Rajasa

Rajasa
Wounded



Saat Nurmala melahirkan semakin dekat. Perutnya semakin membuncit dan nafasnya tersengal. Hatinya diliputi kesedihan melihat Ryan sangat fokus dengan perceraian mereka. Mengurusi perceraian Edelweis serta mempersiapkan pernikahan mereka berdua.


“Kita akan segera bercerai begitu aku melahirkan?” Air mata Nurmala mengalir begitu saja.


Ryan menghapus air mata Nurmala dengan lembut, “Jangan menangis. Kita sudah membicarakan hal ini sejak lama. Kita tidak benar-benar menikah. Kumohon, jangan terlalu terbawa perasaan.”


Nurmala memeluk Ryan dengan erat. Mengabaikan harga dirinya. Air matanya menumpahi pakaian Ryan.


“Sssstttt...Jangan menangis.” Ryan membelai rambut Nurmala. Bau harum tubuh dan rambutnya terasa sangat familiar. Lavender.


“Aku akan menemanimu sampai empat puluh hari. Setelah kau benar-benar suci. Aku akan menceraikanmu.”


“Aku dan Amalia sudah terbiasa denganmu. Akan sangat berbeda jika tidak ada kau di sisi kami berdua.”


“Ada Ara. Kau terbiasa mandiri. Kau juga bekerja menafkahi dirimu dan anakmu. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Kau bisa menghubungiku kapan saja jika kau membutuhkanku. Walaupun kita sudah tidak menikah. Aku tetap akan membantumu. Kau tidak usah khawatir ya?”


“Aku tidak keberatan kau mempoligamiku. Kau tidak harus menceraikanku jika ingin menikahi Edelweis.”


Ryan terdiam dan tercenung.


“Kau tidak tahu apa yang kau katakan.”


“Aku tahu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku rela berbagi dengan Edelweis. Aku akan melakukan apa pun agar tetap bersamamu.”


“Tidak mudah berbagi suami. Kau harus memahami itu. Aku tidak ingin ada kebencian di antara kalian berdua. Aku juga tidak yakin bisa berlaku adil. Aku akan lebih memperhatikan dan mencintai Edelweis dibandingkan kau.”


“Aku ikhlas jika kau tidak bisa adil. Tidak usah kau pikirkan mengenai hal itu. Bagaimana?”


“Aku akan bercerai denganmu dan menikahi Edelweis. Kau bisa kembali kepada Rajasa. Aku akan membujuknya untuk menikahimu kembali. Sehingga kau tidak usah khawatir akan sendirian dan tidak memiliki suami.”


“Rajasa memang memiliki banyak uang. Dia juga bisa bertanggung jawab lebih baik darimu. Aku juga mengandung anaknya. Tapi aku mencintaimu. Aku tidak ingin menukar cinta yang kurasakan dengan apa pun. Aku menyukaimu. Seluruhnya. Tidak ada yang tidak kusukai darimu.”


“Aku bersikap baik padamu. Dan itu bukan berarti kau mencintaiku. Semua wanita suka dan nyaman diperlakukan baik dan diperhatikan. Seperti yang sudah kukatakan. Aku akan tetap membantumu walaupun kita sudah bercerai.”


“Aku ingin kita tetap bersama.”


“Kau tidak mengerti. Aku akan kehilangan pekerjaanku begitu aku menikahi Edelweis. Aku tidak akan bisa melindungimu dan anak-anakmu lagi.”


“Aku akan membagi hasil kerjaku dengan kalian berdua.”


“Kau juga akan kehilangan pekerjaanmu. Jika kau bersamaku dan Edelweis. Rajasa tidak akan melepaskan siapa pun yang berusaha melawannya.”


“Jika kau tidak memiliki pekerjaan. Bagaimana dengan kalian berdua?”


“Aku akan kembali ke pekerjaanku yang lama. Rajasa tidak bisa melakukan apa pun mengenai hal itu. Edelweis sendiri pasti akan bahagia kembali bekerja di dalam hutan.”


“Kau akan membawa Edelweis, Malika dan anak yang sedang dikandungnya ke hutan?”


“Aku akan menjaga mereka semua di sana.”


“Tapi di hutan tidak aman. Terpencil. Sosialisasi juga kurang.”


“Aku akan berusaha melakukan apa pun yang bisa kulakukan. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mereka. Sekarang kau mengerti kan?”


“Aku, Amalia dan anak yang kukandung juga ikut kalian semua bagaimana?”


“Kau tidak terbiasa dengan hutan. Kau akan tersiksa berada di sana. Kau dan Amalia bisa jadi tersiksa.”


“Kau dan Edelweis mungkin sangat enjoy di hutan tapi bagaimana dengan Malika?”


“Aku bisa mengatasi Malika.”


“Kau tidak bisa mengatasi Amalia?”


Ryan menatap wajah Nurmala.


“Lebih baik kalian bersama Rajasa.”


“Kita sudah ditakdirkan bersama. Rajasa juga digariskan bersama Edelweis. Mengapa kau tidak bisa menerimanya?”


“Edelweis ingin bercerai dari Rajasa. Dia terluka dan aku tidak mau dia melaluinya seorang diri.”


“Mereka suami istri. Mereka memiliki ikatan dari Yang Maha Kuasa. Seperti kita berdua. Apakah kau tidak merasakannya?” Nurmala memberanikan diri untuk menatap wajah Ryan.


“Aku mencintai Edelweis.”


“Pepatah berkata cinta tidak selalu harus memiliki. Kitab suci berkata jodoh adalah sebagian tanda kekuasaan Allah. Rajasa dan Edelweis sudah dipersatukan Yang Maha Kuasa. Kita juga demikian. Di dalam rumah tangga, selalu ada masalah. Ada yang memiliki jalan keluar dan ada yang memang harus bersabar. Rajasa dan aku sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Sehingga sudah tidak ada yang harus dipermasalahkan. Kecuali Rajasa tidak bisa melepaskanku dan sebaliknya. Mungkin Edelweis harus bersabar atau kalau tidak bisa. Meminta cerai. Tapi semua tidak seperti itu. Rajasa bahkan meminta tolong padamu untuk menutup aibnya dan melepaskanku.”


“Edelweis seorang wanita. Hatinya terluka dan kecewa pada suaminya. Aku tidak ingin dia terus menerus berkubang dalam lukanya. Aku merasa, aku bisa membahagiakannya.”


“Dengan membawanya, Malika dan bayi dikandungnya ke hutan. Memisahkan dari ayahnya?”


“Aku sudah memberikan kesempatan pada Rajasa untuk membahagiakannya. Tapi dia malah mengecewakannya. Aku tidak bisa membiarkan Edelweis dikecewakan lagi olehnya. Aku tidak tahan melihatnya terluka seperti itu.”


“Kau tidak tega melihat Edelweis terluka. Tapi bagaimana denganku?”


“Aku sekretarisnya. Tentu saja, aku memahaminya dengan sangat baik. Kau tidak mengerti. Jangan mencampuri hal yang tidak perlu kau campuri. Apalagi semua karena ketidaksengajaan. Seandainya, Edelweis tidak menemukan video itu. Semua baik-baik saja.”


“Kenyataannya tidak demikian. Dia sudah mengetahui pengkhianatan Rajasa. Dan dia tidak bisa menerimanya.”


***


Nurmala memberanikan diri menghubungi Edelweis dan mengajaknya berbicara berdua.


Raut wajah Edelweis sangat tidak bersahabat sama sekali. Mukanya ditekuk dan kebencian terlihat jelas di wajahnya.


“Buat apa kau mengajakku bertemu?” Wajah Edelweis merah padam menahan amarah.


“Duduklah dulu. Kita berbicara baik-baik.”


“Kau berkhianat dengan suamiku. Apalagi yang harus dibicarakan?” Sahut Edelweis ketus.


“Aku sangat menyesal telah mengkhianatimu. Tetapi kau juga harus tahu alasannya mengapa semua terjadi.”


“Aku sudah tahu. Aku terlalu sibuk dengan Malika sehingga mengabaikan suamiku.”


“Aku senang kau mengetahui alasannya.”


“Tetap saja, aku tidak dapat menerimanya.”


“Tapi semua sudah terjadi. Tidak ada yang bisa kita lakukan. Tetapi untuk yang belum terjadi, kita masih bisa mengusahakan.”


“Apa maksudmu?”


“Hubunganku dan pak Rajasa sudah berakhir. Kumohon kau tidak usah mengungkitnya kembali.”


“Bagaimana rasanya aku merebut Ryan darimu?” Sahut Edelweis dengan nada tajam.


“Sakit. Sakit sekali.” Air mata Nurmala menetes turun. Menuruni kedua belah pipinya.


“Kau mencintainya? Heh! Sangat mencintainya?” Edelweis menyeringai. Tanda puas.


“Lepaskan dia. Kumohon!”


“Kau memohon padaku?”


“Aku tidak bisa berpisah darinya. Aku sangat mencintainya.”


“Bagaimana menurutmu perasaanku ketika aku menemukan videomu dengan Rajasa. Aku belum menikahi Ryan tapi kau sudah seperti ini.”


“Aku rela dimadu.” Nurmala menundukkan wajahnya.


“Kau sangat mencintainya? Sampai merendahkan dirimu seperti ini?” Edelweis memandang ke arah Nurmala dengan sinis, “Bagaimana rasanya ketika kau berkhianat dengan suamiku?”


“Aku seorang janda. Aku memiliki keterbatasan. Mengertilah!”


“Kau tidak mencintai suamiku. Tapi kau mau tidur dengannya. Menerima uangnya. Saat ini kau jatuh cinta pada Ryan dan keadaan berbalik. Kau rela memberikan apa pun untuknya. Merendahkan dirimu seperti ini. Menurutmu apa yang akan kulakukan?”


“Kau tidak mencintai Ryan. Untuk apa kau bersamanya?”


“Kau tidak mencintai suamiku.Mengapa kau mau bersamanya?”


“Perlindungan.”


“Kau sudah tahu jawabannya. Suamiku tidak bisa melindungi perasaanku. Aku tidak merasa aman bersamanya. Kalau kau merasa aman dengan suamiku karena materi dan ****. Sedangkan aku, memilih Ryan karena bisa melindungi emosi dan perasaanku.”


“Kumohon lepaskan dia. Setidaknya, jika kalian tidak bisa saling melepaskan diri satu sama lain. Jangan biarkan dia menceraikanku.”


Edelweis mengangkat dagu Nurmala memandangnya dengan tajam.


“Kalau kau pikir aku akan kasihan padamu. Kau bermimpi! Dimana perasaanmu ketika kau berkhianat dengan suamiku? Apa kau memiliki rasa kasihan? Apa kau peduli perasaanku?”


Airmata Nurmala menetes menuruni kedua belah pipinya.


“Aku akan mengajarkan padamu, apa itu luka. Apa itu airmata. Apa itu belas kasihan. Bukan dengan mengasihanimu. Karena kau tidak akan belajar apa pun. Kupastikan, kau dan Ryan akan bercerai. Aku akan menikahi suamimu. Agar kau tahu seperti apa luka yang kau tabur dan toreh pada hati dan jiwaku. Aku menghadiahkan suamiku padamu. Kau dengar aku! Ambil kembali apa yang harus kau ambil!”


Nurmala meneteskan air mata. Hatinya begitu sakit. Cinta telah menoreh dengan sempurna pada jiwanya. Dia telah menemukan kesejatian cintanya. Karena kebodohannya, dia harus kehilangan sesuatu yang baru ditemukan jiwa dan hatinya.


“Aku tidak menginginkan suamimu. Aku hanya menginginkan suamiku.”


“Aku tahu. Tapi kau tidak akan pernah tahu jika aku tidak mengajarkanmu apa itu kesakitan dan kepedihan.”


“Lepaskan dia! Kumohon!” Nurmala menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Edelweis mengangkat dagu Nurmala sekali lagi. Menatapnya tajam hingga ke ulu hati.


“Tidak!”


... ...