
Dalam kegelapan, sosok sang wanita sebagai seorang Ibu terlihat mempasrahkan diri terhadap takdir yang kuat. Antara hidup dan mati, bilamana mentalnya sudah tak kuat maka dirinya akan menganggap bahwa ia akan mati dengan damai walau dalam keadaan tersiksa sekalipun.
Beberapa waktu sebelumnya, ketika sulur-sulur datang mendekat pada Nyonya Hima Hatekayama, istri dari mendiang Shogun Hatekayama. Sepintas ia melihat bayangan, di saat ia sedang berusaha untuk melahirkan seorang bayi. Ia melihat perjuangannya sendiri hingga meneteskan air mata, darah maupun keringat. Namun semua usaha yang ia lakukan itu, berakhir sia-sia.
Berakhir sia-sia setelah tahu wujud aslinya adalah Oni, iblis besar dengan dua tanduk, taring yang mencuat lalu perawakan yang besar berwarna kemerahan. Sosok bayi itu berubah menjadi sangat mengerikan, dan membuat Nyonya Hima syok.
“Jadi selama ini aku melahirkan apa?”
Perjuangannya yang meneteskan air mata, keringat, dan darah berujung sia-sia tanpa arti. Itu karena sosok iblis yang sekarang ini sedang dilawan oleh Akio seorang diri.
“SAMURAI ONI!!!”
Sedangkan pada saat itu, mata Nyonya Hima kembali terbuka dengan sangat lebar. Ia menyaksikan pertarungan itu secara langsung, bahkan mengabaikan suara anak-anaknya. Ia hanya diam sembari melihat pertarungan tersebut.
Tubuh Oni sudah dibuat tak berdaya. Adapun kedua tangan bertumbuh menjadi empat buah tangan namun pada akhirnya tebasan pedang Akio melebihi kecepatan pertumbuhan pada regenerasinya tubuhnya. Akio selalu mengincar anggota tubuhnya yang cukup menganggu, sehingga akan jauh lebih mudah begitu memenggal kepala ataupun menusuk jantung nantinya.
Dap! Dap!
Langkah kaki si Oni bergerak mundur perlahan. Ia mulai bergidik ngeri berhadapan dengan samurai yang memiliki julukan jenisnya sendiri. Ia sudah kehilangan akal dan waktu untuk sekadar berpijak, lalu mulai terjatuh.
“Jangan harap kau melahapku!”
“Tidak butuh.”
Lagi-lagi sulur-sulur tanaman yang seharusnya tak dimiliknya kembali muncul sebanyak 5 buah dari segala arah. Ada yang datang untuk mengincar punggungnya, ada pula yang mengincar Hima kembali.
Sebelum sulur-sulur itu sampai ke tempat Nyonya Hima, Akio menebasnya dan kemudian sulur tersebut menghilang tanpa jejak. Namun siapa sangka bahwa itu digunakan untuk pengalihan, sehingga Oni pun bisa melarikan diri.
“Tidak akan aku biarkan kau melarikan diri!” Akio berteriak, secepatnya ia mengejar Oni yang tengah melarikan diri dengan tergesa-gesa.
Oni tampak akan menyerah, namun sekali lihat saja sudah jelas bahwa Oni itu akan datang untuk merencanakan sesuatu yang lain. Kabut pun datang, menyelimuti sekitarnya dan membuat Akio tak bisa melihat apa-apa.
“Apa yang terjadi?”
Dunia Ilusi yang dibuat oleh yokai bermata empat memperlihatkan adanya kabut. Tak ada suara atau hawa keberadaan satu pun. Akio kesulitan mengenali suara langkah kaki Oni.
“Gawat! Jangan katakan, bahwa dia—!”
Akio menerobos kepungan asap tebal itu. Dirinya berbalik badan, langkah kakinya menuju ke arah sebaliknya. Ia hendak kembali ke sisi Nyonya Hima yang mana mungkin saja masih menjadi incaran si Oni.
“Oni kurang ajar itu! Berani-beraninya dia mengelabuhiku!”
“BENAR!” seru Oni, berada persis di hadapan Akio, usai keluar dari kepungan asap.
“Trik murahan seperti ini, bukan gaya Oni yang beringas,” ujar Akio, dengan cepat ia melompat mundur ke belakang. Bersembunyi di balik kabut sekali lagi.
“Begitu 'kah?” Oni itu tampaknya sangat bahagia, seolah memenangkan pertarungan ini. Dirinya merobek asap menggunakan cakar di setiap jari-jemari miliknya.
Dalam sekejap, mereka kembali berhadapan secara langsung dan dalam sekejap pula, Akio menggunakan kesempatan ini tuk menebas kepala Oni.
DUUUNNG!
“Kau ...sebenarnya mahluk apa? Kenapa kau bisa memiliki sulur-sulur menjijikan lalu kepala yang sekeras batu itu?” Akio kembali melompat mundur.
“Tentu saja. Aku sudah memakan banyak yokai, kemampuan ini aku dapatkan dari tubuh-tubuh yokai rendahan itu.”
“Apa?”
“Tapi, bukan aku yang memburu mereka melainkan buruanku yang datang sendiri. Khe khe!” Ia tertawa, agaknya menikmati.
Akio kembali melompat mundur, demi menghindari empat tangan yang berusaha menangkapnya. Akio bergerak ke samping, namun kemudian sulur yang sama muncul dan membelit tubuhnya.
Ia kesulitan menggerakkan tubuh serta pedangnya sendiri, yang pada akhirnya Akio melemah sehingga mudah bagi Oni tuk membantingnya ke tanah.
“Buruan yang datang ...sendiri?” Sembari mengerang kesakitan, ia mencoba untuk bertahan selagi berkata, “Jangan bilang, penghalang di sekitar kastil telah lenyap karenamu?”
“Ya. Itu benar!” jawabnya dengan semangat. Ia mengarahkan satu sulur yang tebal, hendak melubangi tubuh Akio.
Sebelum itu menjadi kenyataan, Akio berguling ke belakang. Sekali lagi ia berdiri dengan memasang kuda-kudanya, lantas menyarungkan pedang Retsuji miliknya.
“Oh, apa kau sudah tak berniat melawanku?” pikir Oni.
“Lihat saja.”
Sebagai gantinya, Akio menarik pedang berisikan Roh Pendendam, disebut sebagai Onryou (roh pendendam) sebagai itulah sifat asli dari pedang hidup tersebut. Saat mengeluarkannya, terasa sangat jelas bahwa kekuatan yang ada di dalamnya sungguh di luar nalar.
“Ini ditempa oleh kakek gunung, isinya ribuan roh jahat yang sudah lama memiliki dendam terhadapku.”
Akio mengatakannya dengan lantang seraya mengacungkan senjata itu ke depan. Dengan gaya satu tangan, satu pedang, ia fokus terhadap Oni yang berada di hadapannya.
“Kau ingin melakukan apa hah? Hanya itu ...,”
“Ya. Ini adalah hanya itu. Hanya roh pendendam saja, memangnya bisa mengalahkanmu? Bukankah begitu yang kau pikirkan tadi?” balas Akio.
“Banyak omong!”
Nampaknya Oni membuang rasa takut itu sendiri, demi menghadapi samurai yang sekilas terlihat seperti Iblis sungguhan. Aura yang terpancar dari Onryou pun sangat kuat, ada kekuatan jahat berupa kegelapan menyelimuti seluruh bilah pedang hingga ke tangan Akio sendiri.
“Kalau kau memakainya, pasti itu akan menyakitkan. Bukan?”
“Tidak juga,” tutur Akio dengan tenang.
Sebisa mungkin dirinya meminimalkan rasa kesal. Ia harus menekan emosionalnya sendiri agar dapat mengendalikan Onryou dengan baik. Lalu, bersamaan dengan Oni melangkah kaki ke depan tuk bersiap lari menyerangnya, Akio mengangkat pedang dari yang sejajar dengan perut hingga setinggi dada. Hanya mengangkatnya setinggi itu saja, bilah pedang yang tak seharusnya memanjang itupun dapat menebas tubuh Oni menjadi dua.
Oni itu tidak sempat mengelak apalagi berpikir adanya kemungkinan seperti ini. Ia tidak bisa memulihkan diri karena aura jahat dari ribuan roh jahat yang telah memakannya perlahan. Oni pun tumbang, kemudian lenyap menyisakan abu.
“Aku selama ini tidak melahirkan seorang anak manusia?” ujar Nyonya Hima yang masih sulit mempercayainya.
Usai hal tersebut, segera Akio mengembalikan pedang jahat itu kembali ke sarung pedangnya.