
Rajasa menceritakan permasalahannya dengan Roy.
“Aku akan bercerai dengan Edelweis.” Sahutnya sambil menyeruput hot cappucinonya. Saat dia dan Roy menghabiskan sabtu sore di coffee shop.
“Kalian jadi bercerai?” Roy menyesap hot lemon teanya.
Rajasa memesan sepotong african gateau sedangkan Roy memilih lemon cake.
“Kau tahu bagaimana dia?”
“Kau menyakitinya. Kau tahu dia wanita yang sangat manis dan lembut.”
“Namun bisa berubah menjadi sekeras baja. Jika tersakiti.”
“Dia hanya berusaha melindungi dirinya sendiri. Semua orang memiliki harga diri. Kau tidak menghargai apalagi menghormatinya. Kau dengan sengaja menyakiti hatinya.”
“Semua di luar kendaliku. Kau benar-benar tidak bisa menolongku?”
“Kau tahu bagaimana Edelweis. Jika kau sudah melanggar batasan dan harga dirinya. Dia tidak dapat berkompromi. Semua semata untuk melindungi harga dirinya.”
“Yeah, aku tahu. Namun, dia sedang mengandung. Anak lelakiku. Dia akan memisahkan aku dengan anak-anakku. Perasaanku sendiri kepadanya. Tidak pernah berubah.”
“Jika kau mencintainya. Maka kau tidak akan mengkhianatinya.”
“Tidak semudah itu. Kau tidak tahu bagaimana situasinya.”
“Akan kupikirkan cara untuk menolongmu. Kau tidak ke Australia? Biasanya setiap weekend kau ke sana?”
“Aku merindukan anak dan istriku.”
“Benarkah? Bukannya kau memiliki pacar di Australia?”
“Dia sangat sibuk. Dia hanya hidup untuk dirinya sendiri. Tidak dapat dibandingkan dengan Edelweis.”
“Untuk apa kau memacarinya kalau kau tahu dia tidak bisa memperhatikanmu. Apalagi berselingkuh dengan mantan kekasihnya?”
“Mungkin dia karmaku. Aku membutuhkannya untuk mengisi kekosonganku. Kecerdasan otaknya dan kepiawaiannya bercinta. Hal itu yang membuatku masih bersamanya.”
“Edelweis tahu mengenai hal ini?”
“Kau ingin dia semakin benci dan anti padaku? Kami akan bercerai. Aku lelaki normal. Dimana aku bisa mendapatkan pemenuhan biologisku kalau tidak menikah atau memiliki pacar?”
“Kau akan menikah dengannya begitu bercerai?”
“Dia tidak ingin menikah.”
“Wow! Biasanya wanita kerap meminta dinikahi?”
“Dia wanita yang sangat mandiri. Bebas. Tidak bisa diatur apalagi memiliki komitmen.”
“Aku mau memesan seporsi nachos. Kau mau?”
“Pesankan aku seporsi churros. Sepoci teh leci panas.”
“Yeah.”
Mereka melanjutkan obrolannya.
“Aku iri melihatmu dengan Angela. Both of you goal couples.”
“Sudah kukatakan. Perjalanan cintaku dengan Angela sangat panjang. Sepertinya kami memang ditakdirkan bersama.”
“Kupikir, aku dan Edelweis yang akan berakhir selamanya.” Mata Rajasa memanas.
“Hey! Berikan Edelweis waktu. Kau harus bersabar dengannya. Semua yang memulai kau sendiri. Kau yang harus menyelesaikannya. Jangan mendesaknya. Hargai dia. Dia terluka.”
“Yeah, aku tahu. Aku menyia-nyiakan seorang wanita yang kudapatkan susah payah. Kulepaskan begitu saja. Karena kebodohanku.”
“Jika kalian memang ditakdirkan bersama. Akan ada jalan untuk kalian berdua. Namun, jika kalian ditakdirkan berpisah. Maka akan ada saja yang memisahkan kalian berdua.”
Rajasa kembali ke rumahnya setelah menghabiskan sore dengan Roy.
Edelweis tampak lebih nyaman dan tenang. Memusatkan perhatiannya pada Malika dan bayi yang dikandungnya.
Malika semenjak sekolah berkurang rewelnya. Berkurang ketergantungannya pada ibu dan pengasuhnya. Suka bermain dan berteman. Menggambar dan mewarnai. Menonton video anak-anak.
Rajasa meraih putrinya dan menciumnya. Menaruhnya kembali dan membiarkan putrinya melanjutkan aktifitasnya.
Edelweis tampak sedang membaca buku parenting.
“Kau sibuk?” Tanya Rajasa.
“Ada apa?”
“Aku ingin mengajakmu keluar. Kalau kau tidak keberatan.”
Edelweis menatap wajah Rajasa.
“Kita akan bercerai. Jangan mempersulit keadaan.”
“Jika kau tidak mau. Tidak apa-apa.”
“Kau ingin kemana?”
“Membeli perlengkapan bayi. Untuk bayi kita.”
“Malika kau ingin ikut mama dan papa pergi tidak?”
Malika menggelengkan kepalanya.
Edelweis memilih mengenakan gaun yang agak longgar. Dress berwarna kuning gading tanpa lengan, sepanjang betis. Menjadi pilihannya. Mengenakan cardigan putih di luarnya. Flat shoes menjadi pilihannya. Karena dalam keadaan hamil. Lebih nyaman memakai alas kaki yang datar tanpa hak.
Rajasa sendiri memilih mengenakan kaus kuning mustard. Dipadukan dengan celana panjang cream coklatnya. Mencukur bulu-bulu yang tumbuh di wajahnya. Memakaikan aftershave.
Rajasa mengendarai kendaraannya lamat-lamat. Lagu coldplay, fix you mengalun lembut.
“Kau benar-benar tidak mau mengubah keputusanmu?” Tanya Rajasa.
“Harus ya kita ngomongin ini?” Tanya Edelweis malas.
“Kalau kita bercerai. Kita akan berpisah. Kau tidak memikirkan anak?”
“Semua akan berbeda setelah perceraian.”
“Sudah pasti. Jika dengan bercerai kita bisa saling menghargai dan menghormati batasan masing-masing. Kurasa itu proses pendewasaan kita berdua.”
Rajasa memarkir mobilnya. Mereka turun dan memasuki mall. Menuju toko yang menjual perlengkapan bayi.
Mereka memilih box bayi lengkap dengan kasurnya. Bantal guling, sprei dan sarung bantal guling.
“Beli kelambu sekalian ya?” Sahut Edelweis.
Rajasa menganggukkan kepalanya.
“Kau harus rajin menggantinya supaya gak kotor.”
“Yeah, tidak usah khawatir. Aku akan beli beberapa buah kelambu. Jadi bisa sering diganti.”
“Kupikir perlu juga mainan di atas box bayi.”
“Apa gak bikin matanya jereng?”
“Masak sih?”
“Aku nanya.”
“Menurutku, bayi belum bisa mengontrol syaraf dan motoriknya seperti orang dewasa. Mereka masih dipengaruhi stimulan atau sesuatu yang bisa mempengaruhi pergerakan motorik dan syaraf mereka.”
“Maksudmu?”
“Aku sering melihat bayi tanpa sengaja menjerengkan matanya karena terpengaruh dengan apa yang mereka lihat. Seperti ketika kau menaruh jarimu di hidung atau di pertengahan mata mereka. Mainan bayi yang ada di atas box mereka.”
“Lalu?”
“Aku khawatir akan menetap. Mata mereka menjadi juling jika hal itu dilakukan setiap hari atau sering dan menetap.”
“Tidak usah membeli mainan yang digantung di box kalau begitu. Aku tidak ingin anak kita menjadi juling.”
“Yeah. Aku lebih suka mengajak ngobrol bayi. Tidak semua mainan bisa merangsang pergerakan motorik dan syaraf penglihatannya. Akan tetapi respon bayi ketika melihat mainan yang berputar. Matanya mereka dengan sendirinya berusaha mengikuti dan menjadi juling atau jereng. Maka hal ini berbahaya buat bayi.”
“Ok!”
Setelah memilih box, kelambu, sprei dan sarung bantal guling. Mereka keluar toko. Berjalan mencari toko yang menjual karpet dan wall paper.
“Aku ingin kita tetap menjalin hubungan baik untuk anak-anak walaupun sudah resmi berpisah.” Ujar Rajasa.
“Yeah, aku setuju. Seperti yang aku katakan. Jangan berebut hak asuh anak dan gono gini. Mana yang terbaik buat anak. Maka hal itu yang kita dukung.”
“Yeah, kau benar. Aku bukan bermaksud berebut hak asuh anak atau gono gini. Aku berharap kau mau mempertimbangkan ulang semuanya jika aku mempersulit perceraian kita. Ingin mengajarkan konsekuensi padamu.”
“Kita memiliki anak. Mereka akan menjadi korban keegoisan dan arogansi kita berdua. Kita seharusnya memperbaiki komunikasi dan pengertian kita. Bukan memperburuk atau menghancurkan hubungan baik kita berdua.”
“Yeah, aku akhirnya sadar. Aku tidak bisa memaksakan apa pun padamu. Aku yang memulai semuanya. Aku yang akan bertanggung jawab membereskannya. Aku tidak akan memaksamu. Jika kau memang sudah tidak nyaman dengan pernikahan kita. Tidak bisa lagi mempercayaiku. Kupikir, memang sebaiknya kita jalani hidup kita masing-masing. Saling menghargai dan menghormati.”
“Yeah. Terima kasih atas pengertianmu. Semua ini sangat tidak mudah bagiku. Dukunganmu sangat berarti buatku.”
“Kau akan menikah dengan Ryan. Begitu kita bercerai?” Rajasa berusaha menekan rasa cemburunya. Tiba-tiba muncul begitu saja. Memikirkan Edelweis akan menikah dengan sahabatnya.
“Komunikasiku dan Ryan selalu baik. Dia bisa mengerti aku dan anak kita dengan baik. Cinta tidak selalu berhasil dalam mempertahankan pernikahan. Komunikasi, pengertian, penerimaan dan kesetiaan.”
“Aku bukan bermaksud membela diriku.” Ujar Rasaja dengan nada serak. Tenggorokannya tercekat.
“Aku tidak menyalahkanmu. Secara logika aku memahami bahwa kondisimu sangat sulit. Aku tidak mampu melayanimu dengan baik menimbang kondisiku saat itu. Namun secara perasaan, hal itu menyakitiku. Walaupun aku memahami sebab akibatnya. Tetap aku terluka. Aku sangat mencintaimu dan kau mengkhianati kepercayaan yang kuberikan padamu.”
“Jika kau mencintaiku maka kau tidak akan meninggalkanku.”
“Itu sama dengan kau tidak akan mengkhianatiku jika mencintaiku.”
Rajasa terdiam.
“Aku mencintaimu. Aku mengkhianatimu tidak ada hubungannya dengan apa yang kurasakan padamu.”
“Begitu pun aku, meninggalkanmu tidak ada hubungannya dengan rasa cintaku padamu. Aku meninggalkanmu karena aku terluka dan sakit hati. Tidak bisa menerima apa yang kau lakukan padaku.”
“Yeah, seperti saat aku mengkhianatimu. Karena kita tidak terkoneksi satu sama lain. Aku tidak bisa menunda pemenuhan kebutuhanku.”
“Yeah. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama.”
“Mungkin tidak sebagai suami istri. Kita tidak mungkin melepaskan tanggung jawab kita terhadap anak-anak kita kan?”
“Yeah, kau benar. Mungkin kita tidak ditakdirkan bersama selamanya sebagi suami istri. Namun kita akan mendampingi anak-anak kita sebagai orang tua mereka. Kita tetap akan menjadi keluarga tapi dengan bentuk yang lain.”
“Yeah. Lebih abadi seperti persaudaraan atau persahabatan. Tidak ada perceraian. Kita akan selalu ada satu sama lain untuk saling mendukung dalam menjalankan kewajiban kita terhadap anak-anak.”
“Maybe we are fail in our marriage but we shouldn’t do the same thing for our divorce.”
“Yeah, perceraian kita harus membawa kebaikan dan keberkahan. Bercerai bukan berarti kewajiban kita terhadap anak-anak selesai atau diabaikan. Hubungan yang rusak ketika kita menikah. Seharusnya menjadi baik ketika bercerai.”
“Yeah.”
“Kita makan dulu, yuk. Aku tadi baru ngopi dan makan makanan ringan dengan Roy. Sekarang perutku lapar dan ingin makan.”
“Bagaimana kalau kita makan di tempat favorite kita?”
Rajasa menyunggingkan senyumnya.
“Yeah, ide yang bagus!”
... ...
... ...