Rajasa

Rajasa
The Way Out



Ryan dan Rajasa kebingungan mengatasi masalah Rajasa dan Nurmala.


"Dia tidak mau mengugurkan kandungannya."


"Kau jangan gila! Itu darah dagingmu sendiri. Jika Edelweis tahu. Habislah aku!"


"Makanya kau jangan gegabah. Berpikir sebelum bertindak!" Omel Ryan.


"Kau belum menikah. Kau tidak tahu rasanya jika istrimu tidak bisa melayanimu. Sedangkan kebutuhan biologismu sendiri nyaris meledak."


"Gak usah lebay bisa gak? Bagaimana kau menjelaskan orang yang menduda setelah ditinggal istrinya. Tidak menikah lagi?"


"Tapi itu sangat sulit."


"Bukan tidak bisa kan?"


"Baiklah! Aku mengaku salah. Tapi sekarang bagaimana? Aku tidak ingin kehilangan istriku. Jika kami bercerai bagaimana dengan Malika?"


"Kau benar-benar menyebalkan!"


"Bagaimana kalau kau menikahinya sampai dia melahirkan?"


"Kau jangan gila!"


"Hanya itu yang ada di pikiranku."


"Kau yang makan nangkanya. Aku yang kena getahnya."


"Hanya untuk menutupi aib. Tolonglah! Setelah Nurmala melahirkan. Kau bisa menceraikannya."


Ryan menarik krah Rajasa, "Kau benar-benar brengsek!"


Ryan akhirnya menyetujui permintaan Rajasa. Mereka bertiga merahasiakan dari semua orang terutama Edelweis.


"Aku akan menceraikanmu. Setelah kuceraikan, kau langsung menikahi, Ryan."


"Bukan kah harus menunggu masa iddah tiga bulan?"


"Perutmu keburu membesar. Kalian jangan berhubungan suami istri dulu sebelum masa iddahmu habis. Bagaimana?"


"Bukannya itu sama saja mengakali hukum?"


"Kita tidak punya pilihan lain. Menunggu masa iddahnya selesai. Semua sudah terlambat. Kalau kau mau menolong. Sekarang atau tidak sama sekali."


***


Edelweis ikut berbahagia mendengar berita pernikahan Ryan.


"Aku senang kau memutuskan menikah. Lupakan perkataanku waktu itu." Edelweis tersipu malu.


"Tenang saja! Aku sudah melupakannya."


"Aku tidak tahu kau jatuh cinta pada sekretaris Rajasa."


"Semua berlangsung begitu cepat." Sahut Ryan.


"Yeah! Sepertinya Nurmala wanita yang baik. Ibu yang baik."


"Yeah! Terima kasih, kau sudah sangat mendukungku."


"Aku senang kau menemukan jodohmu. Aku berbahagia untukmu."


"Yeah! Aku tahu. Terima kasih, ya?"


"Mengapa kau mengadakannya sangat sederhana?"


"Aku ingin pernikahan yang sakral. Tidak ingin membuang banyak uang. Lebih baik uangnya untuk keperluan setelah menikah."


"Kau benar."


Pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana. Suasana begitu sakral.


Ryan mengucapkan akad nikah. Nurmala tidak bisa menahan haru. Meneteskan air matanya.


Nurmala dan anaknya, pindah ke kontrakan Ryan. Ara dibawa ikut serta dengan mereka.


Ara tidur bersama Amelia sedangkan Ryan sekamar dengan Nurmala.


Nurmala tidak memperpanjang sewa rumah kontrakannya. Ryan memintanya tinggal dengannya.


"Pernikahan ini hanya berlangsung sampai kau melahirkan anakmu." Sahut Ryan ketika mereka hanya berdua di kamar.


Nurmala menganggukkan kepalanya, "Terima kasih kau sudah mau berbaik hati untuk menolongku."


"Aku melakukannya untuk Edelweis. Kalau bukan wanita, kau sudah kuhajar. Mengapa kau tega merebut bosmu dari istrinya?" Ryan menahan amarahnya.


"Ibu Edelweis tidak bisa melayani suaminya. Terlalu sibuk dengan anaknya."


"Lalu kau mengambil kesempatan dalam kesempitan?"


"Aku mengaku salah. Aku tidak membela diriku. Sebenarnya, sudah tidak ada hubungan lagi antara aku dengan pak Rajasa. Tetapi pertemuan terakhir, aku lupa membawa pilku. Kupikir, bapak hanya ingin mengobrol."


"Kalian berdua bukan manusia!" Bentak Ryan.


"Sudahlah! Habis energiku memarahimu! Kau tidur di atas tempat tidur. Aku akan tidur di bawah."


"Biarkan aku tidur di bawah. Kau saja yang di atas tempat tidur."


"Patuhi kata-kataku!" Tukas Ryan.


"Baiklah."


Ryan membeli sebuah kasur lipat. Dia menggelar kasur tersebut di bawah tempat tidur. Memunggungi Nurmala dan tertidur lelap.


Nurmala memperhatikan wajah Ryan yang tertidur sangat lelap. Wajahnya yang tampan memancarkan kelembutan dan kebaikan hatinya. Tidak hanya baik hati juga setia kawan.


Kau mengorbankan dirimu untuk istri pak Rajasa. Apakah kau mencintainya? Ah, apa urusanku mengetahui hal semacam itu? Ibu Edelweis wanita yang sangat baik. Wajar jika ada yang mencintai dan menyayanginya. Aku sangat menyesal telah mengganggu rumah tangganya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa pun. Semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.


Ryan tidak hanya gentleman. Amelia juga sangat menyukainya. Hati Nurmala tersentuh karena Amelia tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.  Mantan suaminya, tidak bisa mengurus anak. Amelia merasa sangat risih berada di dekat ayahnya. 


Ketika mereka masih berumah tangga, mantan suaminya tidak pernah memegang anak. Apalagi setelah mereka bercerai.


Ryan mengajarkan Amelia untuk memanggilnya ayah. Sebagai imbangan memanggil Nurmala dengan panggilan ibu.


Pulang bekerja. Amelia langsung menyambutnya dengan tidak sabar. Berlari menuju Ryan, "Aya…" panggilnya.


Ryan menggendong Amelia dan menciumi pipinya yang gembil.


Nurmala membersihkan dirinya sementara Ryan bermain dengan Amalia.


Selesai mandi dan berpakaian. Nurmala menuju dapur. Membuatkan Ryan secangkir kopi. Menaruh pisang goreng buatan Ara ke dalam piring.


Menyajikannya di meja di depan tivi, ruang keluarga dimana Ryan dan Amelia sedang bermain bersama.


"Makan dan minumlah dulu. Kau juga belum membersihkan dirimu. Kau pasti sangat lelah sepulang bekerja." Ujar Nurmala. Mereka pulang bersama karena satu kantor.


Ryan menunggui Nurmala selesai bekerja. Sambil meneruskan pekerjaannya. Selesai sholat maghrib mereka pulang bersama dengan mobil Ryan. 


Di dalam garasi mereka ada dua buah mobil. Milik Ryan dan milik Nurmala. Pemberian Rajasa. Sedangkan apartemen pemberian Rajasa disewakan. Uangnya disimpan di dalam deposito.


Semenjak mereka menikah. Mereka kerap pulang pergi bersama menggunakan mobil Ryan.


"Serahkan Amalia padaku. Kau istirahatlah." Nurmala mengembangkan tangannya ke arah Amalia. Serta merta, Amalia berpindah dalam gendoangan ibunya.


"Bermain denganku atau mbak Ara ya? Ayah baru pulang kerja. Pasti lelah."


"Biar nanti aku menidurkannya." Ujar Ryan.


"Kau tidak lelah?"


"Aku istirahat dulu kan. Mandi dulu. Santai minum kopi dan makan pisang goreng. Kita makan malam bersama. Kupikir tubuhku akan segar kembali." Ryan menyesap kopinya dan mencomot pisang goreng di piring.


"Mengapa kau bisa begitu sabar dan telaten?" Tanya Nurmala.


"Ini belum seberapa dengan pekerjaan di dalam hutan." Ujar Ryan.


"Aku tidak ingin setelah kita bercerai. Amalia akan merindukanmu."


"Tidak usah berlebihan. Jika kita nanti bercerai. Kita bisa tetap berhubungan baik. Aku tidak keberatan menjadi ayah Amalia. Anakmu membutuhkan sosok seorang ayah."


"Mantan suamiku tidak bisa mengurus dan memegang anak."


"Mungkin dia sibuk."


"Dia tidak bekerja. Pengangguran."


"Mungkin dia memang tidak bisa memegang anak."


"Yeah! Seandainya, dia sepertimu atau pak Rajasa. Kami tidak mungkin bercerai."


"Jangan suka membanding-bandingkan. Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan mereka masing-masing. Lagian kau sendiri bekerja. Walaupun suamimu tidak bisa menafkahimu tapi kau bisa bekerja kan?"


"Dia berselingkuh. Aku tidak tahan lagi. Aku bisa menerimanya kecuali perselingkuhannya tersebut."


"Kau standart ganda! Kau sendiri berselingkuh dengaj Rajasa."


"Semua terjadi begitu saja. Pak Rajasa membutuhkan penyaluran biologis. Aku juga seorang janda. Memiliki kebutuhan yang sama. Aku juga tidak mau munafik. Menghendaki materi seperti perempuan lainnya."


Wajah Ryan merah padam, "Kau benar-benar keterlaluan dan tidak tahu malu!"


"Aku tidak bangga pada diriku sendiri. Tapi aku juga tidak ingin berbohong dan menambah kesalahanku lagi dengan menutupinya."


"Aku sangat mencintai Edelweis! Aku menikahimu karena tidak ingin dia terluka. Mengetahui perbuatan bejat suaminya bersamamu."


"Aku tahu kau menikahiku bukan karena menyukaiku. Kupikir kau melakukannya untuk pak Rajasa. Ternyata kau mencintai istrinya."


"Aku gegabah. Menyerahkannya pada Rajasa. Kupikir, Rajasa bisa membahagiakannya. Aku akan merebutnya dari Rajasa tetapi tidak dengan cara yang menyakitinya."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak ingin membuatnya terluka. Aku tidak bisa mempercayakannya pada Rajasa. Aku takut Rajasa akan menyakitinya lagi. Setelah kita bercerai, aku akan menyusun strategi agar bisa merebutnya dari sisi Rajasa. Malika sendiri sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Aku akan membahagiakan mereka berdua."


Nurmala terdiam mendengar perkataan Ryan. Wajah Ryan menggambarkan keteguhan hatinya.