Rajasa

Rajasa
Case Close



Menjelang ditangkapnya pelaku tersangka kejahatan. Edelweis meminta kehadirannya digantikan oleh Ryan.


“Kau mau kemana?” Ujar Rajasa.


“Aku harus mempersiapkan diri untuk melahirkan. Aku tidak bisa mendampingimu terus. Pengacaramu akan mendampingimu. Ryan akan menggantikanku.”


“Apakah kandunganmu memasuki usia melahirkan?” Tanya Rajasa.


Edelweis menganggukkan kepalanya, “maafkan, aku tidak bisa mendampingimu sampai akhir. Aku harus mempersiapkan kelahiran bayi kita.”


“Baiklah. Kalau begitu.”


“Kau tenang saja. Semua sudah dipersiapkan. Semua bukti, kesaksian bahkan pengakuan dari pelaku.”


“Aku akan bebas?”


Edelweis menganggukkan kepalanya.


“Bebas murni.  Ryan akan menemanimu. Dia akan bekerja bolak balik Jakarta-Australia sampai kasusmu selesai. Roy memberinya  akses agar bisa secara remote dari Australia  agar dapat  menemanimu hingga bebas.”


Rajasa menggenggam tangan istrinya dengan erat. Penyesalan tergambar jelas di raut wajahnya.


“Maafkan aku. Semua kebodohan ini. Aku akan menebusnya. Aku tidak akan melakukan kebodohan apa pun lagi. Walaupun dunia hancur menimpaku.”


“Jangan berjanji jika tidak bisa menepati.” Ujar Edelweis tegas.


“Kau tidak percaya bahwa aku akan menebus semuanya?”


“Kau mengkhianatiku dua kali. Satu kali masih mungkin kekhilafan tetapi jika sudah dua kali. Kebodohan jika aku masih mempercayai kau akan berubah. Aku tidak ingin sakit hati lagi.”


“Apa maksudmu? Aku sudah menceritakan semua padamu. Tidak ada yang kusembunyikan.”


“Tidak usah membahas hal yang tidak relevan. Konsentrasi saja pada kasus yang sedang menimpamu.”


“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. “


“Aku harus pergi. Aku harus mempersiapkan keberangkatanku, Malika dan Wina.”


“Edelweis! Jangan berlaku bodoh!”


“Kita memiliki urusan masing-masing. Kau harus menuntaskan kasus hukummu sedangkan aku harus menghadapi persalinanku. Jangan membicarakan hal yang hanya membuat kita bertengkar juga ribut.”


“Baiklah. Aku hanya ingin memastikan kau tidak berlaku gegabah.”


“Jaga dirimu baik-baik.” Ujar Edelweis.


“Kau juga…”


Edelweis menganggukkan kepalanya.


“Edelweis…” Panggilan Rajasa.


Edelweis membalikkan tubuhnya.


“Aku mencintaimu. Merindukanmu. Tidak ada yang lain.”


“Aku benar-benar harus pergi. Fokuslah pada kasusmu. Pekerjaanmu sudah menunggumu.”


“Jaga jagoan kecilku…Aku akan menemui kalian berdua dan Malika begitu aku bebas.”


Edelweis menganggukkan kepalanya. Berlalu dari hadapan Rajasa.


Penangkapan Greg. Membuat kasus hukum yang menimpa Rajasa bisa diselesaikan dengan mulus.


Kesaksian Greg membuat semua menjadi jelas. Greg yang menelpon polisi. Mengatakan bahwa ada penembakan di apartement Kinanti.


Semua sudah direncanakan. Pertengkarannya dengan Kinanti membuatnya gelap mata.


“Kau akan meninggalkanku selamanya?” Teriaknya pada Kinanti.


“Aku tidak tuli. Rendahkan suaramu.” Sahut Kinanti.


“Aku tidak bisa berpisah darimu. Kau juga begitu. Kau tahu itu!”


“Demi anak yang kukandung. Aku akan melakukan segalanya. Bahkan hal yang tidak mungkin kulakukan. Jika aku harus menyebrangi lautan akan kulakukan. Apalagi cuma meninggalkanmu!”


“Kau…”


Semua rencana disusun dengan rapi. Kedatangan Rajasa serta rencananya menyewa pembunuh bayaran memuluskan segalanya.


Pembunuh bayaran tersebut langsung menunju tempat lokasi. Greg menyemprot pembunuh bayaran tersebut dengan cloroform. Membuatnya pingsan serta menyuntikkan dosis narkotika. Membuatnya tidak sadar.


Mengambil pistolnya dengan menggunakan sarung tangan tentunya. Menembak Kinanti.


Mengatur posisi mereka sedemikian rupa. Meletakkan senjata pembunuh tersebut yang kedap suara dengan meninggalkan sidik jari pembunuh bayaran tersebut.


Hanya saja, dia tidak menyangka akan menemukan surat tersebut. Surat yang membuatnya tidak tahu apakah dia harus merasa apa yang dia lakukan sudah seharusnya demikian?


Tertera hari serta tanggal surat. Sepertinya, Kinanti membuatnya pada hari mereka bertengkar dengan hebat


Dear Greg,


Aku tidak tahu apakah surat ini akan kuberikan padamu atau tidak.


Kau dan aku tumbuh dalam kepedihan serta keterbatasan juga ketidakberdayaan.


Aku tidak ingin hal tersebut juga dialami oleh bayi yang kukandung. Aku mengerti bahwa kau sama sekali tidak peduli jika bayi itu adalah darah daging Rajasa. Mungkin kau justru ingin menghancurkannya. Menyengsarakan hidupnya. Tetapi bagaimana jika kukatakan bahwa bayi itu milikmu? Apa yang kau lakukan?


Kau akan memaksa mengambilnya dariku atau kau bisa menyetujui caraku melindungi bayi kita?


Jantung Greg berhenti berdetak. Airmatanya mengalir turun. Dia sudah membunuh Kinanti dan juga bayi mereka.


Kau mengatakan bahwa bayi itu milik kekasih kaya raya keparatmu! Kau tidak mengatakan bahwa bayi itu milikku.


Nasi sudah menjadi bubur tidak ada yang dapat dilakukannya. Penangkapannya seperti melepaskan beban berat yang menghimpitnya.


Semenjak dia mengetahui bahwa bayi itu miliknya. Dibayangi rasa bersalah. Dia juga sangat menyesal telah membunuh Kinanti. Mengapa kau tidak mengatakan bahwa bayi itu milikku?


Aku tahu bahwa hidup memang tidak baik pada kita berdua. Aku mengerti kau telah melalui masa-masa yang mungkin akan membuatmu memiliki cara pandangmu sendiri mengenai hidup. Tetapi tidak seharusnya kau membohongiku. Membuat semua tragedi ini menimpamu dan bayi kita berdua.


Greg memberikan kesaksian sekaligus pengakuannya. Menyerahkan buku harian juga surat milik Kinanti.


Berkata lirih, “aku merasa bahwa penangkapan ini membebaskanku dari semua perasaan yang menghimpit serta menderaku. Semenjak kematian Kinanti dan bayi yang dikandungnya."


Perasaan bersalahnya. Tidak mengurangi kebenciannya pada Rajasa.


“Seharusnya aku membunuhmu. Bukan Kinanti dan bayiku!” Ujarnya marah pada Rajasa pada saat mereka bertemu.


“Seharusnya, kau membunuh dirimu sendiri!” Rajasa membalas dengan suara yang tidak kalah kerasnya, “kau hanya bisa membuat masalah. Tidak bisa melindungi Kinanti dan bayinya. Membuatku nyaris kehilangan istriku. Prahara di dalam rumah tanggaku. seandainya, kau lelaki yang bisa diandalkan. Tidak mungkin Kinanti berakhir menyedihkan seperti itu. Dia hanya mencintaimu tetapi justru tidak bisa mendapatkan perlindungan darimu! Kau lelaki tidak berguna!" Bentak Rajasa dengan amarah meluap.


Greg menatap wajah Rajasa dengan pandangan marah sekaligus tidak berdaya.


Persidangan berjalan dengan lancar. Test DNA. Kesaksian serta bukti persidangan juga pengakuan Greg membuat Hakim memutuskan bahwa Rajasa bebas murni.


Rajasa menghirup udara bebas. Hanya saja dia tidak dapat menemukan Edelweis. Tidak di Australia maupun di rumahnya atau di rumah mertuanya.


“Kemana Edelweis?” Tanyanya pada Ryan.


“Dia sedang mengurus persalinannya. Kau tenang saja." Ujar Ryan dengan nada rendah.


“Dia melahirkan dimana? Aku tidak bisa menemukannya dimana pun. Dimana dia? Mana Wina dan Malika?”


“Tenanglah! Edelweis berada di tempat yang aman.”


“Apa rencana kalian berdua? Kau akan membawanya lari?”


“Mengapa pikiranmu sesempit serta sekeji itu? Fokus lah pada urusanmu."


“Dia istriku! Malika serta bayi yang dikandungnya adalah anak-anakku.”


“Ini permintaannya sendiri.”


“Apa maksudmu permintaannya sendiri?”


“Dia ingin membebaskanmu. Kau jangan salah paham.”


“Kau jangan gila, bisa gak?” Teriak Rajasa kehabisan kesabarannya.


“Aku tidak punya pilihan lain. Dia tetap akan pergi walaupun aku tidak mendukung keputusannya. Daripada kehilangan jejaknya lebih baik menyetujui keputusannya.”


“Katakan padaku. Dimana dia?”


“Aku tidak bisa. Aku sudah berjanji tidak akan mengatakannya. Kau jangan bertindak bodoh!” Tukas Ryan keras.


“Dia membawa Malika serta jagoan kecilku!”


“Kau ingin dia meninggalkan mereka begitu saja?”


“Bukan begitu maksudku. Dia tidak bisa melakukan ini padaku.”


“Sudahlah! Bukankah ini yang memang kau nantikan? Kebebasan? Kau mengkhianatinya dua kali. Apalagi yang lebih baik dari kebebasan?"


Rajasa meninju wajah Ryan. Ryan tidak membalasnya. Mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang robek.


“Kau habisi saja aku. Jika itu bisa membuatmu puas!” Ujar Ryan.


 “Kau…”