Samurai Oni

Samurai Oni
KESENGSARAAN



“Apa pun keputusan Akio, saya percaya itu yang terbaik.” Begitulah ucapan Mizunashi Kage yang sangat mempercayai Akio hingga sekarang.


Kakek tengu yang memiliki nama Naruhaya itu agaknya tersentak begitu kalimat Mizunashi kembali terngiang dalam benaknya. Dan tanpa sadar mampu meredakan emosi pada Akio saat ini.


“Dua mahluk yokai. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mau kau lakukan pada mereka. Entah itu untuk memanfaatkan atau sekadar memelihara, aku tidak tahu.”


Kakek menghela napas panjang, lantas ia mengambil posisi duduk di dekat Akio.


“Akio, hukumanmu mungkin sudah dirubah, karena kau akan menggunakan pedangmu untuk melenyapkan yokai saja. Tapi, aku tidak akan mengijinkanmu menggunakan pedang sungguhan.”


Akio hanya bisa terdiam, karena tahu betul apa yang membuat kakek kesal. Hukuman ini jauh lebih ringan, setidaknya Akio bersyukur karena hanya dihukum seperti ini tidak sampai dibuang laut, begitulah istilahnya.


“Karena Shogun merubah hukumannya sendiri secara langsung, maka apa boleh buat. Lalu, aku tahu apa yang selama setahun ini kau lakukan di belakangku.”


Kakek lantas menatap sinis pada Akio.


“Kau menggunakan pedang kayu. Hanya dengan itu kau bisa melenyapkan yokai. Sungguh hebat. Dari mana kau belajar? Padahal aku sudah berhenti mengajarimu.”


"Darimu." Hanya ini yang ditulis Akio, sebagai jawaban dari pertanyaan si kakek.


Kakek tak mengerti kenapa ilmu pedangnya yang semakin kuat itu dijawab oleh Akio bahwa itu berasal dari kakeknya sendiri. Namun, di satu sisi ia merasa bangga karena ilmu pedangnya yang semakin lama semakin kuat.


Tentunya juga ada rasa takut yang hadir di setiap celah dalam ilmu berpedangnya.


“Akio, bisakah kau memegang kata-katamu? Janjimu yang akan membunuh mereka. Dan takkan pernah terikat dengan perasaan mereka hanya karena memiliki wujud manusia?” tanya kakek.


Ia mencoba memastikan sampai mana keteguhan yang dimiliki oleh Akio.


Akio menggelengkan kepala sekali lantas menuliskan jawaban, "Aku tidak bisa menarik kata-kataku. Sekalipun aku merasa mereka seperti diriku."


“Jadilah lelaki seperti Ayahmu. Meskipun kau telah melakukan keburukan yang sungguh luar biasa bahkan hampir membunuh hakim, aku tetap ada bersamamu,” ucap kakek.


Akio merasa senang atas dukungan secara tak langsung itu. Hubungan antara cucu dan seorang kakek ataupun guru dan murid ini memang sudah lama terjalin hingga sejak kecil. Karena itulah mengapa kakek merasa ikut bersalah terhadap tindakan Akio selama ini.


Namun jika mengubah target yang benar yakni para yokai terkutuk maka mungkin kesalahan lampau akan terlupakan, walau mungkin mustahil.


“Akio, janji jangan sampai kau mengkhianati dirimu sendiri ya! Aku percaya padamu!”


***


Hari-hari dilalui seperti biasa namun atmosfer terasa berubah drastis semenjak berita bunuh diri salah satu pengikut klan Mizunashi tersebar di kalangan para penduduk.


Mereka khawatir karena berpikir itu adalah yokai, namun para samurai yang sedikit terlibat sudah lama diinterogasi.


Dan semua hasil dari penyelidikan pun berujung nihil, tiada jalan satu pun yang membuka kebenaran mengenai tewasnya Tadashi hari itu.


Seolah menjadi peringatan bagi semua orang, jika tidak ingin mati maka jangan melawan sekalipun. Duduk dan meringkuklah dalam kegelapan, lalu jatuhlah tanpa berjuang. Kata-kata itu diibaratkan pada seluruh samurai di negeri ini yang seakan tidak boleh menyerang musuh itu, yokai!


“Yang lalu biarlah berlalu. Tadashi, suatu saat aku akan menemukan kebenaran ini. Karena aku yakin kau takkan mungkin melakukan aksi sembrono seperti itu. Aku yakin!”


Mizunashi Kage yang paling terpuruk secara ia sangat dekat dengannya. Rasa sakit akan ia lalui dengan pedang panjangnya, guna melenyapkan sosok para yokai terkutuk tersebut.


Lalu, satu kabar yang membuat para samurai tercengang ialah keberadaan Samurai Pedang Hitam, Mikio. Awalnya sudah dinyatakan hilang dan meninggal karena diduga terseret oleh arus laut yang ganas di luar pulau, namun saat mengetahui Mikio kembali, dan sudah beberapa dari klan menemuinya langsung, mereka masih saja tidak mempercayainya.


Baru para samurai saja yang mengetahui hal ini, tidak dengan penduduk karena takut akan menjadi heboh.


“Bisa kau ceritakan kenapa kau masih hidup sekarang?” tanya Shogun Hatekayama seraya melukis sesuatu lagi.


Di kastil dalam ruangannya, Shogun tengah berhadapan dengan seorang pria, Mikio.


“Maaf seharusnya saya datang lebih awal kemari, tapi saya justru—”


“Bisa dibilang saya sangat beruntung. Setelah terseret arus laut hingga membuat saya tidak bisa melakukan apa pun, tiba-tiba saja saya berada di suatu pulau kecil, wilayah Kuran.”


Singkat cerita, Mikio telah terdampar ke wilayah Kuran. Wilayah itu terpisah dari pulau utama, sehingga pulau itu tidak ada penghuni kecuali di mana makam itu ditempatkan.


“Hm, Kuran 'kah? Tapi memangnya kau bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun di sana? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Shogun itu lagi, nampak masih meragukan jawaban dari Mikio.


“Seperti yang baru saja saya jelaskan. Saya terseret arus sampai ke wilayah Kuran. Tapi, saya masih hidup karena ada banyak ikan tergenang di sana.”


“Oh, aku mengerti. Jadi, kenapa kau baru kembali sekarang?!” amuknya kembali bertanya seraya melempar kuas itu ke arah Mikio.


Namun, Mikio langsung menghindarinya agar kuas bertinta itu tak mengenai wajah.


“Hei, jangan menghindar!”


“Mohon maafkan saya Shogun Hatekayama. Saya baru bisa kembali karena lupa bahwa negeri ini adalah tempat di mana saya lahir,” ungkap Mikio seraya tersenyum tipis.


“Jangan tersenyum!!”


“Ya, maaf.”


“Lalu, alasan tak masuk akal apa itu? Kau lupa pada negerimu sendiri? Ya ampun!”


Mikio diomeli habis-habisan oleh Shogun, dan secara kebetulan beberapa klan pendiri negeri mendengarnya di balik luar ruangan. Mereka nampak penasaran dengan perbincangan di antara kedua pria itu tapi sepertinya hanya ada kekacauan.


“Hei, dia itu Mikio yang itu?” tanya Honjou.


“Ya, benar. Benar sekali. Dia itu Mikio, tidak salah lagi. Wajahnya sama sekali tidak berubah,” jawab Uchigoro.


“Sejujurnya aku sendiri masih meragukannya.”


Beberapa klan pendiri di sini berkumpul karena ada hal yang ingin dibicarakan juga pada Shogun Hatekayama, tetapi karena obrolan di antara Mikio dengannya masih berlanjut, maka mereka harus undur diri.


***


Di saat yang sama. Di rumah puncak gunung.


Akio, Akashi dan rubah berwujud pria berambut panjang tanpa mengenakan sehelai pakaian kini sedang berdiam diri.


“Tuan Akio, akhirnya menyerah juga ya?”


“Dia bukannya menyerah melainkan sudah bosan.”


“Apa katamu?!”


Klatak!


Sesuatu terjatuh di dekat jendela. Patung kucing emas dengan tangan kanan yang terangkat ke atas, menggelinding ke depan Akio secara tak wajar.


“A-apa itu?” tanya si rubah dengan gugup.


“Kau ketakutan? Ini hanya patung yang kebetulan bergerak,” ujar Akashi yang polos.


Dalam beberapa saat patung akhirnya terdiam. Tapi kemudian, suara darinya terdengar.


“Meoow!”


“AAAAA!!!” teriak si rubah histeris.


Terkejut, reflek si rubah melompat ke pelukan Akio sementara punggung Akashi menabrak dinding belakangnya dengan keras.