
“TUAN AKIO!!!!!”
Akashi masih saja berteriak keras, terkadang pula ia menangis seperti anak kecil yang ditinggal oleh kedua orang tuanya. Berulang kali ia mencoba keluar namun berakhir terbaring mengenaskan sebab ditindihi oleh tubuh Nekomata yang membesar.
“Kita setidaknya harus menjaga rumah.”
“Tidak, tidak, tidak! Aku ingin bersama Tuan Akio! Tuan Akio!!”
Buakk!
Tubuh yang nampaknya menjadi papan datar itu kemudian memunculkan memar di kepala. Namun Akashi selalu saja memanggil nama Akio.
“Aku iri dengan si rubah kurang ajar itu! Bisa-bisanya dia keluar. Aku yakin sekarang dia sekarang sedang bersama Tuan Akio!”
“Kenapa kau berpikir begitu? Mungkin saja Tuan Akio pergi tapi ada urusan lain?” pikir Nekomata.
“Kau tidak akan tahu kalau itu adalah kebiasaan Tuan Akio. Dia tidak bisa terus berdiam diri karena kebiasannya itu sejak lama. Huh!”
“Oh, jadi itu sudah kebiasaannya ya? Aku baru tahu. Tahu begitu aku ikut saja,” gumam Nekomata.
“Hoi, Neko! Tubuhmu berat!” amuk Akashi.
“Asal kau berjanji takkan meninggalkan kediaman ini?”
“Memangnya kenapa tidak boleh?”
“Jangan lupakan Tangan Merah milikmu itu, Akashi!”
“Hah, bahkan Neko menganggap aku bukan manusia.”
“Memang kau bukan manusia, bodoh.”
“Tidak! Tuan Akio berkata bahwa aku adalah manusia! Ma-nu-sia!” Ia menegaskan.
“Ya, ya. Terserah kau saja.”
Akashi dan Nekomata tetap berada di kediaman Mikio sampai semuanya kembali. Sedang Yasha yang berniat untuk kembali ke kediaman Mikio justru tersesat hingga sampai ke wilayah klan Uchigoro. Ini hal tak terduga bahkan Yasha tak sadar dirinya sedang tersesat.
Lalu, yang terjadi di Rumah Bunga saat ini.
“Nona Kinata, kamu sungguh cantik sekali. Sudah jarang melihatmu, aku sangat senang.”
Kadang-kadang, para samurai yang lelah bekerja di siang-malam, akan datang ke Rumah Bunga untuk beristirahat maupun bersenang-senang pada semua wanita yang ada di sini. Mereka disebut sebagai Geisha. Layaknya wanita penghibur. Mereka berpakaian yukata dan riasan yang cantik.
Sesekali menemukan seorang geisha yang diberikan hadiah pada seseorang yang menyukai dirinya. Terkadang pula ada yang membelinya untuk dijadikan istri.
Dan di sini, Kinata lah yang paling populer. Walau tampaknya Kinata tak cukup senang karena Akio pun juga dikerumuni oleh banyak wanita yang tampak tertarik dengan Akio.
'Tuan Akio ...kenapa aku harus terpisah 2 meter darinya? Kenapa?' Inilah yang menjadi penyesalannya dalam batin.
“Sudah lama tidak jumpa, Kinata. Aku datang loh!” Datang lagi satu pria yang menyukai Kizu.
'Eh? Aku sepertinya mengenali wajah pria ini. Tapi bukan di tempat ini, melainkan di luar. Kira-kira siapa ya? Ya, kalau tidak salah dia melindungi Tuan Akio dari hujatan orang tidak jelas itu,' pikir Kizu membenak seraya menatap dengan mata terbelalak.
Pria itu kemudian tertawa, lantas mengambil tempat duduk di dekatnya. Ia kembali mengapa Kizu, “Hei, Kinata! Apa kamu sebegitu terpesonanya padaku?”
Ia langsung tersadar dengan lamunannya, lantas mengangkat tangan yang tertutup lengan panjang dari pakaiannya, ia berusaha untuk menahan tawa kecil.
“Maafkan saya, tuan. Saya hanya terkejut saja,” jawab Kizu.
“Tuan Kazuki memang pandai menggaet banyak wanita. Tapi kenapa sampai sekarang Anda belum berkeluarga?” tanya seorang pria yang niatnya jelas untuk menyindir.
“Hei, kenapa kau berbicara seolah aku hanya pandai menggoda wanita,” balas Kazuki.
Yang datang kemari untuk bertemu Kinata tak lain adalah orang yang sama dari Klan Kazuki. Daimyo di Bama, Kazuki Eichi.
'Aku takut jika pria ini mengenali Tuan Akio. Tapi, alasanku kemari adalah menyelidiki apa yang belum kami ketahui. Tuan Akio pasti sangat penasaran ada di mana keberadaan yokai itu sekarang,' batin Kizu.
“Kinata, sejak tadi kamu menatap pria itu dibanding denganku. Apa kamu sudah tertarik denganku?” tanya Kazuki.
“Ah, itu ...tidak. Tuan Kazuki memang yang paling menarik di sini, jadi saya pikir saya harus mengalihkan pandangan saya sebentar,” ujar Kizu.
“Haha! Kinata benar-benar pandai menggoda. Jadi bagaimana tawaranmu?”
Saat ditanya, mendadak Kizu terdiam. Ia tidak begitu mengerti kenapa tiba-tiba Kazuki menanyakan tentang tawaran yang bahkan saat ini Kizu tengah berusaha untuk mengingat hal tersebut.
“Jadi?”
Beberapa pria yang berada di belakang Kazuki pun nampak menunggu jawaban Kizu, sembari mereka berbisik-bisik seakan berharap Kazuki ditolak.
“Tuan Kazuki pasti akan ditolak.”
“Haha, bukankah itu sudah biasa. Geisha yang biasa saja menolak apalagi yang nomor satu.”
“Hei, aku mendengar kalian!” pekik Kazuki.
'Sebenarnya apa yang ditawarkan? Jangan bilang menikah atau semacamnya?' pikir Kizu membenak.
Kazuki masih tersenyum lebar seolah berharap jawaban bagus dari Kizu. Sedang Kizu berupaya mengingat apa yang ditawarkan lelaki ini kepadanya.
Namun setelah mendengar bisik-bisik dari orang-orang sekitar, akhirnya Kizu mengetahuinya.
“Melamar?” gumamnya.
“Nona Kinata, kamu sungguh cantik dan aku pun sulit berpaling darimu. Kencantikanmu yang memukau membuatku merasa bahwa kita sudah lama ditakdirkan.” Tiba-tiba kalimat bujuk rayunya muncul seraya ia meraih tangan kanan Kizu dan kemudian membelainya.
“Saya sangat senang, Tuan Kazuki. Semua hadiah yang telah Anda berikan pada saya, telah beberapa kali saya kenakan namun karena terlalu indah maka saya hanya menyimpannya. Ini seperti menyimpan kerinduan yang ada di hati saya,” sahut Kizu menatap sendu ke bawah. Ia mendekat pada Kazuki.
“Begitu. Aku sangat senang mendengar hal itu darimu.”
“Ya, Tuan Kazuki.”
Dengan kecantikan serta mata yang bulat, bibir yang dipoles cantik serta tangan yang begitu lembut dibelainya, Kizu sekali lagi berkata.
“Maafkan saya harus mengatakan hal ini. Saya, belum ada niat untuk melanjutkannya hingga ke tahap itu,” ujar Kizu memalingkan wajah, nampak ia berlinang air mata.
Tetapi itu hanya kepalsuan saja.
Sedang Akio hanya bisa duduk diam di sini dengan banyak geisha mengelilinginya. Mereka pula menanyakan beberapa hal pada Akio yang sama sekali tidak bicara sepatah kata pun.
“Tuanku, bolehkah saya melihat wajahmu? Saya dibuat penasaran tentang ini.”
“Jangan dengarkan dia, tuan. Dia hanya ingin mencari sensasi saja. Silahkan, diminum teh hijau ini, tuan.”
“Kau yang mencari sensasi tahu!”
“Jangan menegas sebelum aku lempar teko panas ini ke wajahmu,” ancam wanita itu dengan senyum memaksa.
“Ya ampun. Kalian berdua memang tidak pernah akur, tapi setidaknya bersikaplah sopan di hadapan tuan samurai ini.”
Banyak dari mereka yang penasaran dengan Akio. Sejak tadi pun Akio hanya duduk diam sembari memperhatikan sesuatu termasuk memperhatikan Kazuki yang tengah menggoda Kizu.
Sementara hal yang paling Akio khawatirkan, adalah wanita yang duduk di sebelahnya seraya menatap ke arahnya lebih dekat.
Semenjak Akio masuk ke ruangan ini, wanita yang tak dikenal namanya mendekat.