Rajasa

Rajasa
Blooms



Setelah berembuk dengan Ryan dan Edelweis. Rajasa dan Edelweis bermaksud mengambil cuti untuk melangsungkan lamarannya kepada keluarga Edelweis.


Roy ikut diundang dalam lamaran tersebut karena sudah dianggap sebagai keluarga.


Suasana sangat khidmat walaupun sedikit tegang karena menyangkut pertemuan dua keluarga.


Keluarga Rajasa memberikan seserahan sebagai tanda mata lamaran dan sekaligus membicarakan waktu pernikahan.


Semua yang hadir sepakat pernikahan akan dilangsungkan sebulan mendatang.


"Menurut syariatnya, tidak boleh terlalu lama antara lamaran dan pernikahan."


"Betul! Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dan kalau memang sudah niat untuk menikah sebaiknya disegerakan."


"Akad nikah dengan resepsi sebaiknya dipisah."


"Mengapa begitu?" tanya ibunya Edelweis.


"Banyak kerabat kami berpencar di beragam wilayah juga negara sehingga kalau mereka tidak bisa hadir akad nikah maka bisa menghadiri resepsi."


"Baiklah, kalau begitu."


"Nanti juga ada ngunduh mantu."


"Apa itu?"Tanya ibu Edelweis.


"Jadi semacam menerima menantu masuk ke dalam keluarga suami. Sebaiknya dilangsungkan sehingga lebih lengkap."


"Apa tidak terlalu banyak acaranya?"


"Ibu tenang saja. Kalau masalah biaya, kami akan menanggungnya."


"Maaf, saya bukan bermaksud...."


"Kami mengerti, keluarga kami juga bukan bermaksud merendahkan atau mempersulit keluarga ibu tetapi keluarga kami keluarga besar. Seremonial semacam ini masih sangat penting di keluarga kami untuk menyambung silaturahim keluarga, handai tolan serta kerabat juga rekan bisnis. Memang demikian tradisi di keluarga kami. Kami tidak akan membebani ibu sekeluarga hanya meminta persetujuan dan kerja samanya saja."


Salah seorang perwakilan dari keluarga Rajasa menjelaskan lebih detail acara yang akan mereka langsungkan sehubungan dengan pernikahan Rajasa.


Edelweis tampak sangat gugup. Roy juga hadir mendampingi Rajasa. Berusaha menenangkan Rajasa yang tampak tegang.


"Senyum dong..." Bisik Roy, "Wajahmu seperti harimau sumatera!"


Kontan Rajasa tertawa.


Semua mata memandang ke arah Rajasa.


Rajasa tersenyum kikuk dan menganggukkan kepala sebagai tanda meminta maaf.


"Kau mau membantu menyukseskan acaraku atau sabotase sih?" Bisik Rajasa kembali.


"Kau itu mikirnya jelek aja ke aku. Selama aku tidak membawa lari Edelweis artinya aku mendukungmu."


Wajah Rajasa bete dan giliran Roy tertawa kecil.


"Baru digoda begitu saja, sudah marah. Payah!"


"Gak lucu, becandamu!"


"Memang gak, yang lucu tampangmu coba kau ngaca sekarang kalo gak guling-guling liatnya."


Rajasa menyikut Roy.


"Ouch!"


"Berisik!"


Edelweis tampak anggun mengenakan kebaya kremnya. Semua yang hadir sepakat bahwa kecantikan alami Edelweis terpancar karena dandanannya yang terlihat sederhana tapi elegan.


Make upnya juga tidak tebal. Peach glossy lipsticknya menambah aura wajahnya tampak semakin mempesona.


Eye shadownya yang bernuansa coklat melengkapi make up wajahnya yang berwarna cream.


Airmatanya menetes mengingat almarhum ayahnya. Seandainya masih ada tentu akan semakin membahagiakan.


Seandainya kau ada di sini yah, aku akan merasa lebih bahagia. Seandainya kau bisa melihat hari bahagiaku. Hari dimana putrimu tumbuh dewasa ....


Ibu dan kedua adiknya juga merasakan hal yang sama. Terharu, mengingat almarhum ayah mereka yang sudah tiada.


"Seandainya, ayah masih ada, tentu ayah akan sangat bahagia melihat kak Edelweis akan menikah." Bisik Amarilis kepada ibunya.


"Ayahmu pasti melihat dari sana. Walaupun kita tidak bisa melihatnya hadir tapi ibu yakin dia tahu dan melihat ini semua dari jauh." Ibu meneteskan air mata.


"Kau menggantikan ayahmu, Basil menjadi wali nikah untuk kakakmu nanti. Kau juga yang mewakili keluarga menyambut keluarga Rajasa."


"Iya, bu ...."