Samurai Oni

Samurai Oni
PERTARUNGAN AKASHI II



“Jangan pernah kau menjelek-jelekan tentang Tuan Akio!!”


Dari dalam hati kecilnya menjerit-jerit, seolah sesuatu yang berbahaya terbuka dan membiarkannya meraung bebas di tempat, es yang membekukan kedua kakinya pecah lalu api keluar dari sana. Ia berlari secepat yang ia bisa lalu mendaratkan pukulan berapi keras tepat pada wajah Wanita Salju.


Pada serangan tersebut, Wanita Salju pun tak dapat berkutik. Ia tumbang dan seluruh badai salju berhenti menerjang. Akan tetapi sisa dari salju-salju masih menumpuk.


“Aku yang seharusnya mengatakan, "Rasakan itu!", dasar wanita!”


Sisa-sisa api tidaklah membakar tangan maupun kedua kakinya sendiri. Meski Akashi tak sadar, namun api itu berasal dari dalam tubuhnya.


“Tuan Akio!”


Beralih pada tujuan utamanya, Akashi secepatnya masuk ke dalam kediaman tanpa pintu tersebut. Lebih terlihat seperti kuil besar dibandingkan sebuah rumah, hal itu sedikit memudahkan Akashi menemukannya karena Akio berada di bagian tengah di sana.


Namun, Akashi tidak bisa menyentuhnya sama sekali. Sekalipun ingin maka suatu aliran kejut akan menbuatnya berhenti. Ini persis ketika ia mencoba mendekati mantra suci yang terbuat dari kertas dan tulisan di perbukitan hari itu.


“Tuan Akio tidak mau bangun apakah karena penghalang? Ah, andai saja aku tahu menghilangkannya.”


Akashi dibuat pasrah. Sudah berapa kali ia mencoba bahkan melempar kerikil, kerikilnya justru terpental jauh. Andai Akashi yang memaksakan diri maka dirinya lah yang akan terlempar menjauh.


“Tuan Akio, kau mendengarku? Tuan Akio? Aku tahu kau tadi sempat bernapas. Tuan?”


Tan ada respon sama sekali darinya. Bahkan Akio juga tidak mengenakan topeng oni. Tiadanya pedang, membuat diri Akio terlihat sangat lemah dalam posisi setengah berdiri, kedua pergelangan tangan dan kakinya terikat rantai. Begitu juga dengan lehernya. Semua rantai itu terhubung dengan tongkat kayu yang berukuran pendek, sehingga memungkinkan pergerakan Akio jadi terbatas.


“Dia sungguh jahat sekali membuat Tuan Akio jadi seperti ini. Hm, aku takkan membiarkan dia melakukannya. Tapi, prioritasku adalah menyelamatkan Tuan Akio!”


Akashi melirik ke segala arah guna mencari pedang milik Akio. Akashi berpikir bahwa mungkin pedang-pedangnya berada di tempat yang sama, itulah mengapa ia sekarang untuk mencoba mencarinya.


“Aku tidak begitu ingat bagaimana rupa pedangnya. Jadi aku ambil pedang yang ada di sini saja,” kata Akashi seraya membawa pedang biasa itu.


“Tolong hentikan perbuatanmu sekarang. Atau aku akan menggunakan kekerasan terhadapmu.”


Mendengar suara tak asing lagi, Akashi syok lantas ia menoleh ke belakang dan mendapati sosok Wanita Salju yang bangkit dengan rambut hitam tergerai menutupi wajah, ia mengatakan kalimat tersebut.


“Apa? Apa maksudmu? Eh, tidak.” Akashi sebelumnya bingung, namun langsung berubah pikiran. Ia menggelengkan kepala dengan cepat lalu berhadapan dengan Wanita Salju.


Dan bertanya, “Apa yang kau lakukan pada Tuan Akio? Cepat lepaskan dia. Aku merasakan dia sedang kesakitan!”


“Kesakitan? Begitu 'kah?” Wanita Salju mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar dengan kedua mata terbelalak.


“Bohong,” katanya.


“Aku tidak bohong! Semua itu diperlukan agar ingatannya pulih kembali. Merasa kesakitan mungkin benar saja tapi itu hanya karena prosesnya terlalu cepat saja.”


“Ingatan Tuan Akio hilang?”


“Benar. Dia sudah lupa bagaimana dia bisa hidup sekarang.”


“Kalau hanya perkara ingatan, kenapa harus tiba-tiba seperti ini? Dan kenapa harus dirantai seperti itu?” tanyanya dengan marah.


“Kau melakukannya agar makananmu tidak lari 'kan?” sindirnya.


“Benar. Tadinya aku ingin bilang begitu, tapi urusanku dengannya sudah berubah. Karena aku bertemu perempuan itu dan kemudian membuat kesepakatan. Tentang mengembalikan ingatan lah atau apalah itu,” ungkapnya masih ambigu.


Akashi yang tak percaya kata-katanya, ia kemudian menarik rambut hitam itu. Menegaskan, “Aku tidak peduli dengan hal-hal lainnya. Sekarang, cepat lepaskan Tuan Akio!”


“Tidak akan aku lakukan.” Ia mengatakannya seolah sudah menang, namun kenyataannya Wanita Salju sudah terlihat merapuh akibat serangan frontal dari Akashi.


Api kelemahan salju, dirinya seolah mencair. Lama-kelamaan ia akan menguap bila kekuatannya tak segera dipulihkan. Namun Akashi takkan peduli semua hal itu, selain Akio.


“Lagi pula, aku tidak bisa melakukannya tanpa seijin perempuan itu. Dan aku bisa saja membunuhmu jika tak segera kau lepaskan tanganmu dari rambutku ini.”


“Kau tidak usah banyak bicara. Cepat lepaskan penghalangnya dan bebaskan Tuan Akio.”


“Tidak akan aku lakukan kalaupun bisa. Hei, mungkin kau akan mengerti jika aku katakan sekarang, kau tak bisa aku bunuh karena permintaan perempuan itu,” ungkapnya lagi.


“Lagi-lagi dia? Jadi karena dia kau sengaja tak membekukan seluruh tubuhku!”


“Ya.”


Wanita Salju, yokai yang mengendalikan salju. Semua yang terjadi di Bama ini adalah ulahnya. Setelah dibuat babak belur oleh Akashi, dirinya menceritakan apa saja yang telah ia lakukan.


Mulai dari membuat Bama menjadi musim salju terdingin. Lalu membekukan hutan, jalanan, rumah serta para penduduk. Pun tak terkecuali dengan sungai begitu juga dengan hewan-hewan di tempat ini. Ia melakukannya hanya untuk membuat sangkar miliknya.


“Ini semua aku lakukan setelah kebangkitanku dan demi perempuan itu. Tapi, aku tidak tahu kenapa dia menginginkan pria tak dikenal ini. Kudengar dia adalah samurai hebat, kekuatan spiritualnya bukan main.”


Tak sedikitpun kata menjelaskan siapa yang dimaksudnya, siapa perempuan itu dan apa alasannya dengan membuat Akio berada di tempat seperti ini. Terlebih, ada hal yang sangat menganggu Akashi, yakni "ingatan."


“Ingatan yang dimiliknya di masa lalu adalah incaran perempuan itu. Dan katanya kau juga adalah bagian dari masa lalu itu. Makanya perempuan itu menyuruhku untuk tidak membunuhmu.”


Seringai Wanita Salju semakin lebar, matanya yang terbuka seolah sedang menatap yang tidak terlihat secara langsung. Ia mendekati Akashi dan membuat Akashi menjatuhkan pedang rongsokan tersebut ke lantai.


Hawa dingin menjulur dari sekujur tubuhnya, begitu ia menginjakkan kaki ke dalam bangunan itu, lantai kayunya menjadi beku bersalju. Sangat indah kelihatannya namun juga sangat mengerikan.


Bila Akashi mendapat serangan darinya sekali lagi, jujur Akashi ragu apakah bisa bertahan ataukah tidak.


“Tapi sebenarnya aku tak mau jika kau dibiarkan hidup. Mahluk rencana seperti kau yang memiliki darah manusia. Sebenarnya kau lahir dari mana?”


Wanita Salju mengulurkan kedua tangannya ke depan, kekuatan miliknya semakin lama semakin meningkat dan itu membuat perasaan Akashi tidak nyaman.


“Aku ingin kau mati, Akashi si Tangan Merah.”


Hanya dalam sedetik, ketika keduanya saling berhadapan dan hanya berjarak beberapa senti saja, telah membuat tubuh Akashi membeku. Cangkang di dalamnya ialah es lalu pelapis luar yang melekat ialah salju yang sangat tebal.


“Benar, benar. Kau sudah tidak dibutuhkan. Setelah mendengarnya dari perempuan itu, kau hanyalah pengganggu. Jadi karena itulah, tolong mengerti sedikit.”