
Rajasa dan Edelweis seperti botol dan tutupnya apalagi kalau sudah menyangkut pekerjaan.
Mereka terbiasa membahas mengenai pekerjaan sebelum memulai pekerjaan. Mengevaluasinya.
"Menurutku kalau untuk anak sd terlalu banyak narasi, mereka akan tertidur nyenyak."
"Kupikir lihat sdnya dulu. Kalau internasional school, mereka kan dipush so hard, kalau gak challanging justru gak tertarik."
"Bener juga. Trus gimana?"
"Lihat dulu pesanannya darimana. Kita sesuaikan."
"Boleh juga."
Ryan membawakan Edelweis dan Rajasa sepiring kue.
"Mojok terus! Ehm!" Goda Ryan.
"Menurutmu, gimana kalau video dokumentasi buat anak sd disesuaikan dengan sekolahnya karena beda-beda kan kapasitasnya. Sekolah biasa dan internasional." Rajasa mencomot sepotong kue yang masih hangat.
"Boleh juga. Supaya lebih sesuai kebutuhan, ya?" Ryan ikut mengambil sepotong kue dari piring.
"Ekstra budget?" Ryan meraih teh manis hangatnya.
"Gak juga cuma narasi lebih banyak apa gak. Kalau bahan kan udah tinggal ambil aja. Gak usah bikin baru. Bukan ekstra budget tapi ekstra kerja kali ya."
"Ya, gak apa-apa Kalau cuma ekstra kerja. Ekstra budget juga gak masalah, selama ada budgetnya."
"Kue darimana? Enak."
"Kalau aku bilang pake guna-guna gimana?"
"Serius?"
"Dua rius?"
"Cakep dan seksi gak yang guna-guna?"
"Bom ****."
"Besok suruh bawain lagi dong!"
Mereka tergelak.
"Kumat!" jawab Edelweis jutek.
Rajasa tergelak.
"Emang enak cemburu!"
"Siapa yang cemburu?"
"Masih gak mau ngaku?"
"Kamu masak sendiri aja...."
"Ih, kok gitu?"
" Gak mood!"
Ryan dan Rajasa tergelak menertawai Edelweis.
"Kamu jangan marah gitu dong! Biar diguna-guna tapi gak mempan kan gak masalah, ya gak sih?"
Edelweis menyodorkan kopi buatannya kepada Rajasa.
"Gitu dong!"
Tidak lama Rajasa terbatuk.
"Asin banget!"
Gantian Edelweis tergelak.
"Bikinin lagi dong!"
"Ogah!"
"Udah dong! Pagi-pagi udah pada cekcok! Encok ntar! Ini aja kuping gue udah encok dengernya."
Edelweis tergelak.
"Sini aku urut!"
"Kayaknya kamu deh yang genit, sayang...." Giliran Rajasa jutek.
"Gak usah, takut nanti bocor gendang telingaku kan repot." Ryan mengusap kupingnya.
Ryan dan Edelweis kembali tergelak.
"Gak ikutan ketawa sih? Lucu banget tauk!"
"Garing kayak gitu... Kering yang ada gigiku."
"Udah yuk ah! Siap-siap."
Mereka memulai pekerjaan dokumentasi mereka.
Semenjak kehadiran Edelweis. Para gadis yang merasa penasaran dengan Rajasa terang-terangan mendatanginya.
"Ini salah satu yang aku gak suka dari kamu."Keluh Edelweis.
"Bukan salahku kan, sayang...."
"Berhenti memanggilku sayang...."
"Memang kenapa?"
"Kita belum tentu jadian. Aku tidak tahan dengan semua perempuan yang kerap mengelilingimu. Friendzone."
"Friendzone terus ntar kamu perawan tua loh!"
"Biarin aja!"
"Kan bukan salahku mereka caper. Kamu tuh gimana sih?"
"Kamu coba jadi aku? Aku jalan sama Roy aja udah kayak gitu betenya. Padahal kamu kenal sama Roy. Dia juga sahabat kamu apalagi perempuan-perempuan yang gak jelas juntrungannya."
"Yang penting, aku kan gak ladenin."
"Duh! Susah ah! Ngomongnya! Sariawan yang ada aku...."
"Kamu mah aneh!"
"Kamu juga!"
"Stop! Kalian berdua aneh! Gue sariawan...."
Mereka tergelak melihat tingkah laku Ryan.
"Tumbalin aja gue! Yang penting lo berdua gak jambak-jambakan."
"Edelweis tolong dibenerin dulu tulisanmu."
"Maaf, tadi malam aku udah ngantuk sekali."
"Ok, fine. Tapi tolong benerin. Aku mau bikin buat narasi dokumentasi yang baru."
"Ok."
Banyak kalimat typo, salah tulis. Salah pake kata. Sepertinya matanya memang benar-benar sulit diajak kompromi tadi malam.
Edelweis mengumpulkan konsentrasinya mengerjakan perbaikan tulisannya.