
Kehilangan sang Tuan, sama saja seperti kehilangan kehidupan. Mereka jadi tak bermakna bahkan hingga memaki diri sendiri. Tetapi, mereka semua telah memutuskan.
“Mari kita berpisah untuk menemukan Tuan Akio!”
“Ya! Aku setuju denganmu!”
Sudah seharian ini Akio tidak kunjung pulang, tentu mereka semua sangat resah. Kecuali kakek tengu yang sejak awal selalu bersikap santai seakan tak pernah kehilangan sesuatu. Atau mungkin pasrah karena Akio memang senang sekali menghilang.
“Berhati-hatilah kalian semua!” Kakek melambaikan tangan, mempersilahkan mereka pergi.
“Ya, kami akan pergi. Entah memakan beberapa waktu atau beberapa hari, kami akan segera kembali, kakek,” ucap Yasha.
“Tak usah berpamitan segala dengan kakek tua itu,” ucap Kizu dengan dingin.
“Benar. Tidak ada gunanya berpamitan,” ujar Akashi menyetujui perkataannya.
Mereka berempat akan berpisah ke satu wilayah ke wilayah lain, guna memperluas pencarian secara maksimal. Tetapi, cara ini akan memakan banyak waktu entah terhitung berapa harinya.
Dan Akashi, saat ini berada di Kota Bama. Wilayah kekuasaan klan Kazuki, Daimyou di tempat Kazuki Eichi. Telah terjadi sesuatu pada suatu wilayah, adanya badai salju tak wajar.
“Aneh, tempat apa ini?”
Cuaca berubah drastis. Ini terlihat seperti bencana alam ketimbang cuaca biasa yang berubah. Tidak ada awan selain kabut putih menghujaninya dengan keras, lalu pijakan pada kakinya lebih lembut dari yang ia kira. Setelah Akashi menundukkan pandangan, barulah ia mengetahui tanahnya ialah bersalju.
“Pantas saja dingin. Eh, tunggu. Memangnya sekarang sudah musim dingin?” pikir Akashi.
Ia mulai menggigil kedinginan, sekujur tubuhnya pun gemetaran. Akashi nyaris tidak bisa bergerak, namun ia memaksakan diri. Ia berjalan di atas tumpukan salju sembari memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, berharap dinginnya yang menusuk tidak menyakiti tubuhnya.
“Tuan Akio ...ada di sini? Tuan Akio, jawablah panggilanku, Tuan ...,” panggil Akashi dengan suara bergetar hebat.
Mencium bau seperti kebiasaannya kini tak bisa ia lakukan di tengah badai salju. Terlebih ia harus menerobos ke arah mana badai salju menyerang, belum juga ia harus menahan diri dari kedinginan yang akan membuatnya mati beku nanti.
“Tahan, tahan, tahan, tahan. Tahanlah rasa dingin ini!” seru Akashi menyemangati diri sendiri. Semakin ia berseru kuat, semakin kuat pula ia berlari di atas tumpukan salju yang kian menebal.
Tetapi, percuma saja ia bisa menahannya. Di samping kekuatan fisiknya setengah yokai dan setengah siluman. Di mana ketahanan tubuhnya jauh lebih rendah dari yokai manapun, Akashi takkan cukup kuat menahannya. Lalu, pada akhirnya ia tumbang di jalan.
Dalam keadaan tengkurap di atas tumpukan salju, matanya yang sudah sayup-sayup itu berusaha untuk tetap membuka matanya. Ia tengah mempertahankan kesadaran yang semakin lama semakin menipis.
“Ah, gawat. Tuan Akio ...belum ditemukan. Dia menghilang, ke mana perginya? Seseorang ...tolong,” gumam Akashi.
Sedetik kemudian ia terlelap, namun sedetik setelahnya lagi ia langsung terbangun.
“Gawat!! Tidak boleh! Tidak boleh mati!” pekik Akashi seraya mengibas-ngibaskan rambut panjangnya, guna membersihkan salju yang menumpuk di atas.
Bergegas dirinya kembali melanjutkan perjalanan. Entah ke arah mana perginya, karena semenjak masuk ke wilayah Bama ini, tak satupun rumah nampak apalagi manusia. Ia hanya sekadar melihat hutan bersalju, tanah bersalju, lalu badai salju yang menghasilkan kabut putih menghalangi pandangannya.
Jujur saja Akashi kesulitan menangani hal semacam ini, akan tetapi ia terus berjuang hingga akhirnya menemukan sebuah petunjuk, setelah salah satu kakinya yang memerah akibat kedinginan tersandung sebuah batu.
Sembari mengaduh kesakitan, ia menendang-nendang batu tersebut. Saat itulah Akashi menemukan petunjuk berupa sobekan kain milik seseorang. Akashi mencoba mengambilnya dengan hati-hati, lalu mengendus bau yang tersisa.
“Bau ini, Tuan Akio?!”
Menggunakan indera penciuman seperti anjing, meski ia tidak begitu ingat pakaian apa yang dikenakan oleh tuan-nya, namun setidaknya penciuman Akashi cukup berguna.
“Tuan Akio ada di tempat ini. Tapi di mana lagi aku harus menemukannya? Tidak ada jejak maupun bau yang tercium lagi. Ah ...menyebalkan.”
Akashi mulai lelah, dirinya mulai membaringkan tubuh beralaskan salju tersebut. Biarlah ia merasa dingin, hingga sekujur tubuhnya terus gemetaran tanpa henti. Di samping merasa kesakitan, Akashi juga merasakan kehangatan entah dari mana asalnya.
“Eh?”
Perlahan-lahan terjadi sesuatu pada tumpukan saljunya. Ia merasa tubuhnya semakin lama semakin terperosok ke dalam. Penasaran apa yang terjadi, Akashi lantas bangkit dari sana dan kemudian menggali sesuatu yang dipikirnya adalah sumber kehangatan.
Setelah berhasil menggali salju, ia tak menemukan apa-apa selain sisa tanah. Akashi nampak kecewa karena dipikir akan ada sesuatu yang membuatnya hangat.
Dan kemudian pergi tanpa mengetahui bahwa api muncul di balik sisa tanah sebelumnya.
“Tuan Akio, Tuan Akio ...,”
Tak ada yang tersisa selain badai salju terus menerpa dirinya. Akashi hanya menyimpan sobekan kain yang diduga milik Akio. Sembari berjalan, ia terus mencari keberadaan sang tuan serta berharap bahwa Akio akan menemuinya.
“Bagaimana dengan Kizu dan lainnya? Apa aku harus kembali dan meminta tolong mereka?” pikir Akashi, ia lantas berhenti bergerak. Berbalik badan, tak menemukan arah jalan selain jejak terakhirnya di sana.
“Tidak! Aku adalah pedang Tuan Akio, jadi buat apa meminta tolong mahluk tak jelas seperti mereka, hmph!” Rasa gengsi telah membelit otaknya yang hendak membeku, Akashi kembali melanjutkan pencariannya tanpa bantuan siapa pun.
Ada sedikit niat yang kemudian ditepis dengan mudah olehnya sendiri, sebab Ia tak mau jadi tak berguna bagi "Pedang" Akio, itulah mengapa ia sedang berusaha tuk menggapainya sendiri.
“Tunggulah aku, Tuan Akio!”
Begitulah yang terjadi. Setelah perjuangan sia-sianya. Akashi tanpa mengenakan pakaian tebal bahkan bertelanjang kaki, ia yang memaksakan diri tuk terus bergerak menerobos badai salju, telah berakhir mengenaskan.
Kedua kalinya ia tumbang dalam posisi tengkurap. Kesadaran Akashi melemah dalam waktu singkat sehingga ia sendiri pun tak mampu tuk membangkitkan kembali kesadarannya lagi.
“Tuan ...Akio ...,” Bibir yang beku memanggil nama sang tuan. Jari-jemari sulit bergerak seakan hilang.
Muncul seorang wanita berpakaian serba putih, namun pakaiannya sangat berbeda dari yokai yang ia ketahui. Wanita itu muncul di tengah badai bahkan menyapa Akashi dengan senyum lembutnya seolah mereka berdua berada di padang bunga.
“Sia ...pa?” Akashi bertanya.
“Selamat siang.” Wanita itu angkat bicara.
Bagai mimpi, tidak ...ini pasti mimpi. Tidak lain dan tidak bukan ialah mimpi belaka. Karena suatu keanehan telah terjadi pada tubuh Akashi. Dirinya yang sudah tertimbun salju, lalu seorang wanita yang datang saja sudah bagaikan mimpi.
Berpikir dalam benaknya, 'Perasaan aku tidak pernah suka dengan wanita. Lalu kenapa aku malah memimpikan bidadari?' pikirnya.