Samurai Oni

Samurai Oni
ONRYOU II



Kekuatan asing yang mengalir keluar dari tubuhnya, tidak seperti biasanya. Akio sendiri pun bingung, entah apa yang telah terjadi saat ini juga namun rasanya ia dipenuhi oleh aura yang lebih suci.


“Bohong! Itu dia!”


“Mana mungkin! Jadi dia benar-benar ...!”


Para yokai terkutuk yang sebelumnya sudah mengoyak-ngoyak tubuh Akio kini perlahan melangkah mundur. Mereka tampak sangat ketakutan pada Akio saat ini, seolah-olah seseorang yang lebih menakutkan telah muncul di depan mereka dan itu menggunakan Akio sebagai perantara.


Akio berpikir, mungkin saja ini adalah karena pengaruh cahaya kebiruan ini. Berkatnya pula, tubuh Akio terasa nyaman dan sebagian daging yang telah terkoyak pun kembali utuh seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.


“Apa ini? Apa yang sebenarnya mereka takutkan?”


Meski dalam kondisi setengah sadar, Akio tetap menggenggam pedang kayunya sampai akhir. Tanda pertarungan belum berakhir hingga dirinya benar-benar mati.


Lalu, dalam waktu sekejap, sekilas Akio melihat kepingan memori seseorang. Di mana ada seorang pria berusaha meraih tangan seseorang yang tertinggal di belakang.


“Eh?”


Akio bingung, mengenai memori yang terlintas itu. Tapi lebih memilih untuk mengabaikannya karena menurutnya itu tidaklah penting.


“Hei! Apa itu kau?!” Kemudian salah satu dari mereka bertanya.


“Apa maksudmu?” Tidak mengerti maksud dari pembicaraan, Akio lantas menebasnya hingga hancur.


“Ugh! Dia benar-benar adalah dia! Kenapa di saat seperti ini dia bangkit?”


“Aku lebih baik pergi meninggalkan pedang ini daripada dihancurkan olehnya!”


“Hei, tunggu!” teriak Akio seraya menahan ekor milik yokai yang telah melarikan diri itu.


“Dia? Apa maksudmu dengan berkata bahwa aku adalah dia? Dia yang kau dan kalian maksud itu siapa?” tanyanya.


“Hah! Kau pikir aku akan memberitahumu di saat kau belum sadar sepenuhnya!” jerit yokai tersebut lantas berbalik dan menyerang.


Mulutnya terbuka lebar dan menunjukkan puluhan taring yang kecil namun panjang dan runcing. Terlihat ia akan menggigit Akio lagi, dan tentunya takkan Akio biarkan itu terjadi dua kali.


Segera ia menghindari, memanfaatkan tubuh kecil daripada tubuh besar para yokai, dirinya mampu menyayat tubuh bagian belakang mereka.


Pertarungan tanpa darah, yokai yang tak memiliki rupa manusia hanya memiliki abu dan tulang pada tubuh mereka. Setiap gerakan Akio tidak lagi disia-siakan. Kini ia hanya mengincar seperempat dari tubuh yokai, sembari bergerak mengincar kepala yokai yang paling sulit ia dekati.


“Tempat ini dipenuhi bau racun. Mana aku bisa tahan bila berlama-lama berada di tempat ini. Cih!”


Sembari ia merasa muak, namun agaknya ia terlihat baik-baik saja karena cahaya kebiruan yang sekarang mengumpul di pedang kayunya masih terlihat jelas. Seakan melindungi Akio dari racun yang terbawa oleh angin serta yang dimiliki oleh jenis yokai lainnya.


“Sebenarnya mereka melihatku sebagai apa?” Di samping itu Akio sangat penasaran, siapakah yang mereka maksud.


SYAK! SYAK!


Mengayunkan pedang dari arah kiri dan kanan secara bergantian. Memutar tubuhnya menghadap ke belakang, dan menyergap sisanya yang melarikan diri dari Akio. Pedang kayu terasa lebih ringan seperti sedang memegang daun hijau, gerakannya jauh lebih kuat ditambah dengan kekuatannta yang mengalir. Tidak hanya itu, bahkan jangkauan kekuatan dari kekuatan spiritual yang seharusnya tidak sedang ia gunakan justru membantunya tuk menebas musuh dari bawah menuju ke atas.


Yokai yang memiliki sayap, hendak terbang bebas ke langit gelap namun hal itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh Akio melalui kekuatan asing tersebut. Hal-hal yang ditakuti oleh mereka, cahaya kebiruan, kini perlahan-lahan mulai sirna.


“Lari, lari! Samurai Oni telah bangkit menjadi dia!”


“Hah ...” Akio menghela napas panjang dengan raut kesal lantas berucap, “Aku tidak tahu siapa dia yang kalian maksud. Tapi berhentilah melarikan diri!” seru Akio lantas mengayunkan pedang dari atas kepalanya.


Hingga ujung pedang menyentuh pucuk tanah, cahaya kebiruan sekali lagi muncul dalam wujud bilah angin. Ukurannya cukup besar, nampak gelombang dahsyat menyerbu ribuan yokai di sana. Hanya sekali ia melakukannya dan itu mampu membinasakan yokai sebanyak itu.


“Wah?”


Akio pun tercengang akan kekuatan dahsyat itu. Ia berhenti berpikir lantas merasa aneh dengan dirinya sendiri.


“Hei! Hentikan! Kami akan menuruti perintahmu! Jadi jangan lakukan apa pun lagi!” jeritan memohon ampun terdengar dari yokai kecil, ia berbentuk ular tanpa sisik. Semula warnanya yang hitam berubah menjadi putih.


“Perintah?”


“Benar! Ini ada di dalam pedangmu bukan? Karena itu, jika kau biarkan kami hidup di sini maka memusnahkan yokai akan jadi lebih mudah untukmu bahkan ketika jika kau dirombong sekalipun.”


“Eh, kupikir aku harus melawan mereka semua? Tapi aku pikir tidak masalah jika kalian semua mati. Toh pedang ini sudah berkarat.”


“Hentikan!!”


Satu persatu dari yokai tersisa muncul dan mulai membantu si ular putih tersebut. Mereka mengemis akan kehidupan mereka yang tampaknya sangat berharga dibandingkan mementingkan rasa amarah, dendam atau rasa benci.


“Terserah saja. Tapi, jika kalian bergerak tanpa seijinku, maka kalian tahu apa yang terjadi nanti.”


Semua ini bermula dari sebuah pedang berkarat milik Akio. Yang kemudian pedang itu dirasuki oleh ribuan roh jahat dari para yokai. Si kakek yang mencoba untuk menempa ulang pedang itu, dan membuat Akio terjebak ke dalamnya.


Ketika Akio dalam keadaan terdesak, cahaya kebiruan membantunya. Itu adalah kekuatan spiritual seseorang yang sangat berbeda dari miliknya, Ayahnya maupun kakek tengu itu.


Kekuatannya sangat berbeda, bahkan hanya dengan mengayunkan pedang tak berguna saja akan menghasilkan serangan dahsyat seakan dirinya bisa membelah lautan maupun langit.


“Beritahu kami, siapa sebenarnya Tuan Akio itu? Aku merasa dia lebih dari sekadar samurai biasa ataupun samurai yang memiliki kemampuan membinasakan yokai.”


“Tidak akan. Ini tidak ada hubungannya dengan kalian semua.” Kakek pun menolak tuk memberitahunya.


Cahaya dan kekuatan besar itu masih sangat misteri.


Dan sekarang, Akio telah menjinakkan sisa dari parah roh jahat yang mampu bertahan maupun telah mengelak dari serangan tersebut. Meraka akan membantu Akio untuk memudahkan membunuh sesama mereka. Hanya demi bertahan hidup masing-masing.


“Tapi, berhati-hatilah. Karena mulai sekarang, akan ada banyak yokai. Dengar, aku tidak mengatakan ini karena khawatir melainkan agar aku masih bisa tetap hidup,” ujar yokai berwujud ular putih.


Setelahnya Akio keluar dari pedang tersebut. Dan benar saja apa yang dikatakan si ular, terdapat sebuah benda yang menyerupai benang namun hal itu lengket pada sekujur tubuhnya.


“Tiba-tiba ada apa lagi ini?”


Akio memastikan bahwa dirinya sudah berada di Kuran, langit dan hutan yang sama namun keberadaan kakek dan lainnya sama sekali tidak bisa ia rasakan.


“Kakek?”


Belum sempat ia berdiri dari sana, sesuatu yang telah menjerat bagian tubuhnya pun lantas menyeret Akio, menjauhkannya dari wilayah Kuran.