Samurai Oni

Samurai Oni
KAKAK



Akashi, Kizu lalu Nekomata bekerja sama untuk menyelamatkan Akio dari eksekusi publik ini. Dengan Nekomata sebagai penghalang bagi para samurai, wujud besarnya akan mampu menghadang mereka.


Lalu Akashi dan Kizu bergerak bersama sembari membopong Akio dan berlalu pergi dari saja.


“Samurai Oni melarikan diri! Cepat kejar dia!”


Sedikit dari mereka yang lolos dari Nekomata. Bergegas mengejar Akio.


“Kita lari ke arah luar!” pekik Kizu.


“Eh? Bukannya berbahaya?!”


“Sudahlah cepat!”


Terpaksa harus berlari jauh dari ibu kota menuju ke luar dari wilayah negeri Shinpi-tekina. Yang itu berarti melarikan diri ke arah laut.


Shinpi-tekina adalah negeri yang berdiri atas pulau. Laut di sekelilingnya ganas dan itu akan membuat semua orang takkan pernah ke sana. Laut yang akan mengirim mereka ke dalam jurang kematian.


“Kau bersungguh-sungguh rubah? Jangan bercanda!”


“Tidak ada cara lain!”


BYURR!!


Pada akhirnya mereka bertiga menceburkan diri ke dalam lautan, dan kemudian terseret oleh gelombang laut yang bergelojak tinggi. Sontak semua samurai yang berhasil mengikuti mereka pun terhenti di kejauhan.


“Bohong, kenapa mereka nekat sekali melompat?”


“Mereka yokai!”


“Ck! Tapi berbeda dengan Samurai Oni, dia pasti akan mati!”


Terseret oleh arus gelombang kuat, air asin pun masuk ke dalam paru-paru. Bagi manusia, ini adalah laut kematian yang tidak memperbolehkan siapa pun untuk keluar maupun masuk ke dalam Shinpi-tekina.


Tetapi, Akio yang setengah sadar hanya bisa terdiam dengan membiarkan tubuhnya mengikuti arus tersebut. Terlihat Akashi dan Kizu sama-sama mengusahakan yang terbaik, bahkan mencoba untuk berenang menerobos arus sambil berteriak memanggil-manggil nama Akio.


“Tuan Akio!!”


Semakin lama ia terombang-ambing seperti dipermainkan oleh laut, Akio pun mulai tak sadarkan diri hingga tubuhnya terperosok ke dalam, arus laut mendorongnya masuk lebih dalam hingga tak mampu diikuti oleh Akashi dan Kizu.


Terlelap dengan mata terpejam, seakan menanti maut yang tak pernah ia inginkan, sosok seorang pria dengan tersenyum muncul di benaknya.


Melihatnya membuat ia teringat kenangan dari tahun-tahun yang lalu. Hari ketika ia dikurung dalam rumah setelah sengaja membuat seorang perempuan menangis karena habis dirundung oleh Akio sendiri.


“Hai, apa kau dikurung?”


Pria itu adalah Mikio. Tanpa menyandang nama marga, ia hanya menyebut dirinya sebagai Samurai Pedang Hitam, dan nama pendek Mikio.


Mendengar seseorang berbicara kepadanya, Akio sewaktu kecil saat berusia 10 tahun lantas menoleh ke belakang. Mendapati pria di balik jendela, ia bertanya dengan raut wajah kesal.


“Apa maumu?” Seolah menantang, beginilah Akio.


“Aku tidak mau apa-apa. Hanya saja aku penasaran kenapa kau dikurung?” tanyanya sekali lagi.


Akio hanya mendengus kesal dengan tatapan sinis pada Mikio. Ia berdiri menghadapnya sambil melipatkan kedua lengan ke depan dada. Postur tubuh kecil yang sudah terlatih itu cukup bagus, Mikio tersenyum ketika memandang anak sekecil ini sudah mahir berpedang.


“Apa urusanmu? Jangan ikut campur!”


“Ah, aku menganggu ya? Oh ya kalau begitu kenapa kita tidak berkenalan saja? Namaku Mikio, lalu kamu?”


“Heh, aku tidak peduli dengan namamu. Cepat sana menyingkir! Kau mengangguku berlatih!”


“Oh, berlatih? Sungguh pekerja keras. Ah, tapi aku benar-benar penasaran kenapa kamu dikurung padahal kamu itu orang yang pekerja keras,” celetuk Mikio yang berniat memancingnya.


“Berisik! Jangan ganggu! Memangnya salah jika aku menghajar perempuan yang tahunya hanya bermulut manis?! Hah!” Dan pada akhirnya emosi Akio benar-benar terpancing.


“Sudah, sudah. Tenanglah. Lagipula menurutku ini yang terbaik. Kamu dikurung sehabis menghajar perempuan.”


Kemudian Mikio berdecak seraya menggelengkan kepala, kembali ia berceloteh, “Kamu pikir menghajar perempuan hanya karena bermulut manis itu adalah hal yang pantas dilakukan?”


“Apa maksudmu? Salah sendiri dia lemah!”


“Perempuan itu berbeda dari laki-laki tahu. Kamu ini terlalu termakan emosi. Kamu bukanlah sosok lelaki yang patut dihormati,” ketus Mikio.


Akio tersentak mendengarnya, bagai tersambar petir ia tersadar bahwa perbuatannya itu salah.


Tetapi setelah itu, setelah hukuman dikurung dalam rumah, Akio kembali melakukan hal buruk lagi. Saat masih berusia 10 tahun juga saat itu, Akio menyerang orang dewasa hingga babak belur. Karena itu, Akio dikirim ke suatu tempat.


“Aku titip anak ini padamu.” Dan yang mengirimkan Akio ke kediaman Mikio adalah Yamamoto Naruhaya.


“Ya?”


Selama sepekan di sana Akio terus melatih dirinya, dan tentunya ia tidak diperbolehkan keluar. Entah apa maksud Naruhaya yang berkata ingin menitipkan Akio pada Mikio saat itu.


“Namamu Akio benar? Kenapa kamu tidak berhenti sebentar saja? Sudah berapa lamu kamu bergerak seperti ini terus, ya. Ya ampun. Aku yakin kamu kelelahan, tapi wajahmu tetap semangat begitu.”


“Jangan berisik!”


Perangainya sama sekali tak berubah. Setiap ucapan maupun raut wajahnya tak terlihat seperti anak-anak normal. Seperti berkembang terlalu pesat, menuju ke arah kedewasaan. Akio tumbuh terlalu cepat.


Tetapi, Mikio sedikit mengerti mengapa selama 5 bulan Naruhaya tak kunjung menemui mereka lagi untuk mengambil Akio.


“Sepertinya aku memang harus turun tangan. Hah, dasar. Hal-hal merepotkan begini ...kenapa pula aku harus mendidiknya agar jadi lebih baik?” gerutu Mikio seraya berjalan lesu menuju kamar Akio sementara di kediamannya.


“Hei, Akio! Daripada kau berlatih dengan angin, bukankah lebih baik jika kau berlatih denganku saja? Sudah 5 bulan, dan aku tak yakin kau bisa berkembang,” sindir Mikio.


“Hah?! Jangan bercanda! Aku bisa berkembang meski hanya melawan angin! Bahkan aku bisa menumbangkan beruang sendirian, huh!” sahut Akio.


“Oh, jadi maksudmu aku lebih lemah dari beruang?” ujar Mikio berusaha memancingnya lagi, ia melipat kedua lengannya ke depan dada seraya bersandar pada pinggiran pintu.


“Baiklah!” Akio menunjuk dengan pedang kayunya. “Aku akan meladenimu, Mikio! Yah, aku hanya ingin pemanasan sebentar sebelum melawan beruang,” tuturnya.


“Jika tak ingin kalah, maka kamu tak boleh meremehkan lawanmu, Akio.”


Mikio berjalan menghampirinya. Tanpa menarik pedang, ia tetap menantang Akio dengan kesepakatan tertentu di antara mereka.


“Jika aku kalah, maka kamu boleh melakukan sesuatu padaku.”


Mendengarnya membuat Akio merasa senang.


“Tetapi, jika kamu yang kalah maka kamu harus memanggilku kakak seumur hidupmu, bocah nakal!” imbuh Mikio.


Hasil akhir; Mikio menang. Ya, itu sudah cukup jelas. Namun di samping itu Mikio merasa bahwa Akio benar-benar sudah berkembang dari cara ia bergerak. Tapi kelemahannya, Akio selalu saja menyerang dari depan begitu mulai, jadi pergerakannya mudah dibaca.


“Kalau begitu, panggil aku kakak mulai sekarang ya!”


Itulah awal mula dari ikatan di antara mereka berdua. Akio dan Mikio, menganggap satu sama lain adalah saudara sehidup semati yang berarti juga berbagi rahasia.


“Kak, sebenarnya saat aku menghajar pria itu ada sebabnya ...,”


Rahasia terkait indera kuat yang dimiliki oleh Akio. Melihat sekaligus merasakan keberadaan yokai dari segala penjuru negeri. Ketika mengingat hal itu, Akio tiba-tiba saja terbangun di atas pasir.