
Ryan memandang nyalang ke arah Bu Winda. Dengan tidak sabar mengetuk-ngetukkan jarinya.
“Apa susahnya mengurus perceraian?”
“Dampak perceraian. Itu yang harus dipikirkan.”
“Aku akan bekerja apa saja! Apa itu tidak cukup?”
“Pak Rajasa mengatakan anda akan membawa mereka semua ke hutan? Anda tidak memikirkan beragam kebutuhan yang diperlukan seorang anak? Kecuali mungkin memang berasal dari pedalaman atau tempat terpencil. Tapi kadang banyak yang mencari akses tempat yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang. Walaupun mereka berasal dari sana.”
“Aku tidak mengerti maksudmu. Jangan mencampuri terlalu jauh.”
“Belum lagi anda ingin menceraikan istri anda dan menikahi istri pak Rajasa?”
“Kau tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. Aku akan mencari pengacara lain.”
“Yeah. Silahkan. Anda akan membuat kekacauan. Tidak hanya dalam rumah tangga anda. Tapi juga rumah tangga orang lain. Tidak mendukung tumbuh kembang anak.”
“Walaupun tinggal di hutan bukan berarti aku mengabaikan kebutuhan mereka semua.”
“Menurutku, anda terlalu emosional. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara anda, pak Rajasa dan istrinya. Kalian seperti orang-orang yang baik dan bertanggung jawab. Tetapi memiliki masalah yang tumpang tindih.”
“Kau tahu bahwa Rajasa mengkhianati istrinya. Apa hal itu tidak cukup untuk mengajukan cerai?”
“Jangan memahami sepotong-sepotong. Anda harus mau memikirkan dampak dari semua tindakan dan keputusan anda.”
“Kau ingin mengganjar pengkhianat dengan ucapan terima kasih dan reward?”
“Mungkin pak Rajasa melakukan kesalahan. Banyak pria yang seperti itu. Apalagi jika mereka memiliki banyak kelebihan. Seringkali sulit menepis godaan. Tetapi pak Rajasa mau memperbaiki kesalahannya dan tetap mempertahankan rumah tangganya. Melindungi anak dan istrinya. Harusnya anda hargai itu. Jika anda menceraikan istri anda. Menikahi istri pak Rajasa. Itu kan aneh? Agar wanita lain tidak menjadi janda. Anda menjandakan istri anda sendiri.”
“Aku akan menjelaskan hal ini pada anda. Off the record.” Tukas Ryan, “Mungkin aku akan meminta opini hukum anda terakhir kalinya sebelum aku memutuskan mengganti anda atau tidak.”
“Silahkan!”
“Off the record. Artinya anda tidak boleh menceritakannya pada siapa pun. Aku menceritakan ini untuk mengetahui perspektive dan opini anda dalam masalah aku, Rajasa dan Edelweis.”
“Baik, saya mengerti. Silahkan.”
“Edelweis memang mengabaikan kebutuhan Rajasa tetapi bukan sengaja. Melainkan karena harus mengurusi Malika seorang diri. Keduanya tidak bisa mengatur dan mengendalikan Malika. Sehingga berimbas pada kehidupan pernikahan mereka. Karena hal itu Rajasa menikahi sekretarisnya yang janda secara siri. Notabene, istriku saat ini.”
Winda mendengarkan dan menyimak cerita Ryan.
“Edelweis tidak mengetahui hal ini. Rajasa mengakhiri pernikahan sirinya begitu kehidupan pernikahan mereka berjalan normal kembali. Saat Rajasa mengakhiri pernikahan sirinya. Istri sirinya hamil dan aku mengajukan diri sukarela menikahinya. Karena ingin melindungi perasaan Edelweis. Aku tidak ingin dia terluka dan sakit hati. Mengetahui pengkhianatan suaminya. Tidak ingin dia mengetahui bahwa madunya mengandung dan membuat masalah menjadi rumit.”
Ryan menarik nafasnya.
“Lalu?”Tanya Winda.
“Tanpa sengaja Edelweis menemukan video Rajasa. Yang sudah diserahkan pada anda. Serta merta menggugat cerai.”
“Maksud anda. Pernikahan anda dengan istri anda hanya formalitas. Untuk menutup aib pak Rajasa dengan istri anda.”
“Begitulah. Aku senang akhirnya kau mengerti.”
“Lalu mengapa anda jadi berbalik?”
“Maksudnya?”
“Anda bermaksud menutup aibnya dan sekarang anda ingin membukanya. Aku tidak mengerti.”
“Edelweis menemukan video tersebut. Dia ingin meminta cerai. Aku tidak bisa membiarkannya sendirian.”
“Justru itu. Anda kan tidak harus mendorongnya bercerai. Anda harus menguatkannya agar mau tetap mempertahankan rumah tangganya.”
“Masalahnya, aku tidak mempercayai Rajasa.”
“Pengkhianatan. Pemenuhan tanggung jawabnya sangat baik. Tetapi tanggung jawab tidak hanya materi melainkan immateri.”
“Pak Rajasa mau bersabar ketika istrinya mengabaikan kebutuhannya. Dia mengkhianati istrinya juga karena pengabaian tersebut. Mereka berdua melakukan kesalahan. Istrinya tidak bisa mengatur prioritasnya dan berakibat mengabaikan kebutuhan pak Rajasa. Pak Rajasa tidak bisa bersabar terhadap pengkhianatan tersebut. Terpaksa mengkhianati istrinya untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologisnya.”
“Menurutku, Rajasa egois. Mengabaikan perasaan istrinya. Mengganjar dedikasi istrinya dengan pengkhianatan.”
“Menurut pak Rajasa, istrinya juga egois. Hanya memikirkan putri mereka sedangkan sebagai suami juga memiliki hak. Prioritas adalah mengatur antara urgensi, kemampuan dan keterbatasan.”
“Aku tidak bisa sependapat dengan anda. Jika Rajasa mencintai Edelweis. Maka dia pasti akan bisa berlaku setia.”
“Menurut saya di tengah ketidaksetiaannya. Suami ibu Edelweis berusaha tetap setia, tidak melalaikan tanggung jawabnya dan melindungi ibu Edelweis dan anak-anaknya. Tetap berkomitmen pada pernikahan mereka. Mudah saja baginya untuk menceraikan bu Edelweis. Mencari istri lain. Mengabaikan kebutuhan dan tanggung jawabnya atas anak-anaknya. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Menurut anda karena apa? Ibu Edelweis sendiri tidak mampu mengatur prioritasnya sehingga mengabaikan kebutuhan suaminya. Boleh saja beliau merasa sudah menjadi ibu yang baik. Tapi tidak cukup hanya menjadi ibu yang baik tetapi juga dituntut menjadi istri yang baik. Prioritasnya bukan hanya anaknya tapi juga suaminya dengan porsi mereka masing-masing.”
“Aku ingin mempercayai semua ini. Tapi aku tidak bisa mempercayai Rajasa. Khawatir dia akan melukai Edelweis kembali.”
“Saya sudah menyampaikan argumen dan opini saya.”Sahut Winda tegas.
“Saya ingin anda mengurus perceraian saya dan Edelweis. Anda sudah mengetahui semuanya.”
“Mengurus perceraian anda dan ibu Edelweis tidak sulit. Apalagi dengan semua bukti. Saya juga yakin pak Rajasa juga tidak bisa apa-apa jika kalian berdua memaksa.”
“Lalu apalagi?”
“Dipikirkan dulu semua konsekuensinya. Istri anda akan kehilangan anda.”
“Aku akan tetap menceraikannya setelah dia melahirkan. Tidak ada hubungannya dengan Edelweis. Pernikahan tersebut hanyalah kamuflase.”
“Baiklah. Abaikan perceraian anda yang memang akan tetap terjadi dan tidak ada hubungannya dengan perceraian ibu Edelweis. Jika suami istri bercerai. Suami bisa mengajukan rujuk pada saat masa iddah. Rujuk suami lebih didahulukan.”
“Rujuk selama istri juga menghendaki. Jika tidak menghendaki tentu tidak berlaku rujuk untuk suami.”
“Ya, betul. Menurut anda, ibu Edelweis sudah berkeras untuk bercerai?”
“Yeah.”
“Apa tuntutan anda untuk perceraian bu Edelweis?”
“Seperti yang sudah diungkapkan Edelweis. Hak asuh anak dan harta gono gini.”
“Saya sudah membahas hal tersebut kepada pengacara pak Rajasa. Karena gugatan cerai berasal dari ibu. Maka pak Rajasa keberatan untuk membagi dua harta gono gini. Tidak sepeser pun jika bu Edelweis ngotot bercerai. Mengenai hak asuh anak. Menimbang kondisi ibu yang tidak bekerja. Bapak juga akan kehilangan pekerjaan. Keinginan bapak membawa ibu Edelweis dan anak-anaknya ke hutan. Menjadi dasar pak Rajasa meminta kepada pengadilan agar hak asuh anak beralih padanya. Karena ada indikasi penelantaran anak.”
“Apa saran ibu?”
“Mediasi. Sebaiknya bapak dan ibu tetap pada pernikahan masing-masing. Walaupun tujuan bapak menikahi istri bapak untuk menutupi aibnya. Tetapi istri bapak membutuhkan bapak untuk menjaganya dan anak-anaknya. Sebagaimana pak Rajasa terhadap ibu Edelweis dan anak-anaknya. Saran saya, fokus pada tanggung jawab masing-masing. Daripada bapak memaksa untuk menjaga dan melindungi bu Edelweis dan anak-anaknya. Lebih baik bapak fokus bertanggung jawab terhadap istri bapak dan anak-anaknya."
“Saya belum bisa menerima hal itu. Saya ingin keadilan.”
“Itu keadilan. Bapak menjaga istri dan anak-anaknya. Pak Rajasa menjaga bu Edelweis dan anak-anak mereka. Jika bapak menceraikan istri bapak. Bisa jadi istri bapak menjadi janda. Tanpa pekerjaan yang mendukung, Bapak juga kesulitan melindungi bu Edelweis dan anak-anaknya. Semua menjadi tidak optimal dan maksimal."
“Saya masih tetap pada pendirian saya.”