Samurai Oni

Samurai Oni
SILUMAN CANTIK



Sudah seharusnya bagi Shogun Hatekayama memilih penerus yang berasal dari keturunannya sendiri. Namun beberapa tahun lalu, peramal telah berujar akan kedatangannya seorang samurai yang mampu membuat negeri ini hidup kembali. Namun akan tetapi, orang yang telah diramalkan justru memiliki sikap yang berbanding terbalik dari hasil ramalan tersebut, dan membuatnya diasingkan.


Lalu, setelah Shogun Hatekayama tewas di kastilnya sendiri, situasi dalam negeri sedang kacau. Baik disadari maupun tidak disadari oleh banyak penduduk terutama. Kematiannya membuat seluruh samurai terguncang. Mereka kemudian bersepakat untuk membuat tatanan baru, Shogun sementara yakni Yamamoto Kaeda. Meski sekarang keberadaannya tidak dapat diketahui.


Segalanya menjadi kacau begitu isi ramalan tersebut keluar. Dan kemudian jadilah seperti ini. Penerus klan Hatekayama, dua putra dan satu lagi yang baru saja lahir telah diduga sebagai oni atau iblis.


Di Kastil Hatekayama. Dalam ruangan Nyonya Hima bersama bayinya.


“Nyonya, saya datang membawa makanan yang telah Anda minta. Perlukah saya membantu Anda?”


“Tidak. Tidak perlu.”


“Baik.”


Pelayan wanita itu tidak segera pergi dari sana. Sementara dua putra Hima sedang menuju ke dalam ruangan, nampaknya mereka ingin bertemu sesegera mungkin dengan bayi yang merupakan adik mereka.


“Ibu!”


“Ternyata kalian. Ada apa?”


Hari itu, sebentar lagi akan senja. Tak ada tanda-tanda bahwa oni tersebut akan melakukan sesuatu. Tetapi, pelayan yang masih di sana merasakan firasat buruk.


“Ibu, biarkan kami melihat adik kecil kita.”


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan namanya? Kita sama sekali tidak tahu namanya. Ibu?”


Kakak tertua, Haru berusia sekitar 12 tahun. Lalu kakak yang kedua, Higo berusia 9 tahun. Keduanya pun masih anak kecil, mental mereka belum benar-benar terbentuk. Terlebih setelah apa yang terjadi pada Ayah mereka.


“Nama? Ibu juga belum memberikannya sebuah nama.”


“Ibu, ada yang aneh.” Ketika itu Haru mulai menyadari sesuatu, si kakak tertua ini sadar akan sesuatu yang janggal pada adiknya.


“Apanya yang aneh?” tanya Higo. Ia sama sekali tak merasakan apa pun. Justru merasa senang dan bahkan sudah mulai berinteraksi pada si bayi meski bayi itu tidak merespon sama sekali.


“Jangan bicara aneh-aneh, Haru. Adikmu tadi 'kan baru saja selesai menangis.”


“Tapi ini benar, Ibu. Aku merasa aneh dengannya. Apa telah terjadi sesuatu setelah adikku lahir?” tanya Haru yang keras kepala. Agaknya ia benar-benar bahwa firasatnya tidaklah salah.


“Kakak jangan bicara aneh-aneh lagi. Itu akan membuat Ibu semakin khawatir. Ibu juga dalam kondisi lemah.” Higo si anak kedua melirik sinis pada kakaknya sendiri.


Lantas ia menoleh ke belakang, mendapati adanya makanan dan minuman di sana. Ia segera mengambilnya.


“Ibu belum makan bukan?”


“Ya, benar. Ibumu ini merasa lapar. Jadi tidak ada tenaga.”


“Kalau begitu aku akan—”


Higo berusaha membantu dengan menyuapi sang Ibu, namun bayi si adik kecil mereka tiba-tiba saja menangis tanpa ada yang tahu penyebabnya apa. Ia menangis begitu kencang, merengek akan sesuatu. Sehingga Hima pun terpaksa menunda makannya lagi, ia beralih tuk menenangkan anaknya itu.


“Ibu sangat sibuk ketika sedang memanjakan anak-anaknya. Apakah ini yang terjadi ketika kita masih kecil sewaktu dulu?”


“Tentu saja. Kita sudah merepotkan Ibu dan juga Ayah. Kita harus membalas budi.”


“Lalu kakak berkata yang aneh-aneh pada adik kita. Adik kita pasti merasakan ejekan itu sehingga dia menangis,” duga Higo.


“Heh, jangan beromong kosong. Adik kita ini ...entah kenapa aku merasa bahwa dia bukanlah adik kita,” ujar Haru yang sejak tadi masih saja keras kepala.


“Maka dari itu, kenapa? Apanya yang bukan? Setidaknya jelaskan lebih rinci, kak!”


“Aku juga kesulitan mengatakannya. Memangnya kau sendiri tidak merasakan sesuatu?”


“Ya, benar! Aku merasakannya seperti itu!”


Dalam sekejap situasi dalam ruangan hening. Bahkan di balik tirai pun hening. Setelah beberapa saat keduanya berhenti saling bersahutan, bayi merah itu kembali menangis.


Pelayan wanita menghampirinya, ia menyodorkan kedua tangan sembari berucap, “Nyonya, jika tidak keberatan, maka saya saja yang memenangkannya.”


“Itu ...tidak.”


“Atau Anda meminta saya untuk menyuapi? Anda belum makan apa-apa semenjak proses ini. Saya khawatir, bila kesehatan Anda memburuk maka bayi itu juga akan merasakannya.”


“Oh, tidak. Tidak apa-apa.”


Nyonya Hima selalu menolaknya, sebab ia merasa aneh saja karena sejak tadi pelayan tersebut selalu saja berada di ruangan ini. Meski bagi kedua kakak itu tak terusik namun tidak dengan Nyonya Hima sendiri.


'Entah kenapa aku merasa dia akan mengambil bayi ini dariku,' batin Nyonya Hima.


Ia memiliki perasa luar biasa, berprasangka terhadap orang lain adalah perkara mudah namun sayangnya ia tidak memiliki kecurigaan yang kuat terhadap bayinya sendiri.


Dan mungkin, inilah siasat licik dari si bayi yang sebetulnya adalah oni. Siapa yang tahu bahwa dirinya saat ini sangat bahagia berada dalam dekapan sang Ibu.


“Baiklah, kalau begitu. Nyonya.”


“Ya. Tapi, kenapa kau sangat memperdulikan hal ini?”


“Saya hanya memperdulikan kondisi Anda berdua. Saya hanya khawatir, karena seseorang mungkin akan datang untuk menghentikan saya.”


“Maksudmu?”


Desiran angin melewati setiap celah yang terbuka lebar seperti jendela ataupun pintu. Udara itu terasa sedikit dingin karena adanya mahluk tak wajar di sini.


“Tidak.”


Baik si bayi maupun pelayan wanita itu, keduanya memiliki aura yang berbeda dari manusia. Akan tetapi, mereka pandai menyembunyikannya dengan cara masing-masing.


“Saya tidak bisa mengatakannya lebih jauh.”


Walau terdengar hebat, belum tentu bisa terlepas dari genggaman seorang pria. Seorang samurai dengan julukan Samurai Oni—Akio.


“Kamu—”


Nyonya Hima sekarang melihat bayangan seseorang yang mendekat. Bayangan yang lebih besar dari bayangan milik pelayan wanita itu. Kedua kakak yang berada di balik tirai pun sangat terkejut.


“Apa yang terjadi? Siapa—!” Haru hendak membuka tirai itu, untuk mengetahui siapa namun sayangnya bayangan besar itu menahan tirai tersebut agar tidak dibuka lagi.


“Hei! Tunggu! Kau siapa?!” Haru berteriak.


“Kak! Siapa dia!?”


“Mana aku tahu! Tanya saja sendiri.”


“Kalian berdua tenanglah.” Hima berusaha untuk melerai mereka. Sementara bayi merah kembali menangis dengan sangat kencang seperti yang terakhir kali terjadi saat Akio datang.


Samurai Oni kembali datang, tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali orang yang berada dalam ruangan saat ini. Akio berdiri di dekat pelayan wanita, nampak sangat jelas semua gigi miliknya bertaring tajam.


“Aku tahu kau akan datang, Samurai Oni.”


Hima lantas terkejut setelah mendengar sebutan itu. Ia kemudian berpikir dalam benaknya, 'Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa setiap Samurai Oni datang, bayiku selalu menangis?' Ia bertanya-tanya mengenai hal tersebut.


Identitas asli dari pelayan wanita tersebut, tak lain adalah yokai yang memiliki wujud perempuan cantik. Yokai yang seharian ini ia cari.