
Wanita tak dikenal namanya, pun Akio tak pernah menanyakannya.
Ia mendekati Akio begitu masuk ke dalam bahkan sampai sekarang masih melekat padanya. Ia yang sampai lebih dulu jadi memiliki lebih dari kesempatan untuk melayani Akio.
“Luka ini ...,”
Ada hal yang membuat wanita itu penasaran. Ketika wanita itu mengucapkan sesuatu seraya menyentuh sudut bibir Akio, sontak beberapa wanita yang berada di sekitarnya spontan memperhatikan Akio.
Bekas luka itu terlihat seperti luka robek, terlihat sangat menyeramkan setidaknya jika dilihat oleh wanita. Tapi wanita ini berbeda, ia melihatnya seolah ia pernah melihat luka itu.
“Tuan, bolehkah saya yang rendah ini mengetahui nama tuan?” tanya wanita itu.
“Hei jangan curang dan main sendirian. Aku juga ingin bertanya namanya,” bisik temannya secara lirih.
“Dengarkan saja. Apakah dia akan menjawab atau tidak.”
Akio sama sekali tidak menjawab seperti biasa. Ia sedikit menundukkan kepala seraya menggenggam tangan wanita itu lalu kemudian menyingkirkannya.
Kizu di sana pun panik. 'Jangan ketahuan, jangan ketahuan, jangan ketahuan.' Kizu selalu mengatakan hal itu di benaknya.
“Tuan tidak mau menjawabnya apakah karena memang tidak ingin mengatakannya?”
“Aku justru iri karena dia memegang tanganmu,” bisik wanita yang merupakan temannya itu.
“Ya.”
Dalam beberapa saat mereka memperhatikan, Akio menyunggingkan senyum tipis dan membuat semua wanita itu terkejut hingga terdiam dengan mata terbelalak. Mereka seolah tersihir.
Tuk, tuk!
Akio kemudian mengetuk kuku jarinya, lalu mengubah bentuk tangan yang seakan ia tengah memegang pena atau semacamnya.
“Tuan ingin mengatakan sesuatu dengan menulis di selembar kertas? Baiklah, saya akan menyiapkannya dengan segera.”
Salah satu dari mereka bergegas mengambilnya, usai itu Akio menuliskan beberapa kalimat di selembar kertas itu.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan. Ini luka karena seseorang, tidak perlu dipikir panjang lagi."
Bahkan tulisan tangannya membuat wanita itu masih terpaku diam. Tulisan tangan itu sangat indah sampai tidak bisa berkomentar apa-apa. Mereka hanya diam memandang tulisan dan sesekali menatap Akio yang sepenuhnya tak terlihat karena bagian matanya tertutup oleh poni panjang.
“Tuan—!”
Setelahnya, Akio tiba-tiba saja berdiri. Sama seperti Akio, Kizu merasakan hawa kehadiran yokai sesaat. Beberapa samurai masih belum menyadarinya.
Sehingga membuat Akio bertindak sendiri.
“Tuan,” gumam Kizu yang ikut berdiri dari tempat duduknya.
Akio melompati pagar pembatas dari lantai dua, turun ke bawah sekali jalan dan segera ia mengejar dengan tanpa alas kaki. Akio mengeluarkan pedang kayunya, dan bersiap mengincar satu titik yang bergerak tak wajar di antara kerumunan banyak orang.
“Ada apa ini?!”
“Hei! Apa yang kau lakukan!?”
“Yokai! Ada yokai!”
Mereka semua berteriak histeris sehingga membuat satu titik hitam itu bergerak lebih cepat dari biasanya. Membuat Akio kesulitan untuk menargetkannya.
Berulang kali ia menggunakan ujung pedang guna menusuknya namun upaya Akio berujung sia-sia akibat kerumunan itu telah menyadari adanya yokai bersembunyi di antara mereka.
Pergerakannya secepat ular melata, tak ada bekas jejak maupun suara yang ditimbulkannya membuat Akio kesulitan baik melihat, mendengar maupun merasakan kehadirannya.
Satu persatu samurai di sekitar mengetahui keberadaan yokai tersebut. Nampak mereka telah berada di belakang Akio. Begitu juga dengan samurai yang ada di Rumah Bunga, mereka semua langsung bergegas keluar untuk segera menghabisi yokai itu.
Salah satu dari mereka mengungkapkan sesuatu yang agaknya membuat Akio tertarik. Sudah lama mereka (yokai) tidak muncul, entah ini pertanda atau semacamnya namun yang pasti situasi saat ini masih terbilang buruk.
“Uchigoro Nara telah datang!” pekik seseorang.
Orang yang baru saja disebut itu kemudian muncul, ia menyusul dan saat ini tengah berlari tepat di sebelah Akio yang tengah mengejar yokai itu.
“Aku Uchigoro Nara, akan membantumu!”
Orang yang sekilas terlihat sombong, ia mempercepat langkah larinya dan meninggalkan semua samurai yang sampai saat ini masih berada di belakang mereka.
Setitik hitam diyakini adalah yokai yang sama dengan yokai yang meninggalkan luka terdalam bagi banyak orang di Gion Matsuri. Jenis itu jarang sekali menunjukkan dirinya dan sekalinya muncul akan membuat kekacauan besar.
Sebelum menjadi besar, akan lebih baik secepatnya dibunuh. Itulah yang dipikirkan Uchigoro Nara.
Namun, setiap langkah yang dibuat olehnya tak pernah memperpendek jarak di antara yokai itu. Sejenak Akio berhenti, ia kemudian mendongakkan kepala tuk menatap langit.
“Hei, kamu yang di sana! Kenapa tidak segera mengejar yokai itu?” Samurai yang akhirnya menyusul menepuk pundak Akio. Ia lantas pergi tanpa menunggu jawaban darinya.
Cuaca hari ini terasa panas. Dan Akio merasa ada yang janggal.
Sementara Uchigoro Nara,
“Aku mendapatkanmu, Yokai hitam!” pekiknya seraya melompat ke sebuah kotak kayu yang cukup besar, ia menggunakannya untuk berpijak serta membuat lompatan keduanya semakin melebar.
Ia mengayunkan pedang dari atas kepala lalu menghunuskannya ke setitik hitam itu. Hingga ujung pada bilah pedang miliknya menembus jalanan. Beberapa orang yang menyaksikannya lantas berdecak kagum.
“Sungguh hebat, klan Uchigoro!”
“Hebat? Aku pikir ini hanya sedikit dari bagiannya. Ngomong-ngomong ke mana pria yang tadi aku lihat? Seharusnya dia sudah sampai ke sini,” gumam Nara.
Akio tidak menyusul sebab dirinya menyadari bahwa setitik hitam itu adalah pengalihan. Tak disangka bahwa yokai yang ia temui memang selicik dari yang diduga. Pintar mengelabuhi, dan sekarang sebagian besar dari tubuhnya masih berada di dekat sana.
Berbentuk gumpalan hitam yang lekat pada salah satu bayangan seseorang. Sedikit demi sedikit hawa keberadaannya semakin membesar.
Begitu sadar bahwa keberadaannya semakin mendekat, ia segera pergi dan setelah beberapa saat dirinya bertemu kembali dengan Uchigoro Nara.
“Kamu!”
“Jangan bergerak dari sana,” ucap Akio sedikit tegas.
Reflek pria itu berhenti, dan membiarkan Akio mengayunkan pedang kayunya, terlihat seolah-olah Akio hendak membunuh Nara namun nyatanya ia mengincar bayangan miliknya.
“Tuan Nara!”
Bayangan milik Uchigoro Nara sendiri yang ternyata adalah sebagian besar dari yokai bersembunyi. Namun Akio tak tampak merasa senang.
Segera ia menyimpan kembali pedang kayu ke dalam pakaiannya, dan kemudian berbalik untuk segera pergi namun Uchigoro Nara menahannya.
“Hei! Ternyata kamu boleh juga!” Nara merangkul pundak Akio dengan sok akrab.
Akio terhenyak lantas diam membisu seutuhnya.
Sementara Kizu berdiri dengan tubuh gemetaran tak karuan. Ia berada dekat di sana namun tentunya tak berani menemui Akio dalam wujudnya sekarang.
Di samping itu, geisha yang sempat menyita perhatian Akio termenung diam dalam lamunannya sendiri.
“Apa yang terjadi padamu? Semua pria di sini semua sudah pergi, mungkin kita harus segera pulang?” Rekannya datang untuk menghibur.
Namun yang dipikirkannya sekarang hanyalah Akio.