Samurai Oni

Samurai Oni
MOMOKA CHIHARU



Suara wanita itu terdengar hingga ke luar, dan terlihat dari celah pintu, wanita tersebut memeluk Akio tanpa rasa malu.


Seorang wanita yang mengaku bahwa dirinya mengenali Akio, ia memohon pada Kizu agar dapat menemuinya kembali. Dan sekarang, akhirnya mereka berdua bertemu di dalam ruangan yang tidak ada satu pun pengganggu.


Harusnya begitu, tapi nampaknya Kizu, Akashi dan lainnya mengintip dari celah pintu maupun juga jendela.


“Tuan Akio! Ini benar kamu bukan?”


Hal yang membuat mereka tersentak kaget ketika wanita itu tiba-tiba saja memeluk Akio. Sebagian dari mereka merasa kesal, dan juga ada yang malu sendiri.


“Tuan Akio, jauh-jauh hari aku ingin bertemu denganmu. Tapi begitu aku temukan, kamu sudah berada di tiang gantung. Aku takut jika selamanya aku takkan pernah bertemu denganmu.”


Akio sejak tadi hanya diam dengan tubuh yang sedikit gemetar. Lantas ia bingung harus merespon apa.


“Lalu, syukurlah. Aku akhirnya bertemu denganmu kembali, Tuan Akio.”


“Tuan Akio?” Menyadari sejak awal Akio tak merespon perkataannya, wanita itu kemudian melepaskan dekapan lalu menatap Akio.


Rambut panjangnya menghalangi wajah, hendak wanita itu menyibaknya sedikit, tapi sebelum ia lakukan tangannya sudah terhenti karena Akio.


“Jangan bilang Tuan Akio lupa padaku? Ini aku ...ataukah aku harus memanggil namamu langsung? Tidak, mungkin tidak sopan.”


Beberapa saat situasi mendadak hening. Akashi dkk pun ikut terdiam senyap tanpa bersuara sekalipun seraya memantau situasi di setiap celah yang bisa mereka lihat.


“Aku Chiharu. Masih ingat? Dulunya aku adalah anak perempuan yang pernah kamu sakiti. Dulu Tuan Akio mendorongku hingga jatuh,” ungkapnya sembari menyebut namanya sendiri.


Akio terlihat bereaksi, ia hendak mengatakan sesuatu namun kembali tertahan karena itu memang kebiasaannya sebagai larangan.


“Apa kamu mengingatku?” tanya Chiharu dengan bersemangat. Ia nampak berharap.


Akio menganggukkan kepala, sebagai jawaban ya. Ia mengenali wanita bernama Chiharu ini.


Tak lain adalah anak perempuan yang pernah menjadi korban atas kekerasan Akio. Saat Akio berusia sekitar 5 tahun, sebelum bertemu Mikio.


“Sejak dulu aku berpikir kenapa kamu melakukan hal itu, dan tiba-tiba saja aku membencimu. Tapi setelah dipikir-pikir ada hal yang membuatku tak nyaman.”


Chiharu menundukkan kepala namun jari-jemarinya enggan melepaskan sepucuk dari pakaian yang dikenakan oleh Akio.


“Saat itu ada yang mengangguku. Pundakku terasa berat dan anehnya setelah Tuan Akio menjatuhkanku, pundak ini terasa ringan lagi,” ucap Chiharu seraya menggosok pundak kanannya.


Akio meraih telapak tangan Chiharu, lantas menuliskan kalimat dengan jari telunjuknya di sana. "Kau datang untuk apa?"


“Datang untuk apa?” ucapnya kembali mengulangi kalimat yang sama. “Aku datang karena ingin meminta bantuanmu, tapi pertama-tama aku merasa bersyukur karena bisa melihat Tuan Akio kembali.”


“Setidaknya Tuan Akio bisa melarikan diri dari eksekusi publik itu,” imbuh Chiharu.


Sekali lagi Akio menganggukkan kepala.


“Ada masalah yang menimpa keluarga sepekan yang lalu. Tadinya aku berpikir bahwa kami akan selamanya seperti ini.”


Chiharu mendongakkan kepala tuk menatap wajah Akio, meski kedua matanya seolah tertutup oleh rambutnya sendiri, Chiharu tahu bahwa Akio pasti akan melihat apa yang ia tunjukkan.


Chiharu menjulurkan lidah lantas menunjuk ke dalam mulutnya. Saat Akio mendekatkan diri, betapa terkejutnya ia menatap tengkorak kepala yang berada di antara lidah dan bagian dalam kerongkongannya.


“Tuan Akio sudah melihatnya?”


"Ya."


Pengikut Akio justru terhenyak karena berpikir macam-macam, padahal Chiharu hanya menunjukkan apa yang ada di dalam mulutnya. Yokai.


“Aku ingin meminta tolong pada Tuan Akio setelah aku menyadari bahwa Tuan bisa. Yokai ini membuat kami tidak bisa mengungkapnya secara lugas.”


Chiharu berusaha menahan dirinya untuk tetap teguh. Karena dari awal memang inilah rencananya.


“Yokai ini masuk ke dalam mimpi kami semua, mereka akan menyerang para pria dengan cakar panjang dan menyetubuhi para wanita —ugh!” Chiharu mengerang kesakitan di bagian tenggorokannya, sesaat setelah menceritakan sebagian kecil dari masalahnya.


“Kami ...tidak bisa mengatakannya. Dan meskipun Tuan samurai menyadarinya, mereka takkan menemukan apa-apa. Karena itu—”


Bruk!


Untuk yang keduanya kalinya ia angkat bicara tuk menjelaskan situasinya pada Akio namun Chiharu kini terjatuh di tempat sembari memegang lehernya.


Setelah melihat hal itu, Akashi menyadari sesuatu. Ia lantas membuka pintu dan memanggil, “Tuan Akio! Yokai!”


Bersamaan dengan Akio menoleh padanya, Chiharu memuntahkan darah segar. Semua yang ada di sana pun dibuat panik tak karuan, mereka bingung harus apa lantas terjadi begitu saja.


“Kau! Lebih baik kau berhenti mengucapakan sesuatu tentangnya atau kondisi tubuhmu akan semakin memburuk!” pekik Kizu.


“Kalau begitu saya akan mengambilkan sesuatu untuk wanita ini,” ujar Yasha berpamitan pergi.


“Ti-tidak. Aku ingin mengatakannya sekarang juga. Sekarang juga,” ucap Chiharu dengan suara yang mulai serak. Napasnya pun berat, tak tampak ia baik-baik saja terlebih wajahnya ikut memucat.


“Inilah yang kami alami saat mencoba memberitahukan tentang yokai itu pada seseorang. Tapi, tolong Tuan Akio!” Ia berusaha keras untuk bertahan, guna meminta pertolongan pada Akio.


Menyelamatkan keluarga Chiharu yang masih berada dalam genggaman yokai itu, itulah yang Chiharu coba lakukan meski itu akan membuat kondisinya melemah dan kapan saja ia bisa mati. Tapi Chiharu memiliki tekad yang kuat serta percaya pada kekuatan Akio.


“Tolong, Tuan Akio.” Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Chiharu sebelum dirinya tumbang tak sadarkan diri.


“Tuan Akio, wanita ini ...biarkan saya yang mengurusnya bersama Yasha.” Kizu turut membantu.


Sementara Akio pergi dari ruangan itu, tuk mengingat semua yang barusan diucapkan oleh Chiharu. Tak lama Nekomata mendatangi dirinya.


“Tuan Akio, maaf karena saya barusan ikut mengintip. Tapi, berkat itu saya bisa selangkah maju, baru saja aku menyelidiki keberadaan yokai itu namun hasilnya cukup mengecewakan.”


Selangkah lebih maju ke depan, namun dengan hasil yang mengecewakan, Nekomata kembali pulang. Alasannya ialah, ada sesuatu yang menghalangi penciumannya namun samar-samar ia cukup tahu ada di tempat mana aroma busuk itu berasal.


“Kota Gama, kalau tidak salah itu adalah wilayah klan Satsuki si pemanah handal.”


Chiharu memang berasal dari sana, namun siapa sangka ada yokai yang bersembunyi sehingga sulit dilacak keberadaannya. Belum lagi ada yokai yang sampai saat ini masih berkeliaran. Yokai terkutuk yang sangat berbeda dari lainnya, sungguh mengerikan apabila ini terus berlanjut.


“Tuan Akio, ini bukan yokai yang mengendalikan bayangan di musim panas hari itu bukan?” tanya Nekomata memastikan.


Akio menggelengkan kepala. Lantas segera pergi meninggalkan kediaman Mikio.