Rajasa

Rajasa
Black Rose



Penulis artikel sekaligus kolom, Black Rose mencuri banyak perhatian. Omset penjualan naik.


Menyedot perhatian. Tidak hanya pembaca tetapi juga Rajasa.


“Siapa Black Rose?” Tanya Rajasa pada Ryan.


“Penulis.”


“Iya aku tahu tapi siapa dia?”


“Penulis artikel dan kolom.”


“Aku tahu itu. Maksudku, siapa dia?”


“Dia bekerja pada perusahaan kita. Menambah omset penjualan kita.”


“Aku tahu itu! Maksudku, seperti apa dia? Ciri-cirinya?”


“Untuk apa kau tahu?”


“Memang aku tidak boleh tahu?”


“Dia menggunakan nama samaran. Artinya dia ingin menyembunyikan identitas aslinya sedangkan kau ingin menguaknya. Kau tidak bisa menghormati privasi orang lain?”


“Dia membuatku penasaran.”


“Bukan kau saja yang penasaran tapi semua pembacanya. Tapi hanya kau sepertinya yang tidak tahu aturan dan adat!” Semprot Ryan.


“Mengapa reaksimu sekeras itu? Aku hanya ingin tahu siapa dia.”


“Belajarlah menghargai privasi orang lain. Mereka memiliki alasan untuk menyembunyikan identitasnya.”


“Apa kira-kira alasannya?”


“Tidak semua orang nyaman membagi kehidupan pribadinya dengan orang lain. Bisa jadi mereka bekerja untuk pemenuhan ekonomi dan aktualisasi diri mereka. Tapi bukan berarti mereka mau membagi kehidupan pribadi atau mengubah hidup mereka buat orang lain. Apalagi kalau sudah menyangkut kenyamanan.”


“Seandainya, aku sepertimu mungkin Edelweis tidak akan pernah beranjak dari sisiku.”


“Seandainya, kau seperti aku. Kau tidak akan pernah menyakitinya. Jika kau tidak pernah menyakitinya. Mana mungkin dia meninggalkanmu!”


“Aku menyesali semua yang sudah terjadi. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Nasi sudah menjadi bubur.”


“Lanjutkan hidupmu. Lupakan dia.”


“Apa yang bisa kulakukan selain itu? Aku ingin berkenalan dengan Black Rose. Dia tidak perlu mengungkapkan identitasnya yang asli. Bolehkah aku berkenalan dengannya?”


“Untuk apa?”


“Kupikir dia akan menjadi teman yang menyenangkan. Setidaknya bisa mengajarkan padaku tentang esensi kehidupan. Siapa tahu aku bisa lebih bijak dalam memandang dan memahami hidup.”


“Aku akan menanyakan dulu padanya. Kau tidak boleh memaksanya. Jika dia tidak ingin mengenalmu.”


“Baiklah. Apa yang bisa kulakukan jika dia tidak mau mengenalku?”


“Mengapa kau menolak wanita yang kurekomendasikan padamu? Kupikir, semua sudah sesuai dengan seleramu. Siapa tahu kau bisa lebih bahagia menjalani hidupmu?”


“Siapa maksudmu?”


“Sheila. Apakah dia kurang memenuhi syarat?”


“Sangat.”


“Lalu?”


“Aku sangat merindukan istri dan anak-anakku. Aku tidak berminat menjalin hubungan dengan siapa pun.”


“Kau selalu mengatakan pada Edelweis bahwa pernikahan kalian karam karena kesalahannya. Tidak bisa meluangkan waktu untukmu. Sibuk mengurusi buah hati kalian. Mengapa kali ini berbeda?”


“Apa maksudmu berbeda?”


“Edelweis tidak dapat melayanimu. Dia pergi meninggalkanmu. Mungkin akan mengurus perceraian kalian jika sudah tiba saatnya. Mengapa kau tidak berlari ke pelukan wanita yang kau mau? Bukankah kau selalu begitu di saat dia tidak ada untukmu?”


“Mungkin kau hanya shock. Setiap orang memiliki warna aslinya. Kau tidak akan bisa mengubah dirimu menjadi orang lain.”


“Apa maksudmu?”


“Mungkin kau masih berharap Edelweis mau kembali padamu.”


“Aku tahu dia akan meninggalkanku selamanya. Tidak akan mau kembali lagi padaku. Aku hanya tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Apakah itu salah?”


“Tidak salah. Hanya saja, tidak sepertimu. Kau seperti bunglon. Membuat orang bingung.”


“Aku tidak mau membahas hal ini. Lebih baik kau tanyakan pada Black Rose apakah dia mau berkenalan denganku? Mungkin aku akan merubah pikiranku jika dia mau membuka hatinya padaku. Aku akan memilihnya sebagai pengganti istriku. Sepertinya dia kandidat yang tepat.” Ujar Rajasa tertawa.


“Tidak lucu sama sekali! Kau tidak usah berharap terlalu banyak. Kau tidak tahu dia wanita macam apa. Bukan tipemu sama sekali.”


“Kau membuatku semakin penasaran. Sudahlah, tanyakan saja apakah aku bisa mengenalnya atau tidak.”


“Kau sangat keras kepala.”


“Kutunggu kabar darimu.’ Ujar Rajasa menutup pembicaraan mereka.


Rajasa kembali tenggelam pada pekerjaannya. Semenjak Edelweis meninggalkannya. Dia tidak memiliki kehidupan lain selain bekerja.


Dia menampik wanita yang disodorkan Ryan padanya. Memang wanita tersebut sesuai dengan kriteria juga seleranya. Hanya saja dia kehilangan minat.


Dia bisa menjalin hubungan dengan siapapun yang dia mau. Edelweis membebaskannya.


Rajasa menyadari bahwa dia sudah mendapatkan kebebasannya. Tidak perlu merasa bersalah. Jika ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Mereka akan bercerai dan mengakhiri pernikahan mereka. Semua hanya masalah waktu.


Ryan membantunya mengenalkannya pada Sheila. Wanita tersebut sangat memenuhi seleranya. Dilihat dari mana pun cantik dan sempurna.


Tapi cinta itu buta. Ketertarikan jiwa. Bagaimana menjelaskan sesuatu yang abstrak tapi sekaligus juga terasa nyata?


Nafsu dan cinta bisa jadi kata yang sama tetapi juga berbeda. Apakah dia mencintai semua wanita yang menjadi pelariannya? Jika iya, mungkin dia sudah memilih bersama mereka semua dan meninggalkan Edelweis.


Kenyataannya, dia hanya memperalat mereka agar dapat bertahan di tengah tekanan hubungannya dengan Edelweis. Bukan ingin menghabiskan hidupnya bersama mereka.


Rajasa memilih untuk tidak memikirkan hal yang mungkin sudah di luar nalar dan tak mampu dicernanya. Dia hanya tahu bahwa hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memilih konsekuensinya sendiri.


Edelweis seperti magnet di dalam hidupnya. Menarik jiwanya begitu kuat.


Semua yang sudah mereka alami. Memberikan warna serta pengalaman tersendiri.


Rajasa menaruh foto-foto istri dan anak-anaknya. Bayi lelakinya sudah lahir walaupun dia tidak tahu keberadaannya.


Dia hanya mampu melihat foto serta videonya. Tetapi setidaknya dia tahu mereka semua baik-baik saja.


Jika dia memang harus melepaskan dan melupakan Edelweis. Dia tidak ingin mencari wanita hanya sebagai pelampiasan atau pemuas dahaga.


Seorang wanita yang juga bisa menarik jiwa serta hatinya. Membuatnya bisa merasakan jatuh cinta lagi. Seperti Black Rose?


Rajasa meraih majalah di hadapannya. Membaca setiap huruf yang ditulis Black Rose. Tulisan tersebut seperti menarik magnet di dalam jiwanya.


Disebutkan bahwa penulis seorang single mother. Memiliki sepasang putra dan putri.


Menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah memiliki pengalaman berumah tangga sepertinya lebih sesuai.


Pembicaraan mereka bisa jadi lebih mengalir juga nyambung. Sayangnya, Black Rose tidak menyertakan informasi pribadi apa pun termasuk fotonya.


Hanya keterangan mengenai usianya menjelang tiga puluh sudah menggambarkan bahwa Black Rose seorang single parent yang kemungkinan memiliki nasib yang kurang lebih sama dengannya.


Mereka juga berada di bidang yang sama. Persamaan ini bisa saja semakin mendekatkan mereka. Keanehan Black Rose adalah memiliki magnet yang kurang lebih sama seperti saat dia mengenal Edelweis untuk pertama kalinya.


Hanya saja jika dia melihat Edelweis secara langsung. Black Rose, dia tidak bisa melihat apa pun. Selain tulisan serta informasi minimal mengenai dirinya.


Mereka hidup di jaman dimana pernikahan adalah merupakan sesuatu yang sulit dicerna. Walaupun mereka menikah karena cinta.


Sangat berbeda dengan generasi -generasi sebelumnya. Masa dimana seringkali pernikahan terjadi bukan karena cinta tapi mereka mampu bertahan sepanjang masa. Hingga maut memisahkan mereka.