Rajasa

Rajasa
Rift



Ryan sibuk dengan pekerjaannya, Nurmala dan bayinya. Rajasa dengan pekerjaan, Kinanti dan Malika. Edelweis dengan Malika dan janin yang dikandungnya.


Dokter kandungan memeriksakan kehamilannya.


“Sepertinya anak ibu lelaki.”


“Benarkah?” Sahut Edelweis lirih. Semenjak hubungan keduanya merenggang. Dirinya sudah terbiasa memeriksakan kehamilannya seorang diri. Semua urusannya dikerjakan sendiri. Persiapan sebelum perceraian mereka. Melepaskan ketergantungannya dengan Rajasa.


Rajasa sudah membicarakan niatnya untuk pindah ke Australia setelah mereka resmi bercerai.


“Kupikir aku akan pindah ke Australia setelah kita resmi bercerai.”


“Terserah padamu. Setelah kita bercerai, kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing lagi.”


“Aku akan memberikan rumah ini padamu dan Malika.”


“Kau akan membeli rumah lagi di Australia?”


“Mungkin saat ini  tidak. Kupikir menyewa apartement sudah cukup. Tetapi tidak tahu kalau nanti.”


“Aku ingin kita jadi teman baik.”


“Sejak pertama kali melihatmu. Tidak pernah terbersit di benakku. Menjadi temanmu.” Ujar Rajasa keras kepala.


“Jangan seperti anak kecil. Demi Malika dan adiknya yang sedang kukandung. Keduanya membutuhkan kita berdua.”


“Kau yang membuat mereka kehilangan aku. Jalani saja konsekuensinya sendiri.”


“Kau yang mengkhianatiku!” Ujar Edelweis dengan nada tajam.


“Sudah berjuta kali kukatakan. Semua sudah berlalu. Kau tidak hanya menghancurkan pernikahan kita tetapi juga Ryan dan Nurmala!”


“Kau dan Nurmala yang menghancurkan semuanya.”


“Tidak ada satu pun yang mampu mengubah yang sudah berlalu!”


“Kalau kau memahami itu. Sebelum kau melakukan hal yang bodoh. Pikirkan dulu akibatnya!” Ujar Edelweis dengan nada marah.


***


Edelweis mengelus perutnya dengan lembut.


“Mama akan menamakanmu Malik. Kupikir Malika dan Malik sangat lah serasi.”


Rajasa sama sekali tidak keberatan dengan nama yang diberikan Edelweis pada calon bayi mereka.


“Nama yang serasi.” Pujinya tulus.


“Walaupun kita bercerai. Keduanya tetap menyandang namamu.”


“Yang bercerai kan hubungan suami istri kita. Bukan hubungan orang tua dan anak.”


“Yeah. Kedewasaan sangat dibutuhkan dalam perceraian. Demi tumbuh kembang kedua buah hati kita.”


“Aku tahu. Tapi jika kau memaafkan aku. Semua ini tidak akan terjadi.”


“Seandainya kau memikirkan konsekuensi perbuatanmu. Semua ini tidak akan terjadi.” Koreksi Edelweis.


Malika memulai sekolahnya beberapa bulan lagi. Saat sekolah memasuki semester baru.


Memilih sekolah yang sangat disukainya. Sekaligus memahami kebutuhannya dengan baik. Baik secara psikologis, kognitif dan motoriknya.


Rajasa menyiapkan kepindahannya dan juga perceraian mereka berdua.


Dia mengajak Kinanti hidup bersama. Awalnya, meminta Kinanti menikah dengannya tetapi ditolak mentah-mentah oleh Kinanti.


“Bagaimana kalau kita hidup bersama?”


“Aku sudah nyaman dengan apartemenku. Dekat dengan kampus dan tempat kerjaku.”


“Aku akan pindah ke tempatmu.”


“Terlalu kecil dan berantakan. Aku tidak memiliki waktu untuk membersihkan rumah.”


“Aku akan menyewa orang untuk membersihkan rumah. Jika tidak satu pun dari kita sempat meluangkan waktu untuk membersihkan rumah.”


“Kita berdua sibuk. Tempat kerja dan kampusku berlawanan arah dengan tempat kerjamu. Aku tidak akan melepaskan apa yang aku lakukan saat ini hanya untuk bersamamu. I am not a kind of woman like that. I am not your wife or like every women in your life.”


Rajasa memilih pekerjaan di negara bagian lain yang lebih sesuai dengannya baik dari segi pekerjaan dan gaji yang jauh lebih besar. Dibandingkan jika dia harus tinggal bersama Kinanti di kota yang sama dengan gadis itu.


Memilih menjalani dua pekerjaan. Perusahaan yang lama dan yang baru keduanya sama-sama sebagai CEO. Tidak perlu melepaskan salah satunya. Hanya saja keduanya berbeda negara.


Perceraian dan hubungan tanpa statusnya. Membuatnya lebih leluasa bergerak. Tidak ada keluarga atau pun hubungan percintaan yang membebaninya.


“Baiklah. Aku setuju.” Sahutnya menyetujui keinginan Kinanti.


Di sela kesibukannya bekerja. Dia meluangkan waktu untuk bersama Kinanti. Dan jika ke Indonesia menyempatkan bertemu dengan Malika. Di sela waktu luangnya.


Edelweis sendiri mulai mempersiapkan perceraiannya dan kehidupannya sendiri. Memutuskan tinggal bersama kedua buah hatinya, Wina dan para pengurus rumah.


“Rajasa akan memberikan rumah yang aku tempati padaku. Aku pikir tidak jadi tinggal bersama kalian.”


“Bagaimana kalau nanti kau main gila dengan Ryan?” Tukas ibunya tajam.


“Bu, aku masih punya agama dan iman. Aku dan Ryan tidak akan menikah kecuali kau merestui kami berdua.”


“Apakah aku bisa memegang kata-katamu, nduk?”


“Nggih, bu....”


“Baiklah. Kau boleh tinggal sendiri bersama anak-anakmu. Aku, Basil dan Amarilis akan mengawasi kamu. Sesekali kami akan mendatangimu. Menginap di rumahmu. Mungkin memang sebaiknya kau tinggal sendiri. Kalau nak Rajasa ingin bertemu dengan Malika. Bisa merasa bebas di rumahnya sendiri.”


“Nggih, bu....”


Kesendiriannya membuat luka hatinya terobati. Pikirannya mulai terasa lebih tenang. Apalagi Rajasa juga sudah mulai menjauh dari kehidupannya. Membuatnya bisa berpikir lebih baik.


Sebenarnya, Rajasa berkata benar. Tidak satu pun manusia bisa mengubah yang sudah berlalu. Semua sudah terlanjur. Semua sudah berlalu. Tapi pikiranku masih kalut. Aku masih sangat sakit hati dan tidak bisa mempercayai dirinya. Trauma.


Aku mulai memahami apa yang terjadi. Tetapi aku belum bisa memaafkan apalagi menerima Rajasa kembali. Aku masih sakit hati....


Rajasa sendiri, mulai menyadari perbedaannya dengan Kinanti.


Aku nyaris tidak bisa menikahinya. Ambisinya. Egonya. Kehidupannya yang bebas. Karakternya yang tidak bisa diatur.


Hari itu, Rajasa ingin memberikan kejutan pada Kinanti. Sebuket bunga dan ring box berbentuk hati. Berwarna merah dari beludru. Sebentuk cincin yang dibeli dan dipilihnya sendiri. Dia akan menikahi Kinanti begitu perceraiannya selesai diputuskan pengadilan.


Rajasa membuka kunci apartement Kinanti. Berjalan memasuki ruangan dan melihat pakaian berceceran satu per satu.


Dia menunduk dan memungut sebuah pakaian pria. Kaos. Kemudian berjalan dan menemukan sebuah kaos wanita. Milik Kinanti.


Pakaian-pakaian tersebut seperti petunjuk dan mengarah ke arah kamar Kinanti. Satu-satunya kamar yang ada di apartement tersebut.


Rajasa berjalan memunguti satu per satu pakaian yang tercecer. Celana panjang, mini skirt, ****** ***** pria, ****** ***** wanita dan bra.


Membuka pintu yang tertutup rapat. Melihat pergumulan panas kedua makhluk yang berbeda jenis kelamin. Saling memagut. Berguling dan memuaskan satu sama lain.


“What are you doing?” Tanya Rajasa yang kehadirannya tidak disadari keduanya.


Keduanya terkejut terutama Kinanti.


“Its not like what you think!” Serunya sambil mendorong pria yang ada di atasnya.


“I am not your husband nor your viancee. You don’t have to explain everything, ****!”


“Its my ex!”


“So, both of you in reunioun, huh!”


“We are not belong each other and never will!” Seru Kinanti dengan nada keras.


“You said he is sucks! But I didnt see that way!”


Mereka bertengkar hebat. Mantan pacar Kinanti yang kerap dikeluhkan sekaligus diputuskannya berpamitan pergi.


Rajasa batal melamar Kinanti. Keduanya sepakat untuk menjalani hubungan tanpa status dan tidak saling mencampuri kehidupan masing-masing.


“Fine!” Seru Rajasa.


Mereka sepakat bertemu dengan perjanjian dan tidak ada surprise apalagi tanpa pemberitahuan.