
Ryan dan Nurmala mengundang kerabat, teman, sahabat dan para tetangga untuk menghadiri baby shower dan empat bulanan bayi mereka.
Edelweis dan Rajasa sendiri sempat bersitegang sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi bersama ke acara tersebut.
“Kau dan Ryan sudah tidak mungkin bersama. Lebih baik kita perbaiki pernikahan kita. Kau mengandung anak lelakiku. Kebahagiaanku semakin lengkap dengan adanya dirimu, Malika dan bayi lelaki yang kau kandung.”
“Aku tidak bisa mempercayaimu. Bagaimana jika kau mengulanginya lagi?”
“Bagaimana aku bisa memperbaiki kesalahanku jika kau tidak mau mempercayai dan mendukungku?”
“Sekali kau memaafkan pasangan yang menyelingkuhimu. Sama saja kau memberikan kesempatan pada mereka untuk mengulanginya lagi.”
“Mungkin kau harus berbicara dengan Roy. Bagaimana perjalanan cintanya dan Angela yang berliku bisa menyatukan mereka.”
“Kau seperti Angela?”
“Bukan begitu maksudku. Seringkali happy ending tidak selalu melalui jalan yang mulus. Tidak selalu kisah cinta seperti cerita dongeng. Yang paling penting kita masih mau saling menerima satu sama lain serta memperbaiki rumah tangga juga pernikahan kita.”
“Entahlah!” Ujar Edelweis bimbang.
“Kita akan memperbaiki pernikahan serta rumah tangga kita.” Rajasa meraih tangan Edelweis serta menggenggamnya. Membawanya ke bibirnya bermaksud ingin menciumnya dengan segenap jiwa raganya.
Edelweis menarik tangannya dan melepaskan genggamannya dengan kasar.
“Jangan sentuh tanganku!”
“Kau jangan seperti itu. Hubungan kita akan memburuk kalau kau tidak mau berusaha memperbaiki rumah tangga kita bersamaku.”
“Kau bermaksud ingin mencari wanita lain lagi?” Edelweis mendengus kesal. Wajahnya terlihat sangat gusar.
“Kebutuhanku akan terlantar kalau kau terus seperti itu.”
Jawaban mana membuat kemarahan Edelweis menembus ubun-ubun.
“Kau benar-benar keterlaluan!”
“Aku harus bagaimana? Mengapa sangat sulit berbicara denganmu. Meminta pengertianmu. Aku ingin kita seperti dulu. Sebelum prahara menyapa rumah tangga kita berdua. Kumohon!”
“Apa kau tahu rasanya dikhianati?”
“Aku tahu. Aku sudah sangat menyakitimu. Tetapi aku tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah yang sudah berlalu. Tapi kita bisa memperbaiki yang belum terjadi. Kita bisa memperbaiki hubungan kita di masa depan.”
Rajasa berusaha mengambil hati Edelweis. Membujuk istrinya agar mau mencairkan sikapnya. Bersikap hangat dan mesra seperti saat rumah tangga mereka belum dilanda prahara.
Hari ini dia sengaja tidak lembur. Pulang lebih cepat. Bersikap manis dan lembut pada Malika dan Edelweis.
Mengajak Malika bermain sampai sebelum waktunya tidur.
Rajasa memasrahkan wajahnya dirias oleh Malika.
Malika mengambil lipstick ibunya. Mengeluarkan stiknya . Mengoleskannya dengan percaya diri ke bibir ayahnya.
Tangan mungilnya menggaris satu garis panjang dari sudut bibir yang satu ke sudut bibir satunya lagi.
Kemudian kembali menarik garis bibir di atas garis yang sudah dibuatnya.
Edelweis nyaris tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Rajasa yang sedang dirias dengan sangat serius oleh Malika.
Malika membuka kotak eye shadow ibunya. Menyapukan kuas dengan sekuatnya ke wadah tempat eye shadow yang ada.
Memilih warna coklat tua. Yang disapukan ke kelopak mata ayahnya. Eye shadow tersebut juga disapukan di bawah kantung mata sang ayah.
“Kau membuat ayahmu seperti kuntilanak.” Edelweis gagal menahan tawanya.
“Benarkah?” Tanya Rajasa. Berusaha mencari kaca.
Edelweis menyodorkan kaca yang berbentuk seperti kipas dan memiliki gagang.
“Coba saja kau lihat sendiri!” Tukas Edelweis sambil tertawa.
Rajasa mematut dirinya di kaca yang disodorkan Edelweis.
“Hmm, mulutku seperti drakula dan mataku seperti kuntilanak.”
“Peranakan dong!” Ujar Edelweis tergelak memegangi perutnya.
“Pa, belum selesai. Kau harus tenang jika ingin hasil riasanmu bagus. “Ujar Malika berbicara seperti orang dewasa.
“Aku memberikan warna yang sangat spektakuler dan serasi.” Ujar Malika menambahkan blush on ke pipi, hidung dan jidat Rajasa.
Wajah Rajasa seperti sebuah kertas yang dicoret-coret dengan crayon di sana sini.
“Sekarang kau tampak seperti layangan.” Ujar Edelweis kembali tertawa.
“Yeah, aku sudah siap diterbangkan di pinggir pantai.” Ujar Rajasa sambil tertawa.
“Aku tidak bisa meriasmu dengan sempurna. Jika kau terus saja bergerak.” Kali ini Malika mengambil pensil alis ibunya.
“Apakah itu arang kompor?” Tawa Edelweis meledak hebat.
Rajasa tampak pasrah dengan sepak terjang Malika yang sangat antusias merias wajah ayahnya.
“Kau sedang mentatoo wajah ayahmu atau meriasnya sih?” Tanya ibunya menggoda putrinya.
Rajasa tertawa.
“Wajahku acak adut ya?”
“Seperti kanvas lukisan abstrak.”
“Wow!” Serunya, “Seandainya, aku melamarmu dalam keadaan seperti ini kau mau gak?”
“Aku menolakmu bukan karena wajah abstrakmu tapi kelakuan abstrakmu!”
“Kau mulai lagi! Kenapa kau masih saja sakit hati? Aku sedang memperbaiki diri.”
“Memperbaiki diri apa? Kau mengulanginya lagi.”
“Aku bukan malaikat. Apa yang terjadi adalah kesalahan kita berdua. Kita yang membuatnya Dan kita juga yang memperbaikinya.”
“Salahku dimana?”
“Kau terlalu sibuk dengan Malika sehingga mengabaikanku. Aku juga memiliki kebutuhan bukan hanya Malika. Kau jangan egois.”
“Entahlah! Aku ingin mempercayaimu kembali tapi aku phobia terhadapmu. Bagaimana jika kau mengulanginya lagi?”
“Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Bagaimana?”
“Lihat saja nanti. Aku lelah beretorika. Jika kau sungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan pasti semuanya akan kembali baik-baik saja. Tapi kalau isinya angin doang…”
“Kentut dong!”
Edelweis tergelak.
“Maksudku kalau seperti snack yang isinya angin doang. Sama juga boong. Kentut mah bau dong!”
“Baiklah. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Tapi kau juga harus membantuku? Bagaimana?”
Edelweis hanya diam tidak menanggapi. Memilih berlalu memasuki kamar tidurnya. Meninggalkan Rajasa bermain dengan Malika.
“Dasar keras kepala!” Gerutu Rajasa.
Keesokan paginya, Rajasa sudah melawan rasa kantuknya menuju dapur. Berencana membuat sarapan pagi di tempat tidur untuk Edelweis.
Jam masih menunjukkan pukul jam lima pagi. Mencuci mukanya serta menyikat giginya, sholat subuh kemudian menuju dapur.
Rajasa berkeras menyiapkan sendiri tanpa dibantu pengurus rumah. Dia sudah menyimak you tube cara membuat nasi goreng sepertinya tidak sulit.
Mengeluarkan sisa nasi kemarin dari kulkas. Mengukusnya sebentar agar lebih lembut dan tidak keras.
Menyiapkan bawang bombay, merah dan semua dirajang halus. Mengiris sosis dan bakso sebagai pelengkap.
Menyiapkan sebungkus bumbu nasi goreng rasa ayam sebagai andalannya. Menyempurnakan bumbu yang sudah disiapkannya.
Bumbu ditumis kemudian dimasukkan nasi, sosis dan bakso. Bumbu nasi goreng ditaburkan merata dan ditambah kecap.
Nasi diaduk sampai merata. Kemudian dimasukkan irisan daun bawang. Nasi dicetak kemudian ditambah bawang goreng dan irisan tomat serta timun. Menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.
Menaruh piring berisi nasi goreng beserta jus jeruk ke atas meja lipat yang bisa digunakan untuk sarapan di tempat tidur.
Rajasa membuka pintu kamar tidurnya. Membawa masuk sarapan pagi yang ditaruh di atas meja lipat.
Edelweis baru selesai menunaikan sholat subuhnya.
“Apa itu?” Tanyanya sambil melipat mukena.
“Sarapan pagimu.” Sahut Rajasa meletakkan meja lipat berisi sarapan pagi di atas tempat tidur.
Menggandeng istrinya mesra serta mengecup keningnya.
“Kau sarapan dulu ya?”
... ...