
Ryan dan Rajasa menyambut gembira keinginan Edelweis bergabung bersama mereka.
"Aku senang, kau menepati janjimu."
"Janji apa?"
"Ah! Sudahlah! Yang penting kau sudah bergabung bersama kami. Gak sia-sia aku pacaran dengan harimau disini. Menunggumu."
"Sebulan sekali, aku menelpon keluargaku."
"Tidak masalah."
Roy sendiri mendengar keinginan Edelweis turut memberikan pendapatnya.
"Kupikir, memang sebaiknya kau mengejar pekerjaan impianmu. Kau juga bisa terlindungi dari orang yang berusaha mencelakaimu. Maafkan aku, karena belum tau siapa orangnya. Kalau kutemukan, kupastikan dia tidak akan bisa hidup tenang!"
"Aku tidak ingin membicarakannya."
"Maafkan, aku. Kapan kau akan berangkat?"
"Secepatnya "
"Ibu dan adik-adikmu?"
"Basil sekolah sambil bekerja freelance sedangkan Amarilis menjadi model sembari sekolah. Aku juga sebentar lagi bekerja sehingga ibu tidak perlu lagi menerima pesanan makanan."
"Aku tidak bisa meninggalkan usahaku tetapi sesekali mungkin aku bisa mengunjungi kalian."
"Beri kabar kalau kau mau datang supaya bisa bersiap-siap menyambutmu."
"Tidak usah repot-repot."
"Tidak repot."
Edelweis mempersiapkan keberangkatannya. Pakaian dan semua barang-barang yang dibutuhkannya dipersiapkan sebaik mungkin.
"Baik-baik disana." Ibu memeluknya dengan erat. Bahunya dibasahi tetesan air mata sang ibu.
"Aku akan baik-baik saja, bu. Tenanglah!"
"Aku akan sangat merindukanmu."
"Aku akan menelpon ibu, sebulan sekali setiap aku ke kota membeli perlengkapan yang dibutuhkan."
Roy mengadakan perpisahan kecil untuknya.
"Untuk apa kau repot mengadakan farewell? Memang kita tidak akan bertemu lagi?"
"Kita tidak tau kapan akan bertemu lagi. Kau jaga dirimu baik-baik."
"Kau juga!"
Sebuah cake mungil bertuliskan
Have a good luck!
"Aku sangat tegang."
"Kau kan sudah pernah mengerjakan pekerjaan tersebut sebelumnya?"
"Entahlah!"
"Apa karena kau akan bertemu dengan Rajasa?"
Wajah Edelweis bersemu merah.
"Kau bicara apa?"
Roy menertawai Edelweis.
"Astaga! Tak kukira kau menyukainya?"
"Jangan terus menggodaku!"
"Haruskah kujawab pertanyaan konyolmu?"
"Jatuh cinta, hal yang wajar.Mengapa harus merasa konyol?"
"Kupikir seharusnya aku memilih Ryan, kan?"
"Kau menyukai Ryan?"
"Seharusnya."
"Kau tidak bisa memaksakan perasaanmu, kan?"
"Iya, itu dia. Kalau bisa memilih, aku pilih Ryan. Dia yang terbaik."
"Hmm, ya aku setuju. Kurahasiakan atau keberitahukan ke Rajasa?"
"Kalau kau berani membuka mulutmu, kau akan kujadikan makanan harimau."
Roy tergelak.
"Mengapa aku tidak boleh memberitahukannya?"
"Bagaimana kalau dia seenaknya dan besar kepala?"
"Kau tidak mempercayainya?"
"Apakah kau bisa mempercayainya?"
"Entahlah!"
"Kau sudah tahu jawabannya. Siapa tau perasaanku berubah? Bisa saja nanti aku menyukai Ryan kan?"
"Mengapa kau tidak menyukaiku?"
"Aku tidak ingin kehilangan sahabat baik sepertimu."
"Hah! Friendzone?"
Edelweis tergelak melihat raut wajah Roy yang mendadak tertekuk.
"Kau dan Aksa, hartaku yang paling berharga."
"Kau tahu, aku tidak ingin menjadi sahabatmu."
"Kau tau aku tidak bisa kehilangan kau dan Aksa."
"Kita ganti topik?"
"Ok! Kau masih suka bertemu Angela?"
"Mengapa kau menanyakannya? Kau tidak cemburu kan?"
"Buat apa aku cemburu padanya?"
"Mana aku tau? Mengapa kau menanyakannya?"
"Hanya ingin tahu."
"Aku dan Angela sudah tidak memiliki hubungan apapun. Kami sudah resmi bercerai. Kau tidak perlu membahasnya lagi."
"Mengapa kau tidak menahannya?"
"Memangnya bisa? Kau belum mengenalnya."
"Mungkin aku tidak mengenalnya. Menurutku, tidak ada yang tidak mungkin."
"Kau terlalu naif!"
"Kau terlalu mudah menyerah!"