
Di Benteng Tenggara Honjou. Nekomata mengendap-endap keluar dari wilayah itu, tuk menuju ke Kuran. Di sana ia menemui kakek tengu yang bernama Naruhaya.
“Kau meninggalkan Akashi sendirian? Dia itu bocah bodoh. Kalau nanti dia membuat masalah, kau yang akan bertanggungjawab!”
“Sudahlah, kakek. Akashi itu anak baik. Aku percaya dia bisa mengatasi segala hal dengan semangatnya.”
“Kau pikir itu mungkin?!”
“Daripada itu, kek. Aku ingin menanyakan perihal Tuan Akio. Tolong katakan sesuatu apa ada hal yang telah kau sembunyikan darinya dan kami semua? Tentang Tuan—”
“Ah, tunggu!” Kakek itu membungkam mulut Nekomata sebentar. Lantas menyahutnya, “Sudah aku katakan berulang kali bahwa aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai dirinya ataupun rahasia yang dimiliki olehnya.”
“Kenapa? Apa aku tak berhak mengetahuinya?” pikir Nekomata.
“Iya. Tentu saja! Kau hanyalah yokai. Tidak berhak ikut campur mengenai urusan Akio ke depannya.”
“Kenapa kau selalu menyembunyikannya. Tapi jika dilihat-lihat pasti itu ada hubungannya dengan masa lalu.”
Kakek merasa telah kalah telak akibat Nekomata mengungkapkannya secara blakblakan. Terlebih itu benar, bahwasanya ini berhubungan dengan masa lalu.
“Jangan bilang kau tahu sesuatu?”
“Ternyata benar ini ada hubungannya. Tapi sayang sekali aku tidak mengetahui apa pun soal yang terjadi di masa lalu,” ujar Nekomata.
“Aku tetap tidak bisa mengatakan apa pun padamu. Yah, selain ...tentang hal itu. Bisa dikatakan Akio adalah reinkarnasi seseorang yang penting di masa lalu.”
Nekomata menyipitkan mata. Tebakannya sejak awal selalu benar, namun itu tak membuatnya merasa lega atau tenang justru sebaliknya, ia merasa resah.
“Aku mulai mencurigai hal ini setelah apa yang terjadi pada Tuan Akio.”
“Hoi, kucing. Kau bukanlah ...,” Sengaja kakek tidak melanjutkan kalimatnya.
Dan si kucing itu pun tahu maksud dari si kakek.
“Aku bukanlah mata-mata seperti yang kau pikirkan, kakek tua. Hanya saja aku mulai curiga. Bau Tuan Akio itu khas dan menarik minat banyak yokai entah dengan niat buruk atau baik sekalipun.”
Sejenak ia menghela napas, dan kembali berkata, “Lalu apa yang Tuan Akio lakukan ketika raga dan jiwanya masuk ke dalam Onryou. Mulai dari kehilangan kekuatan spiritualnya lalu menunjukkan sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.”
“Lebih berbahaya bagimu atau bagi manusia?”
“Tentunya lebih berbahaya bagi para yokai terkutuk seperti kami,” ucap Nekomata.
“Ya, aku sudah menduganya. Tapi tetap takkan aku katakan hal-hal lainnya lagi.”
“Aku tahu, kek. Bagiku sudah cukup kau mengatakan reinkarnasi atau apalah itu.”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau sangat penasaran akan hal itu?” tanya si kakek.
Nekomata menjawab, “Aku hanya ingin tahu saja.”
Jawaban yang tidak jelas didapatkannya. Nekomata pun sebenarnya hanya ingin mengetahui hal itu saja. Bisa dikatakan bahwa ia amat penasaran mengenai Akio.
3 hari telah berlalu usai Kizu mendapatkan sesuatu mengenai yokai berwujud wanita cantik mengenakan baju pengantin.
Di Kastil Hatekayama. Nyonya yang merupakan istri dari almarhum Shogun Hatekayama telah melahirkan bayi merah, putra ke-3.
Di luar terdapat penjagaan yang sangat ketat, terdiri dari 3 pemimpin klan pendiri negeri, Kazuki, Uchigoro dan Mizunashi. Ini adalah hari yang telah dilalui oleh Nyonya itu dengan berat.
Telah melahirkan putra ke-3 namun sangat disayangkan karena suaminya telah meninggal di kastilnya sendiri.
“Selamat Nyonya Hima. Anda telah melahirkan bayi yang sehat. Dia adalah seorang anak laki-laki.”
Persalinannya cukup lancar, tak ada hambatan dari manapun. Ini semua telah usai begitu Nyonya Hatekayama Hima telah melahirkan buah hatinya.
Semua orang termasuk satu orang pendeta laki-laki mendoakannya agar sehat selalu dan diberikan keberkahan yang berlimpah. Demikian, rasa syukur tercurahkan pada sang buah hati tercinta. Sang Ibu hanya tersenyum dan berucap "Terima kasih" sembari memikirkan nama apa yang cocok untuk putra ketiganya.
“Baik, Nyonya. Kami akan pergi. Dan jika ada sesuatu, mohon jangan sungkan untuk memanggil.”
“Ya, terima kasih.”
Tanpa Nyonya Hima dan beberapa orang di sana sebelumnya sadari, bahwa bayi merah itu memiliki sesuatu yang tak lazim. Terlihat bayangan yang tercipta dari balik tirai tersebut, dua buah tanduk di kepala yang sangat kecil serta taring dan cakar dari setiap jari-jemari milik bayi merah tersebut.
Tepat setelah kepergian mereka, selain Nyonya Hima bersama bayi yang masih memerah tersebut, Samurai Oni—Akio berada dekat dengan mereka.
“Oh, siapakah di sana? Bukankah aku sudah bilang untuk tinggalkan aku sendiri saja?” ujar Nyonya Hima, seraya bertanya siapa sosok tersebut.
Akio takkan menjawab apa pun selain mencoba untuk menarik bilah pedang Retsuji dari sarungnya.
“Anu ...siapa?”
Nyonya Hima tak bisa bergerak sesukanya setelah mempertaruhkan nyawa demi menimang-nimang bayi. Ia hanya bisa terbaring dengan lemas sembari memeluk bayi yang sejak tadi hanya menangis dengan perlahan.
“Putraku, diamlah sebentar. Jangan menangis seperti ini ya?” Nyonya Hima berusaha untuk menenangkannya.
Tapi apalah daya si Ibu itu, ia nampaknya sadar bahwa kehadiran Akio justru membuat bayinya menangis semakin keras.
DAK!
Seorang wanita membanting pintu ruangan, ia membukanya sembari berteriak, “Siapa kau?!”
Di saat bersamaan, embusan angin menyibak tirai yang menjadi pembatas di antara mereka berdua. Sekilas Nyonya Hima melihat topeng oni, yang kemudian saat tirai itu kembali tertutup, kehadiran Akio sudah tidak ada. Ia menghilang bagai diterbangkan oleh angin.
“Nyonya! Anda baik-baik saja?!” Wanita itu terlihat sangat panik.
“Ya, aku dan bayiku baik-baik saja. Jangan khawatir.”
“Tadi itu benar-benar lancang sekali. Dari mana penyusup itu masuk?! Ya ampun, apa saja yang dilakukan para samurai itu sih?”
“Tenanglah.”
“Nyonya bagaimana saya bisa tenang? Anda baru saja melahirkan dan baru saja kami tinggal sebentar, lalu ini yang terjadi?”
“Karena itulah aku memintaku untuk tenang sedikit.”
“Baik, Nyonya Hima.”
“Aku ingin meminta tolong padamu sesuatu. Bisakah?”
“Baik. Saya akan sangat senang bila menuruti perintah Anda, Nyonya Hima.”
“Baiklah.”
Hatekayama Hima telah melahirkan anak ketiganya, dan secara langsung ia berhadapan dengan Samurai Oni. Topeng oni adalah ciri khasnya dan itu membuatnya penasaran.
“Aku memintamu untuk mencarikan Samurai Oni, tolong sampaikan hal ini juga pada Tuan Samurai di luar, ya.”
“Baik.”
Entah dengan niat apa Hatekayama Hima berencana menemui Samurai Oni setelah berhadapan dengannya sebelum ini. Dan yang lebih anehnya lagi, tangisan bayi merah ini berhenti setelah Samurai Oni meninggalkan kastil.
***
“Kenapa Tuan Akio tidak menghabisinya? Itu tadi adalah kesempatan emas,” ujar Yuurei yang berada dalam tubuh Akio.
“Jangan mengoceh-ngoceh terus. Aku tidak bisa melakukannya di saat ada ibunya saat itu.”
Pekerjaan Akio jadi terhambat hanya karena bayi itu berada dekat dengan sang ibu. Jika Akio melakukan tindakan keji di depannya langsung, maka akan terjadi keributan besar.