
Mizunashi Kage menundukkan kepala dengan hormat. Terus tersenyum selama ia keluar dari ruangan Shogun Hatekayama.
“Aku harus segera menyampaikan ini pada lainnya!” ujarnya bersemangat.
***
Mizunashi Kage baru saja keluar dari kastil, dirinya bertemu dengan seseorang yang ia kenali. Nama dari pria itu adalah Uchigoro Tamura. Sama sepertinya, Uchigoro Tamura adalah salah satu klan pendiri negeri ini bersama Shogun.
Pria yang memiliki luka jerat di lehernya, ialah disebabkan semasa dulu pernah menggantung diri di sebatang pohon besar. Tindakan bunuh diri yang kemudian gagal, lalu mengabdikan diri pada negeri sebagaimana ia ikut membangunnya bersama dengan yang lain.
“Kau baru keluar dari kastil, bertemu Shogun Hatekayama?”
“Ah, ternyata itu kau. Ya benar, aku baru saja menemui beliau. Hei dengar.” Mizunashi merasa bersemangat ketika dirinya akan memberitahu sesuatu yang menarik.
Mizunashi Kage berbisik, “Hukuman Akio akhirnya sedikit mengalami perubahan. Shogun mengatakannya padaku bahwa dari yang tidak boleh bertarung sekarang menjadi tidak boleh bertarung melawan manusia,” ungkapnya.
“Tunggu, apa bedanya?” tanya Uchigoro Tamura tak mengerti.
“Apa kau tidak mengerti maksudku? Dari yang benar-benar tidak boleh bertarung dan dengan tidak boleh bertarung melawan manusia?” jelasnya lagi. Bermaksud membandingkan antara dua kalimat yang barusan Mizunashi utarakan.
Sejenak Uchigoro berpikir, selama beberapa menit ia terus berdeham sementara pikirannya sedikit teralihkan kondisi sekitar.
“Oh, aku mengerti! Hukuman Akio menjadi lebih ringan. Yang berarti selain manusia dia boleh melawannya?” ujar Uchigoro.
“Ya, itu benar! Hebat bukan? Ah, aku sungguh bersyukur dan lega karenanya.”
“Ini kabar bagus. Akio akan jadi pedang terhebat di negeri. Apa namanya ...pemberantas para yokai!” ungkap Uchigoro mulai bersemangat.
“Reaksimu sama seperti diriku, Tamura. Aku tidak sabar memberitahukan ini pada lainnya. Dengan begini, Akio ataupun Samurai Oni tidak perlu bergerak secara mengendap-endap.”
“Tapi, Kage!” Uchigoro berteriak, menahan langkah Mizunashi yang hendak pergi.
“Ada apa?”
“Kenapa Shogun mengabaikan apa yang telah dilakukannya selama setahun ini? Samurai Oni telah menunjukkan taringnya bukan?”
“Kau sendiri sudah melaporkan tentang tindakan Akio pada Shogun, namun buktinya Shogun tidak mengambil tindakan untuk menghukumnya bukan?”
Mizunashi menggelengkan kepala sesaat sebelum akhirnya kembali mengatakan sesuatu. “Tapi bukan berarti kakek Naruhaya yang telah menyembunyikan fakta itu.”
“Aku mengerti maksudmu. Akio sendiri yang menyelinap sampai ke ibu ...kota.”
Kalimat Uchigoro sedikit terjeda lantaran dirinya melihat bayangan seseorang di atap rumah di dekatnya. Sontak Mizunashi yang penasaran pun mengikuti ekor mata temannya itu.
“Samurai Oni?”
“Kenapa dia muncul di pagi hari? Di ibu kota pula,” ujarnya tak percaya akan yang telah mereka lihat ini.
Bayangan itu tak hanya dari atap melainkan dari seorang samurai berpakaian yukata lengkap dengan topeng oni yang biasa terlihat di malam hari.
Samurai Oni yang biasanya menunjukkan batang hidungnya saat malam hari, kini telah muncul di pagi menjelang siang.
Karena keberadaannya sudah ketahuan, bergegas Akio pergi dari sana. Berlari di atap rumah yang sama tanpa meninggalkan suara dengan kedua kaki yang tak memakai alas tersebut.
“Tuan Akio!!”
“Tunggu, Samurai Oni!!”
Namun, tak lama setelah kepergiannya, Mizunashi dan Uchigoro melongo ketika mendengar sekaligus melihat dua orang yang ikut mengejar Akio.
“Eh siapa mereka?”
“Mereka memanggilnya Tuan? Akio memiliki pengikut?” tanya Uchigoro yang tak percaya.
Tak hanya mereka berdua yang mengejar Akio di atap yang sama. Bahkan para penegak hukum nampaknya mulai bergerak.
“TANGKAP! TANGKAP! TANGKAP SAMURAI ONI!” seru mereka secara berkelompok, dan bergegas mengejar dari bawah.
“Kita harus mengurus satu persatu, bisakah kau mengurus mereka?”
“Maksudmu hanya kau yang akan mengejar Akio?”
“Memang begitu.”
Penegak hukum, lalu dua yokai yang tidak diketahui kejelasan mengenai mereka. Akio benar-benar tidak beruntung karena dirinya berlari tanpa arah sampai pada akhirnya menjamah ibu kota di siang bolong seperti ini.
Meski terik matahari menyilaukan mata dan membuat dirinya yang memunggungi sinar takkan terlihat jelas, namun tetap saja pada akhirnya ia dikejar sampai didapatkan oleh mereka semua.
Perubahan hukuman Akio telah menjadi ringan, tentunya ini akan membuat Akio senang namun saat ini bukan waktunya mementingkan hukuman tersebut.
“Tunggu sebentar!” Uchigoro Tamura menghentikan penegak hukum bergerak, ia menghalanginya.
“Apa yang kau lakukan? Kami sedang sibuk sekarang.”
“Mohon tunggu sebentar. Saya ingin bertanya apa yang menyebabkan Samurai Oni—”
“Dia sudah diburon. Tidak ada alasan yang lebih jelas, karena memang seharusnya dia ditangkap!”
“Baik, saya cukup mengerti. Tetapi, bukankah kalian lebih memprioritaskan si tangan merah?” pikir Uchigoro.
“Kami juga melihatnya bersama Samurai Oni. Mereka pasti berhubungan.”
Uchigoro tersentak, senyum kaku tersungging memperlihatkan seberapa besar rasa tak mempercayai omongan tersebut.
'Andai mereka tahu bahwa Samurai Oni adalah Akio, apakah mereka akan menurunkan jitte itu di tangan mereka?' pikir Uchigoro membatin.
“Itu, sebenarnya ...,” Uchigoro hendak mengulur waktu sampai Samurai Oni pergi lebih jauh.
Namun,
“Jangan menghalangi tugas kami. Karena Samurai Oni itu telah berbuat ulah di kedai soba.”
“Ya?”
“Samurai Oni menabrak kedai keliling itu, sampai membuat semua makanannya tumpah ke jalan. Dan tak hanya itu, Samurai Oni juga menganggu para penduduk. Terutama pria tua yang dijatuhkan ke sungai ikan.”
“Hah? Serius?”
“Ya, saya sangat serius. Uchigoro Tamura.”
Keseluruhan kesalahan itu nyatanya tak bisa diapakan-apakan lagi. Uchigoro kini merasa bahwa perubahan hukuman pun tak ada gunanya bagi Akio lantas perilakunya sejak kecil hingga sekarang masih belum berubah sama sekali.
“Tidak hanya itu, dia sempat mengintipku mandi!” ungkap salah satu wanita yang kemudian mendatangi mereka.
“Apa? Itu tidak mungkin. Pasti ada kesalahan, dia pasti tidak sengaja melakukannya,” sangkal Uchigoro.
“Apa-apaan pembelaanmu itu Tuan Uchigoro? Seolah mengenali Samurai Oni. Ah, jangan katakan pada saya bahwa Tuan–!”
Mereka mengacungkan jitte pada Uchigoro tanpa ragu setelah berpikir, “Tuan pasti mengenali Samurai Oni itu ya?”
“Eh, bukan! Bukan, bukan!” Seketika pria ini pun panik, ia menggelengkan kepala seraya mengangkat kedua tangannya ke depan. Perlahan ia melangkahkan kakinya tuk bergerak mundur.
“Hm, semakin lama Tuan semakin mencurigakan.”
“Mohon maafkan Tuan!” Namun tak berselang lama, datang seorang samurai lainnya, ia adalah pengikut sekaligus pria yang selalu ada di samping Uchigoro Tamura.
“Tuanku hanya berpikir seperti itu karena setiap pria sejati takkan mungkin melakukan tindakan senonoh dengan sengaja,” jelasnya dan membuat mereka semua mengerti.
“Lalu, Tuan. Ada seseorang yang ingin menemuimu,” bisiknya.
Seorang lelaki berpakaian serba hitam juga mengenakan jubah lusuh sama hitamnya datang.
Sementara itu, Akio sudah kembali ke puncak gunung.