Rajasa

Rajasa
Baby Born



Kelahiran bayi Nurmala semakin dekat. Nurmala semakin kepayahan. Ryan sangat tidak tega melihatnya.


Dengan pengertian Edelweis. Membuatnya semakin leluasa memperhatikan keadaan Nurmala.


Pagi itu saat mereka akan berangkat ke kantor. Perut Nurmala mengencang. Peluh membanjiri wajahnya.


“Kau kenapa?” Tanya Ryan cemas.


“Perutku sakit sekali.”


Ryan mengambil tissue dan melap keringat yang membasahi wajah istrinya.


“Sebaiknya kita ke dokter aja ya?”


Nurmala menganggukkan kepalanya lemah. Dirinya berjalan tertatih-tatih menuju mobil.


Ryan melarikan istrinya ke rumah sakit. Petugas membantunya turun dari mobil dan memintanya untuk menaiki kursi roda.


Nurmala dilarikan ke IGD. Diperiksa dan dokter memerintahkannya untuk dibawa ke ruangan untuk melahirkan.


“Istri saya akan melahirkan?”


“Sepertinya begitu. Ketubannya sudah pecah.”


Nurmala tampak sangat kesakitan. Ryan menghibur dan menguatkannya.


“Banyak membaca istighfar. Sabar ya... Kau pasti bisa melaluinya.”


“Terima kasih ya.”


Ryan menggenggam tangan istrinya sampai Nurmala memasuki ruangan bersalin.


Dirinya begitu cemas. Memutuskan meminta ijin untuk tidak masuk kantor. Menemani istrinya melahirkan.


Detik demi detik berlalu. Suasana terasa menegangkan. Ryan berdoa untuk Nurmala dan bayinya.


Perut Nurmala memang sudah terlihat sangat turun. Dia juga terlihat kepayahan. Tetapi tidak ada yang menyangka bahwa pagi ini, perutnya mengencang dan ketubannya pecah.


Ryan baru bisa bernafas lega setelah dokter mengabarkan bahwa Nurmala dan bayinya selamat. Seorang bayi mungil perempuan. Berat badannya 3,25 kg.


Wajahnya menuruni kecantikan Nurmala. Sangat mirip dengan ibunya. Kulit putihnya serta raut wajahnya. Menuruni sang ibu.


Nurmala tampak lemas sehabis melahirkan. Dia tidak boleh turun dari tempat tidurnya selama enam jam. Tubuhnya penuh peluh. Mengejan membuatnya lelah dan menguras habis tenaganya.


Sesampainya di kamar perawatan. Nurmala tertidur pulas. Wajah letih nya membuat Ryan menjadi semakin tidak tega. Dirinya bersyukur, Nurmala meminta menemaninya selama tiga bulan. Sampai cuti melahirkannya habis dan dia bisa bekerja seperti biasa.


Kupikir, aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri. Kau terlihat begitu lemah. Kupikir Ara akan kerepotan jika harus mengurus mu, Amalia dan bayi yang baru lahir. Aku akan membantumu sampai kau pulih. Kembali bekerja sehingga tidak menguras pikiranmu tentang perpisahan kita. Aku akan mencari kamu pengasuh bayi. Sehingga kau tidak perlu kerepotan dan khawatir meninggalkannya bekerja.


Ryan menggenggam tangan Nurmala. Menciumnya lembut. Bagaimana pun saat ini Nurmala istrinya. Walaupun mereka menikah untuk menutupi aib. Tetapi mereka sudah melakukan akad nikah. Menghubungkan mereka berdua sebagai suami istri.


Kau jangan salah paham. Seandainya, Edelweis tidak membutuhkanku. Aku tidak keberatan sama sekali menjadi suamimu. Menjaga Amalia dan adiknya.


Ryan membatin dalam hati. Melihat Nurmala yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat damai.


Nurmala terbangun dari tidurnya yang pulas.


Kriuk


“Astaga! Kau kelaparan?” Ujar Ryan yang menemaninya di sofa kamar perawatan.


Wajah Nurmala memerah menahan malu.


“Tadi suster mengantarkan makanan jam sebelas tapi kau sedang tidur. Biar ku suapi ya?”


Nurmala menganggukkan kepalanya.


Ryan mengambil piring yang berisi nasi putih yang sudah dicetak. Sayur daun katuk, tempe dan tahu yang dipotong dadu dimasak kecap. Ayam panggang dan perkedel jagung.


“Daun katuk bagus untuk ibu menyusui.”


“Yeah.” Jawab Nurmala membuka mulutnya. Perutnya sangat lapar. Juga haus.


Ryan menyodorkan gelas berisi air mineral. Yang diminum Nurmala hingga setengahnya


“Bayimu sangat cantik. Mirip ibunya.”Puji Ryan membuat Nurmala tersipu.


“Memangnya aku cantik?” Tanya Nurmala dengan hidung kembang kempis.


“Masak ganteng!”


Pecah tawa keduanya.


“Kirain kau memuji sungguhan.”


“Gak Lah, ntar kalau gede kepala. Kamar gak cukup. Giliran aku sesak nafas.”


Mereka kembali tertawa.


“Kau sudah memberinya nama?” Tanya Ryan kembali menyuapi Nurmala. Memotong potongan ayam, dicampur dengan potongan tempe dan tahu juga nasi.


“Belum. Mau kah kau memberikannya nama?”


“Aku bukan ayahnya.”


“Amalia juga bukan anakmu dan dia sangat menyayangimu melebihi ayahnya sendiri.”


“Baiklah. Bagaimana kalau Amanda?”


“Nama yang bagus.”


“Aku senang kau menyukainya.”


“Aku akan menemanimu sampai cuti melahirkan mu habis. Aku juga akan mencari kamu pengasuh anak. Sehingga kau bisa tenang bekerja.”


Wajah Nurmala mendadak mendung. Menatap wajah Ryan dengan sendu. Keheningan menerpa mereka berdua.


Dengan berat hati menjawab, “Baiklah. Terima kasih.”


Ryan mengembangkan senyumnya. Menganggukkan kepalanya.


Amalia dan Ara menjenguk Nurmala sore hari saat jam besuk.


Amalia begitu terpukau melihat adiknya yang sedang tertidur. Habis menyusu dengan Nurmala.


“Bolehkah aku menciumnya?”


Nurmala menganggukkan kepalanya, “Tentu, kau boleh mencium Amanda.”


Amalia menciumnya dengan gemas. Amanda terbangun. Kemudian tertidur lagi.


“Adek tidur terus.”


“Adek bayi kalau baru lahir memang belum bisa membuka matanya. Tidur terus. Dia akan merengek kalau haus, lapar, basah atau berasa tidak nyaman.”


“Aku ingin tidur bersama ibu disini.”


“Tidak bisa sayang. Kau harus pulang bersama ayahmu. Ya?”


Amalia memanggil Ryan dengan sebutan Ayah semenjak menikahi ibunya.


“Ayah, aku ingin tidur bersama ibu.”


“Tidak bisa anak manis. Ayah akan menemanimu di rumah. Bagaimana?”


“Benarkah?” Tanya Amalia dengan mata berbinar.


“Kau tidak apa-apa kan ku tinggal sendiri?”


“Tidak apa-apa.”


“Besok pulang kerja aku akan mampir. Tapi tidak menginap. Menemani Amalia di rumah.”


“Yeah, tidak apa-apa.”


Ryan mengusap rambut Nurmala lembut, “Terima kasih atas pengertianmu.”


Ryan adalah seorang suami dan ayah sambung yang baik. Seandainya tidak selalu memikirkan Edelweis.


Edelweis membuat perhatiannya terpecah. Nurmala menelan rasa cemburunya terhadap Edelweis.


Teringat kalimat Edelweis yang menghujam dadanya.


“Kau bisa memiliki siapa pun yang kau inginkan. Semua pria menginginkanmu.”


“Aku tidak menginginkan siapa pun. Aku hanya menginginkan suamiku.”


Tetesan bening menyeruak dari kedua sudut matanya. Hatinya terasa perih. Dia hanya menginginkan Ryan. Suaminya. Bukan selainnya.


Aku hanya menginginkan cinta dan perhatian suamiku.


Masih terbayang saat dia berusaha membujuk Edelweis agar tetap bersama Rajasa.


“Kau sudah ditakdirkan bersama suamimu. Untuk apa kau menginginkan suami orang lain?”


“Kau sendiri mengapa tidur dengan suamiku?” Tanya Edelweis tajam. Wajahnya seperti ingin menelannya hidup-hidup.


“Aku sudah menjelaskan padamu.”


“Aku juga sudah menjelaskan padamu. Mengapa aku menginginkan suamimu.”


Semoga dengan kelahiran Amanda bisa melunakkan hati Edelweis. Seandainya, dia mau melepaskan Ryan. Tentu mereka tidak akan terlibat cinta segitiga. Ryan tidak akan terjepit di antara mereka berdua.


Aku berpacu dengan waktu. Apa pun yang terjadi. Bagaimana pun caranya. Ryan harus menjadi milikku. Selamanya....


Tuhan telah menggariskan Edelweis dengan Rajasa. Mempersatukan aku dan Ryan. Tidak seharusnya memisahkan sesuatu yang sudah dipersatukan oleh Tuhan....


As simple as that. Sejelas itu!


Aku akan membuktikan padamu. Bahwa Ryan milikku. Akan menjadi milikku selamanya. Seseorang yang sudah ditetapkan pada saat usiaku empat bulan di dalam kandungan ibuku.


Nama yang tercantum di Laufuz Mahfudz sebagai jodoh sejatiku....


 


 


... ...


... ...


 


 


 


 


 


... ...


... ...