Rajasa

Rajasa
The Divorced



Edelweis membulatkan hatinya untuk bercerai. Dirinya hancur berkeping berantakan. Seperti serpihan cermin retak pecah seribu.


Ketika prahara menerpa. Tidak mungkin berbicara cinta. Karena hanya menambah luka.


Apa gunanya berbicara cinta? Membuat langkahnya tertahan ragu? Padahal sudah jelas-jelas disakiti dan dibohongi?


Seringkali cinta digunakan sebagai alat untuk memanipulasi dan mengintimidasi. Apakah ada cinta sejati? Karena yang seringkali terjadi cinta sebagai alat untuk memanipulasi dan mengintimidasi. Untuk mengendalikan.


“Kau tidak bisa menjadikan Malika sebagai alat untuk mengintimidasi. Memperalat Malika.”


“Apakah hubungan kita akan lebih baik sesudah bercerai? “


“Aku tidak peduli!” Sahut Edelweis marah. Kemarahannya menembus ubun-ubun.


“Jangan egois. Kalau kita tidak bisa menjaga hubungan baik. Maka akan berdampak pada Malika.”


“Baiklah. Aku akan berusaha menjaga hubungan baik demi Malika. Tidak ada alasan bagimu untuk menolak perceraian tersebut. Kau harus bertanggung jawab menjalani konsekuensi pilihanmu sendiri. Setiap keputusan yang kau ambil. Ada konsekuensinya.”


“Tapi kau juga memiliki andil di dalamnya.”


“Apa maksudmu? Kau ingin menimpakan semua kesalahan padaku?”


“Tentu tidak. Ada kesalahan kita berdua. Seharusnya kita berkompromi bukan sebaliknya.”


“Kau yang mengkhianati dan kau juga yang meminta kompromi. Apakah aku harus memberikanmu reward dan pujian sekalian?”


“Kau sedang emosi. Tidak bisa berbicara apalagi berpikir jernih dalam keadaan emosi. Jangan memutuskan apa pun dalam keadaan emosi.”


“Kau mau aku bagaimana? Tersenyum bahagia? Mensyukuri pengkhianatanmu?”


“Bukan begitu maksudku. Aku hanya meminta kau menenangkan diri. Memikirkan semuanya dalam keadaan tenang. Menimbang baik buruknya keputusan yang kau ambil. Karena kita semua akan menjalani konsekuensinya tanpa terkecuali.”


“Jika aku yang melakukannya. Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan berlapang dada dan memaafkanku?”


“Jika memang aku harus bertahan untuk Malika. Aku akan melakukannya.”


“Benarkah? Kau akan sebaik itu?”


“Memiliki anak adalah tanggung jawab. Setidaknya menunggu Malika dewasa dan memiliki kehidupan sendiri.”


“Tidak semua perceraian selalu berdampak buruk.”


“Tetapi lebih banyak perceraian yang memiliki dampak buruk. Aku tidak ingin hal itu terjadi pada anakku. Jika kita menikah lagi dengan orang lain. Memiliki keluarga lagi. Malika bisa lebih bahagia dan bisa juga sebaliknya. Tetapi jika kita bertahan, kita bisa bekerja sama sebagai orang tua. Aku tidak ada maksud untuk mengintimidasi atau memanipulasi. Aku menawarkanmu kompromi. Agar kita dapat menyelesaikan tugas kita sebagai orang tua. Mungkin hubungan kita sudah berubah. Tetapi semua tergantung usaha kita juga untuk memperbaiki. Kalau kau masih berminat untuk memperbaiki. Tapi kalau tidak. Setidaknya menunggu Malika dewasa. Jangan hanya memikirkan diri kita sendiri. Bagaimana?”


“Aku ingin melanjutkan hidupku. Tidak ingin terjebak pada pernikahan toxic dan tidak sehat. Aku tidak bisa mempercayaimu. Kau bisa menyakitiku kapan saja. Dan aku harus menerimanya begitu saja. Demi Malika? Terlalu mahal harga yang harus kubayar. Kesehatan mentalku sendiri.”


“Kalau kau dan Ryan sudah memiliki rencana untuk kalian berdua. Tidak ada gunanya membahas kompromi. Kau ingin memulai hidup baru. Aku percaya Ryan akan menjadi ayah yang lebih baik bagi Malika.”


“Yeah! Aku ingin hidup baru. Menjalani pernikahan yang sehat. Tidak perlu memaksakan diri berkompromi.”


“Kau memang sudah menyukainya sejak lama. Pengkhianatanku justru membebaskanmu. Mendorongmu berlari ke arahnya.”


“Aku tidak pernah bermaksud mencederai pernikahan kita. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengkhianatimu. Walaupun aku tahu, kita sering mengalami lack of communication. Kau tidak sesabar dan sepengertian Ryan. Aku tidak bermaksud membandingkan. Apalagi mengambil kesempatan. Aku dan Malika serta bayi yang kukandung berhak hidup bahagia. Kau juga bebas mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku tidak perlu merasa sakit hati atau dikhianati.”


Rajasa menatap wajah Edelweis dalam-dalam, “Kau tahu? Kadang aku berpikir siapa sebenarnya yang diuntungkan dari pengkhianatan yang aku lakukan?”


“Apa maksudmu?”


Rajasa memegang kedua bahu Edelweis dan mencengkramnya.


“Sakit!” Teriak Edelweis.


“Kau hanya ingin mendapat jalan untuk bersama Ryan! Itu kan sebenarnya yang terjadi?”


Edelweis melepaskan cengkraman Rajasa. Mendorong Rajasa menjauh.


“Jangan playing victim!”


“Setidaknya kau kan harus tahu mengapa aku mengkhianatimu!”


“Mengapa kau mengkhianatiku?”


“Kau tidak memenuhi kebutuhanku. Fokus dengan dirimu sendiri dan Malika.”


“Maksudmu, aku harus mengatasi semuanya sendiri?”


“Maksudku, hubungan kita tidak seimbang. Kau seharusnya lebih berusaha bagaimana semua bisa terasa lebih seimbang.”


“Aku tidak bermaksud membandingkan. Bersama Ryan aku tidak perlu melakukan usaha apa pun. Dia membantuku menyeimbangkan semuanya.”


“Itu yang kukatakan. Aku mengkhianatimu karena keadaan sedangkan kau mengambil keuntungan dari kesalahanku. Kau merasa berhak bersama Ryan karena aku mengkhianatimu. Faktanya, aku melakukannya secara sembrono sedangkan kau bermain cantik!”


“Aku tidak harus mendengarkan ini! Apalagi menerimanya. Kau berusaha mencuci otakku. Playing victim!”


“Seandainya tidak ada Ryan. Apakah kau akan bertahan atau tetap pergi meninggalkanku?”


“Aku tetap minta cerai. Ada atau tidak ada Ryan.”


Edelweis terdiam.


“Sejujurnya, aku tidak pernah berpikir untuk berlari kepada Ryan. Kau yang membuatku berpikir seperti itu. Tentu saja, aku tidak akan menganggu rumah tangganya. Hentikan omong kosong ini! Tidak usah banyak alasan. Tanda tangani saja berkas yang sudah kusiapkan untukmu!”


Rajasa baru menyadari bahwa Edelweis tidak mengetahui pernikahan sandiwara Ryan. Tidak mengetahui bahwa Ryan akan menceraikan Nurmala setelah melahirkan. Dia tidak mengetahui apa pun. Setelah perceraian tersebut. Ryan pasti akan merebutnya dariku. Dia sudah mengatakan bahwa dia akan mengambil Edelweis dariku. Jika aku tidak bisa membahagiakannya. Menyakiti hatinya dengan pengkhianatan yang kulakukan.


Edelweis menumpahkan segala kesedihan, kekecewaan dan kemarahannya pada Ryan.


“Dia mengatakan aku tidak memenuhi kebutuhannya. Kami harus berkompromi demi Malika dan anak yang sedang kukandung. Dia juga menuduh aku akan menikah denganmu. Aku bersumpah tidak akan mengganggu rumah tanggamu.” Sahut Edelweis dengan emosi.


“Tenangkan dirimu. Dia tidak ingin bercerai denganmu. Kau abaikan saja semua perkataannya. Jika merasa terganggu. Lakukan apa yang membuatmu nyaman.”


“Dia tidak ingin bercerai tapi mengkhianatiku? Logika macam apa?”


“Tidak semua lelaki yang berkhianat ingin menceraikan istri mereka.”


“Kau membelanya?”


“Aku bukan membelanya. Bisa saja suamimu berkhianat karena jenuh atau just for fun. Ada juga karena jatuh cinta lagi. Jika dia tidak ingin menceraikanmu. Karena dia memikirkanmu dan anak-anak kalian.”


“ Bukan cinta tapi tanggung jawab.”


“Kupikir Rajasa mencintaimu tetapi dia tidak bisa menolak godaan.”


“Aku tidak bisa mengerti caranya berpikir. Mengapa dia tidak bisa sesederhanamu? Kalau cinta berlaku setia.”


“Cinta itu perasaan. Setia itu komitment. Kepercayaan itu integritas.”


“Maksudmu bisa saja seseorang setia dan bisa dipercaya tetapi tidak cinta? Bisa saja seseorang mencintai tapi tidak setia dan bisa dipercaya. Bisa juga cinta, setia dan bisa dipercaya?”


“Yeah!”


“Apa yang harus kulakukan?”


“Apa yang membuatmu nyaman?”


“Aku sangat marah!”


“Aku tahu.”


“Sakit hati dan kecewa.”


“Sudah pasti!”


“Aku mengajukan cerai. Aku tidak ingin sakit hati lagi.”


“Bercerai atau bertahan sama saja. Mana yang membuatmu nyaman saja.”


“Terima kasih, Ryan. Kau sangat baik dan pengertian.”


“That what friends are for.”


“Bagaimana istrimu? Kapan melahirkan?”


“Tidak sampai satu bulan lagi.”


“Kau akan menjadi seorang ayah. Kau akan menjadi ayah yang sangat baik.”


Ryan hanya tersenyum lebar menanggapi perkataan Edelweis.


“Aku masih belum percaya, Rajasa tega mengkhianatiku. Rumah tanggaku berakhir.”


“Tenanglah! Setiap keputusan ada konsekuensi yang harus dijalani. Selama kau memutuskan demi kenyamanan perasaan dan hatimu. Kau sudah memutuskan dengan benar. Kau yang tahu definisi kebahagiaanmu. Bertahan atau berpisah. Apa yang membuatmu bahagia. Maka itu yang harus kau pilih.”


 


 


 


 


 


 


... ...


... ...


... ...


... ...