
Wilayah Dama. Wilayah kekuasaan klan Mizunashi.
“Payah sekali aku ini. Penciumanku tidak setajam milik Akashi dan aku rasa Tuan Akio tidak ada di sini.”
Melihat air sungai yang mengalir deras di antara bebatuan membuat Nekomata, yokai berwujud monster kucing itu teringat di mana ia pertama kali lahir ke Shinpi-tekina.
“Tidak ada yang tersisa di sini. Jejak yokai terkutuk sudah sangat jarang kecuali mereka yang berakal. Ya ampun,” gerutu Nekomata.
Ia baru saja lahir jadi kekuatannya belumlah sempurna. Ia masih berada di tahap menengah, selain menjadi sangat besar dan kuat ia tak bisa melakukan hal lainnya. Kekuatan utama dari Nekomata belumlah muncul ke permukaan.
“Mungkinkah seharusnya aku pergi ke Kizu? Dia pasti tahu sesuatu. Tuan Akio ...semoga dia baik-baik saja.”
Wilayah Dama, nihil. Tanpa tahu Kizu telah kembali, Nekomata berada di wilayah Yama saat ini. Ia mengitari sekitaran sana guna menangkap bau Akio, meski pada akhirnya ia tak mencium apa pun selain ikan bakar dari kejauhan.
“Bau dari pengasapan terlalu kuat. Seharusnya mereka tak membakar makanan dengan seperti itu. Dasar. Ingin membuatku terlena ya?” ujarnya yang terlalu percaya diri.
Setelah lama berkeliling, ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Hanya dalam beberapa saat, Nekomata sudah mendapat gangguan dari anak-anak kecil, enggan meladeni lekas ia melarikan diri.
“MIAWW!!” Baru saja menjauhi masalah, masalah lain kembali mendatanginya. Ia reflek berteriak saking terkejutnya usai menabrak seorang wanita.
“Eh, aku sepertinya melihat kucing ini?” pikir wanita tersebut.
'Apa?! Kenapa Ibunda Tuan Akio ada di sini?!' jeritnya membatin. Baru diketahui, ternyata ia melarikan diri hingga tak sadar mencapai kediaman Yamamoto.
'Gawat! Kenapa bisa begini?!' Sekali lagi ia menjerit dalam benaknya.
“Hei, apa kau kucing yang sama? Kucing yang sering bersama Akio, putraku?” Secara kebetulan bertemu Keiko—Ibunda Akio. Ia menggendong Nekomata sembari bertanya-tanya mengenai Akio.
“Hei, itu benar bukan? Jawablah. Aku tahu itu adalah kau. Jadi jangan mengelak lagi. Oh ya, bagaimana kabar Akio? Dia baik-baik saja?”
Ocehan Keiko selalu tiada tanding. Ia kerap kali berbicara panjang lebar tanpa memberikan kesempatan pada orang lain untuk menjawabnya. Yah, meskipun Nekomata adalah kucing yang seharusnya tak bicara.
“Miaw! Miaw!” Teriakan dari kucing sang pejantan meminta untuk dilepaskan, seraya ia memberontak agar cepat-cepat dilepaskan olehnya.
“Tidak, tidak. Ayo ikut denganku sebelum bertemu yang lain,” ucap Keiko tersenyum girang.
Keiko tak berniat tuk melepaskannya, ia justru membawa Nekomata ke kediaman Yamamoto. Tempat yang seharusnya banyak sekali mantra suci, tempat yang tak seharusnya Nekomata kunjungi.
'Kizuo!!! Tolong aku!! Miaw!!' jerit batin yang sudah meraung-raung, sayang hanya bisa diucapkan dalam benaknya.
Kediaman Yamamoto. Tempat di mana Daimyou Yamamoto Kaeda tinggal. Sudah pasti tempat ini lebih mengerikan jika dibandingkan dengan tempat tinggal Daimyou lainnya. Karena di tempat ini terdapat puluhan mantra suci tertempel di setiap dinding maupun sela rumah, juga ada seberkas penghalang di sekitar kediamannya, guna mencegah yokai masuk.
Seharusnya Nekomata akan hangus bila melewati penghalang tersebut, akan tetapi Keiko malah membawanya ke suatu tempat di mana tidak akan ada penghalang yakni bagian belakang rumah. Mereka kemudian masuk ke ruangan Keiko sendiri.
“Keponakanku sebentar lagi akan datang,” ucap Keiko sembari mengunci pintunya.
'Kenapa dikunci pintunya?' Nekomata panik lantas ruangan ini dikunci di saat dirinya masih berada di dalam ruangan.
“Tidak apa-apa kok. Suamiku, Kaeda belum pulang. Jadi tenanglah di sini.”
Nekomata bergerak mundur, menjauhi Keiko dengan curiga. Ia takut bila Keiko akan melakukan sesuatu hal buruk padanya, dan begitu pula dengan sebaliknya. Jika Nekomata kehilangan kendali, maka bisa-bisa ia akan melukai wanita yang berada di hadapannya.
“Tidak apa-apa kok, tidak apa-apa ...tenang ...ssh ...ya?” Dengan senyum lembutnya, Keiko menunjukkan wajah bahagia sembari ia meletakkan telapak tangannya ke atas kepala kucing tersebut secara perlahan.
“Lalu, bagaimana kabarmu dan Akio? Aku tahu kalau kau bisa bicara loh. Kucing,” ujar Keiko meminta jawabannya.
Justru itu membuat Nekomata syok, ia terdiam dengan ekor menegang dan mata membulat mengerikan. Seluruh bulunya berdiri serta ia mengeluarkan raungan kecil tanda kemarahan.
“Tenanglah. Aku tahu bukan berarti akan memberitahukan hal ini pada lainnya. Ya? Karena itu tak apa, bicaralah sama seperti kau bicara dengan Akio,” tutur Keiko.
Keiko cukup antuasias tuk mendengarkan kucing berbicara. Ia sangat menantikannya namun tidak dengan Nekomata, ia justru merasa sedikit aneh bila berbicara dengan wujud kucing. Adapun banyak orang yang hendak membunuhnya karena itu, tentu Nekomata takkan bisa melupakannya.
'Cukup Tuan Akio saja yang tahu bahwa aku bisa bicara. Lagi pula kenapa dia tahu kalau aku bisa bicara ya? Mungkinkah karena aku tidak sengaja membuka mulut sebelum ini?' pikir Nekomata dalam benaknya.
Pada saat yang sama, Yamamoto Kaeda akhirnya berpulang ke kediamannya. Disambut oleh beberapa pengikutnya yang berada di sekitar, Kaeda terhenti satu langkah di depan rumah.
“Kerja bagus, Tuan Yamamoto.”
“Ada apa Tuan?”
“Aku merasakan adanya yokai. Kalian tidak merasakannya?” tanya Kaeda sembari menatap dua samurai itu.
Lantas, dua orang tersebut saling bertukar tatap kemudian menggelengkan kepala dan menjawab, “Tidak. Kami sudah berkeliling hari ini tapi tidak menemukan satu yokai pun.”
“Begitu.”
Kaeda akhirnya menghapus kecurigaan tersebut. Namun, sesaat sebelum ia melangkah masuk, salah satu dari mereka membicarakan sesuatu kepadanya.
“Tuan, sebenarnya Nyonya Keiko sempat keluar rumah. Akan tetapi mohon tenang, Nyonya belum sempat menginjakkan kakinya ke luar halaman.”
“Lalu?”
“Kalau tidak salah, hanya kucing penyusup saja yang dibawa masuk oleh Nyonya Keiko.”
Sontak Kaeda terkejut, matanya terbelalak lantas melangkah masuk dengan kakinya yang besar. Derap langkahnya terdengar menggaung ke dalam karena zirah yang ia kenakan, Kaeda hendak menuju kamar Keiko.
“Sepertinya suasana hati Tuan sedang tidak enak ya?”
“Bukankah dia hanya cemburu dengan kucing yang lebih diinginkan oleh Nyonya?”
“Bicara apa kau. Tidak jelas,” sungut salah satunya lantas pergi meninggalkan gerbang kediaman.
Kedatangan Kaeda mulai dirasakan oleh Nekomata. Saat itulah ia bergidik, dengan ekor yang menjerit tegang itu. Arah bola matanya tertuju pada pintu yang sudah terkunci, seolah mengantisipasi akan adanya bahaya.
“Ada apa kucing? Adakah sesuatu?” tanya Keiko mulai gelisah.
BRAKK!
Dalam sekejap sebagian dari pintu itu terjatuh, sosok Kaeda tepat di depan mata Keiko dan Nekomata. Secara langsung, baik Kaeda maupun Nekomata, mereka saling bertatapan dengan pancaran tak mengenakkan.
“Ada apa sayang?” Keiko bertanya dengan wajah takut.
“Kudengar kau membawa kucing, jadi aku ingin lihat,” jawab Kaeda dengan aura membunuh tertuju pada Nekomata.