Samurai Oni

Samurai Oni
SANG TERPILIH



Soal takdir, tak ada yang bisa mengalahkannya. Orang yang disebut peramal pun hanyalah perantara yang suatu saat akan menghilang dari dunia ini.


Begitu juga dengan Shinpi-tekina maupun yokai terkutuk. Namun sampai kapan era yang memerangi para yokai terus berlanjut? Hingga turun-temurun tanpa tahu harus bertahan sampai kapan seolah menatap nasib atau takdir yang selamanya akan sama.


Sama halnya dengan Akio. Peramal menyatakan bahwa anak lelaki yang akan lahir di klan Yamamoto kelak akan menjadi pahlawan sekaligus Shogun di negeri Shinpi-tekina. Namun itu hanyalah ujaran semata, jika ini terus melekat ke dalam pikiran pada orang yang telah diramalkan maka pasti ia akan terbebani.


Akio saat ini sedang meratapi, apa tujuannya sebenarnya hanyalah memenuhi isi ramalan tersebut ataukah hanya sekadar tak menginginkan keberadaan yokai itu?


Semua hal itu masih berada di ambang antara kenyataan dan ilusi.


“Aku akan membuat pedang ini semirip mungkin dengan Akio.”


Kakek tengu berniat menempa ulang pedang tersebut setelah tahu bahwa menyucikan ataupun mengusir roh jahat dari pedang bukanlah hal mudah. Terlebih roh jahat yang masuk adalah roh pendendam, tak hanya satu melainkan terhitung ratusan bahkan ribuan roh jahat masuk.


“Anda sangat kuat. Energi kehidupan Anda, spiritual ini bahkan tak membuat para roh jahat itu mengusiknya. Justru menghindar.”


“Aku terima pujianmu. Tapi bukan berarti orang yang sepertiku itu hanya tersisa sedikit. Kau mungkin tidak merasakannya karena mereka pandai memanipulasi kekuatan itu sendiri.”


“Wah, saya baru pertama kalinya mengetahui bahwa ada mereka yang pandai menyembunyikan kekuatan spiritual itu. Apakah sama seperti saat menghilangkan hawa keberadaan?”


“Ya. Bisa kau bilang begitu. Nah jangan sampai kau menancapkan taring itu padaku, pergilah, dan aku akan menyelesaikan ini sesegera mungkin sebelum malam tiba.”


Pedang yang dipenuhi oleh dendam dari para yokai, roh jahat beserta kekuatan yang akan mengutuk siapa pun begitu pedang itu disentuh. Namun lain cerita jika yang menegangnya memiliki kekuatan spiritual yang cukup besar.


Hal itu jarang terlihat karena biasa dimiliki oleh pendeta, biksu dan sejenisnya. Apalagi para samurai yang biasa memegang pedang mereka untuk menyerang musuh tak peduli manusia atau hewan buas sekalipun.


Memang sangat jarang kekuatan spiritual ada di dalam tubuh para samurai, namun bukan berarti tidak ada. Sebab mereka pun tentu mempelajarinya guna melenyapkan yokai terkutuk sebagaimana sudah terjadi sejak Shinpi-tekina ada.


Dan salah satunya ialah kakek Naruhaya, biasa disebut kakek tengu karena kebiasaannya memakai topeng tengu. Kini ia pun sedang menempa pedang penuh dendam tersebut hanya untuk menguji Akio nantinya.


***


Tiada apa pun, wilayah Kuran memang cocok bagi penyendiri. Tapi tak lain adalah penjara hidup bagi Akio yang sama sekali tak merasakan adanya kebebasan di sini.


Dirinya yang biasa berjalan-jalan untuk membasmi yokai yang terlewatkan oleh para samurai, kini dirinya hanya bisa duduk lalu terbaring di dekat danau hingga akhirnya tertidur pulas.


Siang ini semakin panas rasanya, lalu perlahan matahari akan segera tenggelam. Tak ada yang berubah di sini selain desiran angin dan ombak yang terdengar secara bergantian. Sementara danau terhenyak damai seolah terlelap.


“Tuan Akio.” Perlahan Akashi memanggil, dengan bertelanjang kaki dirinya berniat untuk menghampiri Akio.


Menyadari sesosok mendekat, Akio lantas mengubah posisinya dari yang terbaring, ia duduk. Sebelum menoleh, Akio kembali mengenakan topeng oni.


“Tuan Akio, apa aku menganggumu?” tanya Akashi dengan sedikit merasa takut.


Akio menggelengkan kepala. Ia lantas memutar tubuhnya, menghadap danau dan membelakangi Akashi.


“Apa aku boleh duduk bersamamu?” Akashi kembali bertanya.


“Ada urusan apa?”


Terkejut mendengar Akio berbicara, Akashi tiba-tiba menjadi gugup tak karuan.


“A-aku hanya ingin duduk saja. Lagi pula bersama mereka membuatku tak merasa nyaman,” ujar Akashi yang kemudian berlari kecil lantas duduk di sebelah Akio.


“Ngomong-ngomong Tuan Akio, apa yang Tuan lakukan di sini?”


“Aku hanya ingin berada di sini. Itu saja.”


“Oh, begitu ya.”


“Tadi kakek cebol itu memintaku menebang pohon di sini. Katanya ingin membuat rumah, tapi sampai sekarang masih belum siap juga.”


“Kau tidak membantu?”


“Aku membantunya menebang pohon dan juga mengikat-ikat begitu. Tapi karena terlalu kelelahan, akhirnya mereka berhenti sejenak untuk makan.”


“Lalu kau tidak makan?”


“Tidak.“ Akashi menggelengkan kepala. “Tidak akan makan sebelum Tuan Akio.”


“Aku tidak akan makan selama satu pekan. Kau makanlah.”


Dengan meninggikan suara, Akashi berkata, “Tidak akan!”


“Terserah kau saja.”


“Oh ya! Aku teringat sesuatu. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada Tuan Akio!” seru Akashi yang mendadak sangat bersemangat. Ia kemudian berlari kencang keluar dari hutan menuju ke suatu tempat.


Sampai akhirnya malam tiba, Akashi tak kunjung tiba. Malam akan semakin larut dan Akio tak mungkin selalu berada di sini, ia lekas beranjak dari sana.


“Tunggu.” Namun suara seseorang yang bergeming dari arah belakang, menghentikan langkah Akio.


Suara yang terkesan sedang berbisik lirih namun suara itu terdengar sangat kencang.


“Siapa?” Bertanya, lantas Akio membalikkan badan.


Hanya ada batu besar di seberang danau air tawar yang hening. Jubah dan pedang yang tak sekalipun bergerak dari sana. Begitu pula desiran angin di sekitar.


Merasa aneh, namun Akio berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Sebab tak ada gunanya memikirkan angan-angan yang tak mungkin.


“Hm, aku mulai melantur tidak jelas semenjak berada di danau ini.”


Kembali ia melangkahkan kaki tuk segera pergi meninggalkan danau dalam hutan. Setelah beberapa langkah dan sampai saat itu belum terlalu jauh dari danau, ada sesuatu yang datang dari arah luar hutan menuju ke arahnya.


“Apa itu?”


Desiran angin di sekitar semakin ia rasakan secara tak wajar. Seolah langit bergemuruh, Akio pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang ada di depan sana?


DAKK!


Sesuatu asing itu seolah bergerak sendiri dari awal, melesat begitu cepat hingga menghantam bagian wajah Akio. Dan itu membuat tubuh Akio tak seimbang, ia jatuh terjungkal ke belakang.


“Astaga!”


Yang kemudian tercebur ke dalam danau air tawar di sana.


Di saat yang sama, Akashi sedang ditahan oleh si kakek sejak tadi dengan cara mendudukinya serta mengancam.


“Anda yakin ini akan baik-baik saja?” tanya Yasha mengenai sesuatu yang sudah lama ia khawatirkan.


“Yasha benar. Kalau terjadi sesuatu pada Tuan Akio, bagaimana?” Kizu ikut menderita akan hal yang nanti terjadi pada Akio.


“Tuan Akio ...aku percaya padanya!” Sebaliknya Nekomata bersemangat.


Kizu, Nekomata serta Yasha berdiri diam dengan pemikiran masing-masing. Mengkhawatirkan Akio namun juga percaya bahwa tuan mereka akan melewatinya dengan mudah.


Kakek tengu pun hanya bisa diam dengan bertaruh. “Kita lihat apa dia mampu melakukannya atau tidak, karena pedanglah yang memilih bukan sebaliknya.”