
Pagi ini, di ibu kota. Kizu menyamar sebagai wanita cantik dengan nama Kinata. Nama yang sembarang ia sebut secara mendadak ini nampaknya bukanlah nama sembarangan. Sebab, jauh sebelum bertemu dengan Akio, Kizu memiliki reputasi cukup bagus di rumah bunga, meski tak banyak orang mengenali namun beberapa klan samurai khususnya klan pendiri negeri, mereka cukup mengenali Kizu. Bisa dikatakan Kizu dengan nama Kinata, harganya tergolong cukup "mahal".
Sementara itu, Akio mendadak menunjukkan batang hidungnya di tempat umum. Sontak membuat Kizu terkejut dan kemudian ia pergi sembari membawa Akio ke jalan yang lebih sepi. Di sana mereka tengah berunding, bahwasanya Akio mengikuti Kizu karena takut apabila identitas Kizu terkuak, dan karena Kizu juga berkeinginan tuan-nya mengikut juga, maka dari itulah mengapa Kizu merubah sedikit penampilan Akio.
“Maafkan aku yang lancang Tuan Akio.”
Terpaksa ia menyimpan topeng oni itu karena itu adalah ciri khas dari Samurai Oni.
Pada suatu waktu ketika tengah merapikan poni ke depan guna mengelabuhi pandangan banyak orang agar tak ada yang mengenali Akio, secara tak sengaja Kizu melihat bekas luka yang ada di sudut bibir. Berbentuk horizontal. Terlihat sangat mengerikan, namun Kizu pun tak menyangka.
Dari sana ia berpikir dalam benaknya, 'Apakah karena ini Tuanku tidak mau menampakkan wajahnya sehingga lebih memilih untuk menutupinya dengan topeng seram itu?'
Walau hanya berspekulasi, anehnya Kizu dibuat penasaran sekaligus cemas. Lain cerita kalau Akio sendiri, ia nampak tak begitu memperdulikan bekas luka itu.
Selama perjalanan menuju ke rumah bunga, Kizu selalu memperhatikan bekas luka itu. Dan Akio langsung menyadarinya.
Sejenak berhenti berjalan lantas menarik telapak tangan Kizu. Di sana ia menuliskan kalimat bayangan (tak terlihat), "Apa kau sedang bertanya-tanya mengenai bekas luka di wajahku?" Akio bertanya.
Kizu terkejut. “Ah, itu! Ma-maaf ...aku hanya ...hm, sedikit penasaran,” jawabnya terbata-bata, ada rasa takut dan juga gugup.
Akio lantas menjawab, "Ini hanya karena kakek kurang ajar itu menamparku."
Namun Kizu tersentak, ia lebih menaruh rasa tak percaya karena Akio menjelaskan bahwa bekas luka itu karena tamparan dari kakek tengu itu.
'Serius? Kakek itu sama seramnya dengan Tuan Akio,' batin Kizu berkeringat dingin.
“Ba-baiklah. Maaf karena telah membuat Tuan Akio tidak nyaman.”
Sesampainya di Rumah Bunga, Nyonya pemilik sendiri yang datang menyambut Kizu seorang. Sementara Akio tengah berada di dekat sana, ia akan masuk setelah Kizu masuk terlebih dahulu ke dalam.
Nyonya pemilik pun tak kalah cantik dari geisha-geisha lainnya. Di sinilah tempat Kizu sebagai Kinata pernah bekerja, sebagai Geisha. Pintar menari, memainkan musik, dan termasuk menghibur banyak orang.
“Kenapa kamu baru kembali bekerja? Sudah banyak pelanggan yang menanti akan kedatanganmu, Kinata!” Nyonya terlihat marah.
“Maafkan aku, Nyonya. Saya baru sempat dan saya sejujurnya sangat takut untuk keluar rumah, jadi tolong ...maafkan saya,” ucap Kizu.
“Ya, ya! Aku tahu hal itu! Ibu kota akhir-akhir ini sering sekali menjadi incaran para yokai. Aku tahu apa yang kamu takutkan, jadi bergegaslah untuk masuk sebelum pelanggan lainnya berdatangan!”
“Nyonya, apakah akan ada yang datang lagi?”
“Iya. Mereka yang sangat menyayangimu itu akhirnya mengetahui keberadaanmu. Dan mereka sebentar lagi akan datang.”
Kizu (Kinata) ternyata sepopuler itu. Akio sendiri tak menyangka bahwa itu terjadi pada si rubah. Entah hati mereka yang buta atau mungkin sudah lama terlena pada kecantikan buatannya itu, melihatnya membuat Akio sakit mata.
***
Di satu sisi, di antara dua ruas jalan, tempat yang sebelumnya terdapat pagar bambu untuk menyekat ruang terbuka eksekusi publik Akio.
“Wah, wah.”
Sebuah papan yang cukup besar berdiri di sana dengan banyak dikerumuni orang-orang. Berita mengenai Tadashi sudah terlarut dan kini tergantikan dengan beberapa orang yang diburon. Masing-masing dari mereka dilukis dengan baik.
Samurai Oni, si Tangan Merah, dan pria yang tak dikenal seperti wanita. Mereka sudah diburon karena menganggap mereka semua masih hidup.
Dan satu pria yang sekarang mengikuti Akio, ialah Yasha Manabu tengah berada di antara kerumunan untuk melihat itu.
“Kau, tunggu!” Namun tiba-tiba saja ada sekelompok yang menggunakan jitte mendatangi Yasha.
“Kalau tidak salah mendengar, kau sedang bergumam sesuatu seperti tuanku atau sejenisnya ya?”
Yasha merasa akan gawat jika berkata sejujurnya namun ia tidak bisa berbohong.
“Ya.”
“Kalau begitu ikutlah denganku.”
“Mohon maaf, sebenarnya ada apa? Saya tidak begitu mengerti. Sebab saya hanya teringat dengan tuanku saja,” ucap Yasha.
“Kau juga nampak mencurigakan, jadi ikutlah.”
“Tidak. Mohon maaf, saya harus bekerja sekarang. Mohon jangan menganggu pekerjaan saya,” ujar Yasha menolak.
Masing-masing dari mereka saling menatap satu sama lain, nampaknya mereka berencana untuk menangkap Yasha tak peduli alasan apa pun yang akan dikatakannya. Seperti memprioritaskan tuk menangkap Yasha yang terlihat mencurigakan.
Tetapi, setelah mereka berdiskusi sebentar dan kemudian kembali menghadap ke depan, Yasha tiba-tiba menghilang.
“Dia menghilang!? Ke mana? Kenapa secepat itu?”
“Jangan bilang dia itu hantu,” pikirnya.
“Hush! Kita akan dimarahi nih kalau tak segera menangkap para buronan itu!”
“Tapi apa benar kalau pria itu ada hubunganmu?”
“Mana aku tahu! Cepat cari saja!”
Malang sekali nasib mereka, harus menangkap apa yang seharusnya mereka tak tangkap, sifat keras kepala yang ada dari majikan mereka pun akan terus melekat saking sikap setia diturunkan.
Buronan itu bukanlah sekadar buronan biasa. Tapi mereka tetap menargetkannya sebagaimana mereka telah di cap sebagai pembunuh. Dan sesuai yang dikatakan oleh Keiko bahwa berita mengenai kematian Shogun Hatekayama tidak ada yang tahu kecuali beberapa samurai tertentu.
Yasha berada di luar karena ia amat penasaran dengan ibu kota karena ini adalah kali pertama menginjak tanah yang berbeda. Dan kemudian secara tak sengaja menemukan poster lukisan tersebut, serta ia nyaris ditangkap hanya karena telah mengucapkan beberapa patah kata yang terdengar mencurigakan.
“Hm, Tuan Akio dan Kizu berada di mana ya?Saya ingin sekali menemuinya karena khawatir,” ucap Yasha yang telah melewati Ibu kota, ia saat ini sedang tersasar ke wilayah klan Uchigoro.
Lalu, di kediaman Mikio.
“TUAN AKIO!!!” Jeritan Akashi melolong keras, memanggil nama Akio.
Akashi tengah mencari keberadaan Akio di setiap sudut rumah bahkan hingga menggali tanah meski itu tak wajar. Ia merasa frustasi karena kehilangan Akio secara tiba-tiba seperti ini.
“Hei, kau tidak perlu menjerit seperti itu.” Nekomata datang menghampiri Akashi.
“Tapi ...tapi Tuan Akio ...”
“Jangan pernah keluar dari rumah ini, Akashi!” peringat Nekomata berteriak pada Akashi yang hendak keluar.
Siapa pun akan panik jika Akio mendadak hilang. Tak hanya Akio bahkan Yasha pun ikutan menghilang.