
Edelweis berada di masa transisi. Hubungannya dengan Ryan merenggang karena Ryan sedang berkonsentrasi mengurus Nurmala.
Hubungannya dengan Rajasa juga berjarak. Rajasa lebih suka menghabiskan waktunya di Australia. Bahkan setiap akhir pekan.
Pekerjaannya seminggu sampai dengan dua minggu sekali ke Australia selama satu sampai dua minggu penuh. Ditambah setiap pekan.
Edelweis banyak menghabiskan waktu dengan Malika dan Wina. Berkonsentrasi penuh pada kehamilannya.
Tidak ingin memikirkan apa pun. Selain dirinya, Malika dan bayi yang dikandungnya.
Berpikir untuk kembali bekerja. Tetapi tidak ingin berada di kantor yang sama dengan Rajasa dan Nurmala. Dua orang yang sangat dibencinya.
Terpikir olehnya untuk hidup hanya bersama Malika dan bayi yang dikandungnya. Tetapi itu sama saja memberikan reward pada Nurmala. Dia juga tidak ingin menyinggung perasaan Ryan. Yang sudah sangat baik padanya.
Rajasa sudah berangkat ke Australia sejak jum’at malam. Langsung dari kantornya. Walaupun mereka serumah. Mereka sudah jarang bertemu dan bertegur sapa.
Sarapan pagi. Mereka tidak banyak berbicara. Saat Rajasa pulang bekerja. Menghabiskan waktu seorang diri.
Memakan makanannya. Membersihkan dirinya dan tidur. Sesekali bermain dengan Malika.
Interaksi mereka berdua hanya sebatas Malika. Hubungan mereka menjadi dingin dan hambar.
Selama di Australia, Rajasa banyak menghabiskan waktu sendiri. Kinanti sibuk dengan pekerjaan dan kuliahnya.
Aku enggan menikah lagi. Bagaimana kalau tidak berhasil lagi? Tapi aku juga tidak ingin berada dalam kubangan dosa. Kalau memang sudah tidak mungkin aku dan Edelweis bersatu. Untuk apa memaksakan?
Setelah bercerai. Berpikir untuk pindah ke Australia. Bekerja dan membangun keluarga disini bersama Kinanti.
Aku tidak perlu melihatnya berbahagia bersama Ryan. Mereka berdua sudah menunggu saat ini tiba. Aku tidak bisa mempercayai mereka berdua. Keduanya sama saja. Playing victim. Padahal mereka sudah merencanakannya sejak lama.
Dia berencana membeli sebidang tanah dan rumah. Mengajukan diri menjadi permanen residence. Mencari perusahaan yang mau menerimanya bekerja. Atau mengajukan diri bekerja di kantor cabang perusahaannya yang berada di Australia.
Jika bisa dijajaki alternatif terakhir. Malas dia mencari perusahaan lain. Bekerja masalah enviromental dan circle. Dan dia sudah sangat menyatu dengan perusahaan di tempatnya bekerja.
“Haruskah kita menikah?” Tanya Kinanti.
“Mengapa kau tidak ingin menikah? Apa kau tidak takut dosa?”
“I just want to be practical. I have my own life. I didn’t want anything come across.”
“To be truth. I didn’t want get married again. I already failed. But I didn’t want to stay in sin. I am not sacred. But I want to do it right.”
Kinanti terdiam.
“How if everything didn’t work it out?” Tanya Kinanti.
“At least we have try.”
“I don’t like commitment. It will tie me up.”
“ I didn’t want to continue our relationship if we don’t do it right.”
“I want to be free.”
“What do you mean?”
“To be honest. I never have any intention to end up as a housewife. I also don’t have any intention having kids. Just let everything the way they are.”
Rajasa terdiam mendengar perkataan Kinanti. Kecantikan dan kecerdasannya membuatnya ingin melepaskan diri dari norma agama.
“You are moslem. What we do is adultary. Its a sin.”
“Yeah. I know. But I can not choose something that never will be my choice. God is mercy full. He will forgive the sinners.”
“How can you be so sure about that?”
“We never know what is our position in God side.”
“You feel sacred with all of your sin’s?”
“I don’t say that. But I am adult. I have a freewill to choose. And this is Australian not Indonesian. Difference consequences.”
Rajasa tidak ingin berdebat dengan Kinanti. Tidak ada gunanya juga. Karena Kinanti akan berkeras dengan pendiriannya.
Kuliahnya di Seni membuatnya menjadi seseorang berjiwa sangat bebas. Pekerjaan dan kuliahnya sangat menyita perhatiannya.
Bekerja di galery seni sambil kuliah membuatnya sangat sibuk. Seringkali weekend pun jika bertepatan dengan event galery seni tempatnya bekerja. Dia harus lembur dan bekerja.
“Kau tidak perlu bekerja. Jika menikah denganku. Aku akan bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu. Bagaimana?”
“Kemudian berakhir seperti istrimu?” Kinanti tertawa lebar.
“Istriku yang meminta cerai. Bukan aku yang ingin menceraikannya. Aku berusaha mencegahnya. Tetapi dia melawanku sekuat tenaga. Aku tidak memiliki pilihan lain. Selain menceraikannya. Dia akan menikahi sahabatku. Can you imagine that?”
“Seperti yang kukatakan. Aku tidak ingin berakhir menjadi ibu rumah tangga. Apalagi memiliki anak. Kehidupanku sempurna. I am very enjoy my life. I didn’t let anything to ruin it. Our relationship is perfect. We can meet each other’s needs. So what?”
***
Edelweis menyibukkan diri dengan Malika dan bayi di dalam kandungannya.
Saat weekend, dia kerap meminta tolong Basil dan Amarilis menemaninya. Malika sangat senang menghabiskan waktu bersama ibu, nenek, om juga tantenya.
Jika ibu Edelweis tidak merasa lelah dengan usaha kateringnya. Turut menemani mereka semua.
Mereka berkendara untuk melihat-lihat pilihan sekolah pra tk untuk Malika.
Ada beberapa sekolah yang menarik perhatian Malika. Hanya saja belum bisa memutuskan. Edelweis juga berencana memberikan masukan sebanyak-banyaknya pada Malika.
Basil, Amarilis dan ibunya datang ke rumah Edelweis menaiki mobil Honda City silver milik ibunya.
“Kita tidak akan muat jika menaiki mobil ibu atau aku atau Rajasa. “ Ujar Edelweis.
Dia dan Rajasa memiliki tiga buah mobil. Audi A6 Amthys Grey Metallic miliknya, Audi A7 Grey Metallic milik Rajasa dan Honda Odyssey Beige Metallic.
Basil mengendarai Honda Odyssey. Ibunya duduk di sebelah Basil. Edelweis dan Amarilis di tengah. Malika bersama Wina di belakang.
Kendaraan melaju dengan tenang. Suasana hening meliputi mereka. Malika menghabiskan sarapan paginya di dalam mobil. Disuapi Wina. Sambil bermain boneka kesayangannya. Lizzy.
Ibunya membuka suara. Di tengah keheningan.
“Kau jadi bercerai dengan nak Rajasa, nduk?”
“Iya bu.”
“Sudah kau pikirkan semuanya?”
“Iya bu. Aku tidak bisa menerima pengkhianatannya.”
“Namanya lelaki, Nduk. Tergoda itu jamak. Apalagi suamimu memiliki kekayaan yang melimpah. Harta, tahta dan wanita. Itu biasa. Terpenting dia masih mempertahankan rumah tangganya denganmu. Apalagi pengkhianatannya sudah berlalu. Pikirkan Malika. Rumah tangga kalian berdua.”
“Kalau dia mencintaiku. Dia tidak akan mengkhianatiku.”
“Dia meninggalkan selingkuhannya. Dan berusaha mempertahankan rumah tangga kalian. Tetap bertanggung jawab terhadap kau dan anak-anakmu. Apa namanya kalau bukan cinta. Pengkhianatannya itu karena nafsu. Jangan mengikuti emosi.”
“Aku tidak bisa bu. Maafkan aku.”
“Kau sangat keras kepala. Menjadi janda tidak mudah.”
“Aku tahu tapi aku bisa menjaga diriku. Ibu tidak usah khawatir.”
“Amarilis bilang kau akan menikah dengan Ryan?”
Edelweis memandang adiknya dengan kesal. Amarilis menggerakkan bibirnya membentuk kata sorry.
“Iya bu.”
“Menjadi janda dan pelakor!” Seru ibunya tajam menusuk hatinya.
“Bu!”
“Apa salah aku berkata begitu?”
“Nggih. Ndak bu.”
“Ibu sudah tua. Jangan bebani ibu dengan hal-hal yang tidak mampu ibu tanggung, nduk! Ibu selalu mengajarkanmu agama, etika, sopan santun dan moral.”
“Ryan mencintaiku, bu. Dia tidak akan menyakitiku. Aku akan berbahagia bersamanya.”
“Tetapi dia sudah menikah. Apa kata orang? Dia akan dicap pebinor dan kau pelakor.”
“Klop kan?” Sahut Basil tergelak.
“Tidak lucu!” Sahut Edelweis.
“Nduk! Perhatikan nasihatku. Pikirkan semuanya sekali lagi. Aku tidak mau kau menjadi janda apalagi pelakor!”
“Istri Ryan pernah dinikahi Rajasa secara siri. Aku hanya ingin mengajarkan padanya apa itu rasa sakit.”
“Tetap saja. Orang melihatmu sebagai pelakor. Apalagi mereka sudah bercerai. Semuanya sudah berlalu. Jangan bodoh!”
... ...