
Sementara Edelweis berbelanja dengan rekan sejawat mereka.
Rajasa dan Ryan pergi ke toko buku untuk mencari referensi untuk pekerjaan mereka.
"Kupikir ini bagus dan bisa untuk memperbagus narasi yang kita buat."
"Ini juga bagus. Coba kau liat kontennya."
"Kita ambil saja dua-duanya."
Mereka sibuk memilih beragam buku yang mereka anggap bisa dijadikan referensi.
Setelah selesai mereka keluar dan mampir ke sebuah toko kue. Memesan kopi dan kue serta memesan dua kotak besar untuk dibawa ke tempat mereka tinggal, untuk yang lainnya.
"Kau ini membingungkan." Ryan membuka percakapan sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Membingungkan bagaimana?"
"Kalau jauh, kau kelimpungan setengah mati tapi kalau dekat kai selalu mengajaknya berantem dan membuatnya menangis."
"Kau liat betapa labilnya dia. Bikin kesel tau gak!"
"Kau tau dia gak bermaksud seperti itu. Kenapa kau gak memahami dari sisi pandang dia sih? Lagian kalau memang kau berjodoh dengannya pasti ada jalannya."
"Aku gak mau nanti dia selingkuh setelah kami menikah. Menyesal memilihku kenapa bukan Roy. Hal-hal gila semacam itu. Apa aku salah?"
"Salah sih gak tapi menurutku kau harus lebih memahami dan percaya padanya."
"Belum lagi kalau sudah cemburu. Sangat menyebalkan tapi anehnya aku gak boleh seperti itu. Itu kan egois!"
Ryan tergelak.
"Lucu ya? Coba saja kau jadi aku!"
"Edelweis memang kekanak-kanakkan tapi dia juga bukan wanita jahat atau tidak bisa dipercaya. Aku bukan membelanya tapi kadang kau memang harus memahami sesuatu yang kau anggap aneh atau membingungkan dengan membuka pikiranmu. Kalau aku seperti kau dan Roy, kujamin dia akan semakin bingung."
"Apa maksudmu, kau seperti aku dan Roy."
"Aku bukan mendesaknya."
"Entahlah! Apa istilahnya, tapi aku memilih menjadi seorang yang bisa melindungi dan diandalkan ketika dia membutuhkanku. Sisanya, tidak penting bagiku. Apa yang membuatnya bahagia, aku juga bahagia. Yang membuatnya bersedih, aku juga begitu. Aku tidak akan segan marah padamu kalau terus seperti itu kepadanya."
"Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Kalau memang kau sudah benar-benar mantap dengannya kenapa kau tidak melamarnya?"
"Wanita labil seperti itu? Bagaimana kalau nanti kandas begitu saja?"
"Lalu, kau mau seperti ini sampai kapan?"
"Maksudku, aku ingin dia lebih dewasa dan matang. Tidak labil seperti itu. Tidak selalu memprioritaskan Roy."
"Aku tidak mengerti maksudmu. Kupikir dia melakukan sesuatu dengan konteks. Roy memintanya untuk menelponnya dan kalau kau melarangnya kupikir kau berpikiran sempit. Kau tahu mereka bersahabat baik dan untuk apa kau merasa terintimidasi? Roy juga sahabatmu dan dia juga tau kau dan Edelweis seperti apa."
"Aku harus mempercayakan dia?"
"Menurutku seperti itu."
Pesanan makanan mereka datang. Kopi mereka datang beberapa saat kemudian.
Sepiring kue bibingkaan rasa pandan dan putri keraton.
Kue-kue mana mereka pesan masing-masing sekotak untuk di bawa ke tempat penginapan mereka untuk teman-teman mereka yang lain.
"Entahlah! Aku masih ragu dengan apa yang kau katakan. Bagaimana kalau nanti justru ada kami bertiga dalam satu pernikahan?"
"Mengapa kau tidak merasa terintimidasi denganku?"
"Karena kau tidak membuatku merasa begitu. Berbeda dengan Roy. Aku tidak bisa mempercayainya walaupun aku mau."
"Kau jangan seperti itu. Membedakan teman, namanya. Mungkin, Roy akan berusaha sampai detik terakhir yang dia bisa tapi dia juga tau batasnya dan tidak akan melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Kalau kau dan Edelweis menikah, dia akan lebih mudah menempatkan dirinya dalam hubungan kalian bertiga. Berbeda dengan saat ini."
"Baiklah! Bagaimana aku harus melamarnya?"