
Rajasa memilih untuk berada di rumahnya bersama Edelweis dan Malika.
Edelweis menanggapi acuh kehadiran Rajasa. Lebih fokus kepada masa depan yang sudah direncanakannya dengan Ryan.
“Kau tidak bertanya mengapa aku di rumah dan tidak ke Australia?”
“Untuk apa? Kita akan bercerai. Jangan saling baper apalagi mencampuri urusan masing-masing.”
“Kita akan bercerai. Bukan sudah bercerai. Aku masih memiliki hak sebagai suami?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tahu maksudku.”
“Aku akan menikah dengan Ryan. Rumah tangga kita akan segera berakhir. Cepat atau lambat.”
“Saat ini belum berakhir.”
“Aku tidak harus mendengarkan ini.” Edelweis membalikkan tubuhnya memilih mengunci dirinya di kamarnya. Daripada meladeni perkataan Rajasa yang bisa mempengaruhi pikiran dan perasaannya.
Rajasa menggenggam tangan Edelweis. Menariknya dan menatapnya tajam.
“Aku meminta hakku sebagai suami.”
Ucapannya menyerupai perintah.
“Kau memaksa bukan meminta.”
“Aku tidak peduli. Semua sama saja buatku.”
Wajah Edelweis merah padam menahan amarah.
“Kau benar-benar keterlaluan!” Serunya marah.
“Menghadapi wanita keras kepala sepertimu. Harus mengajarkan apa yang namanya batasan!”
“Aku akan membencimu!”
“Memang sekarang kau tidak membenciku?”
“Sangat membencimu!”
“Kau selalu membenciku. Apa pun yang aku lakukan. Kau akan tetap membenciku.”
Rajasa menarik tangan Edelweis menuju kamar mereka dan mengunci pintunya.
“Kau benar-benar brengsek!”
Rajasa tidak menghiraukan kekesalan Edelweis. Mereka masih suami istri. Memiliki hak dan kewajiban satu sama lain. Kenyataan Edelweis akan menikahi Ryan. Tetap saja masih rencana.
Rajasa yakin bahwa keputusan Edelweis karena kemarahan dan kekecewaannya terhadap pengkhianatan yang telah dilakukannya.
“Jika aku tidak melakukan kesalahan. Kau tidak mungkin seperti ini.” Ujar Rajasa menarik Edelweis ke dalam pelukannya.
“Untuk apa kau membicarakan hal-hal yang sudah kau ketahui dengan baik?” Edelweis menjauhkan tubuh suaminya. Memandangnya dengan wajah kesal.
“Aku tahu kita tidak selalu seiya sekata seperti kau dan Ryan. Tidak ada kesempurnaan dalam hidup. Semua ada kurang lebihnya.”
“Kalau maksudmu, kau bisa seenaknya padaku. Kau salah besar!” Ujar Edelweis yang kembali meletup kemarahannya.
“Kau tidak mau memberikanku kesempatan karena ingin menikahi Ryan.” Rajasa memegang dahu Edelweis dan menghadapkannya ke wajahnya. Edelweis berusaha membuang mukanya. Rajasa memaksa wajahnya agar menghadapnya.
“Lihat aku. Jawab pertanyaanku dengan jujur!”
“Aku lelah menghadapi polahmu. Aku hanya menginginkan kesetiaan darimu. Apakah hal tersebut sangat mustahil kau penuhi?”
“Aku berusaha setia. Aku bukan bermaksud mengkhianatimu. Aku sudah mengatakan berulang kali.”
“Aku merasa tidak aman denganmu. Aku tidak bisa mempercayaimu. Aku mempercayai Ryan.”
Rajasa menutup bibir Edelweis dengan ciumannya. Memfokuskan pada interaksinya saat ini dengan Edelweis. Enggan memikirkan selainnya.
Dia memang sudah membuat kekacauan dalam pernikahan mereka. Untuk memperbaikinya membutuhkan waktu, kesempatan dan kepercayaan.
Rajasa merindukan istrinya. Menumpahkan seluruh kerinduannya pada istrinya. Hubungan mereka yang merenggang. Tidak mengubah perasaannya terhadap istrinya.
Tubuh Edelweis menegang karena amarah yang menguasainya. Perasaannya kacau dan campur aduk.
Perlahan tapi pasti tubuhnya mulai merenggang. Sentuhan-sentuhan Rajasa membuat tubuh dan syarafnya menjadi lebih rileks.
Mereka melebur menjadi satu. Rajasa dengan kerinduannya. Edelweis dengan kemarahannya.
Mereka saling bergulat satu sama lain. Seperti api yang disiram bensin.
Nyala api saling menggeliat satu sama lain. Saling membakar.
Saling memburu satu sama lain. Nafas saling berkejaran. Seperti pemburu dengan binatang buruan nya. Memburu sambil membidik.
Setelah masing-masing mendapatkan pelepasannya. Rajasa melepaskan penyatuan mereka. Sedangkan Edelweis menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
“Aku ingin memperbaiki pernikahan kita.” Ujar Rajasa sambil mengenakan pakaiannya.
“Sudah terlambat.”
“Kau memiliki karakter yang tidak bisa diubah. Bisa muncul kapan saja saat kau merasa membutuhkan pembebasan untuk karaktermu. Kesempatan apa lagi yang kau maksud? Memberikanmu kesempatan untuk menyakitiku kembali.”
“Sex seperti makanan dan minuman. Jika dipenuhi dengan baik. Tidak akan ada masalah.”
“Kau membutuhkan pelacur bukan istri!”
“Kau tidak ikhlas melayaniku.”
“Aku ingin kau berempati saat keadaan tidak seimbang. Berusaha lah setia dan mendukung seperti halnya yang dilakukan Ryan. Bukannya menuntut dan membuat keadaan semakin sulit.”
“Kau selalu membandingkan aku dengan Ryan.”
“Bukan bermaksud membandingkan. Aku hanya ingin kau jangan egois dan hanya bisa menuntut.”
“Aku tidak ingin kau memisahkan aku dari Malika dan bayi yang sedang kau kandung.”
“Aku terlalu sakit hati. Kau sungguh keterlaluan. Mengkhianati aku saat aku tengah sibuk mengurus Malika. Dan kau tidak bisa berbuat apa pun selain menyakiti perasaanku. Apa yang bisa kulakukan? Menerima semua perlakuanmu?”
“Aku tahu sudah melakukan kesalahan. Semua kesalahan bisa diperbaiki selama ada kesempatan dan kepercayaan.”
“Maaf aku tidak bisa.” Ujar Edelweis keras kepala.
“Kau mencabut gugatan ceraimu. Secara tidak langsung kau memberikanku kesempatan.”
“Kita akan bercerai secara agama.”
“Apa maksudmu?”
“Kita tetap menikah secara negara tetapi secara agama kita bercerai.”
“Kau sudah gila! Apa kata orang?”
“Aku tidak peduli apa kata orang. I am not people pleasure.”
“Aku tidak akan menceraikan mu secara agama. Jika kau memaksa maka kau akan memiliki dua suami. Suka atau tidak.”
Edelweis menerjang Rajasa dan memukulinya.
“Kenakan dulu pakaianmu jika ingin menyerang ku. Apa kau ingin memamerkan tubuh indah mu?” Sahut Rajasa tertawa.
Membuat wajah Edelweis merah padam. Menyambar pakaiannya dan mengenakannya. Melanjutkan serangannya kepada Rajasa.
“Aku akan membunuhmu jika kau berani menghalangi niatku dan Ryan untuk bersama. Dan Ryan tidak akan segan mematahkan lehermu kalau kau berani menyentuhku setelah kita bercerai.”
“Aku yang akan mematahkan lehernya. Karena aku tidak akan menceraikan istri cantik dan seksiku!”
“Kau benar-benar keterlaluan. Aku dan Ryan akan memaksamu untuk menandatangani surat cerai di bawah tangan.”
Rajasa menarik tangan Edelweis dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur mereka.
Mendekatkan wajahnya pada istrinya. Menatapnya tajam.
“Jangan coba mengancam ku! Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Kau akan membuat aku dan Ryan saling membunuh satu sama lain.”
Tubuh Edelweis menggigil mendengar perkataan suaminya. Dia tidak bermaksud membuat keduanya saling bunuh.
Dia hanya ingin Rajasa tidak menghalangi niatnya dan Ryan untuk menikah.
“Aku mohon belas kasihanmu! Aku tidak ingin hidup di dalam neraka kemarahan dan kubangan kebencian. Kau yang sudah mengkhianati pernikahan kita. Mengapa kau timpakan semua padaku? Segala sesuatu ada konsekuensinya.”
“Tak ada gading yang tak retak. Aku berusaha memperbaiki. Aku tidak bisa membiarkan kalian berdua merusak semuanya.”
“Yang membuatku membencimu sikap egois dan tidak empati mu. Kau suka memaksakan kehendak mu. Tidak mempedulikan perasaan orang lain.”
“Kau mencabut gugatan ceraimu. Artinya kita masih menikah. Seperti yang sudah kukatakan. Jika kau memaksaku menceraikan mu secara agama. Maka kau memiliki dua suami secara negara dan agama. Jika kau cerdas. Kau akan memahami maksudku. Memiliki suami artinya kau memiliki hak dan kewajiban.”
“Kau?!”
Rajasa menatap wajah Edelweis dengan tajam sambil menyeringai sinis.
“Aku sudah menyampaikan apa yang harus aku sampaikan.”
Berjalan keluar kamar. Meninggalkan Edelweis seorang diri yang menangis dalam lautan kemarahannya.
“Kau memang brengsek!” Serunya dengan amarah memuncak.