
Kehidupan pernikahannya sudah berangsur membaik dan kembali seperti semula. Bahkan lebih baik karena Malika juga sudah mau bermain dan menghabiskan waktu dengannya.
Malika juga sudah mulai bisa diarahkan. Dan mau berinteraksi dengan orang lain. Wina sangat telaten menemaninya melakukan hal-hal yang disukai Malika.
Kehidupan pernikahannya memasuki masa yang terbaik. Lebih dari sebelumnya. Edelweis juga bisa membagi perhatiannya dengan baik antara dirinya dengan Malika.
Hanya saja bagian tersulit dari pengkhianatan adalah menghentikannya.
Rajasa merasa sebagai pria yang sangat brengsek tapi dia tidak dapat melakukan apa pun untuk mengubahnya.
Dia bukan tidak mencobanya. Berulang kali. Berusaha menghindari serta memutuskan hubungannya dengan Nurmala.
Pertama kali dia mencoba memutuskan. Dia meminta Nurmala datang ke apartementnya. Membicarakannya dengan serius.
"Rumah tanggaku sudah kembali pulih." Sahutnya membuka percakapan. Nurmala tidak mengatakan sepatah kata pun,"Aku ingin kita mengakhiri semuanya. Karena istriku sudah bisa melayaniku kembali."
Nurmala hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kau tidak keberatan kan?" Tanya Rajasa.
"Tentu tidak, pak. Saya senang bapak dan ibu sudah kembali bersama lagi. Terima kasih atas semua yang sudah bapak berikan pada saya."
"Saya juga begitu. Saya akan memberikan sejumlah kompensasi padamu."
"Tidak usah, pak! Jangan. Semua sudah lebih dari cukup. Terus terang, saya tidak bisa tenang memikirkan perasaan ibu kalau tahu tentang semuanya. Saya bersyukur bapak memutuskan untuk menghentikannya."
"Baiklah! Kita lakukan untuk terakhir kalinya." Ujarnya.
Bermain api menyebabkan terbakar. Seperti hal dirinya yang tidak bisa melepaskan diri dari candu tubuh Nurmala.
Tidak sampai hitungan hari. Rajasa sudah menginginkan Nurmala untuk melayaninya kembali. Dia kembali meminta Nurmala bertemu dengannya di apartement.
"Ada apa bapak ingin bertemu dengan saya?"
"Saya pikir, saya memerlukan waktu untuk menghentikan yang sudah terlanjur terjadi di antara kita."
"Apakah ibu belum bisa melayani bapak?"
"Istri saya sudah kembali seperti biasa. Tetapi saya pikir saya membutuhkan semacam adaptasi."
"Adaptasi?"
"Bisakah, kau jangan banyak bertanya?"
"Saya hanya tidak ingin ibu mengetahuinya. Rumah tangga bapak bisa berantakan."
"Saya juga tahu! Tidak usah mengajari saya!" Sahut Rajasa marah.
Nurmala terdiam. Baru kali ini dia melihat Rajasa marah.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud mengajari bapak. Saya sangat menghormati bapak dan ibu. Saya merasa bersalah sudah mengkhianati ibu."
"Saya juga!"
"Keinginan bapak untuk menghentikan semua sudah benar. Bagaimana kalau benar-benar dilakukan dan jangan diragukan lagi."
"Kupikir kau benar. Baiklah! Ini terakhir kalinya setelah itu kita jangan saling bertemu lagi."
"Bapak mau memecat saya? Berikan saya waktu melamar di tempat lain?"
"Aku belum berpikir untuk memecatmu. Maksudku, kita jangan bertemu seperti ini lagi."
"Oh iya! Benar pak."
Rajasa berpikir mereka akan melakukannya untuk terakhir kalinya. Menelpon Edelweis.
"Halo."
"Sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini."
"Kenapa?"
"Mendadak aku harus keluar kota. Inisiatifku sendiri. Bukan penugasan dari kantor. Ada yang ingin kulihat langsung. Kau tidak keberatan kan?"
"Tentu tidak. Jangan telat makan dan istirahat yang cukup. Jangan terlalu memforsir tenagamu untuk bekerja. Aku dan Malika sangat berkecukupan sehingga tidak perlu kau bekerja seperti kuda."
"Tidak usah mencampuri urusan pekerjaanku."
"Aku tidak bermaksud mencampuri. Aku ingin hidupmu lebih seimbang. Semua yang berlebihan tidak baik. Apakah kau merasa nyaman ketika aku belum bisa mengatur Malika. Hanya mengurus Malika saja? Begitu juga kau. Jika hanya pekerjaan yang kau urusi. Malika dan aku, kau abaikan. Selain membebani dirimu sendiri. Kau juga akan membebaniku dan Malika."
"Baiklah! Aku akan mencoba mengatur waktuku dengan lebih baik."
Rajasa menutup teleponnya.
"Ibu sepertinya sangat perhatian pada bapak." Tukas Nurmala.
"Aku sudah terlanjur mencicipi tubuhmu. Ini tidak ada kaitannya dengan istriku. Walaupun dia tidak memiliki kekurangan dan bisa melayaniku dengan baik. Aku tidak bisa melupakan tubuhmu."
Nurmala terdiam. Dia sendiri merasakan hal yang sama. Seandainya, bosnya belum menikah mungkin semuanya akan berbeda.
"Tapi pak, kalau ibu tahu. Pernikahan bapak bisa berakhir."
"Aku sebagai lelaki memiliki hak berpoligami. Selama aku berlaku adil tentu tidak ada masalah."
"Betul pak. Tapi belum tentu ibu mau dimadu. Walaupun bapak merasa membutuhkannya. Saya sendiri tidak keberatan. Karena saya sadar bahwa saya adalah pihak ketiga dalam rumah tangga bapak. Saya juga sudah pernah mengalami kepahitan rumah tangga. Tapi saya tidak yakin ibu mau dimadu dan menerima poligami tersebut? Saat ini karena ibu tidak tahu bapak mempoligaminya masih bisa berkomunikasi dan berhubungan baik dengan bapak. Kalau ibu tahu?"
"Saya tidak ingin menyakiti dan mengkhianati istri saya. Tapi keadaannya begitu sulit saat itu. Walaupun sekarang sudah dipulihkan. Saya belum bisa melepaskan kamu. Kamu canduku!" Rajasa mendekati Nurmala. Menyentuhnya dan meminta pemuasan pelampiasan hasratnya.
Nurmala sendiri yang memang seorang janda. Memiliki gairah yang kurang lebih sama. Diabaikan mantan suaminya. Mendapatkan suami siri seperti Rajasa seperti mendapat durian runtuh. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka secara agama tetapi secara negara dan perasaan hal itu tidak dapat diterima.
Rajasa tidak menyangka hubungannya dengan Nurmala dan istrinya bisa serumit ini.
Dia sangat mencintai istrinya. Sedangkan hubungannya dengan Nurmala hanya sebatas nafsu tetapi sangat sulit baginya untuk melepaskan diri.
Seringkali tanpa sadar membandingkan keduanya. Tetap menginginkan keduanya terutama Nurmala untuk melayaninya di atas ranjang. Sedangkan Edelweis memperhatikan kebutuhannya dengan Malika. Perhatian serta pengertiannya.
Seandainya istrinya menyetujui poligaminya. Maka baginya tidak ada lagi wanita yang bisa dia cintai dengan sepenuh hati di muka bumi. Karena mau mengerti kebutuhannya yang paling mendasar.
Tapi sepertinya impiannya seperti bermimpi di siang bolong. Dia tidak ingin Edelweis mengetahui poligami yang dilakukan di belakangnya.
Apalagi dia dan Nurmala bertekad untuk mengakhiri hubungan mereka sebelum semuanya terkuak dan menyebabkan sesuatu yang fatal. Kehancuran hubungannya dengan Edelweis.
Rajasa memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati tubuh Nurmala sepuasnya.
Nurmala juga melakukan hal yang sama. Perlindungan Rajasa membuatnya merasa berhutang budi. Selain mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tanpa dia ketahui, hati dan perasaannya terbuka lebar untuk Rajasa.
Di satu sisi, dia tidak ingin menyakiti dan mengkhianati sesama wanita.
Tapi di sisi lain, memiliki suami yang bertanggung jawab dan melindungi seperti Rajasa juga tidak mudah sama sekali.
Pernikahannya yang sudah hancur mengajarkannya banyak hal tentang cinta dan kepercayaan.
Walaupun saat ini dia berada di posisi wanita yang merebut suami orang. Posisi yang sama saat suaminya direbut wanita lain.
Dia tidak bermaksud balas dendam sama sekali. Semua karena tuntutan agar kebutuhannya dipenuhi secara lahir dan batin.
Hidup menjanda sangatlah berat. Terutama untuk kebutuhan nafkah batin. Sebagai wanita, dia juga menyukai semua hal yang berbau materi. Selain membuat hidupnya lebih nyaman. Dia juga bisa menjalankan tugas sebagai ibu dengan baik. Memenuhi kebutuhan diri dan anaknya sekaligus mempersiapkan masa depan mereka berdua.
Daripada dirinya jatuh pada pria yang hanya menginginkan tubuhnya saja tanpa mau bertanggung jawab. Apalagi memenuhi semua kebutuhannya lahir batin. Lebih baik menikah dengan lelaki yang bisa melindungi dan menjaga harkat serta martabat wanita walaupun tidak diawali dengan cinta.
Wanita makhluk perasaan. Berbeda dengan lelaki. Cinta bukan karena sebab akibat tetapi karena perlakuan dan perlindungan.
Perasaan bisa berubah seiring dengan waktu. Karena wanita seperti halnya mawar walaupun penuh duri tetapi jika dirawat dengan baik. Akan terlihat indah dan mewangi.