Samurai Oni

Samurai Oni
AYAH YANG DINGIN-KAEDA



Datang seseorang tak terduga yang menghentikan tindakan sang pendeta terhadap Akio dan lainnya. Pria itu adalah Yamamoto Kaeda, yang berarti ayah kandung Akio.


“Biarkan aku berbicara padanya.”


“Tuan!”


Pria itu menggiring Akio dan lainnya masuk ke dalam kuil. Di sana tidak terdapat apa pun selain bau dupa yang mengerikan tersebar ke setiap sudut dalam ruangan. Yasha merasa bahwa inilah firasat buruk yang sebelum ini ia rasakan.


“Aku tidak tahu apa maksud kedatanganmu kemari, tapi seperti yang kebanyakan orang pikir bahwa kau belum mati,” ujar Kaeda yang seolah tak berharap itu terjadi.


“Jawab apa yang aku tanyakan, apa alasanmu datang kemari? Dan sebagai apa?” tanya Kaeda.


Akio lantas menjawab, “Aku di sini sebagai orang yang diramalkan. Berikan pedang itu padaku sekarang,” pinta Akio seraya mengulurkan tangannya.


“Oh, jadi itu yang kau minta.”


WUUUNGG!!


Suara angin berdengung di telinga dengan sangat kencang, terbentuknya sebuah penghalang di sekeliling kuil hingga membuat Akashi dan lainnya kecuali Akio maupun Kaeda terdorong keluar.


“Tuan Akio!!”


Terdengar teriakan Akashi yang seakan menjauh.


“Kenapa kau membawa yokai yang seharusnya kau basmi? Apa kau sebegitunya merasa kesepian?” sindir Kaeda.


“Itu bukan urusanmu. Aku datang ke sini hanya untuk mengambil pedang yang seharusnya aku miliki.”


“Jangan harap, Akio! Kau sudah tak layak memegang pedang itu. Dan meski ramalan mengatakan bahwa kau adalah yang pantas tapi sikapmu selama ini telah memperjelas wajah aslimu.”


“Aku—”


“Pedang itu sekarang tidak ada di dalam kuil. Harusnya kau tahu itu. Sekarang ada di tempatku,” lanjutnya.


Akio terhenyak, ia memang bersumbu pendek. Tak pernah sekali ia berpikir panjang terkait hal ini.


“Ada apa? Kau merasa kewalahan hanya dengan pedang kayu milikmu? Seharusnya kau bersyukur karena spiritualmu tidak disegel.”


“Lakukan saja kalau kau bisa. Lagi pula aku benar-benar membutuhkannya karena untuk ke depannya, yokai terkutuk akan jauh lebih kuat lagi.”


“Apa maksudmu adalah, tanpa dirimu kami tak bisa melakukan apa pun? Jangan bercanda lebih jauh lagi, Akio.”


“Aku tidak sedang bercanda! Tapi aku pun tak meremehkan kemampuan kalian, aku hanya ingin membantu saja!”


“Apa kau mulai berputus asa karena saat ini hanya bisa menggenggam pedang kayu? Jangan terlalu sombong meski hukumanmu sudah sedikit dirubah, tapi aku bisa saja melemparmu pada banyak orang saat ini.”


Mendengar ancaman itu dari Kaeda, Ayahnya. Akio benar-benar tak bisa berkutik. Ia terdiam cukup lama sembari menimbang-nimbang apakah dirinya memilih keputusan terbaik dengan datang kemari atau mungkin menuju ajalnya. Untuk saat ini ia tidak bisa memikirkan itu lebih lama, sedang pedang sungguhan adalah yang paling utama.


“Akio, kau dianggap sudah mati namun sebagian orang menganggapmu masih hidup. Tentunya mereka berpikir akan bisa membunuhmu dengan tangan mereka sendiri.”


Kaeda mengacungkan pedang ke arahnya, bermaksud akan membunuh Akio saat ini.


“Sama seperti kami para samurai, kejadian saat Gion Matsuri berlangsung.”


“Aku tidak membunuhnya.”


“Lalu apa-apaan dengan yokai-mu itu?”


“Mereka yang memilih ikut denganku, jika mereka mengarahkan cakar maupun taring pada penduduk, maka aku akan mengurusnya.”


“Oh, kau membela mereka.”


“Dan kau pikir aku akan meloloskan dirimu begitu saja?”


Hawa membunuhnya benar-benar tertuju pada Akio seorang. Gugup serta berkeringat dingin, itulah yang Akio rasakan saat ini. Ia mencoba untuk tenang, namun agaknya sulit karena Ayah kandung sendiri saja mengacungkan pedang padanya.


“Ingatlah ini sebagai Akio sekaligus Samurai Oni. Kekuatan spiritualmu memang lebih tinggi dari samurai sepantaranmu. Tapi kau akan selamanya terkurung dalam sangkarmu sendiri. Yang berarti, mati adalah yang terbaik untukmu.”


“Shogun Hatekayama tidak mati di tanganku melainkan di tangan Mikio, Ikiryo!” ungkap Akio dengan berani, ia melangkah maju tak peduli bilah pedang itu akan menembus lehernya, namun sang Ayah mengendurkan genggamannya agar tak menusuk leher Akio.


“Mikio sudah lama mati, itulah yang aku pikirkan sejak lama tapi begitu melihatnya hidup kembali, tentu aku merasa senang.”


“Lalu apa? Ayah tidak percaya bahwa Mikio yang saat itu sedang dikendalikan oleh Ikiryo?”


“Awalnya tidak. Tapi aku baru saja tahu kalau itu adalah Ikiryo berkat kakekmu.”


“Kakek? Dia sudah memberitahukan semuanya padamu?”


“Ya. Semua. Dari awal sampai akhir, apa pun yang kau lakukan dan apa yang menimpamu. Semua!”


Akio sekilas tak percaya bahwa ternyata dirinya sudah dimata-matai sejak awal. Tidak, bahkan mungkin sejak lahir.


“Lalu kenapa Ayah mengacungkan pedang padaku? Apa Ayah ingin membunuhku?” Kesal, Akio meluapkan segalanya. Ia menepis bagian pedang dengan pedang kayu miliknya, lantas menyingkir dari sana.


“Hukuman tetaplah hukuman. Meski kau tak membunuhnya tapi kau membiarkan Shogun mati. Itu sudah menjadi kejahatanmu, Akio.”


Pada akhirnya pedang itu tetap tertuju pada Akio. Ayahnya, Kaeda benar-benar tak ragu untuk melakukan hal tersebut. Akashi dan lainnya pun dilanda panik, mereka yang biasa melindungi kini hanya bisa melihatnya dari luar penghalang.


“Ayah ...”


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Dua tahun lalu kau sudah bukan putraku lagi.”


“Ha, terserah. Aku juga tidak mau memanggil Ayah yang bahkan tak memiliki belas kasih sedikit saja.”


“Hmph! Aku wajib melakukan ini, keraguan akan membunuhku sendiri, Akio.”


Kaeda menurunkan bilah pedangnya sendiri lantas melirik tajam pada Akio. Nampak ia ingin mengatakan sesuatu hal sebelum melayangkan serangan pada anaknya sendiri.


“Kenapa kau menurunkan senjatamu?”


“Aku akan membiarkanmu hidup jika kau tak berupaya mengambil pedang yang bukan hakmu lagi,” ujar Kaeda seraya berlipat lengan di depan dada.


“Kenapa aku tidak boleh memegangnya? Tenang saja, aku bukan Oni. Sasaranku hanya la yokai terkutuk itu!”


“Tidak bisa. Jika kau melakukannya maka yang ada kau menggunakan itu dengan cara yang salah. Lagi pula, pedang sesuci itu bukan untuk orang yang menyandang gelar buruk seperti Samurai Oni.”


“Kalau begitu aku akan merebutnya darimu!”


Akio melancarkan serangan langsung dari depan, tentunya Kaeda takkan mungkin dikalahkan semudah itu. Terlebih serangan asal yang hanya memperdulikan target di depan mata dengan amarah meluap-luap. Bahkan pendeta yang berada di luar ruangan tentu mengetahui pergerakan Akio dengan jelas.


Begitu Akio marah, ia akan mengayunkan pedangnya secara asal. Tak peduli akan merusak apa, dengan kekuatan yang ia miliki, ia harus bisa setidaknya untuk menjatuhkan Kaeda.


“Ah, dia sungguh ceroboh. Kenapa dia malah melawan Tuan Kaeda yang kuat itu. Dia bisa saja mati,” ucap sang pendeta seraya menggelengkan kepala.


“Oh, kau paman yang tadi!” Akashi menunjuk ke arahnya.


Pendeta yang merasa ditunjuk itu lantas menyingkir, ia tetap memilih untuk menghindar dari para yokai tersebut sekalipun ada dalam kendali tuan mereka yang adalah manusia.


“Hei, jangan melarikan diri! Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Pria itu siapa?!”


Sedang pertarungan berlangsung dalam kuil disertai penghalang kuat. Akashi mengejar pendeta hendak menanyakan sesuatu.