Rajasa

Rajasa
Madu Pernikahan



Anugrah pada setiap pernikahan  adalah manisnya kehidupan pernikahan.


Kebahagiaan pengantin baru adalah mereguk manisnya madu pernikahan.


"Aku tidak percaya akhirnya kita menikah." Rajasa menatap Edelweis yang sedang sibuk mempersiapkan pakaian dan barang-barang yang akan mereka bawa selama mereka tinggal dan bekerja di hutan.


Rajasa menempelkan tubuhnya pada isterinya yang sedang sibuk menyiapkan barang-barang mereka.


"Berat! Kau seharusnya membantuku bukannya menempelkan tubuhmu ke punggungku seperti ini."


Rajasa mengabaikan perkataan Edelweis dan semakin memeluk isterinya dengan mesra.


"You're my secretary wife…It's your job!"Sahutnya sambil menggoda dan tertawa kepada Edelweis.


Rajasa membalikkan tubuh isterinya.


"Jangan terlalu serius bekerja. Kita tidak terburu-buru. Isteri cantikku!"


"Kau mau apa sih? Kayak udang dibalik rempeyek aja."


"Tau aja!"Rajasa menjauhkan kedua tangan Edelweis dari barang-barang yang akan dipersiapkannya.


"Kau mau apa sih?"


"Apa mau disini aja?"


Wajah Edelweis bersemu merah.


"Astaga! Bukannya kita baru melakukannya belum sampai dua jam yang lalu?"


"Namanya juga pengantin baru?" 


Rajasa menarik Edelweis ke kamar mereka. Membaringkannya dan mulai melucuti pakaian mereka berdua.


"Kau tidak mengunci pintunya?"


"Kalau ada yang tresspasing bukan salah kita. Biarin aja yang ngintip yang bintitan."


Edelweis mendorong tubuh Rajasa.


"Aku hampir terjatuh. Kau mau apa?"


"Ini bukan masalah siapa yang salah atau bintitan. Tapi malu kalau sampai kepergok."


"Siapa suruh masuk rumah orang nyelenong aja?"


Edelweis tidak menghiraukan perkataan Rajasa dan mengunci pintu kamar mereka.


"Kau membuat moodku berantakan."


"Kau membuatku ketakutan."


"Bisakah kita lanjutkan?"


Mereka bersiap untuk kembali ke hutan. Setelah pernikahan dan bulan madu mereka.


Mereka memutuskan berbulan madu ke tempat yang sangat romantis. Paris, Hawaii, St Thomas, Venesia, Maldives, Tahiti, Belize, Seychelles, Taj Mahal dan Tuscany.


Sepuluh tempat paling romantis dunia menjadi tempat bulan madu mereka.


Genap satu bulan mereka berbulan madu. Setiap tempat yang mereka kunjungi selama tiga hari. Dikali sepuluh tempat sama dengan tiga puluh hari.


Mereka membuat album foto dan video tidak hanya untuk pernikahan mereka tetapi juga bulan madu mereka.


"Ini akan menjadi kenangan kita sampai kakek nenek." Sahut Rajasa.


"Hmm, yeah…."


"Kau sepertinya tidak yakin kalau kita akan sampai kakek dan nenek?"


"Bagaimana kalau kesukaanmu mengejar gadis-gadis kambuh lagi?"


Rajasa tertawa melihat Edelweis.


"Kau cemburu?"


"Aku bukan cemburu tapi orang tidak bisa mengubah kebiasaan atau kesukaannya."


"Saat ini, kekhawatiranmu tidak beralasan. Aku mabuk kebayang denganmu. Itu yang kurasakan saat ini."


"Bagaimana kalau kau sudah bosan? Atau seperti kubilang tadi. Kesukaanmu mengejar para gadis kumat lagi? Hatiku bukan terbuat dari batu. Mudah retak dan pecah."


"Aku tidak bisa berbicara tentang masa depan. Tapi aku sangat berharap. Cinta dan romansa kita abadi. Sampai kakek nenek. Sampai maut memisahkan kita." Rajasa mencium Edelweis sepenuh perasaan dan jiwanya. 


Bulan madu mereka sudah berakhir. Tiba saatnya kembali ke pekerjaan dan rutinitas mereka.


Mereka kembali ke dalam hutan disambut dengan senang oleh Ryan dan teman-teman kerja mereka yang lain.


"Kalian tidak perlu repot-repot membawa oleh-oleh sebanyak ini." Cetus Ryan.


"Kami mengunjungi sepuluh negara teromantis di dunia. Itu oleh-oleh dari sepuluh negara. " Sahut Rajasa.


Setiap orang mendapatkan sepuluh paper bag berisi oleh-oleh tersebut.


"Bulan madu kalian pasti sangat berkesan." Sahut Ryan.


"Aku membawa foto-foto dan videonya kalau kau mau lihat."


"Bagaimana kalau kita lihat bersama?" Semua menyetujui.


Edelweis ke dapur. Dibantu dengan staff wanita yang lain. Menyiapkan makanan dan minuman untuk yang lainnya.


Mereka juga membawa aneka makanan saat berbulan madu.


Makanan-makanan mana disajikan sebagai teman minum teh.


"Waduh, seru nih nonton video sambil ngeteh."


"Kuharap Palmier dan Madeleines cocok buat minum teh. Keju Fromage buat sarapan pagi besok bagaimana?"


"Macarons, carambars dan coklat yang di toples?"


"Buat cemilan."


"Sering-sering saja kalian bulan madu. Makmur kita."


"Tapi yang fatal bukan cekaknya tapi encoknya!" Kontan tawa mereka pecah.


"Kami dapat sepuluh kantung oleh-oleh. Salah satunya paper bag berisi sabun dan eau de toilette."


"Itu France soap dan Eau de toilette dari Perancis."


"Supaya kalian lebih wangi." Ceplos Rajasa.


"Sialan!" Rutuk Ryan yang diikuti gelak tawa yang lain.


"Penghargaan atau penghinaan sih?"


"Dua-duanya. Sambil menyelam minum air." Mereka kembali tertawa.


Mereka mengomentari dan menimpali video yang mereka tonton sambil menikmati teh berserta hidangan sorenya.


Mereka juga melihat foto-foto yang dibuat Edelweis dan Rajasa dalam album-album foto yang indah.


"Kalian membuatnya sendiri?"


Mereka berdua mengangguk nyaris bersamaan.


"Masak bikin video dan buku dokumenter bisa. Tapi video dan foto-foto bulan madu sendiri gak bisa?"


"Malah enakan bikin sendiri, ya?"


Rajasa mengangguk menyetujui perkataan isterinya.


"Ini kalian di Venice?"


"Bukan. Ciliwung." Kontan meledak tawa mereka semua.


"Basa basi banget sih nanyanya." Sahut Rajasa di sela tawanya.


"Buat menyakinkan. Karena perahunya mirip getek."


"Nah, apa kan? Ciliwung!" Mereka kembali tertawa lepas.


"Ngapain coba jauh-jauh ke Venice naik getek? Buang uang aja!" Ceplos Ryan.


"Daripada buang jin?"


"Gimana kalau buang sampah?"


"Apa sih?"


"Buang muka."


"Buang angin."


Suasana berubah riuh.


"Aku ingin masuk kamar dulu ya." Pamit Rajasa.


"Kau ingin istirahat?" Tanya Ryan.


"Yeah! Sampai besok. Kita akan memulai pekerjaan dokumentasi kita lagi."


"Baiklah!"


"Mana Edelweis?"


"Sepertinya sedang mengobrol di kamar Tia. Mereka kan hanya berdua wanita dalam kelompok kita. Mengapa kau mencarinya?"


"Buat apa aku tidur sendirian? Aku minta dia menemaniku, dong!"


"Mentang-mentang pengantin baru!" Tawa Ryan kembali terlepas.


"Mamer boleh, dong! Makanya cepetan nyusul!"


Rajasa menyusul Edelweis ke kamar Tia.


"Ayo tidur!"


"Aku masih mau ngobrol sama Tia."


"Besok kan bisa dilanjutkan."


Edelweis mengikuti Rajasa ke kamar mereka.


Keesokan harinya, Edelweis memenuhi janjinya. Membuat Roti dipanggang dengan keju fromage.


Mereka menikmati roti panggang keju fromage dengan teh dan atau kopi.


Mereka sarapan pagi sambil mendiskusikan pekerjaan mereka.


"Senang sekali bisa kembali bekerja di hutan." Sahut Rajasa yang diamini oleh Edelweis.


"Kalian sepertinya semakin kompak setelah menikah?" Celetuk Ryan.


"Namanya juga pengantin baru. Belum pecah kongsi!"Timpal Edelweis yang diikuti gelak tawa yang lain.


"Setidaknya, tugasku sebagai juru damai berakhir." Sahut Ryan mengigit roti bakarnya.


"Dia sering mengalah padaku." Sahut Edelweis.


"Baguslah! Aku senang mendengarnya. Memang seharusnya seperti itu." Ryan menyunggingkan senyumnya.


"Aku bahagia melihatmu bahagia!" Sahut Ryan tulus.


"Kuharap kau juga segera menemukan seorang wanita baik yang sangat kau cintai."


"Tidak usah mengkhawatirkan jodohku. Semua akan baik-baik saja. Aku belum berpikir menikah karena masih senang berpetualang dari hutan ke hutan. Sulit menemukan wanita yang mau diajak untuk berpetualan seperti ini."


"Bagaimana dengan Tia?"


"Tia?"


"Dia mau berpetualang. Setahuku, dia juga masih single. Atau kau ingin aku menanyakannya. Untuk memastikannya?"


"Tidak usah! Aku belum memikirkan pernikahan dan masih ingin bebas."