
“Ikiryo. Mahluk itu menjadi merepotkan dari yang aku tahu. Benar-benar menjengkelkan.”
Berulang kali kakek menyebut nama yokai.
Di samping itu, Akio yang wajahnya bengkak namun tetap menyembunyikan wajahnya dengan topeng oni, tengah mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh kakek. Tentunya bersama para yokai di sana.
“Itulah namanya. Yokai yang mengendalikan semua orang termasuk mayat Mikio. Dia lahir karena kebencian, dendam dan segala yang berbentuk kejahatan. Kalian tahu hal ini?”
Semuanya khususnya Akashi menggelengkan kepala. Mereka tidak benar-benar tahu akan keberadaan yokai itu. Bahkan Yasha yang hidup lebih lama tidak mengetahuinya.
“Aku yakin kalian akan mengatakannya begitu. Target kalian akan jauh lebih besar. Hei, Akio. Apa kau yakin akan melakukannya sendirian?”
“Tuan Akio sejak awal memang begitu, bukan, kakek? Lagi pula siapa yang harus dipercaya setelah Tuan Akio hendak dijatuhi hukuman mati.”
“Dan yokai itu mengincar Tuan Akio,” sahut Nekomata.
“Apa pun yang kalian katakan itu benar. Tapi aku hanya menanyakan bagaimana dengan Akio? Akio ...kau bukanlah pahlawan. Perkataan peramal itu hanyalah omong kosong, kurasa. Jadi kau tak perlu membebankan dirimu.”
Shinpi-tekina diambang batas. Para yokai terkutuk takkan lenyap hanya dengan terus-menerus membasmi mereka setiap kali muncul. Dan tak mungkin bagi Akio yang akan senantiasa melakukannya dengan senang hati.
“Akio, jawablah pertanyaanku. Pedang kayu yang aku berikan padamu sebenarnya untuk apa?”
Situasi hening sejenak.
“Kakek, ada sesuatu yang belum kami beritahukan padamu. Ini mengenai yokai, mereka semua dikendalikan oleh seseorang yang berada di negeri ini. Apa kakek tidak mengetahuinya?” ujar Kizu mencoba untuk memastikan.
“Seseorang? Mengendalikan para yokai? Itu tidak mungkin.” Kakek tengu justru menyangkal.
“Kenapa kakek berpikir begitu?”
“Justru aku yang harus bertanya kenapa kau berpikir seolah-olah mereka dikendalikan. Dan jika benar, maka apa maksud kalian yang mengikuti jejak Akio untuk membasmi sejenis kalian?” sahut kakek.
“Benar. Itu masuk akal. Tapi aku yakin setelah dilahirkan, seseorang mengendalikan kami,” ungkap Nekomata yang tak meragukan sama sekali.
Kemudian kakek berpikir lebih dalam, apakah mungkin itu yang terjadi selama ini? Namun bagaimana dengan silsilah negeri ini berdiri? Hanya leluhur dari klan pendiri yang mengetahuinya. Namun mustahil jika menanyakan itu langsung.
“Apa kau tahu ini Akio?” Kakek menanyakannya.
“Ya.” Akio menjawab singkat.
“Lalu apa rencanamu?”
“Aku akan memusnahkan mereka semua.”
Keadaan terasa menjadi lebih tegang dari biasanya. Kakek pun merasa tidak tenang setelah mendengar ungkapan Akio yang secara tak langsung juga menargetkan yokai yang mengikuti Akio.
“Lalu, apa maksudmu adalah mengikuti yang dikatakan peramal tak berguna itu?” ketus si kakek.
“Tidak. Aku hanya ingin memusnahkan mereka. Hanya itu saja.”
Dari situ terlihat sangat jelas akan ekspresi kakek tengu Naruhaya yang masam, mengisyaratkan bahwa ia jengkel namun juga kecewa karena sikap Akio yang terang-terangan.
“Apanya yang hanya ingin memusnahkan mereka, Akio? Kau tak ingat apa yang terjadi padamu setelah berusaha membunuh hakim yang sudah dirasuki oleh yokai itu?” Kakek menegaskan. Ia sedikit berteriak.
“Kau selalu saja berkata, "Ingin bunuh", "ingin bunuh", kau pikir kau ini hanyalah mesin pembunuh?!” lanjutnya dengan suara yang memekkan telinga.
“Aku tidak berharap kakek akan mengkhawatirkanku. Tenang saja, aku tidak akan menjadi "oni" sama seperti julukanku,” tegas Akio lantas beranjak dari sana.
Hanya itu yang berada dalam pikirannya. Persis seperti Oni (iblis), Akio seakan haus akan darah dan membunuh adalah salah satu cara untuk meredakannya.
“AKIO!!!”
“Tunggu, kakek cebol! Tuan Akio saat ini sedang marah karena mayat pria yang ada di sana,” ujar Akashi seraya ia berdiri menghalanginya agar tak menghampiri Akio.
“Apa maksudmu berkata seperti itu?”
“Mayat pria itu kalau tidak salah adalah kakaknya. Dan kami semua merasakan aura jahat tersisa Ikiryo dari mayat itu yang terlihat rusak,” tutur Akashi.
“Aura? Rusak? Maksudmu mayatnya rusak?”
“Ya.” Akashi menganggukkan kepala.
Dengan begini kakek mengetahui bahwa emosi Akio berasal dari mayat Mikio. Mayat yang rapuh karena ternoda oleh aura jahat Ikiryo. Akio mana mungkin bisa tinggal diam begitu saja, di samping ruh dari Mikio belum tentu tenang di alam sana.
“Tetapi ...Akio akan jatuh ke kegelapan lagi. Dia tidak seperti kalian. Dia hanya manusia, dan jika dia hanya memikirkan untuk membunuh yokai tanpa memperdulikan keadaannya sendiri ...,” Pada akhirnya kakek tak bisa melanjutkan kalimat yang hendak ia ucapkan.
“Hah, Akio ...,” Ia mengeluh, mendesah lelah seraya memikirkan kemalangan apa yang mungkin akan menimpa diri Akio.
“Sebelum musim panas berakhir, Tuan Akio harus segera melenyapkan Ikiryo. Jika tidak, dia akan selamanya bersembunyi hingga musim panas kembali datang,” ungkap Yasha.
“Di saat matahari meninggi, kekuatan Ikiryo memuncak. Ya benar katamu,” sahut si kakek.
“Karena itu, tolong jangan khawatirkan Tuan Akio karena kami semua ada bersamanya. Selalu,” tutur Yasha.
“Ya, benar! Serahkan saja tugas menjijikan Tuan pada kami!” seru Akashi.
“Kalian semua ...sebenarnya mengapa sampai sebegitunya ...kalian pada Akio?” tanya kakek merasa tak percaya.
Jawaban itu mungkin takkan pernah ada. Masing-masing dari mereka hanya mengukir senyum di wajah mereka yang mirip dengan rupa manusia. Satu-satunya yang begitu mirip dengan manusia ialah Akashi, pria yang polos ini memiliki hati setengah iblis dan setengah manusia.
“Heh, kalau kalian membunuh manusia maka Akio lah yang akan membunuh kalian. Camkan itu baik-baik. Kalian semua tahu kalau Akio tidak akan menarik kata-katanya bukan?” ancam kakek dengan nada mengejek.
Sementara Akio telah lama pergi, kakek pun segera pergi dari sana.
“Akashi, segera beritahukan pada Tuan Akio mengenai apa yang barusan aku katakan tadi,” pinta Yasha.
“Yang mana?”
“Jangan mengandalkan si bodoh itu. Aku akan memberitahukan hal ini langsung padanya,” sahut Kizu.
“Apa katamu barusan? Aku bodoh!? Heh, kau yang bodoh!” amuk Akashi yang tak sudi dikatai bodoh meski itu adalah faktanya.
Musim panas akan segera berakhir. Bila musim panas telah berakhir dan Ikiryo belum musnah maka yokai itu akan bersembunyi dan menghilangkan jejak. Namun bukan berarti telah mati melainkan memulihkan diri, Ikiryo takkan muncul selain musim panas tiba.
Jika terus menunda-nunda maka kemalangan yang lebih dari sebelumnya akan membunuh Akio.
“Di sana!” Akashi menunjuk di mana ia berhasil mengendus bau Akio.
“Bagus, bagus. Bagus anjing baik. Mari kita pergi sebelum matahari kembali terbit.”
“Anjing? Aku bukan anjing!” protes Akashi.