Samurai Oni

Samurai Oni
LELUHUR



“Begitu. Ternyata begitu.”


Keberadaannya yang jauh berbeda dari manusia lainnya. Membuat ia mengerti akan satu hal. Kehadiran yokai tak patut disalahkan, melainkan adanya pulau inilah yang menjadikan pertempuran di antara mereka.


Lalu, kelima yokai yang selalu berada di sekitar Hatekayama sampai saat ini adalah Prajurit Neraka.


“Tuan Hatekayama! Geisha, Han dan lainnya aneh!”


Tidak menghiraukan perkataan Akashi, Hatekayama berjalan menghampirinya. Gua dalam gunung yang memiliki lubang lebar kini tertutup akibat reruntuhan usai pulau bergetar karena para yokai mulai berjatuhan dari langit.


“Menjauhlah Tuan!”


“Tidak. Ini salahku. Kemarilah Akashi.” Hatekayama berjalan pelan sembari mengulurkan tangan kanannya. Terdapat suatu pola pada wajah hingga ke tangan kanannya itu.


Entah apa, namun aura Hatekayama terpancar keluar mengesankan.


“Tuan?!”


Begitu ia dapat menyentuh kepala Akashi, ia diam dengan mata terpejam sembari berkata, “Dengar Akashi, tidak seharusnya aku memiliki perasaan pada kalian. Tapi aku yakin, suatu saat akan berubah.”


“Tuan? Apa yang kau lakukan?!”


Beberapa yokai mulai memaksa masuk ke dalam gua. Selang beberapa saat mereka pun akhirnya menerobos. Satu persatu dari mereka hanya tertuju pada satu orang yang memiliki kekuatan hebat, jiwa yang membara adalah makanan paling lezat bagi mereka.


Tidak lain dan tidak bukan ialah Hatekayama.


Di saat tubuhnya mulai dikerumuni, ia tetap berfokus pada Akashi seorang.


“Aku sudah hidup begitu lama, tapi apa yang telah kuperbuat selama ini?”


“Tuan! Apa yang kau lakukan?! Cepat menyingkir!”


“Hanya kau satu-satunya yang memiliki darah manusia. Karena kekuatanku sudah melemah, jadi aku terpaksa melakukan ini padamu, Akashi.”


“Tuan?”


Guratan halus di wajah dan tangan kanannya berpindah ke tubuh Akashi. Maka cahaya kebiruan yang mengartikan kebebasan, pun mengalir di dalam pembuluh darahnya sekarang. Namun akan tetapi bukan berarti Akashi dapat menggunakan spiritual miliknya.


Sebab yang Hatekayama coba lakukan adalah, menyegel jiwa membentuk sebuah kunci yang akan terhubung kelima yokai dan seluruh manusia dalam Shinpi-tekina. Ada pada tubuh Akashi saat ini.


“Tuan, apa yang Anda katakan?”


“Jika kejadian yang sama terulang kembali maka saat itu aku ingin kamu menghancurkan dirimu sendiri.”


“Kenapa? Bukankah Tuan bisa melakukannya sendirian?”


“Tidak bisa. Ataukah kamu tidak mau melakukannya?”


“Bukan. Aku bersedia melakukannya, tapi katakan alasan Tuan melakukan ini?”


“Jika aku membasmi mereka semua, itu bisa saja tapi takkan cukup waktunya. Karena itu aku mempercayakan semuanya padamu, bisakah kau melakukannya?”


“Tuan menemaniku?”


“Tidak. Tidak untuk saat ini. Tapi suatu saat, akan ada yang lahir sebagai diriku. Saat itu kau harus bersiap, Akashi.”


Mempertaruhkan nyawa serta tekad yang kuat, Hatekayama yang sangat naif memilih untuk mati dikerumuni oleh para yokai namun meski begitu dirinya tidaklah mati sia-sia. Ia memberikan kekuatan, jiwa, kunci untuk menghancurkan keterkaitan antara negeri Shinpi-tekina dengan dunia di mana para yokai terlahir.


“Tidak mungkin ...bagaimana jika aku melakukan hal yang sama seperti mereka?”


“Tidak. Kamu berbeda. Kamu memiliki setengah dari mereka dan setengah dari manusia. Aku yakin kamu dapat ...merubahnya.”


***


Takdir yang tak dapat dirubah. Dan sekarang, setelah lebih dari 80 tahunan Shinpi-tekina berdiri. Era para samurai menghabisi para yokai terkutuk terus berlanjut, sampai menuju ke pertempuran akhir.


Bak neraka yang tumpah ke dunia, yokai terkutuk jatuh dari langit. Lalu karena anak yang diramalkan menjadi pahlawan ialah "Hatekayama", reinkarnasi tersebut pun beresonansi pada jiwanya sendiri dengan pedang yang saat ini lebih dikenal dengan nama Retsuji.


Tidak ingat adalah hal yang wajar, begitu juga dengan Akashi sendiri. Nyatanya Akashi hidup hampir sekitar 80 tahun dengan wujud yang tak berbeda, baru saja teringat akan adanya malapetaka yang kembali terulang saat itu.


Begitu ia mengingatnya, saat itulah Akashi mulai merencanakan sesuatu. Dibandingkan dengan memberitahukan segalanya pada reinkarnasi Hatekayama, ia memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri. Itupun tanpa disengaja lakukan.


“Tuan Akio ...tidak, Tuan Hatekayama. Maaf aku terlambat, ini karena aku melupakannya.”


Dan sekarang, kunci yang menjadi penghubung antara Shinpi-tekina dengan para yokai terkutuk sekali lagi terhubung dengan satu benang yang terlihat cukup jelas, begitu panjang dan kuat. Namun, kunci tersebut sudah hancur, dan sudah saatnya jalan penghubung di antara yokai dan manusia tertutup rapat untuk selamanya.


“Tuan ...setengah dari bagianmu berada dalam tubuhku, itulah mengapa Tuan memiliki rasa percaya terhadapku.”


“Bu-bukan. Apa ...yang sebenarnya aku lakukan?!”


“Ini bukan salah Tuan.”


Meski riak dalam pertempuran berakhir. Sisa-sisa yokai yang perlahan lenyap tak bersisa. Ada satu hal yang dapat dipastikan, ini sudah berakhir.


Langit yang semula turun hujan, kini langit yang terang menerangi Shinpi-tekina.


“Sudah berakhir?”


“Ya, sudah berakhir. Semuanya.”


Muncul sebuah tanda dengan beribu rantai di pulau Shinpi-tekina, dalam sekelebat yang kemudian menghilang.


Nekomata, Kizu, Yasha, Han, Geisha lalu Akashi, wujud mereka pun ikut lenyap.


“Saya adalah pengamat dalam perjalananmu, Tuan. Tapi saya tidak tahu bahwa ingatan kelam itu ada.” Yasha berucap.


“Begitu juga denganku. Tiba-tiba saja itu terlintas.”


“Kenapa harus berakhir sekarang?” Oni Geisha masih pada sifatnya yang sebenarnya. Sementara Han di suatu tempat hanya bisa terdiam sembari memandang langit.


“Mengakhiri segalanya bukan berarti akan benar-benar berakhir, Tuan.”


Mendengar semua hal itu, tentu Akio mengerti. Terlebih setelah sebagian darinya telah lengkap dalam satu tubuh.


“Aku tahu. Negeri Shinpi-tekina bukanlah satu-satunya penghubung.”


“Apa yang Tuan bicarakan?”


Pola yang sama kembali muncul pada tubuh Akio. Pola yang merupakan tanda segel itu sendiri. Mengartikan apa maksud perkataannya barusan, ialah inti dari jalan penghubung antara dunia dan alam baka.


“Aku tidak bisa menghilang, nyatanya adalah keberadaanku sendirilah yang mengakibatkan kekacauan ini. Jadi tidak seharusnya aku yang dulu membuatmu melakukan semuanya.”


Pola segel bersatu dalam satu titik di bagian jantungnya. Dengan itu berarti, keberadaan yokai yang saat ini berada di tempat ini akan benar-benar lenyap. Begitu juga dengan jati diri Akio yang sebenarnya.


Sebelum benar-benar menghilang saat itu Akashi dalam wujud oni bertanya, “Tuan yakin ingin melakukan hal itu?”


“Suatu saat "kunci" akan muncul lagi di hadapanku. Maka tak peduli itu akan ada di dekatku atau tidak, aku tidak akan pernah melakukan sesuatu padanya. Ini sudah cukup.”


Malapetaka telah berakhir. Para samurai yang tersisa bersorak gembira menyertakan kemenangannya. Tanpa ada yang tahu bahwa itu adalah pengorbanan serta dosa pada saat bersamaan. Sosok yang misterius lahir tanpa masa lalu itu menginginkan kehidupannya sendiri.