Rajasa

Rajasa
Prahara



Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Edelweis tidak tahan dengan apa yang ditemukannya. Memutuskan untuk bercerai.


Menutup kuping dan hatinya rapat-rapat. Mendengarkan penjelasan Rajasa bahwa semua sudah berlalu.


Dia juga tidak ingin melimpahkan kemarahan dan sakit hatinya kepada Nurmala.


Bukannya tidak sakit hati, kecewa atau marah. Tapi apa gunanya? Rumah tangganya hancur. Bukan berarti Nurmala dan Ryan juga harus mengalaminya.


Bagi Ryan mungkin kejadian itu bagian dari masa lalu Nurmala. Terjadi sebelum mereka menikah. Sedangkan baginya? Kejadian itu terjadi di tengah pernikahannya dengan Rajasa yang sedang berjalan.


Nurmala hanya kambing hitam. Rajasa bisa melakukannya dengan siapa pun. Baginya bukan dengan siapa Rajasa berkhianat. Karena tidak ada bedanya. Tapi mengapa Rajasa berkhianat?


Hubungannya dengan Nurmala tentu terdampak. Tidak melabrak atau mengata-ngatai Nurmala. Bukan berarti mereka bisa berhubungan baik seperti sebelumnya.


Sedih, kecewa dan marah bercampur jadi satu. Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat rapuh. Mencederai apalagi sampai menghancurkan akan mengakibatkan banyak hal.


Rajasa tidak bisa membujuk apalagi mengubah keputusan Edelweis.


Edelweis berkeras mengurus perceraiannya.


“Jika kau mencintai dua orang maka pilih lah yang terakhir.” Ujar Edelweis dengan ketus.


“Jangan kekanak-kanakkan. Kita membangun keluarga. Jangan berpikir apalagi memutuskan sekulit ari. Jangan menghancurkan apa yang sudah kita bangun.”


“Kau yang menghancurkan bukan aku.”


“Yeah! Aku! Aku mengaku salah. Jangan mengambil keputusan dengan gegabah.”


“Aku tidak ingin berada di dalam pernikahan yang tidak sehat. Kau hanya perlu menandatangani berkas yang sudah kusiapkan untukmu.”


“Aku ingin kau pergi berlibur. Menenangkan dirimu.”


“Tidak ada gunanya! Yang kubutuhkan keluar dari neraka ini. Jangan mencoba membujukku.”


“Aku hanya ingin kau menenangkan emosimu. Berpikir dalam keadaan tenang. Memutuskan dalam keadaan sadar dan pikiran yang jernih. Tidak dikuasai emosi.”


“Kau melukaiku!”


“Aku tahu! Tapi semua sudah berlalu. Nurmala juga sudah menjadi istri Ryan. Jika Ryan bisa menerima Nurmala. Mengapa kau tidak bisa menerimaku?”


“Kau mengkhianatiku di tengah pernikahan kita. Sedangkan Ryan bisa menerima Nurmala karena hal itu masa lalu istrinya. Nurmala tidak mengkhianati Ryan di dalam pernikahan mereka.”


“Apa bedanya?”


“Tentu saja berbeda. Ikatan baru dimulai setelah menikah.”


“Aku menikahi Nurmala secara siri. Ketika itu. Bukan perzinahan.”


“Apa yang ingin kau katakan? Kau berhak berpoligami tanpa sepengetahuanku?”


“Faktanya demikian.”


“Tapi mengapa?”


“Kau mengabaikan kebutuhan batinku. Tidak memperhatikan dan melayaniku dengan baik. Kau hanya sibuk mengurusi Malika.”


“Terdengar seperti alasan.”


“Bukan alasan tapi kenyataan.”


“Apa maumu?”


“Aku sudah menceraikannya. Nurmala juga sudah menikah dengan Ryan. Apalagi? Kau hanya membuat masalah baru. Sedangkan masalah yang sesungguhnya sudah selesai.”


Edelweis terdiam. Hatinya menjadi bimbang. Malika dan bayi yang di kandungnya membayangi pikirannya.


“Kau jangan beretorika!” Sahut Edelweis kesal.


“Aku tidak beretorika. Aku berhak berpoligami. Kau tahu itu.”


“Tapi aku tidak bisa menerima poligamimu.”


“Aku tahu. Aku juga tidak ingin menyakiti hatimu. Oleh sebab itu aku menceraikan Nurmala. Dia juga sudah menikahi Ryan. Lalu apalagi?”


“Aku menganggap poligamimu sebagai pengkhianatan dan perselingkuhan.”


“Kau tidak mengakui hakku berpoligami?”


“Bukan begitu. Tapi bagiku, poligamimu adalah pengkhianatan dan perselingkuhan. Kecuali jika aku menyetujuinya.”


“Memang bisa kau menyetujui aku berpoligami?”


“Tidak.”


“Maksudmu, kau meniadakan hakku untuk berpoligami. Karena kau tidak akan menyetujuinya.”


“Kau jangan beretorika.”


“Apa maumu?”


“Jangan mempermasalahkan sesuatu yang sudah selesai. Jangan membuat masalah baru.”


Edelweis mencurahkan seluruh perasaan dan kegundahannya pada Ryan.


“Jangan fokus pada penjelasannya. Seandainya benar pun. Apa yang lebih nyaman untukmu?”


“Aku ingin bercerai.”


“Rajasa boleh menggunakan haknya. Kau juga berhak mendefinisikan kebahagiaanmu. Semua ada konsekuensinya.”


“Dia ingin aku tidak mempermasalahkan hal yang sudah dia atasi.”


“Jika kau berpikir sama. Sebaiknya kau batalkan perceraianmu. Karena kau juga merasakan hal tersebut sudah selesai. Tapi jika kau justru merasa semua baru dimulai?”


“Aku berpendapat. Jika dia benar-benar mencintaiku. Dia akan setia. Memikirkan perasaanku. Berusaha membahagiakanku dengan cara yang kuinginkan.  Bukan dengan definisi yang dia paksakan padaku. Bagaimana?”


“Good closing argument”


Kontan keduanya tertawa.


“Aku tidak sedang membuat kalimat penutup. Atau mengesankan sesuatu.”


“Yeah! Aku tahu. Setiap orang memiliki batas mereka masing-masing. Kau yang tahu batasmu.”


“Aku tidak ingin selalu mencurigainya. Trust issue. Bagiku, cinta ada keseluruhan rasa dan kata. Cinta tidak hanya setia. Tapi juga masalah rasa. Perasaan yang sejati. Tidak bisa diganti walaupun berusaha untuk mengganti. Setia yang dipaksa oleh rasa. Cinta adalah komitment. Cinta tanpa komitment dan setia adalah dusta.”


“Aku akan mendukung apa pun keputusanmu. Kau yang tahu bagaimana kau bisa berbahagia dan terluka.”


“Yeah!”


“Dia mencari kepuasan selain dariku. Sedangkan aku berjuang agar semua bisa berjalan sesuai dengan keterbatasan yang aku punya. Membicarakan hak. Di saat aku tengah berusaha memenuhi kewajibanku sebagai ibu. Mungkin aku melalaikan kewajibanku sebagai istri. Tetapi apakah aku pantas mendapatkan apa yang dia torehkan padaku?”


“Jika dibalik. Pasti dia juga akan sama terlukanya. Mungkin lebih terluka. Seharusnya, dia mendukung dan membantumu. Membersamaimu. Bukannya mencari kepuasan di tempat lain. Walaupun dia berhak akan hal itu. Tidak ada yang salah. Tetapi jika menimbang perasaanmu. Dia tidak akan tega melakukannya.”


Tangis Edelweis pecah, “Kau sangat pengertian. Kau juga selalu berusaha  mendukung dan membantumu.”


“Cinta adalah ketika kau berusaha memberikan yang terbaik yang kau bisa. Berusaha membahagiakan. Tanpa keterpaksaan.  Mengukir senyuman, tawa dan warna. Bukan menorehkan luka atau kecewa.” Ujar Ryan menatap ke dalam mata Edelweis yang menembus relung jiwanya.


“Aku tidak ingin memaksakan cinta. Untuk apa dipaksakan kalau semua hanya kepalsuan? Jika hanya raga saja yang menikah. Maka jiwa akan tetap dahaga. Mencari kepuasan kemana-mana. Secara hak, tidak ada yang salah. Tetapi secara makna cinta? Siapa yang bisa menerima secara nyata?"


“Kau tidak perlu menjelaskan apa pun. Tidak usah merasa bersalah. Kau juga berhak memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri. Mendefinisikan kebahagiaanmu sendiri. Tidak ada yang salah dengan itu.”


“Kau tidak tahu betapa berartinya dukunganmu. Pikiran dan hatiku terus saling berperang. Menentang satu sama lain. Apapun yang kuputuskan seperti simalakama. Tapi aku berusaha memilih yang paling sesuai dengan kata hatiku. Paling mewakili definisi kebahagiaanku sendiri.”


“Yeah!”


“Kuharap, Malika tidak menyalahkanku. Tidak menganggap aku egois. Tidak mau mempertahankan keutuhan keluarga. Egois. Jiwaku terluka. Hatiku teriris. Bahagiaku terjeda.”


“Walaupun kau gagal menjadi istri. Tapi kau akan tetap menjadi ibu yang baik. Bercerai bukan berarti Malika kehilangan ayah dan ibunya.”


“Yeah! Kuharap aku dan Rajasa bisa menjadi orang tua yang baik. Walaupun hubungan suami istri kami berdua sudah usai.”


“Jika prioritas kalian Malika. Kalian akan bisa melakukannya. Tetapi jika prioritas kalian, ego masing-masing. Kalian tidak akan mampu menjadikan perceraian kalian untuk intropeksi. Apalagi memperbaiki kesalahan yang ada. Mendewasakan kalian berdua.”