Rajasa

Rajasa
Jealousy



Rajasa sangat menikmati bekerja di hutan bersama Edelweis dan timnya.


Hanya satu yang kerap mengganggu pikirannya. Kalau Edelweis dan Ryan terlihat akrab. Kecemburuannya kerap membuat hubungannya dengan Edelweis menegang. 


Tetapi semua kecemburuannya  masih wajar. Sebagai bumbu cinta. Ryan sendiri yang memahami perasaan Rajasa yang kerap mencemburuinya. Berusaha menjaga jarak dengan Edelweis. Memilih menghindar kecuali memang kondisi tidak memungkinkan untuk melakukannya. Seperti saat ini.


"Edelweis tolong revisi ini. Bisa kutunggu tidak? Kami membutuhkannya secepatnya."


"Baiklah! Sebentar kukerjakan." Edelweis merevisi pekerjaannya berdasarkan koreksi yang dilakukan secara tertulis. Berupa coretan. Tambahan kata. Pengurangan. Draft baru.


"Aku haus sekali. Aku ambil minum dulu ya. Kau mau sekalian?" Tawar Edelweis.


"Kau jangan kemana-mana. Biarkan aku mengambilkanmu minum. Kau mau minum apa? Selesaikan saja pekerjaanmu sebaik dan secepat mungkin." Ryan bergegas menuju dapur.


"Teh manis hangat." Ujar Edelweis.


"Baiklah. Apa kau juga mau kuambilkan makanan?"


"Boleh, jika kau tidak keberatan."


Edelweis mengerjakan pekerjaannya dengan penuh konsentrasi. Membuka lap topnya. Mengedit file yang akan dikoreksi.


"Ini minummu." Ryan menyodorkan gelas berisi teh manis hangat.


"Taruh aja di sana. Nanti kuminum."


"Tadi kau bilang haus. Minum dulu." Ryan mengangsurkan gelas ke bibir Edelweis.


Edelweis menyeruput teh manisnya.


"Kuenya." Ryan menyodorkan kue bingke Pontianak ke mulut Edelweis.


Edelweis makan dan minum disuapi Ryan. Ketika Ryan bermaksud ingin mengelap mulut Edelweis dengan tissue.


Keduanya terkaget karena suara bentakan yang ditujukan kepada mereka berdua.


"Bagus!"Bentak Rajasa.


Ryan menoleh ke arah suara. Tissue yang digunakan untuk mengelap mulut Edelweis. Meleset mengenai hidungnya dan membuat Edelweis tersedak.


"Uffttt…."


Ryan kembali menoleh ke arah Edelweis.


"Maaf!" Sahutnya menarik tissue yang menutupi hidung Edelweis.


"Gak apa-apa!" Ujar Edelweis.


"Duh mesra banget!" Bentak Rajasa galak.


"Apaan sih kamu! Bikin malu aja!" Wajah Edelweis merah padam.


"Kamu yang bikin malu! Suap-suapan!"


"Suap-suapan apa sih? Aku lagi bikin koreksi dokumen secepat mungkin. Ryan cuma bantu ngasih aku makan dan minum sambil ngerjain tugasku."


"Alasan aja! Dasar genit!" Rajasa melotot marah ke arah Edelweis.


Mata Edelweis memanas. Butiran bening jatuh ke pipinya.


"Kamu kira, kalau kamu nangis, aku bakal kasihan? Kamu keterlaluan!"


"Kau jangan memarahinya seperti itu! Aku tadi yang berinisiatif mengambil makanan dan minuman untuknya. Dokumen itu harus secepatnya dikoreksi."


"Jadi kau yang menggoda isteriku?"


"Aku tidak menggodanya. Edelweis kehausan dan kelaparan. Aku memerlukan koreksi yang dibuatnya secepatnya. Hanya itu."


"Tidak usah cari alasan."


"Aku tidak cari alasan. Aku minta maaf! Ini makanan dan minumannya. Kau saja yang melakukannya. Kau kan suaminya."


"Akhirnya kau sadar juga."


"Aku yang salah. Jangan memarahinya."


"Aku minta kau jangan mengulanginya lagi."


"Baik! Maafkan aku. Jangan memarahinya lagi."


"Kali ini kumaafkan tapi aku tidak bisa berjanji kalau diulangi."


"Tidak! Aku tidak akan mengulanginya lagi! Isterimu tidak bersalah. Jangan memarahinya. Semua salahku."


"Kau selalu membelanya. Berlaku seperti pangeran kuda putihnya!"


"Aku mengatakan yang sejujurnya. Isterimu tidak bersalah. Dia tidak bermaksud berlaku genit kepadaku. Apalagi menggodaku. Aku juga tidak bermaksud menggodanya. Tidak ada hal yang kau tuduhkan. Aku hanya kasian melihatnya kelaparan dan kehausan. Sedangkan dokumen itu juga harus dikoreksi secepatnya."


"Kali ini aku mempercayaimu."


Edelweis menyelesaikan pekerjaannya sambil menangis. Rajasa menatapnya marah. Hatinya sangat kesal melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya.


Rajasa memunggungi Edelweis ketika mereka berangkat tidur. Berkata ketus dan pendek-pendek. 


Sikapnya sangat menyebalkan. Edelweis seperti kehabisan akal menghadapinya.


"Kau jangan seperti anak kecil." Tegur Edelweis yang tidak tahan menghadapi sikap Rajasa.


"Siapa yang kayak anak kecil? Kau benar-benar keterlaluan! Kenapa mau aja disuapin Ryan?"


"Apa susahnya kau makan minum sendiri? Memangnya kau mau aku disuapi perempuan lain?"


Wajah Edelweis merah padam, "Apa sih maumu? Kau sudah berjanji tidak akan memarahiku."


"Ryan selalu bersikap seperti guardian angel dan itu juga membuatku muak!"


"Dia hanya ingin kita tidak bertengkar. Maksudnya baik. Dia kan memang gentleman kepada perempuan."


"Sekarang kau memujinya! Bagus!"


"Maumu apa sih?"


"Kalau kalian saling tertarik dan memuji satu sama lain. Mengapa tidak menikah saja?"


"Kau benar-benar sangat menyebalkan!"


Suasana semakin memanas ketika Rajasa memanasi Edelweis dengan meminta tolong kepada Tia. Menggoda gadis-gadis yang ditemuinya.


Tingkah lakunya memancing amarah Edelweis.


Edelweis menangis karena kesal dan marah.


"Kau kenapa?" Ryan kebingungan melihat Edelweis menangis.


Edelweis menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin tidak ada yang terjadi kalau kau sampai menangis seperti ini. Apa Rajasa memarahimu lagi?"


Edelweis menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa? Kau sakit?"


Edelweis kembali menggelengkan kepalanya.


"Kalau kau tidak mau mengatakannya padaku. Aku tidak bisa tahu. Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Katakan padaku. Kumohon!"


"Rajasa mendiamkanku. Dia tidak mau meminta tolong padaku. Meminta Tia membantunya. Menggoda gadis-gadis seperti kebiasaannya dulu."


Tangan Ryan mengepal, "Kau tunggu disini!"


"Kau mau kemana? Kalau kau baku hantam  dengannya. Aku tidak akan mau mengatakan apa pun lagi padamu!"


"Dia seperti bocah yang sangat menyebalkan! Mengapa tidak pernah mau memahami dan bersikap manis padamu?"


"Aku akan mengatasinya. Aku tahu dia ingin memberikanku pelajaran. Seharusnya aku menjaga perasaannya dan tidak membiarkan kau seperti itu padaku."


"Maafkan aku!" Suara Ryan terdengar menyesal.


"Tidak apa-apa. Kau bermaksud baik. Aku tidak berpikir panjang."


"Aku akan lebih berhati-hati lain kali."


"Terima kasih."


Edelweis memutuskan untuk membuat kejutan. Dia merapikan pakaian dan kopernya.


Dia berangkat tidur lebih cepat.


Tidak menunggu Rajasa masuk kamar mereka. Membiarkan Rajasa bersikap sesuka hatinya.


Keesokan paginya. Edelweis menggeliatkan tubuhnya dan mengucek kedua matanya.


"Kau sudah bangun?" Rajasa menatap lurus ke arahnya.


"Sudah." Edelweis beranjak menuju meja mengambil pakaian yang sudah disiapkannya semalam.


"Kau mau kemana?"


"Apa urusanmu?" Edelweis mengabaikan pertanyaan Rajasa. Bermaksud keluar kamar.


Rajasa menarik tangannya. Memeluk Edelweis, "Jangan pergi!"


Edelweis mendorong tubuh Rajasa, "Aku tidak ingin kau mempermainkan emosi dan perasaanku."


"Aku akan kesepian kalau kau tidak ada."


"Benarkah? Aku tidak melihat seperti itu. Kupikir, aku menghalangi kesenanganmu. Silahkan berbuat sesukamu. Tidak usah memikirkan perasaanku. Toh, aku dan Ryan yang bersalah dan kami berdua tidak akan dapat menebusnya sampai kapan pun. Aku akan membantu ibu. Beliau lebih membutuhkanku daripadamu. " Edelweis bergegas keluar kamar.


"Maafkan aku! Sepertinya aku sudah keterlaluan. Kau marah padaku?"


"Tidak! Aku gembira!"


"Aku hanya ingin kau tahu. Seperti apa rasanya. Bagaimana rasanya?"


"Aku sudah mengerti. Tapi sepertinya kau memang menginginkan kebebasanmu kembali. Kulihat kau sangat menikmati balas dendammu!"


Rajasa menghampiri Edelweis. Memeluknya sangat erat. Edelweis nyaris kehabisan nafas.


"Jangan bicara ngawur! Aku minta maaf. Kita berbaikan. Aku tidak akan menyakiti hatimu lagi."


"Kau berjanji?"


"Aku berjanji. Bolehkah aku menciummu?"


"Boleh saja tapi aku belum sikat gigi!"


"Jorok!" Kontan mereka berdua tertawa.