
Luka tebasan yang hingga menembus ke punggung, luka yang cukup dalam dan lebar. Sayatan mematikan itu akan membunuh Akio dengan cepat.
Seiring berjalannya waktu, darah segar terus mengucur keluar hingga menggenangi bagian tubuh bawahnya. Pedang kayu telah dirusak dan terbagi menjadi dua dan topeng oni yang sebelumnya dikenakan pun sudah tergeletak dalam posisi terbalik di dekatnya.
Sorot mata yang mati lalu bekas luka robek di bagian wajahnya nyaris tak terlihat akibat rambutnya yang panjang itu.
“Akio!” Keiko histeris mendapati putranya terbaring mengenaskan.
Kakek Naruhaya menghentikan langkah Keiko sembari berkata, “Tunggu, Keiko! Aku yang akan mengurusnya. Kau kembalilah masuk ke dalam.”
“Tuan Akio!!” Sama seperti Ibunya, Akashi dan Kizu pun histeris ketika melihat tuan mereka terluka separah itu.
Keduanya menghampiri Akio seraya berupaya membuat Akio kembali sadar.
“Syukurlah ...dia bukan manusia.” Hanya kalimat ini yang lirih-lirih dapat mereka dengar dengan jelas dari gumamam Akio.
“Tuan Akio masih hidup. Ayo cepat!”
Banyak pertanyaan khususnya bagi para pengikut Yamamoto dan Ibu Akio, yakni Keiko. Mengenai kejadian aneh itu, tak seorang pun yang tahu kecuali Akio atau Mikio.
Di samping kejadian tersebut, sebuah festival akan berlangsung namun dengan urutan yang cukup panjang hingga memakan banyak waktu. Konon festival ini diadakan guna mengusir wabah penyakit maupun menenangkan arwah yang telah lama meninggal.
Namun, itu hanya berlaku ketika mereka dahulu belum mengetahui adanya yokai. Dan kemudian festival ini diadakan sebagai penghormatan bagi mereka yang telah gugur termasuk para penduduk yang meninggal akibat ulah para yokai.
“Bagaimana dengannya?” tanya kakek.
“Dia masih tidak sadarkan diri.”
“Ngomong-ngomong ada apa dengan ibu kota hari ini? Aku mendengar mereka cukup bising tak seperti biasa,” tanya Nekomata.
“Mereka sedang melakukan Kippu iri di awal musim panas sekarang. Itu bagian dari Gion Matsuri. Yah, kalau sudah sampai puncak kalian semua akan tahu,” jelas si kakek.
Malam tiba dengan cepat, langit pun sepenuhnya menggelap. Bintang sudah jarang terlihat begitu juga kabut yang biasa muncul. Saat itu, Akio akhirnya membuka kedua mata, perlahan telah sadarkan diri.
“Tuan Akio! Tuan Akio sudah sadar!!” seru Kizu memberitahukan pada semuanya.
“Tuan Akio, tidak apa-apa?” tanya Akashi dengan senyum girang di wajahnya, ia merasa senang dan lega karena Akio sudah sadarkan diri.
“Hei, Akio! Ada apa denganmu?”
Akio menutup wajahnya lantas membalikkan badan dari hadapan mereka semua. Ia merasa sangat silau dan juga tanpa topeng, Akio jadi sulit menatap mereka.
“Samurai Oni biasa mengenakan topeng oni bukan? Kalau begitu ini aku letakkan di sini,” ucap Nekomata sembari meletakkan topeng oni di dekat Akio.
Tanpa sungkan lagi, Akio memakainya.
Lalu bertanya menggunakan tulisan bayangan, "Sudah berapa lama aku tertidur?"
“Sejak pagi hingga malam, bahkan mungkin sudah terhitung 12 jam?”
“Termasuk lama. Tapi Tuan Akio apa benar sudah tidak apa-apa?” tanya Akashi dan Kizu secara bersamaan.
Akio menggelengkan kepala. Kembali ia menuliskan, "Aku bertemu Mikio. Hasilnya sesuai dugaanmu, kek."
“Ternyata begitu. Ini juga membuatku kepikiran setelah melihat keadaanmu yang mengenaskan. Lalu, kenapa kau bisa kalah?”
"Aku lengah."
Semuanya diam dalam beberapa waktu. Termasuk kakek tengu itu yang agaknya masih meragu akan jawaban Akio.
“Kau lengah karena dia adalah Mikio? Jangan lupakan apa yang kau lihat, Akio!” pekik kakek memperingatinya.
"Aku lengah karena tidak bisa melihatnya. Dia sangat mirip dengan Mikio. Dan tekniknya juga."
“Itu tidak mungkin!” sangkal si kakek seraya menepis tangan Akio.
“Kau pasti sedang bergurau, Akio! Dia sudah lama mati tapi kau berpikir bahwa Mikio itu benar-benar ada di hadapanmu, begitu? Sadarlah, Akio!” Ia berteriak pada Akio, berusaha agar Akio tidak luluh hanya karena melawan kakaknya.
“Tuan Akio pasti sudah berusaha, tapi mungkin karena dia terlalu kuat,” sahut Akashi.
“Itu benar saja. Tapi Tuan Akio bilang, dia lengah. Sejujurnya aku tidak percaya.”
“Hm, terkadang kekalahan pasti akan datang menghampiri,” ujar Nekomata.
Sebenarnya Akio hendak mengungkap bahwa Mikio itu memiliki kekuatan yang aneh. Bukan sebagai manusia lagi melainkan yokai. Ketika mencoba mengingatnya, ia merasakan perutnya berdenyut sakit.
“Ada apa Tuan Akio?” Serentak Kizu dan Akashi bertanya dengan panik.
“Apakah ada sesuatu?” Kakek kembali merenungkan sesuatu yang janggal terjadi, namun ia takkan menemukan jawaban tanpa bertanya langsung pada orang yang telah bertemu dengan Mikio.
"Dia menggunakan bayangan." Dan begitu teringat, Akio langsung mengungkapnya.
"Mikio bukan lagi manusia. Aku baru tahu hal itu." Sekali lagi ia mengungkapkannya.
“Mikio ...anak itu benar-benar sudah lama mati ya, hah ...” Kakek tengu menghela napas pendek seraya memijat keningnya sebentar.
Ia berpaling dari mereka sejenak guna menenangkan pikiran yang kusut di benaknya. Sesekali ia mendengus kesal karena merasa pertarungan melawan yokai takkan ada habisnya.
Nekomata angkat bicara, “Sebelumnya aku mengatakan sesuatu pada Samurai Oni. Tentang seseorang yang mengendalikan kami di negeri ini, jika mengincar kepala langsung maka memperoleh kedamaian negeri ini bukan lagi mimpi belaka.”
“Itu benar. Tapi itu berarti kami juga musnah?” pikir Kizu.
“Aku tidak keberatan jika aku harus mati untuk Tuan Akio. Apa pun akan aku lakukan termasuk membalas serangan dari si Mikio itu!” pekik Akashi kelewat bersemangat.
“Tidak boleh!” teriak si kakek.
Akio juga berpikir hal sama, ia menepuk pundak Akashi yang memberi isyarat bahwa membalas serangan ataupun dendam bukanlah cara yang bagus untuk bertindak.
“Intinya Yokai dengan bayangan hitam bukan? Ini mungkin akan sulit, tapi aku akan membantu sebisanya,” ujar Kizu.
***
Dua pekan telah berlalu semenjak kejadian yang menimpa Akio. Luka yang ia dapatkan cukup parah hingga sekarang pun masih terasa sakit. Pemulihannya cukup melambat entah karena apa namun Akio terlalu memaksakan diri untuk melakukan hal yang perlu ia lakukan.
“Tunggu, Akio!” Kakek berteriak, menyuruh Akio berhenti kala itu Akio berjalan sedikit sempoyongan sampai menuju depan pintu.
“Kau mau ke mana dengan luka sebesar itu? Meski di luar terlihat hanya sayatan saja, tapi kau tahu bahwa serangannya juga melukai organ dalammu bukan?”
Akio berdecak kesal, ocehan si kakek selalu saja membuatnya ragu untuk melangkah. Tetapi, Akio tidak bisa berdiam diri di sini.
“Festival sudah mencapai puncaknya, dan sampai saat ini Mikio belum kembali muncul. Jadi beristirahatlah dengan benar,” ucap kakek.
Akio duduk berjongkok di depan seraya menuliskan sesuatu di permukaan tanah. Kakek tengu itu agaknya enggan mendekat karena tahu Akio sedang memberitahukan sesuatu hal padanya.
"Mikio akan datang. Dia memanggilnya."
“Tunggu!” Sekali lagi kakek meninggikan suaranya, seraya ia menarik tubuh Akio hingga nyaris terjungkal ke belakang.
“Kau akan pergi tanpa pedang?” imbuhnya berupa sindiran.