Samurai Oni

Samurai Oni
KEKUATAN YANG TAK DISANGKA



“Hei, aku sangat kecewa karena harus datang saat ini juga. Bagaimana denganmu?”


Wanita dengan gaun pengantin serba putih. Dirinya yang selalu menutup wajah cantik menggunakan tudung kainnya yang tipis itu tengah duduk di salah satu atap kediaman samurai, serta berbincang dengan kawannya.


“Aku juga sama kecewanya. Tapi mau bagaimana lagi kalau dia tidak ingat janji di masa lalu?”


Ia berbincang dengan kawannya yang memiliki mata empat. Bagian pada kedua tangannya hanya berupa tulang-belulang saja. Sementara tengkuknya memiliki sisik yang entah gunanya apa.


Mereka berdua diyakini sebagai oni yang memiliki kewarasan serta kecerdasan pada hari ini.


“Jahat sekali kalau sampai melupakan janji itu.”


“Dia 'kan manusia. Seharusnya kau lebih memahami bahwa tahap reinkarnasi takkan bisa mengirim ingatan masa lalu ke tubuhnya yang sekarang.”


“Ngomong-ngomong kau barusan ada di mana? Seharian ini aku tak lihat.”


“Aku hanya pergi untuk mendapatkan informasi mengenai tentangnya.”


“Jadi apa yang kau dapatkan?”


“Dia dijuluki sebagai Samurai Oni dan nama aslinya Yamamoto Akio. Dia baru berusia sekitar 20 tahunan. Pria yang mantap untuk menikah.”


“Jangan bicarakan soal itu yang seolah-olah dia akan menikahiku.”


“Siapa juga yang membicarakanmu?”


Wanita itu lantas melengos, nampak ia sebal karena perkataan kawannya yang terdengar sadis dan menusuk.


“Baik dirinya yang dulu maupun sekarang, takdirnya tidak benar-benar berubah ya. Ujung-ujungnya dia memiliki pekerjaan yang sama yakni membasmi para yokai terkutuk.”


“Benar.” Si mata empat menyahut seraya menganggukkan kepala.


“Jadi, bagaimana cara membuat dia mengingat segala hal yang dia lupakan?” Wanita itu kembali bertanya.


Entah apa maksud dari pembicaraan mereka berdua, namun yang pasti sedang membicarakan satu orang yakni Akio—Samurai Oni.


Ingatan apa yang telah dilupakan namun takdir Akio benar-benar tidak lepas dari yang namanya yokai. Lalu, kedua yokai kelas atas yang takkan mudah dikalahkan oleh Akio itu sedang membicarakan cara agar Akio kembali mengingat masa lalu dari yang paling awal.


“Aku masih belum menemukan caranya. Kau sendiri?”


“Aku juga sama saja. Dia melihatku dengan tatapan sinis seperti biasa. Aku yakin dia sedang berusaha untuk memburuku, seperti saat kami pertama kali bertemu,” ujarnya.


“Jangan lakukan kesalahan sedikitpun.”


“Aku tahu. Ini juga berlaku buatmu. Lalu, aku yakin sekarang dia sedang menuju ke kastil.”


“Apa yang mau kau perbuat?”


Wanita itu menoleh dan kemudian berdiri menghadap kawannya. Sembari ia menyunggingkan senyum tipis, ia berucap, “Aku ingin membantunya menghabisi oni kurang ajar itu.”


“A—”


Belum juga pria bermata empat berbicara sesuatu. Wanita tersebut lantas menyahut, “Aku meminta bantuanmu. Terlebih aku yakin kedatanganmu akan sedikit terlambat nantinya.”


Pria bermata empat, menyipitkan sepasang mata bagian bawahnya. Taring yang mencuat itu nampak lebih memanjang sedikit demi sedikit seiring waktu berjalan.


Oni yang entah kapan berakhir evolusinya, mereka berdua pun sudah saling mengenal satu sama lain. Dalam batin pria itu menolak untuk memberinya bantuan tapi itu adalah hal mustahil baginya.


“Kau tidak berniat menolaknya bukan?“


Seketika pria tersebut tersentak kaget. Sejenak ia diam dan kemudian menjawab, “Terserah kau.”


“Lagipula ini demi dia,” imbuh si wanita yokai.


Sebuah rencana untuk membasmi oni kecil yang berada di istana. Sudah pasti mereka berdua akan mengacaukannya dengan meriah. Mereka mungkin tidak tahu namun juga tidak peduli karena akan ada banyak samurai di sekitaran sana serta di bagian dalam kastil saat ini.


Hal yang terjadi setelahnya, adalah beberapa menit sebelum Kizu yang dicurigai semakin diinterogasi dan nyaris ditahan oleh para samurai.


DUAARR!!


Tiba-tiba saja ledakan kecil terdengar dari dalam kastil, lebih tepatnya berada di ruangan Nyonya Hima bersama dengan bayi merah. Hampir separuh bagian dalam ruangan hancur hingga sisa ledakan keluar dari lubang yang cukup besar.


“Tetapi, bagaimana dengan—”


Begitu Uchigoro menoleh kembali, Kizu sudah menghilang.


“Tidak ada waktu untuk memikirkannya. Cepat! Selamatkan Nyonya Hima!”


Semula baik-baik saja, namun ledakan yang tiba-tiba muncul itu membuat semua orang sekitar panik. Lekas para samurai yang sudah berbagi tugas, tengah memasuki ruangan tersebut.


“Nyonya Hima!”


Bersamaan dengan kedatangan para samurai. Di sana Samurai Oni—Akio muncul. Tak lupa dengan yokai wanita yang sebelumnya keberadaan ia telah lenyap.


“Situasi macam apa ini?”


Samurai, Samurai ronin, lalu yokai. Ini situasi yang benar-benar tak bisa diprediksi namun tampaknya wanita dengan gaun pengantin itu sudah merencanakan sesuatu.


Ketika ia mengangkat sebelah tangannya, sebagai tanda untuk kawannya yang berada di seberang kastil. Langit telah berubah menjadi gelap gulita.


“Kau harus bertanggung jawab jika tidak mampu membereskan masalahmu sendiri,” tutur si mata empat. Ialah yang membuat langit menggelap seolah malam tanpa rembulan tiba.


Sontak para samurai dibuat terkejut. Mereka melirik ke arah jendela serta lubang besar akibat ledakan barusan, melihat langit gelap itu benar-benar nyata.


“Hei, kita tidak sedang berhalusinasi atau bermimpi bukan?”


“Kehadiran yokai yang lebih dari dua? Apa-apaan ini?”


Mizunashi bergegas menghampiri Nyonya Hima, bersamaan dengan Akio yang hendak melayangkan serangan terhadap bayi merah tersebut.


“Kau!”


Karena baru saja menyadari keberadaan mereka satu sama lain, keduanya pun terkejut lantas terdiam. Tadinya Mizunashi hendak meraih Nyonya Hima, namun kini gerakan tangannya tersendat lantas bingung dengan keberadaan Akio yang mendadak muncul.


“Untuk apa kau kemari, Samurai Oni?”


Tak jauh berbeda dengan Mizunashi, Akio pun tak bisa berkutik ketika berada di dekatnya.


“Kau sendiri tidak ada niatan untuk melindungi bayi ini bukan?” sahut Akio.


“Ternyata benar, bahwa ini adalah kau.” Mizunashi hendak meraih topeng oni-nya, reflek Akio menyingkir dari sana. Ia menjauhkan diri dari Mizunashi agar tak berinteraksi lebih jauh.


***


Kuran.


“Kakek, entah kenapa saya merasa bahwa di ibu kota sekarang ada masalah?“ pikir Yasha.


“Apa yang kau pikirkan hanyalah masalah saja?”


“Tidak, tidak. Saya hanya merasa bahwa situasi di ibu kota terasa tegang sampai ke sini.”


Anggapan Yasha bukanlah sekadar anggapan biasa. Benar adanya bahwa ia merasakan ketegangan di Ibu kota. Kakek sendiri pun takkan menyangka bahwa Yasha bisa merasakannya.


Jadi ia bertanya, “Lalu, apa yang menjadi masalahnya? Jangan bilang ...,”


“Ya.” Yasha menjawab seraya tersenyum lebar namun tak didasari rasa ikhlas. “Tuan Akio.”


“Sudah kuduga dia membuat masalah lagi. Tapi kau tak perlu mengkhawatirkannya.”


“Seharusnya sebagai kakeknya, Anda mengkhawatirkan Tuan Akio. Sebagaimana Tuan Akio selalu menjadi biang masalah setiap hari,” ujar Yasha yang sebenarnya tidak salah.


“Haruskah aku begitu?” Kakek menjawabnya begitu dingin.


Yasha jadi bungkam, dan tak tahu harus mengatakan apa lagi.


“Ngomong-ngomong mau sampai kapan kalian mengikuti Tuan Akio?”


“Mungkin untuk selamanya,” jawab Yasha dengan tundukkan kepala.