Rajasa

Rajasa
Bad News



Rajasa berhasil menjauhi dan menghentikan hubungannya dengan Nurmala. Rasa sesal menyesaki dadanya. 


Menyadari betapa bodohnya dirinya. Tidak bisa menjaga kesetiaannya pada istrinya.


Mengapa aku tidak berpikir seperti Ryan? Membantu istriku mengatasi masalahnya? Aku malah memilih meninggalkannya sendiri. Bermain api dengan sekretarisku. Betapa kekanak-kanakkannya aku.


Rajasa membelai rambut Edelweis yang terlelap tidur. Seharian mengurus Malika dibantu Wina. Memasak untuk Malika dan Rajasa. Melayani suaminya. Membuatnya tidak dapat menahan kantuknya.


Rajasa mengambil tangan istrinya dan menciumnya dengan mesra. Maafkan aku.


Memeluk istrinya yang tengah lelap tertidur seusai mereka bercinta. Tubuhnya juga sangat lelah. Seharian bekerja. Menyempatkan waktu bermain sebentar dengan Malika. Bercinta dengan istrinya. Melepaskan semua stress akibat tekanan pekerjaannya.


Kehidupan rumah tangga mereka kembali seperti semula. Edelweis sudah bisa melayani dirinya seperti sebelumnya. 


Sebelum tidur dan sebelum dia berangkat bekerja. Dia semakin  melupakan Nurmala. Keinginannya untuk bercinta dengan Nurmala semakin menghilang begitu kehidupan rumah tangganya berlangsung normal dan bergairah kembali.


Apalagi dia memang tidak pernah mencintai Nurmala. Hanya sebagai pelampiasan nafsu. 


Komunikasinya dengan Edelweis juga semakin intens. Apalagi dia semakin memahami Malika. Sehingga dia tidak lagi merasa terasing. Ryan mengajarkan banyak hal padanya. Menurunkan ego demi kebahagiaan anak dan istrinya juga dia sendiri. 


Rajasa sedang menekuni pekerjaannya ketika Nurmala ingin berbicara dengannya.


"Ada apa?" Tanya tanpa mengangkat wajahnya.


"Ada yang ingin saya bicarakan pada bapak."


"Apa itu?"


"Tidak bisa disini."


"Apakah penting?"


"Sangat penting."


"Baiklah, nanti kita makan siang di luar. Bagaimana?"


"Baik pak. Terima kasih."


Rajasa menganggukkan kepalanya. Kembali meneruskan pekerjaannya.


Mereka bertemu di tempat makan siang yang sudah disepakati. Rajasa baru menyadari wajah Nurmala terlihat pucat. 


Dia juga tidak nafsu makan. Makanan yang dipesan tidak menggugah seleranya.


"Kau kenapa?"


"Aku tidak apa-apa."


"Wajahmu pucat dan tidak nafsu makan. Apakah kau merencanakan sesuatu?"


Nurmala menggelengkan kepalanya.


"Mengapa kau ingin bertemu denganku? Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku dan istriku sudah kembali seperti semula. Tidak seharusnya aku berlaku egois dan membiarkan dia kerepotan mengurus Malika."


"Aku tidak bermaksud mengganggu rumah tanggamu."


"Lalu?" Rajasa meneliti dengan pandangan menyelidik.


"Ada yang ingin kusampaikan padamu."


"Apa itu?"


"Saat kita terakhir bertemu. Kau memintaku datang mendadak menemuimu."


"Lalu?"


"Aku tidak membawa pilku karena kupikir kau hanya ingin berbicara. Ada yang ingin kau sampaikan. Bukan ingin bercinta denganku."


"Apa maksudmu tidak membawa pilmu?"


"Aku tidak menyangka kau akan meminta melayanimu kembali. Rumah tanggamu sudah kembali dan kau juga sudah menjauh dariku."


"Apa yang ingin kau katakan?" Jantung Rajasa mendadak nyaris berhenti.


"Aku mengandung anakmu."


"Apa?"


"Aku tidak bermaksud menyusahkanmu."


"Kau sudah tahu jika kau hamil. Maka aku tidak bisa mengakui bahwa itu bayiku."


Nurmala menangis. 


"Lebih baik kau gugurkan saja. Atau adopsi setelah dilahirkan?"


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak bermaksud kejam. Tapi aku tidak bisa mengakuinya sebagai anakku."


"Aku akan diusir dari tempat tinggalku. Akan dianggap hamil tanpa suami. Digunjing orang."


"Aku tidak dapat melakukannya."


"Aku tidak dapat membantumu."


"Aku tidak percaya kau akan berlaku seperti ini. Kupikir kau berbeda dengan mantan suamiku. Kau lebih kejam ingin melenyapkan anakmu sendiri. Mantan suamiku mungkin brengsek, berselingkuh dan tidak bertanggung jawab. Tapi dia tidak membuang anaknya."


"Kau ingin aku menghancurkan keluarga, karir dan juga hidupku karena anak itu?"


"Anak ini tidak bersalah. Dia karma dari perbuatan buruk kita berdua. Karena sudah mengkhianati istrimu. Bukti bahwa kau dan aku saling memanfaatkan untuk kepentingan masing-masing sekarang dia yang harus menanggung segalanya? Jika hidup kita hancur. Wajar karena kita sendiri yang menyebabkannya."


"Kau bicara apa? Jangan melantur!"


"Aku tidak ingin menggugurkan anak ini dan tidak seharusnya aku menanggungnya sendiri."


"Biarkan aku memikirkan jalan keluarnya."


"Adopsi atau mengugurkan bukan jalan keluarnya."


"Baiklah, aku akan memikirkan sesuatu. Aku akan mengabarimu."


"Anak ini tidak bersalah. Jangan melakukan hal buruk dari perbuatan yang sudah sangat buruk."


"Kau tidak usah menceramahiku."


"Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan."


"Beri aku waktu."


Mereka saling berpisah dan pikiran Rajasa sangat kalut. Ryan melihat perubahan pada diri Rajasa.


"Kenapa kau sangat bingung?"


"Aku dalam masalah besar."


"Masalah apa?"


"Bisakah aku mempercayaimu?"


"Kapan kau tidak bisa mengandalkanku? Kita selalu saling bantu dalam segala hal."


"Ya, kau benar."


"Aku bisa saja menikungmu kalau aku mau. Tapi aku tidak melakukannya, karena kau sahabatku."


"Yeah! Tapi masalahku sangat besar dan tidak mungkin bisa diatasi."


"Jangan putus asa begitu. Apa masalahmu?"


"Aku menghamili orang lain."


"Apa maksudmu menghamili orang lain?" Ryan meletakkan design layout yang dibawanya ke atas meja Rajasa. Dia mendatangi ruangan Rajasa bermaksud mendiskusikan design layout yang akan dipilihnya untuk penerbitan cover  majalah mereka dalam rangka ulang tahun perusahaan mendatang.


"Edelweis terlalu sibuk dengan Malika sehingga mengabaikanku."


Ryan menarik krah baju Rajasa. Matanya menyorotkan kemarahan"Kau tahu itu bukan alasan!!!" 


Rajasa dipaksa berdiri dari kursinya. Ruangan direksi hanya mereka berdua. Roy dan sekretaris direksi, Nurmala belum kembali.


Ryan meninju Rajasa sekuat tenaga.


"Kau pengecut!"


Rajasa tidak membalasnya. Ryan kembali meninjunya. Darah mengucur dari hidung Rajasa.


"Aku akan membunuhmu!" Ryan kembali meninju Rajasa. Darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"Aku menitipkan dia padamu. Buat dibahagiakan. Bukan buat kau hancurkan! Seandainya Edelweis tahu perbuatanmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya." Airmata meleleh dari sudut matanya.


"Aku tidak pantas hidup! Kau bunuh saja aku!" Rajasa tidak melawan.


"Seandainya tidak ada Malika! Kuambil dia kembali dan tidak akan pernah kuserahkan padamu lagi!"


"Aku khilaf! Aku tidak bermaksud mengkhianatinya. Keadaannya begitu sulit."


"Aku berulang kali bilang. Turunkan egomu!!!"


"Aku bukan kau!" Teriak Rajasa frustasi, "Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Bahkan aku tidak tahu bagaimana mendekati anakku sendiri!"


"Kalau kau sudah tahu kau tidak bisa memahaminya. Mengapa kau ingin mendekatinya? Menginginkannya menjadi istrimu? Itu karena egomu!" Tak ayal Ryan kembali meninju Rajasa.


"Aku mencintainya! Walaupun aku tidak mengerti sama sekali tentangnya!"


"Itu namanya egois! Kau tahu wanita hanya bisa bahagia dengan dipahami bukan hanya dicintai? Berapa banyak lelaki mencintai wanita tetapi juga menyakiti mereka? Cinta jadi alasan untuk menyakiti mereka? Itu bukan cinta tapi ego. Kau hanya ingin memilikinya untuk dirimu sendiri. Bukan untuk membahagiakannya."


"Kau sendiri! Mengapa kau tidak bersaing denganku? Kau sendiri pengecut!" Teriak Rajasa, "Kau sendiri bukan lelaki! Menyerahkan orang yang sangat kau cintai begitu saja!"


Ryan kembali memukul Rajasa, "Kesalahanku adalah tidak tahu kau adalah buaya! Kesalahan keduaku adalah kupikir dia akan berbahagia jika menikah denganmu! Aku tahu kau brengsek! Tapi kupikir kau sudah berubah. Kau bunglon!"