
Sebelum malam tiba, hari ketika menjelang siang. Pada saat itu seseorang yang bertempat tinggal berdekatan dengan benteng, seorang anak kecil berlarian sembari membawa anak laba-laba yang berukuran sangat kecil.
Ia berlari menjauh setelah melewati bagian dalam dan luar benteng, kemudian mengubur hewan yang digenggamnya, lantas mengatupkan kedua tangan seraya berdo'a.
Namun tanpa sadar, hal itu melahirkan malapetaka lainnya.
***
Dirinya yang diramalkan, memiliki sebuah rahasia terpendam yang hanya diketahui para klan pendiri negeri Shinpi-tekina. Keberadaannya yang ada namun tidak ada, itulah "dia."
Pada saat itu, entah mengapa Akio hanya sendirian saja. Padahal sebelumnya, ia sedang bersama dengan kakek tengu, Akashi, Kizu, Nekomata dan Yasha. Namun sekarang tidak ada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Berniat abai, justru dirinya terjerat oleh sesuatu. Benda yang lengket hampir menutupi sekujur tubuhnya. Terlebih Akio sama sekali tidak bisa menggerakkan satu jari pun.
Begitu dirinya dibawa ke atas, rembulan malam sempat menyinarinya dan barulah Akio tahu bahwa benda putih ini adalah sebuah jaring laba-laba. Kehadiran satu yokai dapat ia rasakan, dan sekarang ia tengah dibawa ke sana. Menuju ke sebuah benteng bagian luar, Benteng Tenggara Honjou.
Benteng yang sebelumnya hancur karena Akio, sekarang telah menjadi sarang laba-laba. Terdapat jaring-jaringnya di mana pun Akio melihat. Benteng telah dikuasai oleh yokai.
Tak seorang pun tahu bahkan rumah penduduk yang berada dekat dengan benteng pun tidak akan mengetahuinya bahwa situasi ini terjadi begitu cepat. Inilah malapetaka.
Di mana Benteng Tenggara Honjou yang seharusnya menjadi pondasi di bagian depan justru hancur dalam sekejap. Penghalang di sekitar pun menghilang tak seperti biasanya, seakan telah dirusak sebelum ini.
Dalam kondisi terbalut jaring laba-laba, Akio dijatuhkan ke depan benteng bagian dalam, bagian halaman.
“Apa yang terjadi?”
Akio bertanya-tanya pada dirinya sendiri, padahal setidaknya ia berharap bahwa salah satu dari pengikutnya mengurus hal ini tanpa dirinya, tapi siapa sangka mereka akan mengecewakan.
“Hah, bergerak saja tidak bisa.” Keluh kesah Akio yang tenaganya terkuras habis usai bergelut dalam pedang melawan ribuan yokai pendendam.
Ia lengah namun juga lelah karena ini semua.
“Ya, ampun.”
Tetapi, ada sesuatu. Selain mencium kehadiran yokai yang memiliki jaring-jaring ini. Akio mendengar suara rintihan seseorang, satu demi satu. Ada yang terdengar keras, adapun yang terdengar sangat lirih hingga nyaris tak terdengar apa pun.
Akio melirik ke sudut pandang yang bisa ia lakukan, namun ia tak menemukan asal sumber suara tersebut. Ia sama sekali tak merasakan adanya kehadiran orang lain selain orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya.
“Sakit.”
“Tolong. Kumohon.”
“Tolong, siapa pun!”
Rintihan itu sekarang mulai terdengar lagi, kali ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Akio berpikir apakah dirinya sedang berhalusinasi ataukah apa?
Ia benar-benar tak mengerti akan situasi saat ini.
“Siapa pun di sana! Jawab aku! Kau dengar aku?!” pekik Akio mencoba untuk berkomunikasi pada seseorang.
“Ya. Aku dengar!”
“Aku juga! Tolong! Kau!”
“Iya! Kumohon, tolong aku!”
Dan lagi, suara-suara berupa rintihan serta meminta tolong terus terdengar di kedua telinga Akio. Namun ia sama sekali tak melihat seseorang yang sedang terjebak masalah, selain mereka yang terbungkus jaring laba bagai kepompong.
“Jangan-jangan—!”
Ia akhirnya sadar bahwa ia mendengar suara rintihan itu pun berasal dari mereka yang tengah terjebak di dalam jaring laba-laba tersebut. Tepat setelah menyadarinya, Akio justru kembali ditarik dan masuk ke dalam satu satu ruangan yang berada di bagian dalam benteng.
“Selamat malam. Apa kau baik-baik saja, Samurai Oni?” Ia menyapa seraya menarik jaring laba-laba yang terhubung dengan Akio agar lebih mendekat.
“Siapa kau?”
“Siapa? Aku rasa itu bukan pertanyaan yang pantas. Lagi pula, dilihat saja sudah tahu aku ini apa, benar?”
“Ya, benar.”
“Tapi, kau berbicara. Kau bahkan berbicara dengan mereka.”
“Aku saat ini bisa berbicara karena takkan ada seorang pun yang bisa menghukum diriku karena aku sudah mati.”
“Haha!” Laba-laba itu tertawa pendek, merasa lucu dengan ungkapan Akio yang seakan tengah membela dirinya sendiri.
Tidak hanya di luar, bahkan sekarang ia mulai mendengar suara rintihan yang berada di ruangan ini. Terdapat sejumlah orang yang sudah menyatu dengan jaring laba-laba di dinding maupun lantai. Mereka semua merengek, mengeluh kesakitan dan meminta pertolongan.
Suara-suara yang jarang sekali ia dengar, dan sekarang ada satu suara seorang pria yang sangat egois.
“Kenapa dia ada di sini? Berniat untuk pamer lagi?” ketus Honjou Eno.
Ya, itu suaranya. Ia sedang berada di bawah bagian tubuh laba-laba yang berukuran cukup besar itu. 8 mata yang berwarna merah serta dua mata manusia yang sama-sama menatapnya saat ini, terlihat sangat jelas ia memiliki rencana licik.
“Kau yokai. Tapi kenapa tidak segera membunuhku? Kau sampai repot-repot membawaku kemari, adakah sesuatu?” sindir Akio.
“Kau tak usah banyak lagak, Samurai Oni.”
Semakin mendekatlah ia begitu seutas jaring yang terhubung ditariknya. Seekor laba-laba yang berkaki delapan itu sedikit bergerak menjauhi kepompong Honjou Eno.
Lantas menggulung rapat tubuh Akio dengan jaring laba-labanya lagi hingga menyisakan kepala Akio seorang.
“Bisa saja aku memenggal kepalamu saat ini, Samurai Oni. Itu mudah,” tuturnya seraya menyentuh ujung leher Akio dengan kakinya.
“Lalu kenapa kau tak lakukan? Apa kau sedang mengumpulkan energimu sekarang?”
“Ya, benar. Tetapi ada hal yang ingin aku tanyakan, apa kau adalah dia?” tanyanya.
Dan ini lagi, pertanyaan tak bermutu kembali muncul dan wajar itu membuat Akio sangat kesal.
“Berhenti menanyakan hal-hal yang aneh.”
“Hm, aneh ya? Padahal aku tadi merasakannya. Jangan bilang aku salah?”
Dari gelagat yokai satu ini, sudah pasti ia membuat Akio datang kemari karena mengira bahwa dirinya adalah seseorang yang dimaksud. Entah siapa itu.
“Dia itu maksudnya siapa?”
“Baguslah, kau tidak tahu. Jadi aku akan membunuhmu sekarang.” Begitulah tanggapannya begitu Akio menanyakannya.
Tak hanya laba-laba ini, bahkan yokai yang pernah ditemuinya dalam wujud roh jahat dalam pedang.
Salah satu kaki hitamnya menargetkan tubuh bagian bawahnya, Akio berniat menghindar tapi rasanya memang tidak mungkin.
Pedang kayu sekarang telah berada dalam genggamannya, tentu saja itu karena ia memaksakan lengan kirinya untuk bergerak, itu ia lakukan sesaat sebelum ia dibawa masuk kemari.
Ketika tahu bahwa menghindar adalah hal mustahil, dengan berani Akio mengincar kaki laba-laba yang hendak menusuk bagian tubuhnya.
SLASH!
Sekali gerakan tanpa membebani tubuh, mengorbankan lengan kiri yang patah demi menggapai pedang kayunya, lantas mengayunkan pedang itu dengan bantuan lengan kanannya. Salah satu kaki milik si laba-laba terpotong jadi dua, pun dengan cairan tubuhnya terciprat ke wajah Akio.