Rajasa

Rajasa
Beneficiary



Rajasa tampak sangat segar setelah mandi dan beristirahat. Bergabung di meja makan bersama Ryan, Edelweis dan Malika.


Malika terlihat sangat nyaman dengan Ryan. Edelweis membantu asistent rumah tangganya menyiapkan meja makan.


"Kau tidak hanya bisa mengatasi isteriku tetapi juga anakku." Ceplos Rajasa.


"Kau juga bisa kalau sudah tau selahnya. Gadaikan egomu kalau perlu jual murah." Sahut Ryan tergelak.


Rajasa mengembangkan tangannya ke arah Malika tapi Malika menolaknya.


"You're just like your mother!" Ujar Rajasa.


"Gak lucu!" Ujar Edelweis.


"Lo jawab jujur, Yan! Malika mirip emaknya gak?"


"Malika memang mirip mamanya. Ingin dimengerti dibanding dimarahi."


"Kalau yang gak tau kalian bertiga. Kirain sekeluarga. Aku yang dikira outsiders."


"Gak usah lebay! Anak kecil kan memang begitu. Paling nyaman dengan mereka yang mau sabar dan mengerti mereka." Ujar Ryan, "Kau hanya perlu bersabar, mengerti dan mengalah."


"Kau mencapku seperti anak kecil?" Protes Edelweis.


"Maksudku kau dan Malika sangat sensitif. Selama mau mengerti, mengalah dan bersabar tidak akan ada masalah. Salah ya aku berkata begitu? Aku minta maaf ya?"


"Aku lebih suka kau menggunakan kata sensitif daripada anak kecil."


"Ok! Aku salah. Aku minta maaf ya?"


Edelweis mengembangkan senyumnya dan mengangguk.


"Kau memanjakannya. Dia akan bersikap seenaknya kepadamu."


"Benarkah?" Sahut Ryan sambil tertawa, "Terima kasih buat roti bakar dan kopinya. Sangat enak." Sahut Ryan berterima kasih kepada Edelweis dengan tulus.


"Aku yang terima kasih karena kau mau membantuku memegang Malika. Aku hanya bisa membuatkan kau kopi dan roti bakar sebagai rasa terima kasihku."


"Kau tidak pernah membuatkan ku kopi dan roti semenjak Malika lahir."


"Memang kau pernah membantuku memegang Malika?"


"Sama suami sendiri pamrih?"


"Aku bukan pamrih."


"Apa namanya kalau kau seperti itu? Aku harus menjaga Malika baru kau mau memberikanku kopi dan roti."


"Mengapa kau selalu seperti itu?" Edelweis berkata dengan kesal."


"Kalau kau tidak bantu memegang Malika. Memangnya bisa isterimu membuat kopi dan roti?" Lerai Ryan.


"Aku tidak mengerti. Dia sekretaris yang hebat tapi tidak bisa mengatur anaknya sendiri." Libas Rajasa"Jangan membelanya terus. Besar kepala dia!"


"Kenapa kau suka sekali memancing pertengkaran?" Seru Edelweis kesal.


"Dia sangat egois sejak Malika lahir. Tidak bisa menerapkan apa pun yang sudah dipelajarinya. Tidak konsisten. Mengabaikanku. Kau tidak tahu apa yang kualami."


"Setiap ayah berkorban untuk anak mereka merupakan suatu kewajaran."


"Kau belum menikah. Kau tidak tahu pengorbanan apa yang kumaksudkan. Temanku juga ada yang menikah dan memiliki anak. Pernikahan mereka tampak semakin bahagia dan harmonis."


"Kau kan hanya melihat sesuatu dari luar."


"Mereka bisa saling bekerja sama mengatur semua. Sehingga semua bisa berjalan lancar." Tukas Rajasa.


"Isterimu kelelahan mengurus anakmu."


"Aku tahu tapi urusannya bukan hanya Malika. Ada aku, pekerjaannya, me time dan kehidupan sosialnya."


Tangis Edelweis pecah.


"Mengapa kau selalu seperti itu dengannya?" Tanya Ryan


"Apa yang salah? Aku hanya mengatakan apa adanya. Apakah dia bisa menanggung konsekuensinya?"Ujar Rajasa.


"Apa maksudmu?" Tanya Ryan kembali.


"Apa maksudmu?" Ryan menatap wajah Rajasa dengan wajah tidak mengerti.


"Hidupnya dan hidupku menjadi tidak seimbang. Dia bisa melayanimu dengan membuatkan kopi dan roti."


"Karena aku membantunya memegang Malika. Sehingga dia bisa melakukan hal lain. Apakah kau melakukan itu juga?"


"Malika tidak mau kugendong lama-lama."


"Malika yang tidak mau digendong olehmu. Mengapa kau salah kan isterimu? Kau kan bisa buat roti dan kopimu sendiri atau meminta tolong asistent rumah tanggamu."


"Semua yang tidak bisa dia lakukan. Aku harus meminta bantuan kepada selainnya. Tenang saja, aku sudah melakukan itu."


"Jadi gak ada masalah kan?"


"Harusnya gak kalau Edelweis konsekuen. Karena seperti yang kau katakan segala sesuatunya selalu ada alternatif dan jalan keluarnya."


"Mungkin rasanya beda dibuatkan kopi oleh isterimu.."


"Sejujurnya, tidak semua yang dibuat Edelweis selalu lebih enak."


"Ya kau kan bisa ambil hikmahnya." Ujar Ryan mengusap kepala Malika.


"Aku merasa bersalah saja." Sahut Rajasa.


"Mengapa merasa bersalah? Aku rasa Edelweis tidak akan marah hanya karena kopi buatannya kalah enak dengan buatan asistent rumah tangga kalian."


"Hmm, kau tidak marah kan sayang?" Tanya Rajasa.


"Tentu tidak. Untuk apa aku marah hanya karena hal sepele semacam itu."


Pikiran Rajasa melayang pada Nurmala. Setiap pertempuran panas mereka membuatnya sangat bergairah dan merindukan kebersamaan mereka.


Kalau boleh berterus terang, Edelweis tidak bisa mengimbangi kepiawaian Nurmala di atas ranjang. Rajasa tidak habis pikir mengapa mantan suaminya sebodoh itu melepaskan wanita yang sangat panas dan jago memuaskan suami di atas ranjang?


Tentu dia tidak berani mengungkapkan hal ini pada Ryan dan Edelweis. Mereka tidak akan pernah mengerti mengenai pengkhianatannya.


Ah, apakah sebaiknya dia menemui Nurmala? 


"Yan, kau nginep aja ya disini?"


"Aku berencana mau kembali ke hotel. Besok aku ingin mencari kost atau kontrakan rumah."


"Santai saja. Aku baru ingat ada pekerjaan penting yang belum kuselesaikan. Aku terburu-buru pulang ingin menemuimu. Edelweis juga lebih nyaman ada kau membantunya. Memegang Malika. Di rumah ini tidak ada yang dapat menaklukkan putri kecilku kecuali kau."


"Aku akan mencari orang yang bisa diterima Malika dengan baik."


"Yeah, itu ide yang bagus. Thanks! Kau tidak keberatan kan menemani Edelweis dan Malika? Aku mau kembali ke kantor."


"Baiklah."


"Aku pergi dulu ya, sayang. Jangan mencariku. Aku harus konsentrasi menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan mematikan handphoneku. Tidak ingin terganggu sama sekali dengan panggilan telepon darimana pun. Ada Ryan, sehingga kau tidak perlu khawatir merasa sendiri. Ryan juga bisa membantumu menjaga Malika. Jadi kau bisa beristirahat."


"Baiklah. Kau tidak keberatan menemaniku, Yan?" Tanya Edelweis.


"Tentu tidak. Selama Rajasa juga tidak masalah."


"Aku mempercayai kalian berdua. Jangan menyalahgunakan kepercayaanku."


"Kau jangan seperti itu pada Ryan." Tegur Edelweis," Kau tahu dia tidak akan melakukan hal yang bisa merusak kepercayaanmu."


"Yeah! Aku tahu. Kalian sangat kompak. Membuatku cemburu. Bahkan Malika pun menyukainya. Mungkin karena kau memiliki hati seputih malaikat. Aku berutang banyak padamu. Seandainya, kau ikut bersaing denganku dan Roy memperebutkan Edelweis. Aku tidak akan bisa menjadi suaminya saat ini. Aku bisa mengalahkan Roy tetapi tidak kau."


"Aku bukan piala bergilir atau perlombaan." Sungut Edelweis.


Rajasa memeluk dan mencium kening isterinya mesra,"Kami bukan bermaksud merendahkanmu atau mempermainkanmu. Kau wanita yang sangat istimewa. Siapa pun yang bisa menjadi suamimu merasa tersanjung."


"Aku hanya ingin suamiku mengerti dan mencintaiku setulus hati."


"Seperti Ryan mencintaimu?" Rajasa tertawa getir.


"Kau bicara apa? Sudah jelas kau yang menjadi suamiku. Aku tidak ingin kau membuat Ryan menjadi risih. Jangan mengada-ngada."


"Aku tidak mengada-ngada."