemauanku!” ungkapnya dengan penuh semangat.


“Bagus, bagus!” Dipikir siapa, nyatanya wanita yang sama masih berada di hadapan Akashi. Ia tersenyum dan memuji sembari menepuk tangannya.


“Karena badai salju ini, aku jadi tidak bisa mencium sosok aslimu. Hm, pintar sekali!” amuk Akashi lantas melompat maju tuk menyerang wanita itu. Ia melakukannya dengan sepenuh niat serta tekad tanpa ada keraguan sedikitpun.


“Ah, bukankah kau yang terlalu bodoh?” sahut wanita itu yang kemudian tertawa.


SRAAAKKKK!!!


Aliran dalam badai salju yang seharusnya tertiup ke arah kiri darinya justru tidak pada saat itu, Akashi melihatnya mengendalikan badai salju tuk mendorong kembali Akashi.


“Kau mau menjatuhkan aku lagi ya!”


“Hahaha! Benar! Harusnya kau tahu aku siapa, aku yokai! Yuki-onna (wanita salju)!” ungkapnya dengan tawa mengerikan.


Embusan angin datang lagi dari arah depan, arah serangannya yang mudah ditebak namun sejujurnya sulit bagi Akashi untuk terus mengelak setiap waktunya.


“Hei, hentikan! Aku tidak mau terus bertarung seperti ini!”


“Kau yang memulai!”


“Bukan! Kau yang pertama kali menjatuhkanku!” sangkal Akashi.


Geram, ia lekas mendekat dengan kecepatan maksimal. Meski begitu, langkahnya terhambat karena badai salju serta pijakan yang terlalu lembut tak seperti tanah biasanya.


“Salju ini membuatku terperosok! Kakiku sudah dingin, dan aku butuh yang hangat-hangat!!” pekik Akashi seraya ia menggali tumpukan salju yang menghalangi jalannya.


“Apa-apaan dia?”


“Dan aku tidak suka menyerang wanita sepertimu!” imbuh Akashi lantas melemparkan segenggam salju padanya.


“Kau ....!” Wanita itu seketika terdiam ketika melihat cacahan salju terjatuh dari atas kepalanya. Merasa dipermalukan, kekesalannya pun makin menjadi-jadi.


“Sepertinya aksesoris itu cocok buatmu!” ujar Akashi menunjuk dengan girang.


“Berisik, bocah!”


Aura jahat meliputi sekitar tubuhnya yang putih. Badai salju semakin dahsyat serta embusan angin dinginnya semakin kuat tak terkira. Hal tersebut membuat Akashi terdorong mundur cukup jauh.


Namun wanita salju tidak melakukan itu untuk mengusir Akashi, ia bergegas mengejarnya dengan sekali lompatan. Tubuh yang melayang-layang bersama embusan angin dingin itu menghampiri Akashi sekaligus hendak membekukan tubuhnya.


“Saljunya jadi aneh. Dia yokai yang jarang aku temui.”


Tidak bisa apa pun hingga membiarkan tubuhnya menubruk sebatang pohon. Begitu ia jatuh, salju yang berada di atas dedaunan mulai turun dan menimbun setengah tubuhnya.


“Terlalu dingin.”


Telapak tangan Akashi sudah memerah, rasa dingin yang membuatnya kesakitan tidak bisa ia tahan untuk selamanya. Ia harus melakukan sesuatu terhadap cuaca dingin ini.


“Kau mau ke mana?!” pekik Wanita Salju dengan mata terang-benderang, silau bagai kaca es terpancar langsung dan menyorot ke arahnya.


“Aku tidak akan ke mana-mana,” jawab Akashi, bangkit dari sana.


“Aku tidak akan ke mana-mana sebelum mengalahkanmu!” tutupnya sembari melayangkan serangan fisik, kepalan tinju itu mendarat ke wajah seorang wanita dengan amat keras hingga tersungkur.


Tetapi, serangan fisik saja takkan membuatnya kalah, badai salju kembali menerbangkannya sejauh puluhan kilometer namun Wanita Salju dalam sekejap dapat mengejarnya bagai cahaya.


“Aku akan membunuhmu! Membunuhmu yang telah menghalangi tugasku!”


“Kau yang menghalangiku, Wanita Salju!”


Kaki, tangan, dada dan semua bagian tubuhnya perlahan membeku. Rambut hitamnya terlihat memucat, seakan warnanya berubah menjadi putih. Kedua kaki Akashi sudah tak bisa digerakkan begitu pula dengan kedua tangannya.


Karena sudah terjebak oleh badai salju dan tubuhnya membeku, Akashi dengan mudah didorong kembali menuju tebing.


***


Pada waktu yang sama, di Ibu Kota. Yokai bermata empat, untuk sesaat ia merasakan hawa keberadaan yang kuat.


“Ini ...jangan-jangan. Tapi kenapa dia masih hidup?” Apa yang ia rasakan membuatnya bergidik.